
"Apakah kamu sudah menghubungi orang tuamu, kalau kita sudah datang?" tanya ibu tirinya Alvian. Merry menganggukan kepalanya sambil menjaga Aldo.
"Aldo! Ayo tidur siang dulu, sebentar lagi kita pergi ke apartemennya Om Adrian!" Panggil Merry kepada Putra keduanya.
"Biarkan saja Aldo bermain, tidak apa-apa Mah!" ucap Alvian dengan senyumnya.
"Main terus, nanti dia lelah pah!" ucap Merry sambil cemberut. Sementara putra pertama mereka asyik bermain di kolam renang.
Samudra memang memiliki hobi berenang dan dia sudah beberapa kali menjuarai lomba di berbagai ajang nasional.
"Putramu semuanya tidak ada yang mau mendengarkan ucapanku!" sengit Merry akhirnya menyerah dan pergi ke kamarnya untuk tidur. Sejak tadi dia berteriak teriak memanggil putranya tetapi tidak ada yang menyahut.
"Sayang kau selalu saja marah-marah, Aldo kan hanya anak kecil yang suka bermain!" ucap Alvian menghibur hati istrinya.
"Papa yang seperti itu, yang membuat anak-anak jadi tidak menurut sama mama!" ucap Marry sambil membaringkan tubuhnya di ranjang.
Alvian tahu, kalau istrinya sangat kelelahan mengurus kedua putranya seorang diri. Ayah ibunya sudah tua, tidak banyak membantu dalam mengurus kedua cucunya.
"Ya sudah, istirahat dulu. Supaya besok Mama tidak kelelahan!" Alvian sambil memijat kaki sang istri. Merry saat ini sedang hamil anak ketiga mereka, sehingga wajar kalau dia selalu tampak kelelahan dan emosinya gampang tersulut.
"Mas sudah menghubungi Papa sama Mama kan? Kalau kita sudah datang?" tanya Merry.
"Ya sudah! Mereka sudah tahu kalau kita ada semua sudah di sini. Mereka meminta kita untuk beristirahat dulu!" ucap Alvian tampil mengecup telapak tangan sang istri.
"Ya sudah, Papa lihat Aldo dulu ya?" Ya ampun kemudian meninggalkan Merry sendiri di kamar, agar bisa istrahat.
Sementara itu, sekarang Adrian yang masih sibuk bermurojaah, tampak gatal tangannya ingin mengecek ponselnya.
"Wah, sms-ku yang tadi pagi pun masih belum dibaca. Apakah dia sesibuk itu, sampai tidak bisa memegang ponsel?" ucap Adrian dengan gemas.
"Kau masih sibuk mengurus ponselmu Adrian?" tanya Kesya ketika melihat putranya tampak misuh-misuh sambil memegang ponselnya. Adrian tampak cemberut.
"Apakah Syifa Sesibuk itu mah? Bahkan sms-ku sampai sekarang belum juga dia baca!" protes Adrian kesal.
__ADS_1
"Sabar Adrian! Kan besok juga sudah resmi jadi istrimu. Sudahlah daripada kau pusing seperti itu, lebih baik kau perdalam lagi hafalanmu. Biar besok kamu tidak klapakan!" nasehat Kesya Kepada Adrian.
"Gak bisa seperti ini, mah! Adrian akan datangi kediamannya Syifa. Dan bertanya kenapa dia tidak mau juga membalas sms-ku!" Adrian kemudian menyambar jaket dan kunci mobilnya dan bersiap untuk pergi.
"Adrian! Apa yang kau lakukan?" tanya Kesya sambil menarik tangan putranya.
"Adrian hanya ingin bertemu dengan Syifa sebentar, Mah!" ucap Adrian.
"Sebentar, biar mama hubungi Om Ilham kamu! Biar kau bisa bicara dengan Syifa sendiri!" Kesya pun akhirnya menghubungi nomor pribadi Kiai Ilham dan meminta untuk berbicara dengan Syifa.
"Maaf, Pak Kyai, bisakah saya bicara dengan Syifa sebentar?" ucap Kesya langsung to the point. Adrian tampak bersinar matanya.
"Halo kenapa pesanku lama sekali tidak kau baca?" tanya Adrian, begitu terdengar suara Syifa di seberang sana.
