
"Dokter, saya suaminya Amira, apa yang terjadi dengan istri saya?" tanya Fathu dengan khawatir.
"Tenang dulu, Bapak! Istri Anda mengalami penyerangan sehingga mengakibatkan keguguran!" jawab dokter singkat dan padat.
"Keguguran? Maksudnya?" tanya Fathu agak bingung.
"Istri Anda saat ini hamil usianya Tiga Minggu. Tapi karena terjadi benturan keras, mengakibatkan bayinya syock dan mengalami pendarahan hebat. Bayi Anda saat ini sudah mati di dalam perut istri Anda. Kami membutuhkan persetujuan Anda untuk kuret, kalau tidak nyawa istri Anda dalam bahaya. Kita harus mengambil mayat anak Anda, dalam perut ibunya." Fathu sudah lemas ketika mendengar keterangan dokter.
"Maafkan kesalahan istri saya, dia tidak tahu kalau Amira sedang hamil. Tidak sengaja mendorong Amira!" ucap Erik berusaha membela istrinya.
"Jadi istri kamu yang sudah membuat aku kehilangan calon anakku?" Fathu sudah menatap ke arah Erik dengan sorot kemarahan. Aby langsung menyentuh bahu Fathu.
"Tenangkan diri Kamu! Kemarahan tidak akan memberikan apapun. Segera tandatangani surat-suratnya agar Amira segera di selamatkan. Sekarang, waktu begitu berharga bagi Amira?" ucap Pak Kiai Jamaluddin.
"Benar, Pak! Semakin lama mayat di dalam perut sang ibu, akan membahayakan bagi sang ibu. Kita harus segera mengeluarkan mayat tersebut." ucap Dokter. Fathu lalu mengikuti dokter tersebut dan menandatangani semua surat yang di butuhkan.
Setelah itu dokter langsung mengoperasi Amira. Sella sudah di masukkan ke dalam penjara. Fathu menolak penyelesaian kasus secara kekeluargaan, Fathu akan menuntut Sella sampai ke pengadilan. Fathu harus meminta keadilan atas kematian calon anaknya dan sang istri yang masih koma.
"Fathu, ayo makan dulu! Dari tadi malam kamu belum makan!" Umy memberikan makanan yang tadi di bawakan oleh seorang santri.
__ADS_1
"Umy, Fathu tidak selera. Bagaimana Fathu bisa makan, kalau istri Fathu masih koma begini?" Fathu menggenggam tangan Amira, wajah istrinya yang pucat dan matanya yang terpejam. Membuat hati Fathu mencelos. Sakit sekali.
Sulis dan Bayu datang untuk menjenguk Amira. Fathu tadinya akan marah, tapi di halangi oleh Umynya."Jangan gegabah! Jangan kau turuti hawa nafsu setan yang selalu menghembuskan permusuhan! Ingat itu Fathu!" ucap Aby mengingat kan anaknya. Aby bisa paham kenapa Fathu selalu emosi kalau bertemu dengan Bayu Iswara.
"Bagaimana kabar Amira, Umy?" tanya Sulis sudah khawatir. Amira adalah sahabatnya satu-satunya. Sulis sebenarnya sangat kecewa pada saat Amira menghilang sama sekali tidak menghubungi dirinya. Tapi melihat kondisi Amira saat ini, semua kesal dan marahnya menguap entah kemana.
"Masih koma, kata dokter, mungkin besok sudah bisa siuman. Kita doakan yang terbaik!" ucap Umy sambil memeluk Sulis.
Erik yang melihat hal itu merasa bersalah. Sulis ketika melihat Erik juga tampak heran. 'Kenapa Erik bisa ada disinu?' mereka semua menunggu Amira tersadar dari komanya. Amira baru selesai kuret dua jam lalu. janin yang di ambil dalam perut Amira masih dibersihkan oleh pihak rumah sakit.
"Ini janin Bu Amira, silahkan kalau mau di makamkan!" suster lalu memberikan bungkusan kain putih kepada Fathu. Fathu langsung menangis, melihat jasad calon anaknya yang baru kecil sekali, tapi sudah mati karena kelalaian Sella. Sella mendorong tubuh Amira dengan keras. Sehingga mengakibatkan keguguran.
Erik juga bersedih, merasa bersalah dengan kemalangan yang menimpa mantan kekasihnya. Kalau saja dirinya bisa membuat Sella merasa aman sebagai istrinya, pasti Sella tidak akan berbuat nekat seperti itu.
