Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Dalam Pelukan


__ADS_3

"Ferdi."


Adrian mencoba mendekat pada Ferdi yang saat ini masih memeluk Clara dengan erat.


"Kalian saling kenal?" tanya nya kemudian.


Baik dari Ferdi maupun Clara tak ada yang menjawab, keduanya masih larut dalam gejolak emosi yang begitu besar. Bahkan Clara saat ini masih memejamkan mata dan menangis dalam pelukan sang kekasih.


"Tap, tap, tap."


Frans melihat ada tetes darah di lantai. Segera saja ia mendekat dan ternyata hidung Ferdi mengeluarkan darah.


"Ferdi."


Clara merasakan pelukan Ferdi melemah, dan kini tubuh pria itu nyaris terjatuh. Frans, Adrian, dan Jeffri segera memegangi tubuh Ferdi dan ternyata Ferdi sudah kehilangan kesadaran, dengan hidung berlumuran darah.


"Ferdi."


"Ferdi."


Semua orang disana mendadak panik. Acara pertemuan yang seharusnya jadi ajang melamar itu kacau total.


Adrian menelpon ambulans. Jordan, Sean, Nath dan Nova yang baru tiba, kini ikut terkejut sekaligus khawatir. Ferdi pun dilarikan ke rumah sakit terdekat.


***


"Clara, jadi kamu dan anak saya saling kenal?"


Jeffri bertanya pada Clara ketika mereka semua telah berada di rumah sakit, dan menunggu laporan dari dokter terkait keadaan Ferdi.


"Iya om." ucap Clara seraya menyeka air matanya dengan tissue.


Sementara Jordan, Sean, Nathan dan Nova saling lihat-lihatan satu sama lain. Mereka saling bertanya tanpa suara mengenai apa yang telah terjadi.


Sebab sampai detik ini mereka belum berani meminta penjelasan pada siapapun, mengenai kronologi perjodohan Ferdi. Lantaran keadaan yang memang belum memungkinkan untuk bertanya.


"Kami berdua punya hubungan." ujar Clara lagi.


Jeffri menatap wanita itu, sama halnya dengan Adrian dan juga Frans yang duduk di kursi ruang tunggu.


"Tadinya kami sempat berpisah, karena Ferdi bilang dia sudah dijodohkan orang tuanya. Dia meninggalkan saya begitu saja, tanpa saya bisa berbuat apa-apa."

__ADS_1


Lagi dan lagi Clara menyeka air matanya dengan tissue. Jeffri kini menghela nafas panjang dan menjatuhkan pandangan ke lantai rumah sakit.


"Maafkan om, Clara." ujarnya kemudian.


"Sejak awal om dan om Adrian melihat kamu di acara waktu itu. Om memang sudah tertarik untuk menjodohkan kamu dengan Ferdi." lanjutnya lagi.


Itu merupakan cerita benar dan tidak mengada-ada. Tapi mengenai maksud lain dibelakang ketertarikan itu, Jeffri tak mungkin mengatakannya dengan jujur.


Sebab bisa jadi Clara akan murka, jika tau dirinya dipilih karena kaya dan dianggap mampu menyelamatkan perusahaan Jeffri.


Lagipula Jeffri sengaja menjelaskan hal tersebut, semata karena ia tak ingin Clara akhirnya bertanya. Mengenai mengapa Ferdi dijodohkan dengan perempuan yang bahkan belum Ferdi atau Jeffri kenal dengan baik.


Karena biasanya perjodohan dilakukan kepada seseorang yang telah terlebih dahulu di kenal. Misal anak teman, atau kerabat jauh.


"Tapi om egois." ucap Clara pada pria itu.


"Coba kalau misalkan om punya niat menjodohkan Ferdi dengan perempuan lain. Misalkan saya ini adalah perempuan lain, bukan kebetulan orang yang sudah dipacari Ferdi secara tidak sengaja. Apa itu nggak melukai hati Ferdi?. Tujuan om menjodohkan Ferdi itu apa?. Kenapa om tega menghancurkan perasaan anak sendiri. Kami berdua sakit dengan perjodohan ini, om. Saya kira Ferdi benar-benar akan bersama dengan orang lain."


Kali ini Jeffri terjebak alur yang sudah ia buat sendiri. Clara akhirnya bertanya mengenai motif Jeffri menjodohkan Ferdi. Padahal sudah ia wanti-wanti sejak tadi.


"Ya, karena sebelumnya Ferdi selalu terlibat hubungan yang tidak jelas." Jeffri menjawab seraya menatap Clara.


"Perempuan yang jadi pacarnya pun tidak jelas." lanjutnya lagi.