"Ya ampun kamu hubungi aku, menggunakan ponsel Mamamu hanya untuk seperti itu?" tanya Syifa tampak tak percaya.
"Aku tadinya mau datang ke rumahmu. Tapi mama mencegahku dan akhirnya dia menawarkan untuk menghubungimu lewat ponsel Abymu!" ucap Adrian dengan tersipu.
"Adrian di sini kami sibuk sekali. Bersabarlah! Besok kan kita sudah bertemu lagi dan resmi menjadi suami istri!" ucap Syifa setelah berpamitan kepada Adrian dia kemudian langsung menutup teleponnya.
"Maaf Abi jadi ngerepotin Abi!" ucap Syifa tersipu malu kepada ayahnya.
"Memangnya di mana ponselmu? Kenapa Adrian sampai protes seperti itu?" tanya Kiai Ilham tampak tidak senang.
"Di kamar Aby! Malas kalau Syifa bawa ponsel ke mana-mana!" jawab Syifa sambil menatap Abinya kemudian pergi menuju kamarnya.
Syifa kemudian mengecek ponselnya dan benar saja, terdapat puluhan SMS dan panggilan telepon berasal dari Adrian. Syifa betul-betul tidak habis pikir dengan Adrian.
" Ya ampun! Apa yang dia lakukan sampai seperti ini?" tanya Syifa sambil keheranan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lama-lama Dia sangat konyol sekali!" ucap Syifa merasa lucu.
"Adrian itu bucin sama kamu Makanya dia jadi seperti itu!" Tiba-tiba Yuke ke sudah ada di kamar Syifa.
__ADS_1
"Kok, kamu tahu kalau aku menikah hari ini?" tanya Syifa keheranan.
"Apa kamu masih marah sama aku? Sampai tidak mau mengundangku ke acara pernikahan kamu?" tanya Yuke cemberut.
"Bukan seperti itu, tetapi memang acaranya yang mendadak. Adrian yang mengatur ini semua!" ucap Syifa tersenyum sambil memeluk sahabatnya.
"Aku tahu ini pasti ulahnya Adrian. Dia kan memang selalu begitu, grasa grusuk!" ucap Yuke. Syifa tampak tidak senang dengan ucapan sahabatnya.
"Apa kau segitu kenalnya dengan calon suamiku, Adrian?" tanya Syifa tampak tidak senang dengan apa yang di katakan Yuke.
"Bukan seperti itu Syifa, kau jangan salah paham!" ucap Yuke, menyesali ucapannya sendiri. Yang salah bicara.
"Ya sudah, nggak apa-apa. Ayo kita ke depan saja membantu yang lain!" ajak Syifa dengan tersenyum manis.
"Ayah dan ibuku juga datang, ke pernikahan kamu!" ucap Yuke. Syifa tampak terkejut mendengar hal itu.
"Benarkah?" tanyanya.
"Orang tuamu yang mengundangnya! Kalau tidak, Mana aku tahu tentang pernikahanmu hari ini?" ucap Yuke sambil mencubit hidung sahabatnya.
"Aku sudah jelaskan sama kamu, kalau aku tidak punya hubungan apapun dengan Adrian. Tapi kau tampaknya masih memendam amarah padaku dan tidak mau untuk mengundangku ke pernikahanmu!" protes Yuke. Syifa hanya tersenyum saja.
"Aku tahu kok kalau kamu tidak ada hubungan dengan Adrian. Hanya saja memang nggak sempat untuk mengundangmu!" ucap Syifa sambil berjalan beriringan bersama Yuke.
Di ruang tamu tampak kedua orang tuanya Yuke sedang ngobang ngobrol akrab dengan kedua orang tuanya Syifa.
Tampaknya mereka sudah melupakan masa lalu yang tidak sedap, yang pernah hadir dan menghampiri hidup mereka.
Mereka tampak asik mengobrol dan tidak memperhatikan kedua Putri mereka, yang kini memperhatikan mereka semua.
"Jadi bener ya? Ibumu itu pernah menjadi istri dari ayahku?" tanya Syifa seakan belum juga percaya kenyataan itu.
"Aku sudah tahu sejak lama kok, hanya saja aku memang merahasiakannya darimu!" ucap Yuke, sehingga membuat Syifa akhirnya membelalakkan matanya tidak percaya.
__ADS_1