
Sejak hari itu Ferdi bekerja lebih keras lagi. Aplikasi yang ia dan Nath kembangkan sudah mulai banyak peminat. Meski masih baru, namun mereka sudah mengantongi sejumlah pendapatan.
Ferdi pamit untuk kerja lembur pada Clara, dan meminta ketiga anak sambungnya untuk menjaga Clara selama ia belum pulang.
"Uhuk, uhuk."
Terdengar suara orang batuk. Ferdi yang tengah sendirian di kantor tersebut menoleh.
"Nath?" ia bingung mengapa Nath tiba-tiba datang.
"Koq lo kaget gitu sih. Ini gue, bukan roh." ujar Nath lalu duduk di dekat Ferdi dan membuka laptop miliknya. Kebetulan Ferdi memang bekerja di ruangan Nath malam itu.
"Koq lo udah keluar aja?. Emang udah boleh sama dokter?" tanya Ferdi kemudian.
"Boleh lah, masa iya nggak boleh. Bosen gue, di rumah sakit mulu." ujarnya.
"Lo sakit apa sih?. Udah ketahuan belum?" tanya Ferdi lagi.
Nath menghela nafas.
"Kata dokter ada penyumbatan di batang otak gue, dan ini penyakit langka." ujarnya.
"Serius lo?"
Ferdi kaget mendengar hal tersebut sekaligus merasa sangat sedih. Namun ia berusaha bersikap biasa saja karena tak ingin menambah beban pikiran Nath.
"Ya, tapi gue nggak akan kenapa-kenapa koq. Lo tenang aja, semangat hidup gue masih tinggi. Gue masih mau ngeliat dia tumbuh." ujar Nath seperti tiba-tiba menelangsa.
"Dia?" tanya Ferdi.
"Dia siapa?" tanya nya kemudian.
"Mmm, maksud gue perusahaan ini." ucap Nath sedikit gelagapan.
"Oh, gue kirain lo mau ngeliat tanaman tumbuh." seloroh Ferdi.
"Bisa jadi. Kan gue punya banyak tanaman di apartemen gue." ucap Nath sambil tertawa. Namun terlihat jelas wajahnya masih pucat.
Ferdi pun jadi ikut tertawa meski ia masih tak percaya bahwa Nath menderita sebuah penyakit langka. Ia kini berharap atasan sekaligus temannya itu bisa sehat seperti sediakala.
***
"Bang, kenapa bang Arvel lebih ganteng dari kita berdua?"
Axel tiba-tiba melontarkan pertanyaan saat mereka tengah berada di teras, sambil memakan gorengan yang mereka buat sendiri.
Tentu saja Arvel dan Axel mendadak terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Sebab jawabannya sudah jelas. Karena mereka berbeda ayah dan ibu. Tetapi Axel belum mengetahui akan hal tersebut.
"Ya, dalam keluarga itu pasti ada yang paling." jawab Anzel.
"Ada yang paling ganteng, paling bawel suka nanya mulu." lanjutnya kemudian.
"Ada yang rankingnya paling bawah. Iya kan bang?"
__ADS_1
Axel membuat Anzel ingin melemparnya dari lantai dua. Andai saja ia adalah seonggok bakteri. Pada saat yang bersamaan, Anzel juga dilanda rasa takut. Takut kalau Arvel akan semakin terpikir tentang siapa orang tuanya.
Arvel saat itu masih bersikap biasa saja dan seolah tak terjadi apa-apa. Tapi ketika malam mulai menjelang dan mereka semua masuk ke kamar masing-masing. Arvel mulai berdiri di depan kaca dan memperhatikan wajahnya.
Ia mulai berfikir dirinya ini mirip siapa. Siapa orang tua kandungnya, dimana mereka. Andai saja ia tak menemukan surat adopsi tersebut di ruang kerja Nando satu setengah tahun yang lalu. Mungkin saat ini pikirannya masih baik-baik saja.
Baik Clara maupun Nando tak pernah mengungkap siapa Arvel sesungguhnya. Tetapi salah satu kakak kandung Nando lah yang mengatakan jika Arvel merupakan anak angkat.
Saat itu mereka terlibat pertengkaran, lantaran kakak Nando selalu menekan Clara. Arvel datang menemuinya untuk membicarakan hal tersebut. Namun justru yang ia dapat adalah sebuah kenyataan.
Ia mencari sendiri surat adopsi yang dimaksud dan menemukannya. Lalu ia berbicara pada Clara dan juga Nando, hingga kedua orang tersebut tak dapat mengelak lagi. Sebab bukti sudah di depan mata.
Clara menangis kala itu, Arvel sendiri hancur. Namun kenyataan sudah terungkap dan tak dapat di tolak lagi.
