
Setelah dinyatakan sehat oleh Dokter, Adrian lalu membayar semua admistrasi dan mengurus proses keluar Asyifa, "Ayo aku antarkan kamu, kamu tinggal di mana?" tanya Adrian sambil menyetop sebuah Taxi yang melintas.
"Ga usah, Mas Adrian pulang sendiri saja. Saya masih ada urusan yang harus di urus!" tolak Asyifa. Adrian sudah menatapnya curiga.
"Sejak kemarin, aku itu sudah curiga sekali sama kamu. Apakah kamu melakukan hal-hal yang terlarang, huh? Wajah dan gelagat kamu sungguh mencurigakan sekali!" ucap Adrian menatap wajah Asyifa dengan intens.
"Apa, gak ada! Aku pergi dulu!" Setelah masuk ke mobil, pintu langsung di tutup dan disuruh jalan, tapi Adrian tidak kalah cerdas, dia membuka pintu depan yang persis di dekatnya. Asyifa sudah cemberut karena Adrian tidak mau melepaskan dirinya sendiri.
"Kamu maunya apa sih? Ko ngikutin aku terus?" sungut Asyifa kesal. Adrian mengambil ponselnya.
"Assalamualaikum, Om sama Tante sekarang ada di mana?" tanya Adrian, mendengar Adrian bicara dengan kedua orangtuanya, asyifa sudah ketakutan.
"Apa yang kau lakukan? Gimana caranya Aby sama Umy bisa sampai ke Jakarta secepat ini?" tanya Asyifa tidak percaya. Adrian hanya tersenyum.
"Jawab pertanyaanku! Aku gak butuh senyum kamu yang sok kegantengan itu!" perintah Asyifa dengan lantang.
"Aku mengirimkan jet pribadi buat menjemput Om sama Tante, sekarang mereka sudah menunggu kita di apartemenku!" demi apapun, Asyifa sungguh kaget mendengar kedua orangtuanya ada di Jakarta dan kini sedang menunggu dirinya.
"Jangan bercanda kamu! Memang dari mana kamu punya jet pribadi? Gak usah hallu ketinggian!" ucap Asyifa tidak percaya. Tapi Adrian santai saja,"Aku gak butuh kamu percaya atau gak, tapi yang jelas, sekarang Om dan Tante sudah ada di apartemenku. Kita dalam perjalanan kesana sekarang!" Adrian sangat senang melihat raut ketakutan di wajah Asyifa, ya, entah sejak kapan, Adrian rasanya mulai suka melihat gadis itu.
"Kamu Om jelek yang menyebalkan! Pak, turunkan aku disini!" Asyifa sudah siap-siap mau keluar, tapi semua pintu sudah di kunci otomatis oleh Adrian.
__ADS_1
"Eh, apa yang kau lakukan?" Asyifa sudah pasang wajah jutek, tambah menggemaskan saja. Kalau tidak ingat dia anak gadis Kiai yang dia hormati sejak kecil, pasti sudah dari tadi dia ucel ucel karena gemes.
"Pak lanjut, ke alamat awal!" perintah Adrian tanpa menghiraukan apapun protes yang di lakukan oleh Asyifa.
"Oh, Ok! Lagi bermain cuek, ya? Boleh! Kita lihat siapa yang akan menang melawan aku!" Asyifa melipat tangannya di dada, lalu menolehkan wajahnya ke jendela. Manyun!
Adrian melihat ke belakang, apa yang sedang dilakukan gadis itu, perasaannya geli ketika melihat bibir gadis belia tersebut, Adrian jadi ingat, kalau sejak kecil gadis itu memang selalu begitu Kalau lagi ngambek, melawan keinginan dirinya.
'Ah, dia pikir aku akan mengalah sama dia, jangan bermimpi!' ucap Adrian dalam hatinya sambil tertawa geli.
"Sudah sampai di tujuan, Kak!" supir lalu menghentikan kendaraan, Adrian mengambil uang dan membayar biaya taxi. Lalu keluar menarik tangan Asyifa yang tampak sudah bersiap akan kabur lagi.
"Eh, anak kecil! Jangan berani dengan orang dewasa!" hardik Adrian jadi terbawa urakan. Asyifa berdecih kesal.
