
Kakeknya Adrian kemudian mengambil ponsel milik Cakra yang tergeletak di lantai.
"Adrian Apa yang terjadi? Kenapa Cakra sampai pingsan? Apa yang kau katakan padanya?" tanya kakeknya Adrian dengan penuh penasaran.
"Kakek mama sudah meninggal! Tolong segera persiapkan untuk menyambut jenazah Mama Yang akan segera kami bawa dari rumah sakit!" ucap Adrian dengan suara tersekat di tenggorokannya.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun! Ya Allah kenapa Kesya harus mendahului kami berdua? Para tua bangka yang sudah terlalu lama hidup di dunia ini! Padahal seharusnya kami yang duluan untuk menghadap Allah!" ucap katanya Adrian dengan perasaan penuh sedih. Bagaimanapun selama ini dirinya sangat menyayangi Kesya. Kesya telah memberikan banyak perubahan ke dalam keluarganya.
"Baiklah Adrian kakek tutup dulu teleponmu karena kakak harus segera mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan jenazah ibumu!" kemudian Farhan pun menutup panggilan tersebut dia mendatangi istrinya yang saat ini sedang tertidur pulas di kamarnya.
"Oh ya Tuhanku! Aku sampai lupa dengan Cakra!" kemudian Farhan meminta kepada sopir di kediamannya. Yang sengaja dia bangunkan agar bisa mengangkat Cakra ke dalam kamarnya.
Keluarga Abimana memang semuanya sedang berkumpul di Indonesia. Karena mereka telah menghadiri acara pernikahannya Adrian dan Syifa.
Mereka masih senang dan betah untuk tinggal di Indonesia belum ada niat untuk kembali ke Dubai.
Bahkan luarga Merry dan Alvian pun mereka masih stay di Jakarta.
Tetapi mereka lebih memilih untuk tinggal di kediaman ayahnya Alvian. Yang sekarang telah ditinggalkan oleh ayahnya dan istri barunya, karena mereka sudah pindah ke Dubai. Pekerjaan ayahnya memang lebih banyak di Dubai. Jadi wajar kalau Ayahnya lebih memilih untuk tinggal di sana.
Farhan kemudian menghubungi Merry dan Alfian untuk segera datang ke kediamannya untuk membantunya menyambut jenazah Kesya yang sudah dalam perjalanan dari rumah sakit.
Adrian masih merasa ragu tentang meninggal ibunya. Oleh karena itu dia memaksa kepada Andika untuk membawa jenazah Kesya ke rumah sakit. Hal itu di lakukannya untuk memastikan sebab-sebab kematian ibunya yang mendadak.
__ADS_1
Setelah dilakukan otopsi dan juga visum terhadap jenazanya. Ternyata di dalam tubuh Kesya ditemukan sebuah racun mematikan yaitu Arsenik.
Penemuan dari pihak tim forensik itu, kini menjadi sebuah pukulan berat untuk keluarga Abimana. Karena mereka merasa tidak memiliki musuh. Kenapa tiba-tiba ada yang memberikan racun itu kepada istrinya?
"Cobalah Papa berfikir. Siapa yang kira-kira begitu tega terhadap mama dan memberikan racun mematikan itu?" tanya Adrian terus mendesak sang ayah agar bisa memberikan pencerahan atas segala pertanyaan yang saat ini ada di dalam hatinya.
"Mmamu itu seorang wanita yang sangat baik hatinya. Dia tidak pernah memiliki musuh. Bagaimana mungkin Papa tahu kalau ada orang yang ingin mencelakai dia?" ucap Andika merasa frustasi dengan semua permasalahan mengenai kematian istrinya.
"Coba Papa ingat-ingat lagi. Selama berada di hotel, apa saja yang kalian lakukan dan apa saja yang diminum oleh Mama ataupun dimakan oleh Mama!" Adrian terus mendesak ayahnya untuk menceritakan semua yang terjadi kepada mereka berdua selama mereka tinggal di dalam hotel.
"Kami hanya terus mencarimu selama seharian itu. Karena kami bingung tentang keberadaanmu dan Syifa. Kami berusaha menghubungimu beberapa kali tapi selalu gagal lalu____" apa saja ucapan Andika menggantung dan dia menatap Adrian dengan lekat dan dalam.
"Lalu apa, Pah?" Adrian begitu penasaran dan ekspresi ayahnya yang begitu penuh dengan misterius.
"Ada seorang pelayan yang memberikan ibumu minuman. Karena waktu itu, ibumu hampir jatuh pingsan mungkin karena kelelahan mencarimu kesana kemari!" Andika kemudian dia pun langsung berlari menuju ke ruangan manajemen hotel tersebut.
