Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
116. Elena Mengamuk


__ADS_3

Ketika mengetahui bahwa putranya saat ini sedang ada di rumah sakit. Elena langsung terbang menuju Inggris. Kebetulan saat ini putrinya ada di Indonesia karena harus menangani bisnis mereka di sana.


"Semoga saja Marta bisa mengurus bisnis yang ada di Indonesia. Sehingga aku bisa tenang untuk menyusul Mark ke Inggris bersama dengan Steven!" ucap Elena sambil beres-beres dan sudah siap berangkat ke Inggris menggunakan penerbangan pertama pada hari itu juga.


"Sungguh lancang sekali si Bayu ini. Dia berani sekali macam-macam dengan Putra kesayanganku. Awas saja tidak akan ku biarkan putrinya hidup dengan tenang!" ucap Elena dengan marah terhadap besannya yang sudah berani menghajar Steven tanpa ampun bahkan sampai masuk ke rumah sakit.


"Lihat saja Bayu! kau berani menghajar Putraku. Maka aku pun pasti bisa menghajar putrimu. Kau benar-benar manusia tidak beradab!" sepanjang jalan menuju bandara Elena terus mengamuk. Dia tidak terima putranya dihajar habis-habisan oleh Bayu.


Setelah melakukan penerbangan selama berjam-jam menuju Inggris. Elena langsung pergi ke rumah sakit tempat Steven saat ini sedang dirawat.


Mata Elena langsung melotot ketika melihat Sulis yang ada di samping putranya yang sedang mengupaskan apel untuk Steven yang sudah mulai sadar dan bisa duduk bersandar di dashboard ranjangnya.


"Jadi kamu yang bernama Sulis huh? Ayahmu sungguh lancang! Sudah berani menganiaya Putraku. Kamu lihat saja, apa yang akan kulakukan padamu!" ucap Elena dengan mata melotot mendekati Sulis dan hendak menjambak jilbab yang digunakan oleh Sulis.


Tetapi pada saat itu, Mark masuk ke dalam ruangan Steven. Dia langsung menarik tangan Elena yang hendak menjambak jilbab Sulis dengan cekatan.

__ADS_1


"Mah! Apa yang kau lakukan? Jangan sembarangan. Sulis saat ini sedang hamil cucu kita, anak Steven! Jangan kau berbuat macam-macam padanya. Papa tidak akan pernah memaafkanmu, kalau terjadi apa-apa dengan Sulis!" ucap Mark sambil menatap tajam kepada Elena yang saat ini menatapnya seakan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


"Papah lebih membela dia daripada Mama dan juga Steven!? Apakah saat ini Papa sudah kehilangan akal?" tanya Elena seakan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Mark.


"Anakmu itu memang pantas dihajar! Dia sunggub lancang sekali. Beraninya dia menyuruh Sulis untuk melayani hasrat gila teman-temannya. Padahal saat ini Sulis sedang hamil cucu kita. Papa pun kalau mendengarkan hal seperti itu pasti akan mengajar dia sampai mati!" ucap Mark dengan emosi yang memuncak sambil dia melihat ke arah Steven yang sekarang menundukkan kepalanya merasa takut melihat amarah di mata ayahnya.


"Apa benar seperti itu Steven? Kau telah memperlakukan istrimu seperti itu?" tanya Elena kepada putranya yang semakin menundukkan kepalanya makin takut dia kepada kedua orang tuanya.


"Jawab pertanyaan Mama Steven! Betul kau melakukan hal seperti itu pada istrimu?" tanya Elena sambil mentoyor kepala Steven sangking jengkelnya menunggu jawaban putranya yang dari tadi tak mau menjawab pertanyaannya.


"Benar Mah! Waktu itu ulang tahunnya Abraham. Dia meminta hadiah untuk bisa dilayani oleh Sulis selama dua hari dua malam. Karena dia tergila-gila dengan istriku. Sebagai gantinya kalau aku mengizinkan maka dia akan memberikan mobil sport-nya yang selama ini sangat aku inginkan Mah! Makanya Steven meminta Sulis untuk memberikan pelayanan selama 2 hari dua malam kepada Abraham. Tetapi Sulis tidak mau. Jadi akhirnya Steven memukul dia selama tiga jam. Makanya di tubuhnya banyak lebam-lebam. Steven melakukan itu karena marah Mah. Karena Sulis tidak mau menuruti keinginanku!" ucap Steven menerangkan semua kronologis yang sesungguhnya kepada kedua orang tuanya.


