Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Frans


__ADS_3

"Kriuuuk."


Perut Ferdi berbunyi, setelah sekian lama ia berada di kamar.


"Duh laper lagi gue."


Ferdi mengusap-usap perutnya tersebut, lalu mengecek saldo di beberapa akun pembayaran. Namun jumlah saldo yang dimiliki pemuda itu hanya menambah kegalauan hati. Sedikit, bahkan tidak bisa digunakan. Sebab hanya beberapa ratus rupiah saja.


"Belum gajian lagi, ah elah." Ia menggerutu.


"Tapi kalau pun mau pesan online juga percuma. Mau ngambil dimana?. Pasti ketahuan kalau gue ada di rumah ini. Mana asisten rumah tangga nggak ada yang mau berpihak lagi sama gue. Semuanya udah pasti cepu." Ferdi berbicara sendiri.


"Kriuuuk."


Perutnya kembali berbunyi. Rasanya seperti di tusuk-tusuk. Ia adalah tipikal orang yang tidak bisa tidur, jika perutnya tidak dalam keadaan kenyang.


"Duh, bisa nggak sih diem dikit. Baru laper bentar aja udah lebay banget lu."


Ia mengocehi perutnya sendiri.


"Kriuuuk."


"Kriuuuk."


Ferdi membuka laci tempat dimana ia biasa menyimpan coklat atau makanan kecil lainnya. Namun sudah tidak ada apa-apa di tempat itu, kecuali sebatang choki-choki.


"Elah, segini mana cukup anjay. Makan sama plastiknya juga kagak bakal nolong banyak." ujarnya lagi.


Ferdi menghela nafas.


"Tuing."


Pemuda itu kembali menjadi ninja. Ia mendekat ke arah tembok di dekat pintu, lalu membukanya sedikit. Mata pemuda itu mengintip dan mengawasi sekitar secara seksama.


"Yes nggak ada orang." ujarnya.


Lalu,....


"Byuuur."


Ia berlari kecil dengan tanpa menimbulkan suara. Meniti anak tangga sambil menunduk dan melihat kesana-kemari.


Seorang pembantu melintas, Ferdi berjongkok dan membeku di tangga. Ia berharap jika pembantu tersebut menoleh dan melihatnya. Ia akan dianggap sebagai patung atau ornamen.


Tapi untungnya pembantu itu tak menoleh sedikitpun ke arah Ferdi. Hingga Ferdi kembali melanjutkan langkah. Kali ini ia langsung menuju ke dapur.


"Yes, sepi." ujarnya lagi.


Ferdi langsung membuka kulkas, mengambil kantong belanjaan yang kebetulan ada di depan mata, dan memasukkan banyak makanan serta minuman ke sana.


"Braaak."


Ia menutup pintu kulkas tersebut, namun kemudian.

__ADS_1


"Ferdi?"


Ferdi dan si pemilik suara sama-sama terperangah.


"Ma, mama?"


"Pa, ini Ferdi paaaa." Sang ibu tiba-tiba berteriak.


"Byuuur"


Ferdi pun segera berlarian ke arah tangga. Ia sempat melihat ayahnya keluar dari kamar, sebelum berlari ke atas.


"Ferdi tunggu!, papa mau bicara sama kamu."


"Nggak mau."


"Ferdi."


Ferdi berlari secepat kilat, layaknya seorang yang ditagih hutang oleh debt colector. Ia segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat.


"Hhhh, cepu banget itu emak-emak. Mentang-mentang nggak mau di duakan, jadi memihak suaminya banget. Biar gue di jodohin dan itu cewek kagak jadi madunya dia. Dasar perempuan, dimana-mana sama. Maunya menang sendiri."


Ferdi menggerutu panjang lebar dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Namun kini pemuda itu sumringah, pasalnya ia telah berhasil mendapatkan banyak makanan serta minuman.


***


Beberapa saat kemudian, saat Ferdi baru saja membuka satu bungkus biskuit dan bersiap memakannya.


"Tok, tok, tok."


"Nggak mau." teriaknya dari dalam.


"Fer, ini gue Frans."


Ferdi melangkah dan membuka sedikit sekali pintu kamarnya itu, bahkan kira-kira hanya 3-5cm saja. Terlihat memang ada Frans di sana.


"Masuk!" ujarnya pada sang kakak.


"Gimana mau masuk, Bambang. Lebarnya aja cuma segini."


