Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Tak Terpisahkan


__ADS_3

"Sumpah ya, ternyata kejadiannya itu kayak gitu?"


Nova berkata pada Jordan, Sean, dan Nath di kantin 24 jam rumah sakit. Mereka memutuskan untuk minum teh dan kopi hangat terlebih dahulu, sebelum mengunjungi Ferdi. Sementara kini Ferdi masih bersama dengan Clara di dalam kamar.


"Jadi si Ferdi mau dijodohkan sama cewek yang sebenarnya udah dia kenal." lanjut wanita itu lagi.


"Iya, tapi om Jeffri nggak tau kalau Ferdi sama Clara udah pernah ketemu sebelumnya dan bahkan udah jadian." ucap Sean.


Kemudian hening menyeruak.


"Bisa gitu ya." ujar mereka kemudian secara serentak, bahkan kini sambil tertawa-tawa.


"Hhhhh, dunia emang sempit kadang." ucap Nath lalu menyeruput kopinya dan masih tertawa.


"Tapi Ferdi sampe stress banget loh soal perjodohan itu." Jordan kini bersuara.


"Lo berdua yang ngajak dia minum kan?" Nova berkata seraya ikut-ikutan menyeruput minumannya.


"Ya abis gimana, orang sampe stress begitu." Jordan membela diri.


"Kita sebagai teman juga cuma bisa nurutin aja, Va. Gue sama Jordan nggak bisa nolong buat menghentikan semua itu." Sean menimpali.


"Lagian bokapnya Ferdi random banget. Mau ngejodohin anak sama cewek yang bahkan dia nggak kenal dengan baik." ujar Nova lagi.


"Tapi om Jeffri tuh nggak iseng juga, Va. Dia ngejodohin Ferdi sama Clara, karena tau Clara itu kaya raya."


Jordan mengatakan keadaan sebenarnya.


"Maksudnya?" tanya Nova heran. Sebab hanya Jordan, Sean dan Nath yang paham betul akan hal tersebut.


Kemudian mereka menjelaskan pada Nova mengenai kejadian sebenarnya. Apa yang terjadi dengan perusahaan Jeffri, hingga ia memutuskan untuk menjodohkan Ferdi dengan seseorang.


"Oh jadi tujuannya itu?" Nova melongo tak percaya.


"Tapi lo diem-diem aja." ucap Sean kemudian.


"Takutnya nggak enak ntar Clara tau, terus dia jadi marah dan kecewa." lanjutnya lagi.


"Iya, soalnya kalau ngeliat dari sisi Ferdi. Sebelum dia tau Clara itu yang bakal di jodohkan sama dia. Ferdi tulus dan sayang banget sama Clara." Jordan menimpali.


"Gue takut kalau misalkan Clara tau maksudnya om Jeffri, dia bakalan mempertanyakan perasaan Ferdi. Takutnya dia jadi ragu kalau Ferdi beneran cinta sama dia." lanjut pemuda itu.


"Iya sih." ucap Nova.


"Gue pun kalau ada di posisi Clara, dan gue tau maksud dari calon mertua gue. Otomatis gue akan kecewa berat dan menganggap kalau cintanya cowok gue ya, bohong."

__ADS_1


"Maka dari itu." Jordan berkata lagi.


"Kamu tuh kenapa sih, aneh banget?"


Tiba-tiba Frans melintas diikuti Nadia yang tengah mengoceh. Mereka berada agak jauh, sehingga tak melihat Jordan dan yang lainnya. Tetapi Jordan dan yang lainnya mendengar, bahkan menoleh ke arah mereka.


"Aneh apanya?"


Frans bertanya dengan gusar sambil menoleh dan menatap ke arah Nadia.


"Ya aneh aja, kayak marah terhadap sesuatu yang aku nggak tau apa."


Frans menghela nafas.


"Udalah, nggak usah mikir macem-macem." ujarnya seraya kembali berbalik arah.


Frans melangkah menjauh.


"Tuh kan aneh. Kamu tuh kenapa sih, salah aku apa?"


Nadia terus bertanya dan perdebatan itu semakin panjang. Namun langkah mereka semakin menjauh, menuju ke halaman parkir.


"Eh, mau makan nggak lo pada?"


Nath mengeluarkan ide brilian, seusai menonton jeda iklan yang barusan.


"Oke." timpal Sean dan Nova di waktu yang nyaris bersamaan.


