Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Bagaimana Caranya


__ADS_3

Saat pulang ke rumah, Ferdi melihat ketiga anak sambungnya yang tengah bermain game online di ruang tengah. Mata pria itu lalu fokus tertuju pada Arvel.


"Cla."


"Hmm?"


Clara yang ada disisi Ferdi kini menoleh. Saat ini mereka tengah duduk di sebuah sofa yang terletak di sudut rumah.


"Kenapa, Fer?" tanya Clara kemudian.


"Kamu nggak pernah nyari tau, siapa orang tua kandungnya Arvel?" Ferdi balik bertanya.


Tentu saja Clara kaget mendengar semua itu.


"Koq kamu nanya begitu?" Ia kembali melempar pertanyaan.


"Penasaran aja." ucap Ferdi.


"Buat apa aku yang nyari, toh yang menelantarkan anak itu kan mereka. Harusnya mereka sadar diri atas apa yang sudah mereka perbuat. Kalau memang mereka merasa butuh dengan anak itu, kenapa nggak mereka aja yang nyari?" Clara berujar panjang lebar.


"Berarti kalau orang tuanya ada, nyariin dia. Kamu rela mereka ketemu?"


Ferdi memancing dan menunggu jawaban.


"Ya, nggak tau." jawab Clara.


"Koq nggak tau?"


"Ya belum tentu aku rela, Fer. Nanti kalau mereka ngambil Arvel gimana?. Aku udah susah payah membesarkan dia, terus diambil."


Ferdi mendengar ada semacam emosi di dalam nada bicara istrinya tersebut. Seperti sebelum-sebelumnya ketika membahas soal orang tua Arvel, respon Clara selalu sama.


Ferdi kemudian merangkul dan mencium kening perempuan itu, supaya dia tenang. Kemudian ia mengusap perut Clara yang membuncit.


"Kan aku cuma nanya." ujar Ferdi kemudian.


"Ya pertanyaan kamu bikin kesel." ucap Clara.


Ferdi tak lagi berkata dan lanjut memeluk sang istri. Ia menanyakan hal tersebut bukan apa-apa. Ia hanya ingin memberikan kesempatan bagi Nath untuk jujur pada diri dan anaknya sendiri.


Bukan karena Ferdi ingin anak sambungnya itu diambil ataupun tak lagi tinggal bersama mereka. Tetapi sebagai seorang sahabat, Ferdi tentu mengerti bagaimana perasaan Nath selama ini.

__ADS_1


Meski Ferdi belum mengetahui secara pasti, kisah pilu yang ada di belakang semua itu. Namun ia cukup bisa melihat Nath yang begitu sayang pada Arvel.


Tetapi Clara pun sama demikian. Ia juga begitu menyayangi Arvel. Mungkin proses pendekatan antara Nath dan juga anaknya itu akan memakan waktu yang agak lama.


Mengingat Clara yang saat ini masih egois, ditambah ia tengah hamil pula dan tak bisa disinggung atau di dibuat sedih terlalu banyak.


***


Di lain pihak, di jam sebelum Ferdi pulang dari kantor.


Frans tengah berada di suatu tempat untuk mengurus sesuatu. Namun tiba-tiba ia melihat sebuah mobil datang lalu parkir di suatu sudut. Dan dari dalam mobil tersebut, Adrian keluar.


"Om Adrian?" gumam Frans seraya memperhatikan.


Adrian melangkah, kemudian masuk ke sebuah gedung perkantoran. Frans pun terkejut bukan kepalang.


Sebab diketahui gedung perkantoran yang di datangi oleh orang kepercayaan ayahnya tersebut, adalah kantor saingan atau kompetitor perusahaan mereka.


Frans buru-buru mengambil handphone dan hendak mengambil foto Adrian. Namun pria itu telah menghilang dibalik pintu lobi.


Frans lalu memotret bagian depan mobil pria itu dan memperlihatkan plat nomor kendaraan yang tertempel disana. Dengan latar belakang gedung perkantoran yang dimaksud.


"Cekrek."


"Cekrek."


"Cekrek."


Frans mengambil foto hingga tiga kali, lalu merekam video. Ia memang tidak tau apa maksud Adrian menyambangi kantor kompetitor mereka.


