
"Heeewww."
"Ssshhh."
"Hmmm."
"Ssshhh."
Axel berselimut tebal dengan tubuh yang menggigil kedinginan. Ferdi dan Clara yang baru tiba dari kantor langsung menyambangi kamar anak itu. Tampak keningnya telah di kompres oleh Arvel, dan kini remaja itu keluar dari sana.
"Udah dikasih obat bang?" tanya Clara pada Arvel.
"Tadi dikasih Anzel Paracetamol doang, ma." jawab Arvel.
"Oh ya udah."
Arvel kemudian berlalu. Ferdi masuk lalu duduk disisi anak itu dan meraba keningnya.
"Mama nggak usah masuk, disana aja." ucap Axel menahan Clara di muka pintu.
"Iya, ini mama disini." ucap Clara.
"Masih panas badan kamu. Kita ke dokter aja ya." ucap Ferdi.
"Nggak mau, takut disuntik." jawab Axel.
"Di suntik doang, nggak sakit koq. Kan kayak di gigit semut." ucap Ferdi.
"Iya, semut purba." tukas Axel.
Ferdi tertawa.
"Kan nggak semua penyakit harus di suntik juga. Paling ntar dokter meresepkan obat." bujuk Ferdi sekali lagi.
"Kalau nyatanya disuntik gimana?. Emang papa mau tanggung jawab."
"Iya papa tanggung jawab. Mau tanggung jawab yang kayak gimana coba?" tanya Ferdi.
"Hmmm, beliin Axel play station yang baru."
"Itu mah akal-akalan kamu." ucap Clara pada sang anak.
Ferdi tertawa.
"Namanya juga usaha, ma." ucap Axel kemudian.
"Mau ya?" tanya Ferdi sekali lagi.
"Hmmm?" Axel tampak berfikir.
"Ayo, biar nanti penyakitnya nggak melebar kemana-mana." ucap Clara.
"Tapi abis itu beliin Axel martabak manis."
"Iya janji." ujar Ferdi.
Clara hanya menghela nafas sambil mengelus dada melihat kelakuan anaknya itu. Mereka pun akhirnya berangkat menuju ke dokter.
Sesampainya dia sana, ternyata agak mengantri. Axel yang memang merasa lemas dan tak bertenaga serta pusing tersebut, tampak menempelkan kepalanya di bahu Ferdi.
Clara hanya bisa melihat dari jauh dengan menggunakan masker. Sebab diruang tunggu tersebut banyak juga pasien lain yang tengah terkena flu.
__ADS_1
Saat pemeriksaan Clara tak ikut masuk, hanya Ferdi yang menemani Axel menemui dokter. Setelah selesai di periksa ternyata dia tidak di suntik dan hanya di resepkan obat.
"Yah, coba di suntik dok." ujarnya ketika hendak pulang.
"Kan lumayan saya dapat PS 5 ini." ujarnya.
Dokter itu tertawa.
"Lain kali janjian dulu." tukasnya sambil bercanda.
Usai berterima kasih mereka keluar ruangan. Clara pergi menebus obat sedang Ferdi membawa anak sambungnya itu ke mobil. Ketika obat telah di dapat, wanita itu kembali dan mereka semua kini berada dalam perjalanan pulang.
"Axel mau martabak, pa." ucap Axel yang saat ini tengah duduk di belakang.
"Iya, ini kita lagi mau kesana. Ini masih lumayan sore, nggak banyak tukang martabak yang buka. Kebanyakan bukanya malem." ucap Ferdi.
Axel terus berselimut sambil tiduran.
"Pusing nggak kepalanya?" tanya Clara pada anak itu.
"Udah agak mendingan sih, ma. Cuma pengen muntah aja sedikit tapi."
"Mau menepi dulu, terus muntah?" tanya Ferdi.
"Nggak, lanjut aja pa. Lebih cepat dapat martabaknya lebih baik." ucap Axel.
Ferdi dan Clara tertawa. Setibanya di tempat jual martabak mereka memesan dua kotak martabak manis dan dua kotak martabak telur. Sekalian untuk Arvel dan juga Anzel.
"Nih udah dapat." ucap Clara setelah martabak tersebut jadi.