Maka Nath pun lalu mendekat kepada petugas kantin dan meminta daftar menu. Kebetulan banyak makanan yang dijual disana dan kini mereka terlihat sedang memilih.


***


Sementara itu di kamar, Clara masih berada dalam pelukan Ferdi. Bahkan mereka belum terpisahkan sejak tadi, meski dokter sudah menyarankan Ferdi untuk istirahat.


Ferdi masih ingin memastikan jika yang ia peluk tersebut adalah nyata, dan bukan merupakan sebuah khayalan.


"Aku nggak ngerti sama jalan pikiran papa kamu. Bisa-bisanya dia punya ide untuk menjodohkan kamu, sama perempuan yang bahkan masih belum tau. Mau apa nggak di jodohkan sama kamu."


Ferdi mencium kening Clara.


"Jangankan kamu, aku yang anaknya aja nggak ngerti." ucap Ferdi sambil tersenyum. Clara pun membalas senyuman itu sambil menatap mata Ferdi.


Sejatinya bukan hal sulit untuk di mengerti. Mengingat Jeffri menjodohkan anaknya demi menyelamatkan perusahaan. Clara saja yang tidak paham akan hal tersebut, sementara Ferdi kini coba menutupi kenyataan.


"Kamu sendiri, kenapa mau datang ke perjodohan ini?"

__ADS_1


Kali ini Ferdi yang bertanya. Ia tak paham mengapa Clara juga mau mengikuti permainan Jeffri, padahal Clara juga tak paham mengenai maksud dan tujuan pria itu.


"Karena...."


Clara mencoba menarik nafas dalam-dalam.


"Karena aku butuh suami mendesak."


Clara jujur pada keadaannya. Tidak seperti Ferdi yang tak berani mengatakan, jika. perusahaan ayahnya membutuhkan pertolongan. That's why Jeffri ngotot untuk menjodohkan Ferdi.


"Suami mendesak?" tanya Ferdi tak mengerti.


Clara lalu mengangguk dan menjelaskan kronologi kejadian sesungguhnya. Mengenai Nando yang masih menguasai cabang perusahaan, dan hal tersebut menjadi bagian dari perjanjian pernikahannya terdahulu.


"Tadinya aku mau minta tolong kamu." ucap Clara pada Ferdi.


"Nggak apa-apa kalau semisal setelah itu, kamu masih mau hidup sendiri dan aku sendiri. Yang penting itu semua sudah di dapat." lanjut Clara lagi.


"Oh, jadi kamu cuma mau nikah main-main doang sama aku?"


Ferdi yang masih di bawah usia 30 tahun itu, ngambek layaknya remaja SMA yang baru dibuat kecewa oleh kakak kelasnya.


"Ya, itu kalau kamu belum mau menjalani pernikahan secara serius. Kalau udah mau serius ya lanjut." ucap Clara.


Ferdi kembali mencium bibir wanita itu, Clara pun akhirnya terpancing dan membalas. Lagipula ia sudah lama tak disentuh oleh laki-laki. Pada Nando, ia sudah jijik sejak beberapa bulan sebelum perceraian. Sebab telah mengetahui perselingkuhan dari laki-laki tersebut.


"Aku mau menikahi kamu." ujar Ferdi sambil terus mencium bibir Clara.


"Dan aku mau menjalaninya dengan serius." ucapnya lagi.


"Tapi aku punya anak, Fer."


"Kita udah jujur masalah itu dari awal jadian kan." Ferdi menjawab, Clara hendak menimpali ucapan itu namun keburu bibir Ferdi kembali membuat bibirnya terkunci.


Akhirnya Clara pun hanya bisa pasrah, dan membalas setiap perlakuan yang diberikan Ferdi. Intinya malam itu, mereka seperti tak bisa lagi dipisahkan.


***


"Kenapa lo?"


Adrian bertanya pada Jeffri yang kini tampak senyum-senyum dan tertawa sendiri. Adrian pun jadi tak kuasa dan ikut tertawa.


"Lucu aja." ucap Jeffri kemudian.


"Gue juga nggak nyangka sih, ternyata Ferdi udah nggak sama Jessica lagi dan malah pacaran sama Clara." ucap Adrian seraya duduk di sisi Jeffri.

__ADS_1


"Dunia emang sempit, bro." lanjutnya kemudian.


Lalu keduanya pun sama-sama tertawa.


__ADS_2