
"Arvel?"
"Axel?"
Ferdi yang baru pulang dari kantor melihat kedua anak sambungnya yang tengah di marahi oleh seorang mas-mas di depan sebuah lahan yang dipenuhi banyak pepohonan. Ferdi kemudian menepikan mobil dan keluar. Ia menghampiri ketiga orang tersebut.
"Maaf, ada apa ini?" tanya nya to the poin.
Arvel dan Axel kaget dengan kehadiran ayah tiri mereka tersebut.
"Maaf, bapak siapa ya?" Mas-mas yang memarahi kedua anak itu balik bertanya pada Ferdi.
"Saya ayah mereka, pak." jawab Ferdi.
"Oh, bapak orang tua mereka?" tanya mas-mas tersebut.
"Iya pak, anak-anak saya kenapa?" tanya Ferdi lagi.
"Begini pak, dua anak ini kedapatan mencuri buah mangga yang masih kecil-kecil di lahan ini." ujar mas-mas tersebut.
"Mencuri?"
Ferdi mengerutkan kening dan menatap kedua anak tirinya. Tampak para remaja itu tertunduk diam.
"Axel udah bilang ini buat mama yang lagi hamil, tapi om ini nggak percaya." ujar Axel kemudian.
"Tadi tuh udah beli rujak tapi mangga-nya nggak muda. Nggak sesuai sama ekspektasi mama. Terus kita udah muter-muter coba cari tukang rujak lain, tapi nggak ketemu." lanjutnya kemudian.
"Arvel, ada pembelaan?" tanya Ferdi.
Arvel menarik nafas dan menjawab.
"Ini ide Arvel, dan Arvel nggak ada maksud ngajak Axel. Tapi dia maksa pengen ikut."
Arvel melindungi sang adik. Padahal sejatinya ide mencuri mangga ini adalah idenya Axel. Ia yang melihat pohon mangga tersebut duluan dan langsung mengambilnya. Arvel sempat ada melarang, namun terlanjur di petik dan mereka keburu ketahuan oleh si pemilik.
"Ya sudah mas, berapa kerugiannya?" tanya Ferdi.
"Saya bukan mau menormalisasi atau membenarkan tindakan anak-anak saya. Tapi kita ambil jalan tengahnya saja. Biar nanti mereka, saya yang tindak lanjuti di rumah." lanjutnya kemudian.
"Ada apa ini?"
Seorang bapak-bapak tiba-tiba muncul dan mendekat.
"Ini pak, dua anak ini kedapatan mencuri mangga yang masih muda di sini." ujar mas-mas tersebut.
"Katanya untuk ibu mereka yang sedang hamil." lanjutnya kemudian.
Ferdi lalu menjelaskan jika saat ini istrinya memang tengah hamil. Axel kembali mengatakan perihal mereka yang sudah mencari keberadaan tukang rujak kesana-sini, tapi tidak ketemu.
"Memangnya mereka mengambil berapa banyak?" tanya si bapak pada si mas-mas.
"Tiga biji doang, pak." jawab si mas-mas tersebut.
__ADS_1
Bapak-bapak itu menarik nafas panjang.
"Ya sudah kasih saja, toh mereka bukan mengambil satu karung kan." ujarnya kemudian.
Si mas-mas seperti tersentil. Tampaknya bapak-bapak ini adalah pemilik lahan sesungguhnya. Ferdi kembali berbicara untuk mengganti kerugian.
Namun bapak-bapak tersebut menolak. Ia malah meminta maaf atas sikap dari penjaga lahannya, yakni si mas-mas yang sudah memarahi Arvel dan juga Axel.
Masalah akhirnya selesai sampai disitu. Ferdi pamit pulang pada si bapak-bapak, lalu membawa kedua anaknya untuk masuk ke dalam mobil.
"Lain kali jangan kayak gitu lagi ya, Axel."
Ferdi menegur Axel yang menjadi biang perkara.
"Om bukan mau sok menggurui, tapi mencuri itu bukan perbuatan yang baik. Apalagi kalau orang tau kamu anaknya mama. Kasihan mama nanti jadi malu sama orang. Untuk orang tua, terutama ibu. Usahakan memberi sesuatu yang halal, jangan hasil mencuri atau apapun." lanjutnya lagi.
"Abisnya tadi si mas-mas penjaganya itu nggak kelihatan, om." Axel membela diri.