"Kau benar-benar bikin malu orang tua Steven! Apakah kau semiskin itu? Sampai harus menjual istrimu hanya demi sebuah mobil sport? Apakah papamu tidak bisa membelikannya untuk kamu huh? Kamu minta di hajar juga sama mama!" ucap Elena kemudian dia pun langsung memukuli tubuh Steven membabi buta. Sangking gemesnya dia mendengarkan cerita tentang menantunya yang hendak dijual oleh putranya sendiri.


Sulis yang sekarang menatap apa yang dilakukan oleh Elena terhadap Steven. Dia bingung harus bagaimana ketika melihat Steven yang terus dipukuli oleh ibunya sendiri hingga menjerit kesakitan.

__ADS_1


"Ampun Mah! Ampun Mah! Steven janjin nggak ulangi lagi Mah. Tolong Mah sakit ini. Luka yang kemarin dipukul sama ayahnya Sulis aja belum sembuh. Mama lagi sekarang mukulin Steven!" ucap Steven meringis kesakitan karena ibunya tidak mau berhenti memukuli dia.


"Mah sudah Mah! Kasihan Steven Mah. Dia pasti merasa kesakitan mah! Sudah Mah. Sulis tidak apa-apa kok. Sulis saat ini sudah memaafkan dia. Bagaimanapun Steven adalah Ayah dari anakku. Mah tolong mah hentikan!" ucap Sulis berusaha untuk menghentikan Elena memukuli Steven dengan air mata yang berlinang di pipinya.


"Lihatlah anak brandal! istrimu begitu memperhatikanmu dan sayang dengan kamu. Walaupun kau sudah begitu jahat menyakiti hati dan fisiknya. Tetapi dia masih juga mau membelamu di hadapan kami. Apakah kau masih tidak punya hati nurani untuk melihat betapa baiknya hati istrimu?" ucap Mark sambil mentoyor kepala putranya yang kini semakin meringis kesakitan karena diserang oleh dua kubu yaitu Ayah dan Ibunya.


"Iya Mah Iya Pah! Steven janji nggak akan ulangi lagi! Tolong dong jangan siksa Steven lagi. Sudah habis badan Steven dihajar sama ayahnya Sulis!" ucap Steven kini sudah mulai meneteskan air mata karena tubuhnya merasakan pedas dan sakit. Karena terus dipukulin orang tuanya yang saat ini sedang marah kepadanya.


"Awas kalau sekali lagi Mama sampai mendengar kejadian semacam itu dan kau berani main tangan terhadap istrimu, lihat saja! Mama tidak akan pernah mengampunimu!" Elena samping gemesnya terhadap Steven.


"Iya Mah Steven janji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Tolong mah jangan siksa Steven lagi sakit tahu, Mah!" ucap Steven terus memohon kepada kedua orang tuanya untuk menghentikan mereka memukulinya.


Sulis tampak terpesona ketika dia melihat pemandangan itu. Ketika dia melihat Steven yang kini menitikkan air matanya dan memohon kepada kedua orang tuanya untuk tidak memukulinya lagi.


'Dia sungguh berbeda ketika ada di hadapan kedua orang tuanya. Dia sama saja seperti anak yang lain. Anak manja dan juga kolokan. Berbeda sekali ketika dia menjadi seorang suami yang arogan dan sombong!' batin Sulis sambil terus menatap kepada Steven yang masih berusaha untuk melepaskan diri dari pukulan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Akhirnya karena merasa lelah, Elena melepaskan Steven juga. Kemudian dia memberikan peringatan terakhir kepada putranya.


"Kau ingat! Satu kali lagi kau berbuat aneh-aneh terhadap istrimu dan juga calon cucu Mama! Papa dan Mama akan mencoret namamu dari KK dan kita lihat saja! Apa yang akan terjadi padamu kalau kau sudah jadi gembel!" ancam Elena dengan mata berapi-api dan kemarahan terhadap putranya yang kini semakin menggigil ketakutan.


__ADS_2