Adrian masih bengong. Dia tidak mengerti apa yang saat ini sedang dilakukan oleh ayahnya yang begitu misterius.
"Apa yang terjadi kepada mereka berdua selama kepergianku bersama dengan Syifa? Kenapa ini seperti kasus misteri saja?" terus bertanya dan bermonolog dengan dirinya sendiri berusaha mencari jawaban atas segala pertanyaannya yang selalu saja buntu.
Sementara itu, Andika dia langsung menemui pihak Manager dari hotel tersebut.
"Tuan Andika! Ada apa? Apakah ada yang bisa saya bantu?" ucap Manager tersebut dengan takut-takut karena dia sangat mengenal sosok Andika Abimana sosok yang begitu terkenal di dunia bisnis perhotelan.
__ADS_1
"Bawa Aku menuju ruang CCTV hotel ini! Karena aku ingin menyelidiki tentang kematian istriku!" ucap Andika dengan suara dingin dan datarnya.
"Maafkam saya, Tuan Andika! Untuk kami bisa membuka dan memperlihatkan CCTV hotel ini. Anda harus mempunyai surat dari kepolisian. Karena kami tidak bisa dengan sembarangan untuk menunjukkannya kepada siapapun. Karena itu merupakan privasi dari hotel kami!" ucap manajer itu sambil gemetar.
Manager itu terus menundukkan kepalanya. Dia takut dan tidak berani menatap mata Adrian yang begitu ganas dan seperti singa lapar yang siap menerkam siapapun yang ada di hadapannya.
"Apakah kalau aku melaporkan hotelmu ini telah membantu rencana pembunuhan terhadap istriku. Apakah kau masih bisa memikirkan tentang privasi daripada para pelanggan hotelmu ini, huh?" tanya Adrian dengan begitu dingin dan menatap tajam kepada manajer yang sudah sangat ketakutan dan juga gemetar seluruh badannya.
"Cepat kau antarkan aku ke ruangan CCTV sekarang juga! Kalau sampai pelaku dalam kasus pembunuhan istriku sudah menghapus rekaman itu, sehingga aku kehilangan bukti. Maka kau akan aku laporkan ke polisian bahwa kau telah membantu pelaku dalam rencana membunuh istriku!" ucap Andika dengan suara yang keras dan penuh dengan ancaman.
Ketika mendengarkan bahwa dirinya akan dilaporkan ke kantor polisi oleh Andika. Manajer tersebut sudah gemetar. Keringat sebesar biji jagung sudah mengucur dengan deras di dahinya. Kemudian dia pun dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, langsung membawa Andika ke ruangan CCTV.
"Mari, silakan Tuan! Silahkan masuk. Ini adalah ruangan CCTV dari hotel kami. Semua aktifitas di hotel ini, bisa dipantau dari ruangan ini!" ucap manajer tersebut menjelaskan kepada Andika.
"Hmmmmm!" ucap Andika.
Andika kemudian tampak sedang berpikir keras untuk mengingat-ingat. Waktu Ketika istrinya mendapatkan sebuah minuman dari seorang pelayan di lobby hotel.
"Coba kau putar rekaman hari ini, di lobby hotel sekitar pukul 15.00 WIB. Di mana pada waktu itu, saya sedang meminta kepada pihak resepsionis untuk memberikan pengumuman tentang saya yang mencari Putra saya di hotel ini!" Andika memberikan perintah kepada petugas yang ruangan menjaga CCTV.
"Oh, bukan! Itu adalah waktu ketika istriku sudah meninggal. Dan aku meminta mereka untuk mengumumkan kepada putraku untuk menemui kami di kamar yang kami berdua tempati bersama istriku. Coba kau tunjukkan waktu sebelum itu waktu di mana aku mendatangi resepsionis tentang bertanya kemungkinan anakku menginap di hotel ini!" ucap Andika meralat apa yang menjadi perintahnya kepada petugas CCTV tersebut.
Pikiran Andika yang saat ini sedang kalang kabut dan bercabang. Sehingga membuat dia tidak fokus dan ingatannya bertukar-tukar.
__ADS_1
Sejak tadi Andika sudah merasa tidak tenang pikirannya. Karena dia ingin segera mengurus jenazah istrinya.
Tetapi misteri meninggal istrinya pun masih harus diselidiki dengan jelas. Jangan sampai pelaku itu melarikan diri dan bebas ataupun melenyapkan bukti.