Akhirnya rahasia yang disimpan selama bertahun-tahun tersebut pun terbongkar, dan Anzel mendengar serta menyaksikan semua itu.
Tetapi disaat yang bersamaan Axel tengah mengadakan study tour. Sehingga ia tak mengetahui apapun.
Kini Arvel mulai bertanya, siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya. Dimana dan seperti apa rupa mereka. Meski rasa cinta dan sayangnya terhadap Clara tak pernah berkurang, namu sebagai anak ia penasaran akan hal tersebut.
***
"Iya sayang."
Clara menelpon Ferdi.
"Kangen." ucap Clara dengan nada manja.
"Sabar ya sayang, aku pasti pulang koq." ucap Ferdi.
"Iya, aku tunggu."
"Kamu lagi apa sekarang?" tanya Ferdi.
"Lagi makan gorengan bikinan anak-anak." jawab Clara.
"Oh, mereka tadi bikin?" tanya Ferdi lagi.
"Iya, gara-gara emaknya yang kepengen gorengan. Tapi pengen yang buatan sendiri." ucap Clara.
Ferdi tersenyum.
"Tadi udah minum susu?" tanya pemuda itu.
"Udah, dibikinin sama Axel." jawab Clara.
"Oh, dia nggak ikut minum juga?" Ferdi kembali bertanya.
"Siapa?" Clara melempar balik pertanyaan.
"Axel." jawab Ferdi.
"Oh, hahaha. Nggak." ucap Clara
__ADS_1
"Kapok katanya minum susu hamil." lanjutnya kemudian.
"Lagian semua mau dicoba sama dia." tukas Ferdi.
"Namanya juga Axel. Kayak nggak tau aja. Kamu udah makan, Fer?"
"Udah, baru aja. Aku selesaikan sedikit lagi dulu, abis itu aku pulang ya." ujar Ferdi.
"Iya, tapi hati-hati di jalan nanti." pinta Clara.
"Iya sayang, pasti."
"Ya udah, aku tunggu kamu pulang deh. Nanti kamu nggak konsentrasi lagi, denger suara aku."
Clara hendak menyudahi percakapan tersebut.
"Oke, tunggu aku dirumah." ujar Ferdi.
"Iya sayang, bye."
"Bye, love you."
Clara tersenyum lalu menjawab.
"Love you to."
Telpon tersebut akhirnya di sudahi. Clara juga sudah selesai memakan gorengan dan ia kini pergi keluar kamar untuk meletakkan piring bekas gorengan tersebut ke dapur.
Ia melihat Anzel tengah duduk diam di ruang tengah. Setelah meletakkan piring tersebut ia pun menghampiri sang anak.
"Kenapa bang, koq diem aja?" tanya Clara pada remaja itu.
Anzel menghela nafas lalu merebahkan kepala ke pangkuan sang ibu. Seperti kebiasaannya selama ini. Clara pun lalu membelai kepala anak itu dengan lembut.
"Abang kenapa?" tanya nya seolah paham jika saat ini Anzel tengah memikirkan sesuatu.
"Kenapa sih, ma. Abang Ar tuh bukan lahir dari rahim mama?. Kenapa dia harus anak adopsi?" Arvel melontarkan pertanyaan yang membuat Clara sedikit terdiam.
"Bagi mama semua anak itu sama aja. Semuanya titipan. Mau itu terlahir dari rahim mama atau bukan." jawab Clara.
"Tapi kalau orang tuanya bang Ar datang terus mau ngambil dia dari kita gimana?"
Ada kesedihan dalam nada bicara Anzel. Clara dapat merasakan hal tersebut.
"Mama akan fight, karena Arvel itu anak mama."
Clara berucap dengan mata mendadak berkaca-kaca menahan tangis. Sementara di balik sebuah tembok, Arvel mendengarkan semua itu dengan perasaan yang remuk redam.
"Tapi kalau mereka hanya sekedar ingin tau dan ingin ketemu sama abang kamu. Ingin memeluk dia dan mengaku sebagai orang tuanya. Mama nggak akan menghalangi. Karena biar bagaimanapun juga mereka orang tua kandung abang kamu. Tapi kalau mau mengambilnya dari tangan mama, hadapi mama dulu." ujar Clara.
"Mama membesarkan dia dengan susah payah. Bukan mama mau hitung-hitungan soal biaya, mama ikhlas untuk itu. Tapi ikatan emosional yang terjalin diantara mama sama dia, itu yang nggak bisa diganti dengan apapun. Mama sayang sama dia dan mama nggak mau dipisahkan."
Air mata Clara menetes mengenai wajah Anzel. Begitupula dengan Arvel yang mendengar hal tersebut di balik tembok. Anzel sendiri lalu menatap sang ibu dan menghapus air mata wanita itu dengan tangannya.
__ADS_1