Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Makanan Misterius


__ADS_3

"Makasih ya pak." ucap Frans pada seseorang yang membeli salah satu apartemen miliknya.


Transaksi sudah dilangsungkan, Frans kini memegang uang sebesar 800 juta. Ditambah ia tempo hari menjual mobil sebesar 200juta. Ia telah mengumpulkan sebesar 1 Milyar dan ini akan diperuntukan bagi Jeffri, sang ayah.


"Lo udah jual apartemen lo?" tanya Igor pada Frans.


"Udah, tapi jangan bilang-bilang Nadia ya. Dia suka ribut kalau gua jual aset. Alasan buat masa depan lah, apalah. Padahal dia belum jadi bini gue, baru calon. Gue mau bantuin Ferdi, gue nggak mau diem aja." jawab Frans kemudian.


"Iya, lo tenang aja. Kapan sih gue pernah bocor jadi orang." ucap Igor.


"Thanks, bro. Ini duit mau gue bawa dulu ke bokap gue."


"Ya udah, sana!. Dia udah datang tuh." ujar Igor lagi.


"Oke deh, gue kesana dulu."


Pria itu pun lalu bergerak. Ia menemui Jeffri dan menyampaikan maksud. Kemudian ia membawa uang sebesar satu milyar ke hadapan ayahnya tersebut.


"Frans nggak tau ini cukupnya sampai mana. Tapi Frans nggak mau hanya Ferdi yang di tekan untuk membantu papa. Frans juga mau dilibatkan dalam hal ini."


Jeffri menatap sang anak. Ia menghela nafas panjang kemudian berkata.


"Papa bersalah sama kamu dan Ferdi. Segera setelah masalah ini beres, dan perusahaan kembali normal. Papa akan segera mengganti uang kalian." ujarnya.


"Soal itu papa nggak usah terlalu pikirkan. Frans masih bisa berusaha untuk mengumpulkan lagi." ucap Frans.


"Thank you, Frans. Papa sayang kamu dan Ferdi."


Jeffri berkata dengan nada penuh penyesalan, namun ia berada dalam kondisi yang tak bisa menolak uang tersebut.


Sementara di rumah, Clara telah bersiap untuk berangkat ke kantor. Anak-anak sudah pergi ke sekolah sejak pagi tadi. Ferdi sendiri boleh berangkat agak siang, karena ia kemarin lembur.


"Kamu yakin mau kerja hari ini?"


Ferdi bertanya pada Clara yang sudah rapi dan siap berangkat.


"Yakin, Fer. Aku udah nggak apa-apa koq. Udah nggak terlalu mual lagi juga." jawab Clara.


Ferdi mendekat lalu mengusap-usap perut wanita itu.


"Baik-baik ya nak, jangan nyusahin mama. Kasihan mamanya kalau muntah terus." ujarnya.


Clara tersenyum mendapat perlakuan tersebut. Lalu keduanya saling berciuman dan berpelukan.


"Kita sarapan dulu yuk!" ajak Ferdi.


"Aku udah bikinin susu buat kamu." lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Ayo!" jawab Clara.


Mereka lalu keluar kamar dan menuju ke meja makan. Seperti biasa ada roti disana dan itu cukup untuk mereka. Baik Clara maupun Ferdi bukan orang yang rewel soal makanan dirumah. Apa saja yang tersedia, mereka akan makan.


"Kamu nggak bikin susu, Fer?" tanya Clara.


"Ini aku bikin kopi." jawab Ferdi seraya menarik dua kursi, lalu mereka sama-sama duduk.


"Kopi mulu kamu mah, udah tau ada asam lambung juga." ujar Clara.


"Ngomel mulu kamu, untung cantik."


Ferdi menggoda istrinya tersebut, yang berakhir dengan pukulan kecil oleh Clara di tangannya.


"Gombal banget, untung ganteng." balas Clara.


Maka keduanya sama-sama tertawa, lalu mengambil dan menikmati sarapan pagi mereka. Usai sarapan, Ferdi mengantar Clara ke kantor.


Jika hari-hari sebelumnya ia membiarkan saja Clara naik sendiri ke tangga lobi. Kini ia menemani wanita itu sampai di muka pintu otomatis.


"Kamu hati-hati ya sayang, ke atasnya. Apa mau aku antar?" tanya Ferdi.


