Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Kelakuan Triple A


__ADS_3

"Bang, Anzel minta maaf ya bang."


Anzel berujar pada Arvel, ketika ia dan Axel menyambangi rumah sakit. Sesaat setelah keduanya pulang dari sekolah.


"Iya." jawab Arvel.


"Abang nggak marah kan?"


"Nggak." jawab Arvel lagi.


"Beneran, bang?"


"Beneran."


"Tapi abang kayak nggak meyakinkan gitu."


"Anzel, gue tinju bolak balik lo ya."


Arvel sewot, sementara Anzel kini tertawa.


"Nah ini baru diri lo yang sejati, bang." ujarnya kemudian.


"Bangsat."


Arvel menjawab sambil tertawa.


"Ya udah nih, abang udah maafin kalian."


"Koq kalian?. Kan bang Anzel yang salah, Axel mah nggak."


Axel membela diri.


"Tapi kan lo ikut-ikutan juga." ujar Anzel.


Axel menatap kedua kakaknya tersebut.


"Iya deh, taroklah gitu." ujarnya kemudian.


"Nah berhubung kalian udah abang maafin. Kalian harus beliin abang pecel lele." ujar Arvel.


Anzel dan Axel saling menatap satu sama lain, lalu kembali menatap kakak mereka tersebut.


"Abang kan sakit." ujar Axel.


"Iya bang, abang harusnya makan makanan yang disediakan rumah sakit. Karena itu lebih sehat buat abang." Anzel menimpali.


"Abang makan makanan rumah sakit. Nah Axel sama abang An yang makan pecel lele. Adil kan?"


"Bener, bener, bener, bener."


Anzel turut berujar sambil tertawa dan penuh bersemangat.


"Oh ya udah kalau gitu, abang nggak jadi maafin."


Arvel berkata sambil menahan tawa, namun berusaha memasang tampang yang sok serius.


"Heee, bayi tua." Axel membuat gerakan seakan hendak memukul Arvel.


"Apa?" ujar Arvel kemudian.


"Nggak bang, nggak berani. Abang sabuk item soalnya, hehe."


Axel dan Anzel sama-sama nyengir lalu,


"Tuing."


Mereka melesat dan menghilang di balik pintu. Mereka pergi ke seberang rumah sakit untuk membeli pecel lele. Sebelum kakak tertua mereka itu mengamuk.


***

__ADS_1


Setelah beberapa saat berlalu, mereka kembali.


"Nih bang, pecel lele nya. Axel bukain ya." ujar Axel.


"Kalian ada beli juga nggak?" tanya Arvel.


"Oh jelas dong." ujar Anzel sambil tertawa.


"Masa iya abang makan, kita nggak." lanjutnya lagi.


"Ya udah, itu nasi yang punya Abang bagi dua. Separuh di Anzel, separuh lagi di Axel. Lele nya juga bagi dua, lalapannya sama. Abis itu kalian suapin abang."


"Ribet ya hidupnya." gerutu Anzel kemudian.


"Abang nyusahin." timpal Axel.


"Udah di turutin juga maunya." lanjut remaja itu lagi.


"Kalau abang makan sendiri, ntar tiba-tiba ada perawat masuk atau mama datang gimana?"


"Oh iya, iya bener." ujar Anzel.


"Kalau gitu kan bisa pura-pura kalian yang makan, bukan abang." Lagi-lagi Arvel berujar.


"Lo emang pinter sih, bang. Pantes aja lo juara umum, nggak kayak bang Anzel."


Perkataan Axel tersebut sontak membuat Anzel berasap ubun-ubunnya. Rasanya ia ingin mengirim Axel ke kutub Utara.


"Masih mending gue juara tiga dari depan. Temen gue juara satu dari belakang santai aja koq." Anzel membela diri.


Mereka kemudian membagi nasi dan lauk sesuai apa yang diinstruksikan oleh Arvel sebelumnya. Tak lama mereka terlihat sudah berada di sisi kanan dan kiri kakak tertua mereka tersebut. Lalu mereka pun menyuapinya dengan tangan.


Mereka makan dengan lahap. Sesekali terdengar riuh tawa lantaran salah satu dari mereka mengucapkan atau mengatakan hal yang lucu.


"Aaa'."


Arvel meminta suapan pada Axel.


"Emang iya?" tanya Arvel.


"Iya, nih gue dulu."


"Hap."


"Hap."


Axel menyuap dua kali, hingga mulutnya penuh. Sementara Arvel kini tertawa dan disuapi oleh Anzel.


Sementara diluar, Ferdi dan Clara telah tiba di muka pintu kamar.


"Yang penting udah kelar, Fer. Makanya aku lega banget." ujar wanita itu.