"Gak usah pegang-pegang segala! Aku bisa jalan sendiri!" Asyifa sudah pasang wajah garang lagi. Tapi tidak mempan buat Adrian. Dengan langkah tegap dan tegas, Adrian masuk ke unit apartemen yang dia tempati.
'Duh, bisa gawat kalau beneran Aby sama Umy ada di dalam sana! Gimana ini, ya? Aku sungguh tidak ingin pergi ke Jawa timur dan tinggal di sana!' jerit hati Asyifa, sudah bergidik ngeri. Adrian tampak heran dengan gadis yang kini sedang ia genggam tangannya.
Ya, hati Adrian tidak baik-baik saja, ini adalah kali pertama dirinya menarik tangan seorang gadis selama itu. Ah, kehidupan Adrian sungguh monoton, tanpa gadis-gadis di sekitarnya. Selama ini Adrian memang menutup diri untuk berdekatan dengan para gadis. Apalagi mengingat statusnya sebagai pewaris Abimana Group, bisa di pastikan banyak gadis yang ingin bersama dengannya.
Adrian orang yang tertutup dan tidak suka menonjolkan dirinya sendiri. Publik lebih kenal dengan Cakra Abimana. Ya, Cakra lebih humble dan ramah tamah dengan para wartawan dan wanita. Jadi tidak heran kalau sampai saat ini, sosok Adrian Abimana sang pewaris, masih misterius.
__ADS_1
"Aku sungguh tidak ingin bertemu dengan Aby dan Umy! Mereka pasti akan memaksa untuk aku kembali ke Jawa timur, Om! Aku serius, tolong lepaskan aku! Hiks hiks!" demi apapun, Adrian sampai terkejut, dirinya di panggil Om baru saja oleh Asyifa. Oh My God! Rasanya sudah ada asap mengepul di atas kepalanya.
"Om? Dilihat dari mana aku terlihat Om bagi kamu?" tanya Adrian mulai kesal juga. "Om kan memang Om Om!" jawab Asyifa lagi tanpa dosa.
"Aku sama kamu itu cuma beda 8 tahun, bahkan aku belum punya istri, bagaimana aku bisa jadi Om kamu? coba jelaskan!" mata Adrian menatap Asyifa dengan tatapan intimidasi sehingga asyifa sudah mundur-mundur dan ketakutan, tiba-tiba Asyifa malah hampir jatuh, untung saja tangannya tadi masih di pegang oleh Adrian, secara otomatis mereka berdua jatuh bersama, bibir mereka tanpa sengaja beradu, dan terjadilah ciuman singkat yang membuat keduanya terasa dialiri aliran listrik.
Pada saat itu juga, dari unit apartemen Adrian, keluar empat orang dewasa yang menatap mereka berdua dengan tajam dan kemarahan.
"Adrian, apa yang sedang kamu lakukan?" itu adalah suara Andika Abimana, Papahnya Adrian.
"Lancang!" Mata Ilham sudah mau keluar, melihat putrinya kini dalam posisi di himpit tubuh Adrian dan bibir mereka masih berpagutan. Karena masih syock, untuk sesaat otak keduanya seperti berhenti. Masih takjub dengan debaran jantung masing-masing. Sampai akhirnya tubuh Adrian di Tarik oleh Kesya, baru Adrian tersadar.
"Eh, apa yang kalian lihat, tidak seperti yang terjadi, itu, anu.. itu.. " Adrian kebingungan menjelaskan apa yang terjadi. Asyifa masih membeku di tempatnya. Wajahnya sudah memerah semerah tomat busuk. Malu sekali!
"Mau berapa lama kamu tidur di situ, huh?" tanya Umynya.
"Maaf, Umy! Pinggang Syifa masih sakit, gak bisa bangun sendiri!" ucapan Syifa membuat mata semua orang menatap kearah Adrian. Dengan tatapan membunuh.
"Ayo masuk! Kita harus membicarakan masalah ini dengan serius!" Ilham yang sudah menahan amarah dari tadi akhirnya keluar suara juga.
"Om, sungguh, Adrian sama Syifa gak ngapa-ngapain! Demi Allah!" demi ucapan Adrian, semua mata memandang dirinya dengan tatapan membunuh.
__ADS_1