Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Ikut Car Free Day


__ADS_3

Dua hari kemudian weekend tiba. Clara, Ferdi dan ketiga anak mereka sengaja pergi guna mengikuti kegiatan car free day di sebuah kawasan.


Niat awalnya berolahraga. Mereka mengenakan pakaian olahraga lengkap dengan sepatu. Mereka juga tampak berjalan santai, sesekali berlari-lari kecil mengitari kawasan.


Namun lama kelamaan acara menjadi berubah. Axel dan kakaknya malah lebih memilih jajan ketimbang membakar kalori.


"Tungguin dong, abang nggak bisa cepat."


Arvel yang baru pulang dari rumah sakit dua hari yang lalu itu pun menggerutu, kepada dua adiknya yang berjalan cepat di depan.


"Abang sih, udah tau abis sakit minta ikut." ujar Axel.


"Terus, abang harus diem aja gitu dirumah?" tanya Arvel sewot.


"Harusnya iya sih." ujar Axel.


Arvel kini menatap anak itu.


"Hehe, nggak juga." ujar Axel lagi.


"Jangan marah, bang. Abang ganteng mirip Jeffri Nichol deh." tukasnya lalu nyengir. Kemudian mereka berjalan berdekatan.


Tak lama Arvel duduk di sebuah kursi trotoar karena lelah. Sementara Axel sudah jajan sosis bakar dan minum es. Ia juga mempengaruhi sang kakak kedua untuk mengikuti jejaknya.


Sedang Arvel memang bertekad untuk menjaga makanan dan tak sembarangan lagi seperti saat ia tengah di rawat. Sebab ia ingin segera pulih.


"Pegangin punya abang, abang mau ikat tali sepatu."


Anzel menyerahkan jajanannya pada Axel. Axel pun dengan senang hati membantu. Anzel mulai membenarkan tali sepatu dan pada saat yang bersamaan Clara muncul bersama Ferdi.


"Adek, tadi kan udah jajan. Koq jajan lagi?"


Axel kaget sekaligus terdiam. Ia kini paham mengapa Anzel menitipkan jajanannya. Bisa jadi sedari tadi ia sudah melihat tanda-tanda kehadiran Clara dan juga Ferdi.


"Tapi ini bukan punya...."


"Dia mah emang jajan mulu ma, nggak dengerin omongan mama."


Anzel langsung menyela ucapan Axel. Sementara Arvel yang pura-pura bermain handphone ditempatnya, hanya menahan senyum.


"Orang ini punya bang Anzel. Lo mah bener-bener ya bang, nyebelin tau nggak. Axel makan semua nih bodo amat."


Clara tersenyum, sementara Ferdi sudah terkekeh sejak tadi.


"Sama aja semuanya." ujar Clara kemudian.


***


"Ya kalau emang nggak bisa harusnya bilang dong. Kenapa baru bilang pas aku udah disini. Dari tadi kek, waktu aku masih dirumah. Kayak gini kan jadi seolah aku banget yang ngarep pergi sama kamu."


Seorang gadis dari arah timur berjalan sambil mengoceh di telpon.


"Terserah deh, plin-plan banget jadi orang. Tadi bilangnya bisa, sekarang nggak bisa. Kalau emang nggak mau ya udah, bodo amat."


Gadis lainnya lagi datang dari arah yang berlawanan dan tampak sedang marah pula pada seseorang di telpon.


"Cindy, Tiara."


Tiba-tiba Ferdi memanggil dua gadis itu. Arvel dan Anzel kaget, sebab sejak tadi mereka hanya diam terpaku menatap Cindy dan juga Tiara tanpa berani menyapa.

__ADS_1


"Om Ferdi?"


"Tante Clara?"


Kedua gadis itu terkejut lalu mendekat menghampiri Ferdi dan keluarga. Clara tersenyum, Axel mendorong kedua kakaknya untuk ke hadapan dua gadis itu.


"Koq Arvel udah keluar aja. Bukannya harus istirahat dulu ya?" tanya Cindy.


"Maksa tadi kak pengen ikut." celetuk Axel.


"Harusnya belum boleh loh, Vel." Cindy kembali berkata pada Arvel.


"Aku..."


Arvel hendak membela diri namun kini seolah bibirnya menjadi kelu. Clara, Ferdi, dan Axel yang menyaksikan itu semua hanya tersenyum. Sementara Anzel dan Tiara kini sudah saling berinteraksi.


