
Kembali ke saat ini.
Ferdi telah selesai merampungkan pekerjaan, dan kini saatnya ia pulang.
"Duluan ya."
Nath berpamitan pada seluruh karyawan.
"Hati-hati pak Nath." ujar mereka semua.
Nath melambaikan tangan, lalu ia menjadi orang pertama yang keluar dari kantor tersebut. Disusul oleh beberapa karyawan lainnya.
Ferdi sendiri keluar agak terakhir. Meski masih ada satu atau dua orang di bagian divisi Humas.
Ferdi hendak masuk ke dalam mobil. Namun kemudian ia tanpa sengaja melihat ke arah outlet martabak yang ada di dekat kantor. Bau coklat yang dipadu keju menyebar lewat udara dan melintas di penciuman Ferdi.
Ia pun seperti terhipnotis dan membeli martabak tersebut. Ferdi memesan dua martabak manis ukuran large, dengan toping coklat wijen susu dan juga coklat keju susu. Serta dua martabak telor spesial.
Setibanya dirumah ia disambut oleh Clara yang tengah menyiapkan makan malam di meja makan.
"Kamu bawa apa sayang?" tanya Clara pada Ferdi.
"Nih ada martabak." jawab Ferdi.
"Makasih ya."
Clara mencium pipi Ferdi. Ferdi kemudian tersenyum lalu meletakkan martabak tersebut ke meja makan. Ia kini memperhatikan Clara.
"Ini semua kamu yang masak?" tanya Ferdi.
"Iya dong." jawab Clara.
"Siapa lagi coba?" lanjut wanita itu.
Kini gantian Ferdi yang mencium pipi Clara dan Clara pun tersenyum. Tak lama Arvel dan Anzel turun. Karena mereka memang telah kembali dari sekolah sejak tadi.
"Bang, ada martabak tuh." ujar Ferdi pada keduanya.
"Kan mau makan." jawab Arvel dengan ekspresi dingin.
Ia sejatinya menolak, tetapi tak enak jika menggunakan kata kasar seperti "Tidak Mau." bukan tak enak pada Ferdi melainkan Clara. Sebab Clara pasti marah jika anaknya demikian.
Ferdi dengan berbesar hati menerima jawaban tersebut. Meski Clara sangat khawatir suami barunya itu akan tersinggung. Tak lama Axel turun dan melihat martabak tersebut.
"Asik, ada martabak. Siapa yang beli, ma?" ujarnya seraya menarik kursi dan duduk di meja makan.
"Om Ferdi." jawab Clara.
"Tapi Axel mau makan nasi dulu." tukas Axel lagi. Ferdi hanya tersenyum, begitupula dengan Clara.
"Yuk, kita makan." ajak wanita itu kemudian.
Mereka pun lalu makan bersama-sama. Clara secara aktif bertanya pada anak-anak mengenai sekolah. Semata agar meja makan tersebut tidak sepi. Anak-anak mau menjawab bila Clara yang berbicara.
Axel seperti biasa dengan penuh antusias membicarakan perihal sekolahnya. Mulai dari pelajaran, guru, hingga teman-temannya yang absurd. Setelah makan, anak-anak beranjak untuk kembali ke kamar.
"Martabaknya tuh, bang, dek." ujar Clara.
"Arvel kenyang."
"Anzel juga."
__ADS_1
Kedua anak itu berjalan menaiki tangga, sedang Axel kini mengambil piring kecil.
"Axel mau ya." ujarnya kemudian.
"Ambil!" jawab Ferdi.
"Ia pun mengambil 2 potong martabak manis dan satu potong martabak telor."
"Segitu aja?" tanya Ferdi seraya tertawa.
"Ntar ngambil lagi." jawab Axel lalu melangkah menuju tangga.
Ferdi membantu Clara. Mereka sama-sama membereskan meja makan dan kemudian Clara mencuci piring. Sambil merapikan semuanya, Clara menanyai Ferdi perihal kantor.
"Baik-baik aja koq. Seperti biasanya." jawab Ferdi.
"Pertanyaan aku kayaknya basi banget ya, Fer. Tapi aku mau nanya apalagi kalau bukan soal kerjaan kamu." ucap Clara.
Ferdi tertawa.
"Ya banyak, kamu bisa nanyain aku soal zodiak, hobi, makanan kesukaan." selorohnya kemudian.
"Kayak lagi pedekate." ucap Clara.
Ferdi pun lagi-lagi tertawa.
Usai semuanya beres, mereka kembali ke kamar. Ferdi pergi mandi sedang Clara menonton tayangan YouTube, dengan ditemani beberapa potong martabak.
Setelah cukup lama berlalu, dan Ferdi pun telah selesai mandi. Clara bertanya pada Ferdi.
"Mau ngopi nggak, Fer?" ujar wanita itu.
"Kamu mau bikin emangnya?" Ferdi balik bertanya.
"Oh, ya udah mau." ucap Ferdi.
Clara beranjak, namun ketika ia hendak keluar dari pintu. Ia melihat Arvel dan Anzel yang tengah mengambil martabak. Clara melembai-lambaikan tangannya pada Ferdi. Ferdi yang bingung itu pun akhirnya mendekat.