"Mungkin dia menyamar jadi daun. Kalau keliatan mah, Axel pasti minta baik-baik nggak bakal nyolong." lanjutnya lagi.
Ferdi menghela nafas panjang. Sejatinya ia ingin tertawa mendengar alibi tersebut. Namun karena takut kehilangan wibawa, ia akhirnya menahan semua itu.
"Nanti jangan cerita ke mama ya, om." ujar Axel.
Ferdi lalu mengangguk.
"Jangan di ulangi tapi." ujarnya kemudian.
Axel turut mengangguk, lalu mobil terus melaju dan akhirnya tiba di muka rumah. Saat telah terparkir Arvel dan Axel keluar. Mereka langsung menghampiri Clara dan memberikan mangga yang diminta.
"Di kasih orang." celetuk Ferdi.
"Oh, nggak jadi beli di tukang rujak?" Lagi-lagi wanita itu bertanya.
"Nggak ketemu, ma. Kita udah muter-muter bahkan jauh keluar kompleks. Udah sampe pasar yang di ujung sana." ujar Axel.
"Duh jadi ngerepotin anak-anak mama. Makasih ya sayang." ucap Clara.
"Sama-sama, ma." jawab keduanya serentak.
Clara lalu dengan antusias memotong dan memakan buah tersebut.
"Mmm, masih krispi banget." ucap Clara.
Arvel, Axel, dan Ferdi saling melirik satu sama lain. Clara tak tau jika untuk mendapatkan mangga tersebut, mereka harus berdebat dulu dengan si penjaga lahan.
"Hmmm, udah ah."
Baru tiga gigitan, Clara selesai.
"Koq nggak di makan lagi ma?" tanya Axel.
"Udah nggak kepengen, sekarang malah pengen martabak." ujarnya.
__ADS_1
Arvel, Axel dan Ferdi menghela nafas panjang. Ingin kesal, tapi Clara sedang hamil. Akhirnya mereka semua menahan tawa. Ferdi mengorder martabak, sedang Arvel dan Axel kini naik ke atas. Menghampiri Anzel yang tengah bermain play station.
***
"Kamu tinggal disini?"
Nando berkata pada Jessica ketika ia mengantar karyawan barunya itu pulang ke rumah.
"Iya, pak." jawab Jessica kemudian.
"Bapak mau mampir dulu?" tanya perempuan itu.
"Aaaa..."
"Kita ngopi dan ngobrol-ngobrol " ujar Jessica lagi.
Nando selalu tak bisa menahan godaan wanita cantik. Meski tak secantik Clara, namun Jessica masih jauh di atas Ninis dan juga Wina, selingkuhan Nando.
"Oke, tapi sebentar aja ya. Saya masih banyak urusan soalnya." ucap Nando.
"Baik pak, nggak masalah." ujar wanita itu.
Lalu Nando pun memarkir mobil dan mereka masuk ke lobi apartemen. Sesampainya di atas, Jessica membuka pintu unit dan mempersilahkan bosnya itu untuk masuk.
"Silahkan masuk pak!" ujarnya.
Nando melihat-lihat apartemen tersebut. Tak cukup besar, namun dalamnya cukup rapi dan terkesan minimalis.
"Silahkan duduk!" ujar Jessica lagi.
"Kamu tinggal sendirian disini?" tanya Nando.
"Iya pak." jawab Jessica sambil menyalakan beberapa lampu.
"Bapak mau minum apa?" tanya Jessica lagi.
"Aaa..."
"Panas atau dingin?"
"Mmm, dingin aja." jawab Nando.
Maka Jessica pun kemudian membuatkan segelas orange jus untuk bos barunya itu.
"Saya ganti baju dulu ya pak." ujar Jessica.
"Oke."
Jessica masuk ke sebuah kamar yang diperkirakan Nando adalah kamarnya. Tak lama perempuan itu pun keluar, dan Nando tertegun.
Sebab Jessica memakai sebuah dress katun dengan belahan dada rendah. Nando paling tidak bisa melihat wanita berpakaian minim sedikit. Jiwa lelaki atau lebih tepatnya jiwa keganjenannya langsung bangkit. Jessica mendekat, lalu duduk disisi Nando dan menyalakan televisi.
"Kita order pizza aja ya pak." ujarnya meraih handphone.
__ADS_1
Nando yang tadinya ingin mampir sebentar saja, kini malah seolah terjebak dengan keadaan.
"Oke, nggak masalah." ujarnya kemudian..