Frans menjawab dengan kekesalan yang tertahan.


"Ya masuk aja, melayang gitu kayak casper." jawab Ferdi santai.


Frans melebarkan bibirnya hingga kuping, saking kesalnya.


"Kalau di bukanya cuma segini, roh dan demit aja tuh males masuk tau nggak." ujarnya kemudian.


"Gue nggak mau, ntar di belakang lo ada pak Jeffri Aditya Atmaja." ujar Ferdi.


"Kagak ada, gue sendirian. Papa ada di bawah." Frans berusaha meyakinkan.


"Nggak mau ah, ntar lo cepu kayak mama dan semua pembantu di rumah ini."

__ADS_1


"Kagak, percaya sama gue!. Sejak kecil pernah nggak, gue jadi cepunya elo?"


Ferdi diam, sejak kecil memang cuma Frans lah yang sering membela dirinya. Bahkan disaat kondisinya salah serta terpojok sekalipun.


"Buka pintunya!, gue mau ngomong." ujar Frans lagi.


"Beneran nggak ada papa kan?" Ferdi masih ragu.


"Ferdi."


Tiba-tiba terdengar suara Jeffri dengan langkah menaiki tangga. Itu artinya memang ayahnya itu baru saja naik dan tak ada di belakang Frans.


Maka Ferdi pun buru-buru membuka pintu dan menarik sang kakak. Ia juga segera menutup dan mengunci pintu tersebut sebelum Jeffri tiba.


"Ferdi buka pintunya!"


"Tok, tok, tok."


Jeffri berujar sambil mengetuk pintu kamar Ferdi. Tadi ia tak jadi menyusul Ferdi yang kepergok, lantaran harus menerima sebuah telpon penting dari klien.


"Pa, ini Frans. Biar Frans bicara dulu sama Ferdi."


"Ok."


Jeffri kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. Tak lama Frans dan Ferdi sudah terlihat berada di sebuah kursi sofa dan sama-sama duduk untuk berbicara.


"Sorry dengan apa yang terjadi sama lo. Gue nggak nyangka papa akan menempuh jalan kayak gini." Frans berujar pada Ferdi.


"Tapi kayaknya papa emang udah nggak punya jalan lain." lanjut pemuda itu kemudian.


"Nggak ada jalan lain kata lo?. Kita ini masih punya koleksi mobil mewah, Frans. Aset, tabungan dan lain-lain juga masih. Kenapa nggak dipake aja buat nutupin hutang dan masalah perusahaan dia?"


Frans menghela nafas panjang, lalu membuang pandangan ke suatu sudut.


"Dana perusahaan digelapkan milyaran oleh orang kepercayaan papa, Fer. Orangnya sudah ditangkap, tapi ya uangnya mustahil balik lagi. Dan lagi pula hutang perusahaan papa itu bukan lagi milyaran, perusahaan sebesar itu sudah pasti hutangnya puluhan bahkan ratusan milyar. Ada yang sampe triliunan malah." ujar Frans lagi.


Ia kini menatap sang adik secara seksama.


"Lo pikir koleksi mobil papa itu masih punya dia?"


Kali ini Ferdi menoleh dan menatap Frans lekat-lekat.


"Itu udah dijual semua. Tinggal nunggu orangnya datang."


Tiba-tiba ada perasaan sedih dalam diri Ferdi. Sebab semua harta di kumpulkan ayahnya dengan susah payah.


"Tau kan gimana kerja keras papa selama ini, supaya dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Supaya bisa memenuhi kebutuhan kita semua. Sekarang apa yang dia perjuangkan akan menghilang begitu aja, termasuk rumah ini."


Ferdi tersentak mendengar semua itu.


"Maksud lo rumah kita dijual juga?" tanya nya tak percaya.


Dengan mata penuh kesedihan Frans pun mengangguk. Ferdi kini memejamkan matanya sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam. Rumah tersebut adalah rumah masa kecil mereka, yang memiliki begitu banyak kenangan.

__ADS_1


"Papa bukan nggak mengusahakan jalan lain, tapi sangat dia usahakan. Papa itu kalut dan hancur. Cuma lo tau sendiri kan dia gimana. Mau sehancur apapun itu dalam dirinya, dia tetap berusaha terlihat biasa di luar. Bahkan orang nggak tau masalah apa yang tengah ia hadapi."


Ferdi menunduk dalam, kini perasaan pemuda itu benar-benar bercampur aduk.


__ADS_2