Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
18. Pesona Adrian dan Cakra Abimana


__ADS_3

"Bu, ibu di doain mati sama nih bocah!" ucap Cakra dengan mata melotot. Sementara Adrian gak bisa berhenti tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan Sulis. Adrian yang paling tahu, kalau Sulis saat ini hanya sedang usil mengerjai Bu Sita.


Dari tadi Adrian memperhatikan mimik dan gesture Sulis. Penampilan dan pembawaan Sulis gak mencerminkan sebagai seorang wanita miskin. Pempilan Sulis dari atas hingga kaki bernilai ratusan juta, gak mungkin kalau hanya seorang gadis miskin. Kecurigaan Adrian semakin kuat, saat Sulis memeletkan lidahnya ke arah kamera CCTV dengan senyum usilnya tersebut.


'Fix, nih gadis usil pasti anaknya Om Bayu!' bathin Adrian masih juga menikmati pertunjukan Sulis. Misi mereka hanya membuat Sulis menangis, jadi tugas mereka selesai. Walaupun Adrian tahu. Tangisan palsu yang Sulis tunjukkan hanya sedang mempermainkan mereka di dalam ruangan tersebut. Adrian gak perduli, sebagai sesama anak konglomerat, tentu Adrian paham apa yang sedang Sulis lakukan. Ya, hanya sedang bermain-main mengurangi kebosanan hidup tentu saja. Ya, kadang orang kaya itu gabut dan suka usilin hidup orang, hanya untuk bikin senang hatinya. Mungkin ini yang sedang dikerjakan oleh Sulis juga. Adrian langsung meninggalkan ruangan dan kembali ke ruangannya sendiri.


Cakra mengikuti kakaknya, mulai jenuh dengan situasi di dalam ruangan.


"Kak, kok tadi diam saja sih? Padahal asyik loh, ngerjain tuh anak baru!" ucap Cakra sambil duduk di sofa kerja sang kakak.


"Gak asyik sama sekali, perempuan itu bukan lawan kamu!" jawab Adrian asal.


"Maksudnya kakak?" tanya Cakra sok polos.


"Udah, balik ke ruangan kamu! Saya sibuk ini! Gara-gara layanin kekonyolan kalian. Pekerjaan saya jadi banyak yang terbengkalai!" ucap Adrian mengusir adiknya dari ruangannya.


"Dasar pelit!" gerutu Cakra kesal. Tapi dia keluar dari ruangan kakaknya yang memang kalau udah keluar mode galaknya jadi agak serem juga.


Cakra sekarang di ruangan staf personalia. Sulis sudah duduk di kursinya. Kebetulan kursinya berdekatan dengan Cakra.


"Eh, anak baru, cepat bikinkan saya kopi!" perintah Cakra tanpa aba-aba.


"Baik, Pak! Bapak mau kopi hitam atau kopi pahit?" tanya Sulis dengan pasang wajah innocence nya.


"Saya gak suka kopi hitam atau kopi pahit. Saya suka kopi expresso. Kalau bisa, pesan di luar, ya?" ucap Cakra. Sulis mengulurkan tangannya kepada Cakra, Cakra terkejut.


"Mau apa kau? Kenapa julurin tangan kamu sama aku? Aku masih perjaka ya, jangan coba-coba menodaiku!" ucap Cakra asal jeblak saja.

__ADS_1


"Ih, dasar mesum! Mana duitnya, kan tadi nyuruh saya beli kopi!" ucap Sulis dengan nada tinggi.


"Ih, pakai duit kamu dulu, nanti saya bayar!" jawab Cakra sambil berlalu dari hadapan Sulis.


"Ya elah, Pak! Saya karyawan baru, masa udah di suruh bayarin kopi bapak? Benar-benar nih bapak, gak ada akhlak betul sama anak baru kayak saya!" protes Sulis sambil mengikuti Cakra ke mejanya.


"Ya elah, Tibang 50.000 doang, bawel banget sih!" ucap Cakra sambil membuka dompetnya, lalu mencari uang 50.000, tapi nihil, Fix, dirinya gak punya uang cash. Lalu Cakra menarik black card miliknya dan memberikan kepada Sulis.


"Ini, pakai ini!" ucap Cakra misuh misuh.


