
Arvel, Anzel dan Axel meninggalkan ibu dan ayah tiri mereka untuk berdua saja di dalam kamar rawat. Barangkali mereka ingin berbicara hal penting. Mereka kini menuju ke kantin rumah sakit.
"Cla, tadi tuh aku mau nanya sama dokter tapi malu."
Ferdi berujar pada Clara, saat anak-anak sudah tak ada lagi di kamar tersebut.
"Soal apa?" tanya Clara.
Ferdi menatap perut Clara dan membelainya dengan lembut.
"Tadi kan ini masih aku hajar, mana aku keluarin di dalam semua lagi. Apa dia nggak apa-apa?" tanya Ferdi.
"Tadi dokter bilang apa sama kamu?" lagi-lagi Clara bertanya.
"Cuma bilang kalau kamu hamil doang." jawab Ferdi.
Clara tersenyum.
"Nggak apa-apa berarti." ucap Clara.
"Kalau ada apa-apa, dokter pasti bilang koq." lanjutnya lagi.
"Iya sih, tapi aku jadi merasa bersalah. Maafin papa ya." Ferdi mengusap dan mencium perut Clara.
"Papa nggak tau kalau kamu udah ada di sini, di perut mama." lanjutnya kemudian.
Clara membelai kepala dan rambut suaminya itu.
"Kalau dokter nggak ada bilang apa-apa, berarti baik-baik aja Fer." Clara meyakinkan suaminya itu sekali lagi.
"Iya sih, semoga aja."
Ferdi masih tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, namun meskipun begitu ia bahagia. Sebab kini di dalam diri Clara, telah tumbuh benih cinta mereka.
***
"Apa, Clara hamil?"
Orang yang pertama Ferdi kabari adalah Frans. Sebab ia sangat dekat dengan kakaknya itu.
Meski masih ada yang mengganjal di hati, soal cintanya terhadap sang adik ipar. Namun Frans turut berbahagia untuk Ferdi.
"Gila, tokcer juga lo bangsat." ujar Frans sambil tertawa.
"Kan Otong gue udah gue persiapkan matang-matang dari sebelum nikah." seloroh Ferdi.
"Emang bener-bener lu ya." ujar Frans lagi.
"Otong lo kapan menghasilkan?" Ferdi balik bertanya.
"Gue belum mau, masih mau ngurusin papa dulu baru nikah." jawab Frans.
"Kalau anak kita seumuran, kan bisa main bareng." jawab Ferdi.
"Aduh ntar aja, masih riweh gue." seloroh Frans lagi.
__ADS_1
Keduanya lanjut berbincang untuk beberapa saat. Frans juga tak lupa menyematkan nasehatnya untuk Ferdi. Agar ia mempersiapkan diri untuk menjadi ayah yang baik.
Frans juga mewanti-wanti Ferdi untuk tidak membeda-bedakan antara anak Clara, maupun anak mereka yang baru akan dilahirkan nanti.
"Anak itu semuanya titipan, Fer. Mau itu kandung atau bukan. Keduanya bisa menjadi pisau bermata dua buat lo. Mau anak kandung atau tiri, dua-duanya bisa jadi kebanggaan atau justru kesengsaraan bagi orang tuanya. Jadi jangan bedakan kasih sayang diantara mereka." ujar Frans.
"Iya, gue akan selalu ingat kata-kata lo ini." ucap Ferdi.
Frans lalu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.
"Gue nggak nyangka aja, bocah yang setiap hari dari kecil selalu minta temenin gue kalau tidur. Sekarang udah mau punya anak." ucap pemuda itu.
Seketika rasa haru pun menyesaki dada Ferdi.
"Jangan gitu, bangsat." ujarnya sambil tertawa. Namun kemudian ia menitikkan air mata.
"Ah elah nangis gue, badjingan." lanjutnya lagi.
Ia dan Frans sama-sama menangis, namun tetap masih sama-sama tertawa.
"Design your life, Fer. Buatlah kebahagiaan lo sendiri. Rumah tangga lo itu milik lo dan pasangan lo. Lo tidak terikat aturan siapapun, termasuk papa dan om adrian." ucap Frans.
Ferdi diam, Frans seakan-akan hendak mengatakan bahwa jangan sampai pernikahan Ferdi menjadi boneka dari kepentingan suatu pihak. Termasuk ayah kandung mereka sendiri, yang sangat mereka cintai.
Bukan tanpa alasan Frans berbicara demikian. Frans tau Ferdi telah menyerahkan uang sebesar sepuluh milyar pada Jeffri. Dan Jeffri saat ini masih tengah memperjuangkan beberapa sisi dari perusahaannya yang hampir porak-poranda.