"Sebagai orang tua, om ingin yang terbaik untuk Ferdi. Om ingin ada perempuan baik, dengan pemikiran yang matang, dewasa, dan bisa mendampingi Ferdi dengan baik di sepanjang hidupnya."


"Tapi om tau kalau saya janda?"


Clara mempertanyakan ketakutannya soal status yang ia sandang. Jeffri pun mengangguk.


"Om tau." ujarnya kemudian.


"Tapi dengan om tau saya janda, om masih mau menjadikan saya menantu?" tanya Clara lagi.


"Why not?"


Jeffri menjawab dengan tegas, sebab dari awal pun ia sejatinya tak masalah dengan semua itu.


"Ini gimana sih?. Ferdi dijodohin sama itu mbak-mbak. Padahal udah jadian duluan gitu?"


Nova yang tak tahan bertanya pada teman-temannya. Namun Nath menempelkan jari telunjuk di bibir, agar Nova tenang dulu dan mereka fokus mendengarkan kronologi kejadian yang tengah dijelaskan tersebut.

__ADS_1


"Selamat malam."


Seorang dokter keluar dari ruangan dan langsung menghampiri Jeffri. Dokter tersebut berbicara panjang lebar, menjelaskan kondisi Ferdi yang mengalami kelelahan dan juga stress psikologi. Ada juga pengaruh alkohol didalamnya, yang menyebabkan ia bertambah parah.


Semua orang sedih, tanpa terkecuali. Tak lama Jeffri segera menyambangi kamar, tempat anaknya kini dirawat. Tampak Ferdi masih terlelap dan belum sadarkan diri.


Jeffri melangkah mendekat, kemudian menggenggam tangan puteranya itu dengan erat.


"Maafin papa, Fer. Maafin papa udah egois menjodohkan kamu. Papa nggak bisa membayangkan, kalau seandainya tadi papa menjodohkan kamu dengan perempuan lain. Papa mungkin nggak akan pernah tau mengenai luka hati yang kamu pendam."


Ferdi terasa bergerak jari tangannya. Jeffri memperhatikan pemuda itu, kemudian mencium keningnya untuk sesaat. Tak lama Ferdi pun membuka mata secara perlahan. Jeffri senang karena akhirnya Ferdi sadar.


"Pa." ucap Ferdi dengan nada begitu lemah. Ia benar-benar sakit dan terlihat wajahnya masih pucat.


"Clara masih di depan, habis ini dia akan masuk menemui kamu." ucap Jeffri.


Ferdi bahkan tak pernah tau jika Clara yang akan dijodohkan dengannya, adalah orang yang sama dengan orang yang ia cintai saat ini.


Selama ini pun ia belum tau nama Clara yang sebenarnya. Karena hanya memanggil wanita itu dengan sebutan "Mbak."


Lagipula mereka baru berpacaran beberapa hari dan belum saatnya untuk mengorek keterangan lebih dalam.


"Maafin papa, Ferdi." ucap Jeffri sekali lagi.


Ferdi pun mengangguk. Tak lama Jeffri keluar dan menyuruh Clara masuk. Ketika wanita itu melangkah menuju ke ruangan Ferdi, hati Frans kembali hancur.


Belum ada yang tau mengenai jika ia juga jatuh cinta pada wanita itu. Nadia sendiri saat ini berada di sisi Frans dan tak menangkap tanda-tanda aneh dari sang kekasih.


"Ferdi."


Clara menghambur ke pelukan Ferdi, dan Ferdi langsung menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


Tak ada kata-kata yang terucap, kecuali emosi dan nafas yang naik turun. Sangat terasa bila Ferdi begitu ketakutan. Takut jika ini bukanlah kenyataan.


Sebab ia sudah begitu pasrah, akan dijodohkan ayahnya dengan perempuan tua beranak tiga. Dan meninggalkan Clara yang ia cintai dalam kenangan.


Tapi kini semuanya malah berbalik. Ternyata kenyataan bisa menjadi sangat tak terduga. Clara yang ia takutkan hilang, kini ada di dalam pelukannya.


"Ferdi, aku udah takut banget kita nggak akan ketemu lagi. Aku udah membayangkan kamu menikah dengan orang lain, dan itu sakit banget buat aku. Aku sedih, dan...."


Ferdi mencium bibir Clara secara serta merta, membuat wanita itu seketika terdiam.

__ADS_1


"Jangan bicara apa-apa dulu." ucap Ferdi Kemudian. Clara pun menatap mata kekasihnya itu. Lalu keduanya kembali berpelukan satu sama lain, dengan begitu erat.


__ADS_2