"Ada apa?" tanya Ferdi penasaran.
Mereka kemudian sama-sama melihat ke arah Arvel dan juga Anzel. Tampak kedua anak itu melihat ke sekitar, seperti takut ketahuan.
"Tadi aja pada jual mahal." ujar Clara sambil tersenyum.
"Udah biarin aja." tukas Ferdi.
"Kan itu emang buat dimakan juga." lanjutnya kemudian. Namun dalam hati Ferdi merasa cukup senang.
Tak lama Arvel dan Anzel kembali ke atas dan Clara pun berjalan ke arah dapur, untuk membuat kopi. Sementara Ferdi kini meraih handphone dan membalas pesan yang dikirim oleh Jordan.
***
Menit demi menit berlalu, Ferdi dan Clara sudah kembali berada di kamar. Karena mereka pengantin baru yang masih hot. Kebersamaan di dalam kamar tersebut, mau tidak mau mengundang kemesraan.
Seperti ciuman, pelukan yang berujung rabaan serta saling menyentuh bagian sensitif satu sama lain. Hingga kemudian keduanya kembali berhubungan suami istri. Namun dengan suara yang sangat-sangat mereka tahan.
Tetapi meskipun begitu, mereka masih bisa menikmati semuanya. Terbukti kini setelah beberapa saat permainan berlangsung, saat keduanya pun sudah banjir keringat. Mereka tetap berada dalam kemesraan yang begitu dalam.
"Sayang, ssssh, aaah, ssssh, hmmh."
Clara berbisik di telinga Ferdi yang saat ini tengah menindih tubuhnya.
__ADS_1
"Aku sayang kamu." Ferdi balas berbisik, sambil terus mengeluar-masukkan juniornya.
"Sssssh."
"Aaaaah."
"Ferdi, aaaaah."
Mereka pada akhirnya mencapai puncak kenikmatan secara bersama-sama, setelah penyatuan yang cukup lama.
Cairan hangat menyembur deras memenuhi rahim Clara. Otot-otot bagian bawah rasanya berkedut disana-sini.
Mereka saling memuji satu sama lain dan saling berterima kasih. Tak lama mereka pergi mandi bersama-sama dan berganti pakaian.
"Aku pengen makan martabak lagi, Fer. Laper abis olahraga sama kamu." ujar Clara.
"Ya udah, aku ambilin." ujar Ferdi.
"Eh, aku ikut deh. Mau ngambil buah dan minum juga." ujar Clara.
Lalu mereka sama-sama beranjak. Namun kemudian mereka kembali melihat Arvel dan Anzel tengah berada di dekat martabak. bersama Axel.
"Abang, adek."
Clara menyapa mereka. Tampak Arvel dan Anzel terkejut, lalu martabak yang ada di tangan keduanya berpindah ke tangan Axel.
Axel kesal setengah mati karena kedua kakaknya itu memfitnah dirinya. Namun bukan Axel namanya jika ia tak memiliki solusi.
"Axel minta lagi ya ma, martabaknya."
Arvel dan Anzel pura-pura mengambil minuman dingin lalu kembali ke atas.
"Ambil aja, bawa ke kamar!. ujar Ferdi.
"Beneran?" Axel sumringah.
"Iya bawa aja." Clara turut memberi izin.
Axel senangnya bukan kepalang. Namun ia masih tau diri, takut ibunya juga ingin makan.
"Maka kedua rasa martabak itu ia mix dan dengan menggunakan salah satu kotak dari martabak tersebut, ia pun membawanya ke atas. Dengan isi yang lumayan banyak tentunya.
"Ini kita bawa aja deh. Sisa segini juga." ujar Clara.
Martabak manisnya hanya sisa 4 potong dan martabak telor 2 potong
"Ya udah." tukas Ferdi kemudian.
Clara lalu mengambil buah dan Snack lainnya. Mereka kemudian masuk ke kamar dan menonton Netflix.
Sementara Axel ketiban rejeki nomplok. Ia kini punya kotak ajaib yang berisi martabak serta martabak telor. Instruksi dari Clara dan Ferdi untuk membawa makanan itu tak ia sia-siakan.
Dan inilah saatnya pembalasan untuk kedua kakaknya yang tadi coba memfitnah. Mereka bermain game online bersama dan mengaktifkan dialog interaktif. Sambil main dari dalam kamarnya, Axel sambil makan.
"Hmm, wijennya enak banget dicampur coklat." ujarnya kemudian.
Arvel yang mendengar hal tersbeut kesal, namun masih diam dan menyimpan dalam hati. Sedang Anzel kini mengumpat.
"Axel, nggak usah bikin ubun-ubun abang berapi ya." ujarnya kemudian.
"Salah sendiri tadi fitnah Axel. Ini enak banget loh bang. Hmm, kejunya."
__ADS_1
Suara Axel makan benar-benar membuat kedua kakaknya menelan ludah. Namun mereka juga gengsi untuk menyambangi kamar adik bungsu mereka tersebut.