Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
79. Salon


__ADS_3

"Mama kalau ada maunya manis sekali Dari tadi memujiku terus!" ucap Yoga sambil cemberut, tampak sangat menggemaskan bagi Laila. Laila tersenyum.


"Putri Mama ini memang anak yang luar biasa walaupun kamu tanpa perawatan cantikmu sudah melebihi artis-artis ibukota!" ucap Laila sambil terkekeh.


Yuke malah tersenyum melihat ibunya, yang kini lebih banyak berbicara dan biasanya.


Ibu dan anak itu memang sangat jarang berkomunikasi maupun bercengkrama seperti itu. Karena Yuke yang selama berapa tahun, lebih memilih untuk hidup di luar dan mandiri. Sehingga membuat mereka jadi jarang bertemu. Hanya kalau ada acara saja mereka terpaksa bertemu.


"Ayo kita ke salon, sayang. Mama juga sudah lama tidak perawatan. Kita gunakan uang papa sesuka hati kita hari ini. Jarang-jarang loh Papa memberikan fasilitas seperti ini!" ucap Laila sambil menunjukkan Black card di hadapan Yuke.


Yuke terkekeh sejenak, ketika melihat ekspresi mamanya yang begitu lucu, ketika menunjukkan Black card tersebut.


"Yuke juga memilikinya, Mah! Papa yang memberikannya pada Yuke. Punya Yuke ada dua malah. Dulu diberikan oleh kakek juga, tapi Yuke tidak pernah menggunakannya!" ucap Yuke sambil tersenyum kepada ibunya.


"Sungguh beruntungnya laki-laki yang mampu mendapatkanmu sebagai istrinya. Dia tidak akan tekor memelihara istri seperti kamu. Istri yang sangat hemat dan juga tidak terlalu banyak neko-neko!" ucap Laila sambil tersenyum kepada Yuke.


Yuke sampai tergelak, ketika mendengarkan ucapan ibunya tersebut.


"Tapi nanti kalau Yuke sudah menikah, Yuke akan sering-sering belanja barang-barang branded dan ke salon yang mahal untuk menghabiskan uang suamiku, biar dia menyesal karena memilih Yuke sebagai istrinya!" ucap Yuke dengan tatapan horornya.


"Hus! Tidak boleh seperti itu! Kamu ini jangan membuat malu keluargamu. Nanti besan Mama berpikir, bahwa Papa sama Mama kamu, tidak bisa mendidikmu menjadi seorang wanita muslimah yang baik dan taat terhadap suaminya!" ucap Laila, sambil menepuk punggung tangan putrinya.


Yuke kembali cemberut, karena ditegur oleh ibunya. Mengenai rencana yang akan dia lakukan, kalau dia benar-benar akan menikah dengan Thomas Hutama, laki-laki yang baru dia dengar namanya hari ini.


"Udah, ayo! Cepat siap-siap. Kita harus ke salon hari ini. Mama pokoknya memaksa kamu!" jablailah kemudian membangunkan tubuhnya di atas ranjang miliknya Yuke.

__ADS_1


"Cepat siap-siap! Mama tunggu kamu di bawah, kita berangkat dalam waktu 10 menit lagi!" ucap Laila tanpa mau dibantah lagi oleh sang putri kesayangannya.


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Yuke pun berganti pakaian sekedarnya saja, dia tidak terlalu peduli dengan penampilannya.


Begitu turun menemui Laila, Laila sampai geleng-geleng melihat penampilan putrinya itu. Laila kemudian menarik kembali Yuke ke kamarnya dan menggantikan pakaian yang sesuai dengan yang dia pilihkan. Yuke tampak pasrah saja, menerima semua perbuatan ibunya kepada dirinya.


"Nah kalau begini, sudah cantik! Baru putrinya mama!" ucap Laila sambil tersenyum bangga dengan hasil karyanya.


Laila kemudian memeriksa koleksi hijab yang ada di lemari sang putri dan dia memilihkan sebuah jilbab pashmina yang warnanya senada dengan pakaian yang digunakan oleh Yuke saat ini.


"Ayo kita sudah siap. Kita sekarang juga let's go in salon!" ucap Laila penuh dengan semangat. Sehingga membuat Yuke malah tertawa terbahak-bahak, ketika melihat kelucuan ibunya.


"Mama waktu masih muda pasti seorang yang tomboy kan?" tanya Yuke ketika mereka sudah berada di mobil.