"Kamu sendirian?" tanya Anzel sambil tersenyum.


"Iya." jawab Tiara balas tersenyum. Suasana pun seketika menjadi canggung, namun menyenangkan.


Ferdi menarik Clara dan Axel untuk menjauh. Tak lama mereka bertiga pun terlihat sudah berjalan-jalan. Sementara Arvel serta Anzel sibuk dengan kedua gadis mereka.


Axel menghabiskan sosis bakarnya. Kemudian ia melihat pedagang makaroni berbumbu.


"Maaa."


Rengeknya pada Clara sambil melirik ke arah pedagang tersebut.


"Nggak ya, Axel. Tadi udah dua kali jajan."


"Om Ferdi."


"Nggak." ujar Clara sambil menyilangkan tangan di dada. Namun Ferdi terus menatapnya.


"Ya udah, ya udah. Sana!" ujar Clara kemudian.


"Makasih om Ferdi, ujar Axel lalu berlarian ke pedagang makaroni tersebut.


"Koq makasihnya sama om Ferdi, bukan mama?" tanya Clara.


"Makasih juga mama cantik."


Clara tak kuasa menahan senyum bila di puji.


"Anak nyebelin." ujarnya kemudian.


"Kamu mau jajan juga?" tiba-tiba Ferdi bertanya.


"Nggak, jajan sembarangan gini tuh nggak sehat soalnya." ujar Clara.


"Beneran?" tanya Ferdi lagi.


"Bener." Clara tetap kekeh.


"Oh ya udah." jawab Ferdi.


Pemuda itu lalu mendekat pada Axel.


"Axel, om mau otak-otak goreng balado sama cimol balado dong." ujarnya.

__ADS_1


"Otak-otak sama cimol bang."


Axel bantu berbicara pada si pedagang, padahal pedagangnya sudah mendengar sejak tadi.


Pesanan mereka pun di buat. Lalu setelah itu mereka berdua makan di dekat Clara.


"Hmm, om. Enak banget ya." ujar Axel.


"Iya, lebih enak dari yang ada di aplikasi ojek online." ujar Ferdi.


"Iya, waktu Axel...."


Axel ingin memberitahu jika dirinya memesan via aplikasi ojek online. Tapi takut ketahuan Clara jika ia sering melakukan hal tersebut.


"Pernah dibeliin temen Axel. Enak sih yang itu, tapi enakan yang ini."


"Apa enaknya sih bumbu-bumbu tabur kayak gitu. Bikin batuk tau dek." ujar Clara.


"Cobain nih, enak loh." Ferdi .menggoda Clara dengan otak-otak dan cimol yang ada di tangannya.


"Nggak mau, ah. Kamu aja." ujar Clara.


"Oh ya udah."


Ferdi dan Axel terus makan, sampai kemudian Clara menatap suaminya itu.


"Mau coba?" tanya Ferdi.


"Cobain aja ma, gengsi amat jadi orang. Kayak abang Ar sama Abang An." ucap Axel.


"Dih siapa yang mau coba."


"Hap."


Ferdi memasukkan satu potongan otak-otak ke mulut Clara.


"Ih, Ferdi." Clara sewot dan agak marah.


"Rasain dulu." ujar Ferdi.


Clara pun dengan kesal lalu mengunyah makanan tersebut dan ternyata enak. Dalam sekejap makanan sudah berpindah tangan, bahkan kini wanita itu membeli sendiri.


"Katanya nggak mau, nggak sehat." ujar Axel pada Ferdi seraya memperhatikan Clara dari jarak yang cukup dekat.


"Kalau kamu mau tau, cewek ya gitu. Gengsi-gengsi, nggak mau-nggak mau, eh di embat juga." ucap Ferdi.


Anak dan ayah tiri itupun kemudian tertawa. Sementara di lain pihak percakapan antara Arvel dan Cindy, Anzel dan Tiara semakin mencair. Bahkan kini mereka terlihat mengantri crepes dan Boba secara bersama-sama.


"Mau jajan lagi nggak?" tanya Ferdi pada Axel.


"Mau dong, om."


"Pengen makan apa?" tanya Ferdi lagi.


"Bakso, hehehe." jawab Axel.


Maka mata Ferdi pun menjelajah sekitar dan menemukan seorang penjual bakso gerobakan.


"Tuh ada." ujar Ferdi.

__ADS_1


"Ntar Axel habiskan ini dulu." tukas anak itu.


__ADS_2