"Ya elah, Tibang 50.000 aja pakai black card. Bapak mau pamer ya, kalau bapak orang kaya?" tuduh Sulis asal aja.


"Eh, enak aja! Gue gak punya uang cash! Cuma itu masalahnya!" ucap Cakra dengan menundukkan kepalanya, malu rasanya, mengakui kalau dirinya gak punya uang cash. Terkesan banget kalau dirinya sang anak mamih yang hidupnya selalu dimanjakan oleh black card.


"Udah, buat kali ini, saya bayarin gak apa-apa, besok ganti, uang saya, ok?" tanya Sulis sok sok pelit kepada Cakra.


"Iya, Tibang 50.000 aja pelit banget!" protes Cakra.


"Ya Allah, kasih stock sabar yang banyak buat Baim ya Allah! Tuh sundel bolong alamat bakalan bikin hari-hariku jadi ancur! Nasib buruk apalagi ini ya Allah!" ucap Cakra sambil mendongakkan kepalanya dengan lebay.


"Oi, gak usah sok lebai!" tiba-tiba Adrian sudah ada dihadapannya. Membuat kaget Cakra yang sedang khusuk berdoa.


"Apa sih, Kak! Loe udah kaya jelangkung deh, ngagetin Mulu!" protes Cakra kesal.


"Loe Aya yang kebanyakan melamun. Dari tadi Mas sudah ketok pintu, loe kagak nyahut-nyahut, gue kira los koit di dalam! Eh ternyata lagi berdoa. banyak dosa kali loe ya?" ucap Adrian sambil mentoyor kepala adiknya.


"Kak, bagi gue duit dong, 100.000 aja, gue malu sumpah, dikata-katain anak manja ma noh anak baru, cuma gara-gara gak punya duit buat beli kopi doang!" ucap Cakra dengan pasang wajah memelas. Cakra dan Sulis ini memang Sebelas dua belas. Sama-sama usil dan jahil. Kalau jadi pasangan, cocok pokoknya. Jadi pasangan lawak maksudnya. Hehehe.

__ADS_1


"Tapi nanti loe balikin ya?" tanya Adrian.


"Ya elah, Kak! Tibang duit 100.000 doang, bukan 1M!" protes Cakra sambil misuh misuh.


Adrian lalu membuka dompetnya, Eh, dia juga bengong, lalu tertawa sambil melihat adiknya.


"Mas juga gak ada duit cash!" ucap Adrian dengan wajah innocence nya. Cakra seketika memukul dada sang kakak.


"Fix, kita berdua ini anak orang kaya yang memang hanya di manjakan oleh black card-nya orang tua!" ucap Cakra frustasi. Adrian nyengir kuda.


"Mas lupa, belum narik uang cash di card Mas. Tadi pagi buru-buru berangkat. Kehabisan uang cash. Udah, nanti kalau mau balik, narik uang cash yang banyak! Biar loe bahagia!" jawab Adrian lalu kembali ke ruangannya.


Pas itu kebetulan Sulis kembali dengan empat buah kopi di tangannya. Niatnya Sulis, mo kasih kopi itu untuk Bu Sita, Cakra dan Adrian, serta untuk dirinya sendiri.


"Nih, kopinya!" ucap Sulis kepada Cakra. Cakra masih heran, kenapa Sulis membawa begitu banyak kopi.


"Buat siapa aja? Banyak bener, perasaan gue cuma pesan satu doang!" ucap Cakra sambil meminum kopinya.


"Satu buat Bu Sita, satunya lagi buat Pak Adrian, satunya buat aku!" ucap Sulis dengan mimik lebay.


"Ih, dasar Alay!" ucap Cakra pasang muka jijiknya.


"Bodo! Suka-suka ane! Minggir! Aku mau kasih kopi ini buat pak Adrian!" Sulis lalu keluar dari ruangan sambil menyenggol bahu Cakra yang berdiri di sampingnya.


Deg


Tiba-tiba jantung Cakra berdebar-debar. Fix, Cakra mulia jatuh cinta dengan Sulis yang urakan.

__ADS_1


Hayo... Tebak! Jodohnya Sulis Adrian atau Cakra?


Kasih komentar dong. Biar author tahu..


__ADS_2