"Sikap Mama, yang mencerminkan masa lalu mama!" ucap Yuke sambil tersenyum kepada ibunya, Laila menggelengkan kepalanya.


"Mama itu dalam keluarga, tidak ada anak laki-laki. Jadi kedua orang tua, mama mendidik seperti seorang anak lelaki. Itu yang membuat mama jadi berpenampilan tomboy!" ucap Laila, mencoba menerangkan tentang kehidupannya di masa remaja.


"Yuke rindu dengan kakek dan nenek, Mah! Nanti kapan-kapan kita berkunjung ke Jawa Timur ya mah?" ucap Yuke dengan penuh semangat.


"Nanti Kakek dan Nenekmu pasti datang di hari pernikahanmu. Kamu tinggal setuju saja pernikahan itu, jadi kita tidak usah repot-repot ke Jawa Timur. Sangat melelahkan sekali perjalanan ke sana!" ucap Laila dengan tersenyum licik. Yuke hanya memutar bola matanya dengan malas.


"Kenapa sih, sekarang semua pembicaraan Mama, ujung-ujungnya selalu masalah perjodohan. Bikin Yuke jadi stress tau nggak sih?" ucap Yuke sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Sudah sampai Nyonya dan Nona!" ucap sopir mereka mengingatkan keduanya.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Pak. Bapak bisa pulang dulu. Kalau bosan menunggu kami, nanti saya akan menelpon. Kalau kami sudah selesai!" ucap Laila memberikan pesan kepada sopirnya, sebelum akhirnya mereka masuk ke salon yang sudah dipesan sebelumnya.


Ketika mereka hendak masuk, tiba-tiba saja seseorang menabrak tubuh Laila, yang membuat mereka jadi terkejut.


"Kamu? Untuk apa kamu datang ke sini, huh? Apakah untuk menggoda laki-laki, huh? Hanya untuk merebutnya dari istri nya?" ucap Syafa dengan bertolak pinggang kepada Laila.


Yuke tampak mengerutkan keningnya merasa tidak kenal dengan perempuan yang ada di hadapannya. Degan Sigap, Yuke langsung menarik tangan ibunya, agar berdiri di belakangnya. Yuke berusaha melindungi ibunya. Dari serangan perempuan asing itu.


"Apa maksudnya tante ya? Mengatakan hal seperti itu? Apa mulut tante ndak pernah di sekolah kan?" ucap Yuke sambil bertolak pinggang di hadapan Syafa.


"Kamu siapa gadis barbar? Tidak punya sopan santun terhadap orang tua!" ucap Syafa dengan mata melebar melotot ke arah Yuke dengan penuh kebencian.


"Sopan santun akan diterima oleh anda, ketika anda menjaga harga diri dan martabat anda sebagai manusia. Coba lihat diri Anda, coba untuk berkaca! Bagaimana kelakuan Anda terhadap ibu saya? Anda sama sekali tidak layak mendapatkan sopan santun dari saya!" ucap Yuke dengan mata berapi-api.


Yuke merasa tidak terima, ibunya dihina oleh perempuan asing itu, yang belum pernah dia temui sebelumnya. Tampaknya Yuke tidak tahu, kalau perempuan yang sedang ada di hadapannya adalah istri pertama dari ayahnya sendiri. Laila menarik tangan Yuke dan mengajaknya untuk pergi dari sana.


Tapi Syafa kemudian mengatakan kata-kata yang jauh lebih pedas."Oh jadi kamu anak pel@cur ini? Yang sudah merebut suami saya dari saya dan anak saya. Pantas kelakuannya seperti ini, karena kamu lahir dari rahim yang kotor!" ucap siapa dengan penuh kebencian kepada Yoke dan melirik kepada Laila yang kini sudah mulai berkaca-kaca matanya.


Yuke langsung menampar muka Syafa, ketika mendengarkan makian yang diucapkan oleh ibunya Rasya itu.


"Jaga mulut Anda Kalau Anda menghormati diri anda sebagai seorang wanita!" ucap Yuke dengan mata yang penuh dengan sorot kemarahan.


Tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menarik Syafa dan membawanya untuk meninggalkan salon tersebut. Yuke mengenal itu adalah Rasya, kakaknya. Yang itu artinya perempuan tadi adalah ibunya Rasya. Yuke seakan tidak percaya dengan pandangannya sendiri.


Bagaimana mungkin kakaknya yang begitu baik, bisa memiliki seorang ibu yang mulutnya begitu tajam melebihi silet, yang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2