Ferdi membukakan pintu kamar tempat dimana Arvel di rawat. Clara hendak masuk, kemudian ia terkejut melihat Arvel tengah di suapi oleh kedua adiknya. Ia juga menilik pada meja sofa, tempat dimana bungkus nasi dan bekas sambal masih berada.


Clara hendak memarahi mereka, namun Ferdi menahan wanita itu dengan mencekal lengannya. Ferdi menggelengkan kepala sambil menatap Clara. Tak lama ia pun membawa istrinya itu untuk kembali ke luar.


"Fer, ini Arvel masih sakit. Dia belum boleh makan makanan selain makanan rumah sakit."


"Kata siapa, Clara?. Yang penting dia mau makan. Lagipula dia makan nasi kan, bukan batu."


"Iya, tapi ada sambelnya segala."


"Yang penting cabenya bukan Carolina Reaper." ujar Ferdi.


Clara terdiam.


"Jangan memperbesar masalah yang sejatinya kecil, Cla. Kalau bisa masalah kecil itu lebih diperkecil lagi, bahkan dihilangkan."


"Kamu mah, kalau aku mau ngingetin anak dimarahin mulu."

__ADS_1


"Aku bukan marah. Bedakan antara marah dan mengingatkan. Aku kayak gini, supaya kamu jadi ibu yang nggak dikit-dikit marah. Kalau kamu dikit-dikit marah, anak-anak itu nantinya bisa punya jarak sama kamu. Mereka akan takut untuk bicara ataupun jujur sama kamu soal apapun."


Clara menarik nafas dalam-dalam. Perkataan Ferdi tersebut ada benarnya juga.


"Kamu yang tenang ya, sekarang."


Ferdi tiba-tiba menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Hingga segala kesal di hati Clara mendadak hilang begitu saja.


Clara menempelkan kepalanya di dada Ferdi. Namun kemudian tiba-tiba muncul Nando di dekat mereka.


"Ehem."


Nando mengagetkan mantan istri dan juga suami baru dari mantan istrinya tersebut. Clara menatap pria itu, begitu pula dengan Ferdi.


"Saya dengar anak saya sakit dan di rawat disini. Saya mau lihat anak saya." ujar Nando kemudian.


"Silahkan!" jawab Clara singkat, namun dengan tatapan yang tak begitu bersahabat.


"Ini kamarnya." ucap Clara.


Nando pun masuk ke dalam kamar, tempat dimana Arvel di rawat. Setelah sebelumnya ia menatap Ferdi terlebih dahulu. Ferdi sendiri balas menatap pria itu dengan tak gentar sedikitpun.


"Anak-anak."


Nando menyapa ketiga anaknya, saat mereka baru saja menyelesaikan makan. Ketiga anak itu pun kaget.


"Koq Arvel ikutan makan yang bukan makanan rumah sakit?"


Ia bertanya pada ketiga anaknya itu. Ketiga anak itu kompak menghela nafas karena malas menghadapi Nando.


"Kalian ini, abang kalian itu lagi sakit. Jangan sembarang kasih makanan." ujar Nando lagi.


"Arvel yang maksa mereka buat beliin koq." jawab Arvel membela kedua adiknya.


"Iya, seharusnya mereka nggak menuruti dan mengingatkan kamu."


"Udah abis juga, nggak usah dijadikan masalah." tukas Arvel.


"Ini akibat didikan ibu dan bapak tiri baru kalian itu kan?" Nando langsung menjudge.


Ketiga anak itu agak tak enak hati mendengarnya.


"Jangan apa-apa menyalahkan orang, terutama mama." Kali ini Anzel yang bersuara.


"Karena kami ini bukan anak kecil. Kadang kami membuat keputusan sendiri dan bukan salah mama."


"Dan jangan bawa-bawa om Ferdi." ujar Axel.


"Dia nggak tau apa-apa dan nggak salah apa-apa."


"Papa tetap tidak menyukai hal ini." ujar Nando.


"Gimana keadaan kamu, Arvel?" tanya nya kemudian.


"Baik." jawab Arvel dengan acuh tak acuh.


Sementara kini Anzel dan Axel keluar. Mereka kaget ada Clara dan Ferdi di muka pintu.


"Ma, mama baru datang?" tanya Anzel.


"Udah dari tadi." jawab Clara.


Kedua anak itu kembali kaget.


"Itu ada papa di dalam, tadi dia masuk nggak mama halangi?" tanya Anzel lagi.


Clara menarik nafas.


"Dia ayah kalian. Walau dia nggak ada tanggung jawab dan kalian nggak suka sama dia, mama tuh nggak punya hak buat melarang dia untuk ketemu anak-anaknya. Jadi selama dia nggak membuat kegaduhan, ya udah biarin aja. Kecuali dia sampai menyakiti kalian, mama akan turun tangan langsung untuk menghadapi dia." ucap Clara.

__ADS_1


***


__ADS_2