Clara tersenyum dengan sikap suaminya itu. Ia mengerti, sebab ini adalah pengalaman pertama Ferdi menghadapi wanita hamil. Wajar ia terlihat sangat khawatir. Agak berbeda dengan Clara yang sudah hamil dua kali.


Sepanjang mengandung Anzel dan juga Axel, ia tak lantas tinggal diam saja. Ia masih aktif kesana-kemari, bahkan kadang membuat khawatir para karyawan yang melihatnya.


"Aku nggak apa-apa ke atas sendirian. Lagian naik lift koq, bukan tangga ini." ujar Clara.


"Iya sayang, nanti aku kabarin." ucap Clara lagi.


Ferdi kemudian mencium kening istrinya itu dan membiarkan ia masuk ke dalam lift bersama karyawan lain. Tak lama Ferdi pun melanjutkan perjalanan menuju kantor.


Sesampainya di kantor, ia kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. Termasuk aplikasi yang saat ini masih ia kembangkan.


Sudah banyak yang mengunduh aplikasi berbayar tersebut. Dan ini bisa menjadi ladang cuan bagi dirinya dan juga Nath.


"Fer, pak bos udah masuk tuh. Koq lo telat?"


Jordan berkata pada Ferdi ketika ia baru kembali dari toilet.


"Gue udah bilang semalam, kalau gue bakalan agak siang datangnya."


"Oh, kirain lo nggak tau dia udah pulang." seloroh Jordan lagi.


"Orang semalam dia ke kantor koq." ujar Ferdi.


"Oh ya?"

__ADS_1


"Iya, sendiri lagi. Mana mukanya masih pucat begitu. Kan gue ngeri ada apa-apa sama dia."


Tak lama Sean dan Nova tiba sambil membawa banyak cup berisi kopi.


"Widih, ada acara apa nih?" tanya Ferdi.


"Tumben." lanjutnya lagi.


"Nova dapat cowok baru tajir melintir. Makanya dia traktir." Sean menjelaskan.


"Oh ya?. Siapa lagi Nov?" tanya Ferdi pada Nova.


"Ntar gue kenalin deh ke kalian. Nih lo pada minum kopi aja dulu." ujar Nova kemudian.


Ferdi pun menerima salah satu kopi dari gadis itu, meski tadi dirumah ia sudah meminum minuman tersebut.


***


Sekolah Arvel, saat jam istirahat.


Seorang siswi di kelasnya datang mendekat.


"Vel, ini ada titipan dari ibu-ibu." ujar siswi tersebut.


"Apaan nih?. Ibu-ibu siapa?" tanya Arvel heran.


"Tadi ada di depan. Ini kayaknya makanan deh. Dia nanya ke gue kenal nggak sama lo. Gue bilang kenal, terus dia nitipin ini."


"Lo nggak nanya namanya siapa?" Lagi-lagi Arvel bertanya.


"Udah, gue bilang ini dari ibu siapa ya?. Terus dia diem aja dan langsung pergi." jawab siswi tersebut.


Arvel diam, ia telah mendapatkan laptop gaming secara misterius waktu itu. Belum diketahui siapa yang memberi. Kali ini ia mendapat kiriman makanan yang ia sendiri pun tidak tau dari siapa.


"Ibu-ibunya ada di depan?" tanya Arvel.


"Tadi sih, iya. Nggak tau deh kalau sekarang."


"Oke, thanks ya."


"Sama-sama."


Arvel bergegas menuju ke gerbang depan. Ia keluar dan mencari ibu-ibu yang dimaksud. Namun sepanjang mata memandang ia tak menemukan ibu-ibu satu pun. Seorang teman akrab mendekat pada Arvel.


"Nyari siapa, bro?" tanya nya kemudian.


"Ini, tadi si Intan kasih ini ke gue." Arvel menunjukkan paper bag yang berisi makanan yang tengah ia genggam.

__ADS_1


"Katanya tuh dari ibu-ibu, tapi nggak tau ibu-ibunya tuh siapa." lanjut Arvel lagi.


Temannya itu bantu melihat ke sekitar, namun ibu-ibu yang dimaksud itu menang tidak ada. Di muka sekolah hanya ada beberapa pedagang kaki lima saja.


__ADS_2