Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
29. Identitas Asyifa Latief terbongkar


__ADS_3

"Terimakasih, ya Kak! Sudah menolong saya! Saya jadi merasa bersalah, sudah mengganggu waktu kalian semua!" Ucap Asyifa dengan perasaan malu dan bersalah.


"Tidak apa-apa, memang saya yang salah. Nama kamu Asyifa Latief?" tanya Adrian sambil matanya terus menatap manik Perempuan yang ada di hadapannya.


"Ya, Kak! Ada apa memangnya?" Asyifa menundukkan kepalanya, merasa malu diperhatikan oleh pria tampan yang ada di hadapannya saat ini.


"Nama kamu kayaknya familiar banget, tapi saya lupa dimana pernah tahu nama itu!" ujar Adrian. Ya Fathu juga merasa bahwa nama itu begitu familiar di telinga tapi Fathu juga melupakan hal itu.


Tiba-tiba telpon berdering ketika mereka sibuk berbincang dengan Asyifa. "Pak Kiai, menelpon! Diamlah jangan berisik!" ujar Adrian sambil memasang jarinya di bibirnya.


"Loudspeaker!" ujar Fathu, karena dia juga ingin mendengar suara Kiainya yang sudah lama tidak bertemu.


"Assalamualaikum, Om,apa kabar?" tanya Adrian. Ya. Adrian ini bisa di bilang santri durhaka. Sejak kecil sampai besar tidak mau memanggil Kiainya dengan sebutan ajengan atau Pak Kiai. Selalu saja Om Ilham!


"Waalaikum salam, Om baik-baik saja, oh ya Adrian, apa kamu sudah bertemu dengan Fathu? Kabarnya dia juga sudah kembali dari Mesir setelah study S2 nya selesai!" ucap Kiai Ilham di seberang sana.


Asyifa yang mendengar suara Abynya hanya menahan nafas, takut ketahuan kalau dirinya bekerja part time dan akhirnya disuruh pulang ke Jawa timur, di suruh mondok di pesantren. Asyifa paling tidak mau tinggal di pesantren dengan segala peraturan yang bikin kepalanya pusing.


"Sudah, Om, Ini kita lagi sama-sama, tapi kita tadi ada insiden kecil, jadi kita berdua sedang di rumah sakit sekarang." ucap Adrian sambil melemparkan senyum kepada Asyifa yang saat ini hatinya deg-degan.


"Assalamualaikum, Pak Kiai! Ini Fathu, Pak Kiai! Lama kita tidak bertemu, ya?" ujar Fathu sambil manggut-manggut, melihat Fathu yang seperti ayam sedang matuki padi, sontak Asyifa tertawa terbahak-bahak, merasa lucu sekali.


"Jaga sikap kamu Asyifa Latief!" teriak Adrian tidak suka.

__ADS_1


"Maafkan saya!" ucap Asyifa merasa tidak enak.


"Sebentar dulu, Adrian! Itu tadi siapa yang bicara?" tanya Kiai Ilham penasaran.


"Oh, itu Om, gadis yang tidak sopan sekali, masa dia tertawa terbahak-bahak, cuma gara-gara Fathu manggut-manggut seperti ayam matuki jagung. Hahahaha!" Adrian sendiri tidak sanggup menahan tawanya.


"Hahahaha kalian ada-ada saja! Adrian, coba alihkan ke video call, Om mau lihat wajah gadis yang tadi tertawa-tawa!" ucap Kiai Ilham ingin membuktikan rasa penasaran yang ada di hatinya.


"Jangan sorot wajahku!" Ucap Asyifa yang sudah ketakutan, tetapi terlambat, Kiai Ilham sudah melihat wajahnya,walaupun sekilas, tapi sudah cukup baginya.


"Syifa! Sedang apa kamu disitu?" tanya Kiai Ilham dengan wajah garangnya. "Maafkan syifa, Aby!" ujar Asyifa dengan wajah di tekuk, sangking takutnya.


"Kenapa kamu berbaring di rumah sakit, itu kepala kamu kenapa di perban, anakku?" ucap seorang wanita cantik di samping Kiai Ilham. Wanita Sholehah yang berhasil mencuri hati seorang Ilham yang sedang galau gara-gara cintanya kepada Kesya kandas di tengah jalan.


"Fathu dan Adrian! jelaskan apa yang terjadi? Kenapa anak Om ada di situ? Bersama kalian?" Adrian bingung mau menjawab apa, apalagi Fathu. Sementara di sana, Asyifa sudah memasang wajah memelas, agar tidak menceritakan kejadian yang sesungguhnya.