Namun ini bisa jadi barang bukti seandainya terjadi sebuah kecurangan atau pengkhianatan. Frans tak ingin buru-buru menjudge. Tetapi ia juga tak ingin melewatkan kesempatan.


***


Di rumah, sore hari menjelang gelap. Nath sendirian menatap foto sang anak yang terpajang dibuang tengah. Itu adalah foto dimana Arvel masih berusia delapan bulan. Ia mengambilnya secara diam-diam.


Saat ia tak sengaja bertemu dengan Clara dan bibi pengasuh yang dulu sempat bekerja ada wanita itu. Mereka mengunjungi sebuah mall dan kebetulan saat itu Nath ada disana.


Dalam keadaan hamil besar, Clara menggendong Arvel sambil melihat-lihat pakaian bayi. Nath masuk ke dalam outlet yang menjual pakaian bayi tersebut dan berpura-pura membeli untuk anaknya. Ia berusaha mendekati Clara dengan bertanya pada perempuan itu.


"Kalau bayi usia delapan bulan, kita belinya yang ukuran berapa ya kira-kira?" Nath bertanya pada Clara.

__ADS_1


Dengan tanpa curiga Clara pun menjawab. Nath mengatakan jika ia memiliki bayi sebesar bayi yang dibawa oleh Clara. Saat itu Arvel tertawa-tawa kepadanya. Nath juga bilang ia ingin membelikan hadiah. Maka dari itu ia sengaja tak mengajak sang istri maupun anaknya berbelanja.


Clara senang, sebab ia melihat sosok ayah yang begitu perhatian. Sama sekali berbeda dengan Nando yang sangat cuek kala itu.


Kejadian itu sudah lama sekali berlalu. Sampai Clara pun sudah lupa bahwa ia pernah bertemu Nath.


Sama halnya dengan sang ayah, Arvel juga pada akhirnya kembali ke kamar. Usai bermain game online dan makan malam bersama yang lainnya.


Ia melihat ke arah drone dan juga laptop gaming. Serta obat yang bahkan sampai detik ini belum diketahui oleh Clara keberadaannya.


Arvel yakin benda-benda itu datang dari orang tua kandungnya. Tetapi siapa dan bagaimana rupa orangnya, ia belum tau. Jujur dalam hati ia ingin tau siapa orang tua kandungnya.


Arvel ingin marah pada mereka dan menuntaskan seluruh sakit hati yang ia pendam. Ia ingin bertanya mengapa ia ditinggalkan, mengapa ia di berikan ada orang lain.


Bukan tak mensyukuri Clara dan Nando yang sudah menjadi orang tua asuhnya, lalu Ferdi yang kini telah menggantikan posisi Nando. Ia hanya ingin tau alasannya kenapa. Kenapa sampai orang tua begitu tega membuang darah daging mereka sendiri.


"Bang, abang mikirin apa sih?"


Tiba-tiba kepala Axel nongol di pintu. Arvel ternyata lupa merapatkan lalu mengunci pintu tersebut. Ia kaget dan langsung menoleh pada sang adik.


"Abang mikirin ujian besok." dustanya pada Axel.


"Ujian apaan?" Axel mendekat lalu duduk di sisi kakaknya itu.


"Matematika, dadakan. Baru dikasih pemberitahuan lewat WhatsApp." Ia memperpanjang kebohongannya.


"Oh, kirain abang mikirin apaan." ucap Axel lagi.


"Lo kesini ngapain?" tanya Arvel.


"Mau minta tolong abang."


"Tolong apaan?" tanya Arvel lagi.


"Di dinding kamar mandi Axel ada cicak, bang. Usirin dong, abang kan nggak takut sama si hewan lembek itu." ujarnya lagi.


Arvel menoleh dan menatap sang adik, sementara sang adik kini nyengir.


"Hehe."


Arvel lalu beranjak dan mengambil sapu. Tak lama ia pun terlihat sudah berada di kamar Axel sambil mengusir cicak yang berada di dalam kamar mandi. Sedang Axel sendiri mengintip dari luar.

__ADS_1


__ADS_2