Axel mengangguk.
"Mau makan sekarang?" tanya Ferdi.
Ferdi kemudian menghidupkan mesin mobil. Setibanya dirumah, Axel langsung dibawa ke kamar oleh Ferdi dan saat ini dirinya tengah makan martabak. Clara membuatkannya segelas susu.
"Sakit apa dia om?" tanya Anzel pada Ferdi.
Kakak kedua Axel itu kini menyambangi kamar sang adik.
"Flu, batuk kering. Karena virus." jawab Ferdi.
"Makanya lo, jangan jajan sembarangan mulu. Mana tau penjualnya lagi kena virus, atau ada pembeli sebelumnya yang batuk dan bersin seenak jidat." ucap Anzel.
"Mending jajan sembarangan terus sakit. Daripada nggak pernah nyobain sama sekali terus penasaran." Axel membela diri, namun tak lama ia pun bersin.
"Huacim."
"Huacim."
"Sukurin." tukas Anzel sambil tertawa.
"Abang Ar mana?" tanya Clara pada Anzel.
"Tuh ada martabak loh di meja makan." lanjutnya lagi.
"Itu udah disana dia." jawab Anzel.
"Jangan di abisin, bang. Bagi Axel juga." Axel meminta pada kakaknya itu.
"Bakalan abang abisin lah, lo sakit. Pasti perut lo mual dan nggak bisa makan banyak kan?" goda Anzel.
__ADS_1
"Iya sih, tapi kalau di abisin, Axel sedih bang." Ferdi dan Clara tertawa.
"Sakit-sakit, masih aja mikirin porsi makan." Anzel berujar sambil tertawa lalu meninggalkan tempat itu untuk menyusul Arvel.
"Bang, jangan di abisin."
"Iya, lo kata gue sama kayak elo. Makan sekecamatan tapi kagak kenyang." teriak Anzel.
Lagi-lagi Ferdi dan Clara tertawa.
"Pa, mau susu."
Ambil sendiri lah, orang deket." ucap Clara.
Ferdi mengambilkan susu tersebut.
"Orang Axel mau diambilin sama papa."
Axel menjulurkan lidahnya pada Clara. Ferdi membantu anak itu untuk minum.
"Hmm, kalau kayak gini Axel pasti cepet sembuh." ujarnya kemudian.
Clara menggeleng-gelengkan kepalanya. Tingkah Axel memang selalu ajaib dalam segala hal. Usai makan, Ferdi memintanya meminum obat kemudian beristirahat.
"Ntar bangun tidur, Axel makan apa ya pa?" tanya nya pada Ferdi yang kini menarik selimut dan menutupi tubuh remaja itu.
"Tidur dulu, baru mikirin makan." ucap Clara padanya.
"Ya nggak apa-apa dong, ma. Kan hidup perlu perencanaan." ujar Axel.
Untuk kesekian kalinya Ferdi tertawa.
"Mau apa, ayam goreng, soto, sate, atau rendang?"'
"Mau fast food. Ayam sama kentang goreng." jawab Axel.
"Ya udah nanti papa beliin, tidur dulu sekarang."
Axel memejamkan mata, Ferdi siap untuk keluar.
"Pa."
"Hmm?"
Ferdi menoleh.
"Axel udah terlalu gede belum sih kalau di dogengin.
Ferdi menatap Clara dan begitupun sebaliknya.
"Axel kayaknya nggak pernah di dongengin orang tua deh dari kecil." tukasnya lagi.
Clara diam. Dulu Nando selalu pulang larut dan Clara pun mengajari anak-anaknya untuk tidur sendiri dari kecil.
"Axel bercanda kali, orang Axel nggak suka dongeng." ujarnya lagi.
Ferdi kembali bersitatap dengan Clara dan nyaris tertawa.
"Udah ah, Axel mau tidur. Makasih untuk makanannya."
"Sama-sama." jawab Ferdi.
__ADS_1
Kemudian remaja itu memejamkan mata, Ferdi dan Clara keluar dari ruangan dan turun ke bawah. Mereka menyambangi Arvel dan Anzel yang kini tengah berada di meja makan.