Frans tau Jeffri masih membutuhkan lebih banyak. Bukan Frans tak mau Ferdi membantu lebih dari itu.
Tapi agar pihak Adrian yang bertanggung jawab atas beberapa sebab, bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri. Tanpa ikut bergantung dengan uang pemberian Ferdi. Ferdi itu bukan alat, dan ia berhak bahagia.
Di awal-awal Frans memang sangat mendukung hal tersebut. Karena pada saat itu ia tak mengetahui jika Ferdi dan Clara saling cinta.
Tapi ini berbeda, sebab Ferdi mencintai Clara dan tampak dekat dengan anak-anak tirinya. Sering Frans mendapati postingan Clara di sosial media, yang memperlihatkan kebersamaan Ferdi berserta ketiga anak mereka. Frans khawatir atas dasar keperluan orang tuanya, keluarga Ferdi akan jadi berantakan.
"Bro, nanti kita ketemu ya kapan-kapan. Gue tutup dulu telponnya. Ada kerjaan yang harus segera gue selesaikan." ucap Frans.
"Oke." jawab Ferdi.
Mereka pun saling berpamitan dan menutup sambungan telpon.
Tak hanya mengabari Frans saja, Ferdi juga mengabari Jeffri dan Aini. Tentu saja respon mereka sangat senang. Diluar kepentingan Jeffri bahagia mendengar akan segera memiliki seorang cucu.
"Papa bahagia untuk kamu, Fer. Jaga istrimu baik-baik." ucap Jeffri.
"Iya, pa." jawab Ferdi.
Kemudian mereka berbincang lebih lanjut. Setelah itu Ferdi mengurus administrasi, karena Clara tak perlu rawat inap. Ia juga lebih suka berada di rumahnya yang nyaman.
***
Sementara itu di kantin rumah sakit. Arvel, Anzel, dan Axel tampak tengah makan bakso dan minum es teh manis.
"Lo masih sakit, minum es bang."
Axel menyindir Arvel, sementara Anzel kini tertawa.
__ADS_1
"Yang terkilir kan kaki gue, nggak ada hubungannya sama es." Arvel membela diri.
"Kecuali kalau gue flu." lanjutnya kemudian.
"Iya juga sih." gumam Axel.
"Tapi kenapa semua sakit yang terjadi, selalu dihubungkan orang dengan es?" tanya nya kemudian.
"Simpelnya karena banyak orang mengira sesuatu yang dingin itu buruk dan yang hangat itu baik." ujar Anzel.
"Nah begitulah kira-kira." timpal Arvel.
Axel menggaruk-garuk kepalanya.
"Eh, bang. Kalau adek kita lahirnya cewek, kalian mau kasih nama siapa?"
Tiba-tiba Anzel mempertanyakan hal tersebut.
"Harus A juga biar sama juga kayak kita." lanjutnya lagi.
"Antara." ujar Arvel.
"Antara?" Anzel bertanya pada kakaknya itu diikuti tatapan Axel.
"Iya, karena dia ada diantara kita. Bagus kan?" tanya Arvel kemudian.
Anzel mengangguk-anggukan kepala.
"Unik juga ya?" ujarnya.
Arvel tersenyum dan lanjut makan.
"Kalau gue pengennya Areeya, Angelica, atau Arwen."
"Bagus." ujar Arvel.
"Kalau lo, Xel?" Anzel bertanya pada Axel.
"Anya Geraldine." jawab Axel dengan wajah tanpa dosa. Sontak kedua kakaknya yang masih makan itu nyaris tersedak karena menahan tawa.
"Anjungan Tunai Mandiri, Angkringan nasi kucing." lanjut Axel.
Kedua kakaknya makin terpingkal-pingkal. Anzel sampai menoyor kepala Axel saking gelinya ia tertawa.
"Loh kenapa?. Lebih unik dari yang bang Ar bilang kan. Dia aja boleh namain "Antara", koq Axel nggak boleh."
"Ya tapi nggak gitu juga." ujar Anzel.
"Terus apa dong?" tanya Axel.
"Keladi gitu?. Kelara-Ferdi." lanjutnya kemudian.
Arvel dan Anzel benar-benar tersedak kali ini.
"Axel, bangsat lo ya."
__ADS_1
Arvel minum air putih, namun masih gatal tenggorokannya. Sementara Axel cengar-cengir dan terus melahap bakso yang ada di mangkuk, bahkan di mangkuk abangnya.
***