"Baiklah, Aby sama Umy pulang dulu. Akan memakamkan calon cucu Aby serta mendoakan. Semoga Amira cepat sadar, kamu disini saja menjaga Amira! Jangan lupa makan, kami pulang!" Aby lalu mengajak Umy pulang juga.
Erik juga berpamitan, dan kembali meminta maaf atas insiden yang telah membuat Amira keguguran. Sekarang hanya tersisa Sulis dan Bayu. Dari tadi Bayu hanya diam saja. Tidak sanggup berkata-kata. Dirinya sedikit banyak merasa bersalah. Kabarnya, gara-gara dirinya mengantarkan Amira, suami istri itu bertengkar dan mengakibatkan Amira kabur dari rumah. Sekarang kembali dalam keadaan begini, hati Bayu jadi sedih dan merasa bersalah.
"Gus Fathu, saya dan Amira sama sekali tidak memiliki hubungan apapun. Saya baik dengan Amira semata-mata hanya karena Amira sebagai sahabat Sulis, Putri saya! Tidak lebih! Tolong tidak perlu cemburu dengan saya dan Amira." ucap Bayu dengan suara bergetar. Sulis memegang tangan ayahnya yang sangat dingin.
__ADS_1
"Maafkan saya, Bayu! Saya memang yang terlalu kekanak-kanakan. Saya yang terlalu mencintai Amira, saya tidak sadar, cinta saya malah melukai hati istri saya. Saya kehilangan calon anak kami, mungkin adalah cara Allah menegur saya. Agar jangan terlalu gegabah dan mengikuti hawa nafsu!" Isak Fathu semakin sedih.
"Apakah kamu ingin kami temani, atau ingin sendiri disini?" tanya Bayu.
"Kalau kalian ingin pulang, tidak apa-apa! Saya bisa sendiri menunggu Amira!" ucap Fathu sambil menatap istrinya yang masih belum sadar.
Sulis melihat jam di ponselnya, "Ayah, sudah jam 10 malam, sebaiknya kita pulang dulu. Besok setelah pulang kerja, kita bisa menengok Amira lagi. Semoga saja pas kita kesini lagi, Amira sudah sadar!" ucap Sulis.
"Amien! Terima kasih doanya, dan perhatian kamu atas Amira, maafkan saya karena sudah salah paham kepadamu!" Fathu menyalami Bayu dan di balas pelukan oleh Bayu.
"Santai, bro! Kami akan mendoakan Amira agar segera membaik. Baiklah, kami pulang dulu. Kebetulan besok pagi saya ada meeting penting, tidak bisa di tinggalkan." Bayu dan Sulis lalu pulang ke rumahnya. Tinggal Fathu seorang diri.
Sementara itu, Bayu dan Sulis yang sudah sampai di rumahnya tengah terlibat pembicaraan yang lumayan serius. Sulis sungguh prihatin dengan nasib Amira yang kehilangan bayinya, juga nasib ayahnya yang selalu di waspadai oleh para suami dari wanita lain.
"Sungguh kasihan sekali Amira, dia bahkan sampai menunda kuliahnya karena ingin hamil dulu. Sudah hamil, malah keguguran. Sulis gak bisa bayangin reaksi Amira ketika dia bangun nanti!" ucap Sulis merasa prihatin dengan nasib sahabatnya. Seharusnya dirinya ada di samping Amira di saat tersulitnya, tapi Amira kabur dari rumah tanpa mengabari dirinya sama sekali. Sulis merasa menjadi teman yang buruk.
Sulis akui, dirinya terlalu sibuk dengan kuliah dan teman-teman barunya di tempat kerjanya. Adrian dan Cakra sungguh sukses membuat seorang Sulis mampu untuk melupakan Amira. Sahabatnya sejak kecil dulu. Sulis merasa sedih, belum menjadi sahabat yang baik bagi Amira.
"Amira pasti takut menghubungi kita, suaminya selalu cemburu dengan ayah!" ucap Bayu.
__ADS_1
"Resiko orang ganteng yang terlalu lama menduda. Jadinya selalu di waspadai oleh suami orang lain. Kenapa ayah tidak menikah lagi, sih?" sahut Sulis merasa galau.
Sulis merasa sedih, setiap mengetahui ayahnya selalu di curiga oleh para pria yang istrinya dekat dengan ayahnya. Mungkin mereka takut, istrinya terpesona dengan Bayu Iswara yang tampan dan hebat. Ketampanan ayahnya memang melebihi takaran, sehingga kadang Sulis bertanya kenapa dulu ayahnya di selingkuhi oleh Mamahnya. Mamahnya merupakan wanita paling bodoh yang Sulis tahu di muka bumi ini.