"Please, jangan bilang sama Aby masalah saya kerja di cafe! Aby bisa menyuruh saya untuk pulang ke Jawa timur!" Asyifa sudah ketakutan setengah mati.


"Hallo, Adrian! Kamu masih disitu?" tanya Kiai Ilham mulai panik, karena tadi Adrian menutup lubang suaranya dengan tangan supaya ucapan Syifa tidak terdengar ke sebrang sana. "Iya, Om! Maaf, tadi jaringan terganggu. Baiklah, Om. Adrian ada pekerjaan dulu, nanti Adrian sambung lagi. Assalamualaikum!" dasar santri durhaka memang Adrian ini! masa telpon Kiainya di tutup begitu saja!? Hmmmmmmmmm.


"Jelaskan semuanya kepada kami!" mata Adrian kini melotot, ya, hatinya Kim berdetak kencang ketika mengetahui bahwa gadis yang sudah dia celakai ternyata adalah anak Om Ilham yang sejak kecil sangat dia sayangi!


"Bro, gue harus pulang, ini istri gue menelpon terus dari tadi. Gue titip aja deh, sama elo! Lagian dia kayak gitu gara-gara loe! Jadi elo yang harus tanggungjawab sama dia! Sulis dan Cakra ayo kita pulang!" ajak Fathu.

__ADS_1


"Eh, gue pulang pakai apa? Kan tadi berangkat kesini naik mobile loe!" ucap Adrian protes.


"Naik taksi aja! Jangan bilang, Pak Adrian tidak punya uang cash! Ckckck, dasar anak konglomerat! Hidup hanya dari black card!" Sulis lalu mengeluarkan uang merah dua lembar. Lalu pergi dari sana.


"Eh, apa-apa, main lempar-lemparan duit ke muka gue! Duit gue banyak oiiiii!" Adrian mau mengejar mereka tapi mereka sudah pada menghilang.


"Gara-gara loe, Gue ditinggalin temen-teman gue!" protes Adrian dengan lemas duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien.


"Maafkan, ya! Udah merepotkan! Kamu pulang aja! Aku bisa urus diriku sendiri! Gak apa-apa, kok!" ujar Asyifa dengan wajah polosnya.


"Katakan kepadaku! Kenapa kamu gak jujur, kalau kamu anak Om Ilham? Saya yakin banget kalau kamu tahu bahwa kami pernah Mondok di pondok pesantren milik Aby kamu!" todong Adrian dengan mata elangnya.


"Demi Allah, saya sama sekali tidak ingat dengan kalian. Saya baru menyadari ketika Aby menelpon, saya kenal suara Aby ku, apalagi ketika melihat Gus Fathu yang manggut-manggut kaya ayam matuki beras tadi, sungguh, aku gak tahan untuk tertawa. Lucu banget sumpah!" mereka berdua akhirnya malah tertawa terbahak-bahak bersama. Ketika sadar, Adrian wajahnya jadi memerah karena merasa malu.


"Apakah aku perlu memberitahu Om Ilham tentang keadaan kamu?" tanya Adrian kini bisa duduk dengan rileks setelah mengetahui bahwa Asyifa tidak sedang mengerjai dirinya dan teman-teman nya tadi.


"Gak usah, aku gak mau nanti Aby malah menyeret saya untuk pulang ke Jawa timur, saya gak mau hidup di pondok pesantren, saya ingin bebas di luar, saya ingin meraih impian saya!" ucap Asyifa dengan menggebu.


"Impian apa yang kau maksud, huh! Anak kecil!" Adrian menggeplak kepalanya Asyifa sangking gemasnya.


Nah tuh, namanya santri durhaka kayak gitu. Masa anak Kiainya di perlakuan tidak hormat kaya gitu? Hadeh.. Adrian! Kamu emang kudu di rukyah, biar nanti kagak jatuh cinta dengan Asyifa Latief yang cantik, yang sejak kecil udah nempel kaya perangko sama kamu. Yang bahkans sering kamu cebokin ketika dia BAB ataupun kencing di celana. Hahahaha.


Adrian kesusahan menelan ludahnya ketika ingat masa kecil gadis itu, yang selalu menangis di pelukan dia, kalau lihat Om Ilhamnya akan pergi ceramah dan Asyifa tidak di ajak. Kuping Adrian sudah memerah, apalagi kalau ingat ketika kecil dia sering mencium gadis cantik yang kini ada di hadapannya. Belum apa-apa, Adrian sudah kena mental duluan! Hadeh! Kasihan Adrian!

__ADS_1


__ADS_2