Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Nasi Goreng


__ADS_3

Jeruk Bali sudah habis. Yang lebih banyak memakannya tentu saja Axel. Sebab anak itu terlihat sangat lapar dan sampai saat ini belum juga kenyang.


"Masih laper, om." ujar Axel.


"Axel mau makan nasi." lanjutnya lagi.


Ferdi kembali ke pintu dan mencoba memanggil Clara.


"Clara, buka pintunya. Kasihan Axel dia laper." ujar Ferdi.


Tak ada jawaban. Ia terus memanggil sampai tiga kali, namun semuanya tetap sama. Ferdi kemudian berpikir keras bagaimana caranya agar Axel bisa makan. Tak lama matanya pun tertuju pada pos sekuriti yang ada di depan.


Ferdi ingin berteriak memanggil sekuriti, namun kemudian ia mengurungkan niat tersebut. Sebab sudah pasti Clara akan mendengar suaranya.


Ferdi berpikir keras, lalu ia mencari-cari kertas serta pulpen. Beruntung ia menemukannya di laci yang tak jauh dari tempat dimana tadi ia menemukan cutter.


"Om Ferdi ngapain.?" tanya Axel heran.


Ferdi menuliskan sebuah kata di kertas tersebut.


"Pak, tolong orderin makanan apa aja. Pake uang bapak dulu, besok saya ganti. Kami lagi di hukum sama ibu. Nggak ada handphone, nggak ada dompet juga disini."


Begitulah bunyi dari catatan tersebut. Ferdi kemudian pergi ke balkon dan melambaikan tangannya ke arah pos sekuriti.


"Kenapa pak?" tanya sekuriti tersebut.


Ferdi dan Axel kompak menempelkan jari telunjuk mereka di bibir. Sekuriti itu pun mengerti, lalu Ferdi melempar kertas yang tadi ia tulis. Sekuriti tersebut membacanya, dan mengerti.


Selang beberapa saat kemudian, sekuriti kembali dengan dua bungkus nasi goreng yang ia beli di depan. Ia menaikkan bungkusan tersebut dengan menggunakan tangga lipat yang ada di dekat pos.


Ferdi dan Axel berterima kasih, tak lama kemudian mereka masuk ke dalam dan mulai makan. Keduanya tampak tertawa-tawa, sebab merasa jika Clara telah keliru mengurung mereka berdua. Sebab kini ada dua kepala yang saling bertukar ide serta pikiran.


"Akhirnya ketemu nasi, thanks God." ujar Axel di sela-sela makan. Ferdi tersenyum.


"Kalau udah ketemu nasi, dunia kayak terang benderang aja." lanjutnya lagi.


Kali ini Ferdi tertawa, ia sepakat dengan anak itu. Ia juga adalah tipikal orang yang harus makan nasi. Jika tidak, tubuhnya akan gemetar meski telah memakan jenis karbohidrat lain.


Sementara di kamar Clara tak dapat tidur. Sebab selama beberapa hari belakangan ini tepatnya semenjak menikah, ia mulai terbiasa tidur dalam dekapan Ferdi. Tetapi malam ini ia mesti tidur sendiri, lantaran Ferdi tengah menjalani hukuman bersama Axel.


Clara rasanya ingin menyudahi saja hukuman tersebut. Tetapi ia takut dinilai kalah dan tak tegas terhadap anaknya sendiri. Jadilah Clara menjadi gelisah sekaligus dilema.


"Ah, untung aja ini nasi goreng porsinya barbar, jadinya kenyang banget ya om."


"Iya, om kenyang banget ini. Rasanya pengen langsung rebahan." ujar Ferdi sambil tertawa.


"Cukuplah energinya sampai pagi." tukas Axel lagi.


Usai membereskan semuanya, mereka kembali duduk di balkon sambil menikmati terpaan angin malam. Tak terasa waktu pun beranjak naik.


"Kamu tidur gih!" ujar Ferdi pada Axel.


"Besok sekolah loh." lanjutnya kemudian.

__ADS_1


"Iya."


Axel masuk ke dalam, namun tak lama terdengar suara pintu yang dibuka. Axel mengira itu adalah Clara, namun ternyata Anzel dan juga Arvel yang membawa makanan.


"Nih, di belakang cuma ada ini aja. Sorry lama karena nunggu mama tidur dulu. Kuncinya dia yang pegang." ujar Anzel.


"Bawa hp gue nggak, bang?" tanya Axel.


Arvel lalu menyerahkan handphone adiknya itu.


"Dah ya ntar ketahuan mama." ujar Anzel.


Tak lama pintu pun kembali di tutup. Ferdi masuk dari balkon dan melihat Axel yang memeluk banyak cemilan. Seperti biskuit, keripik kentang dan juga roti serta sosis.


"Tadi siapa yang ngasih?. Mama?" tanya Ferdi pada anak itu.


"Bukan om, abang An sama Abang Ar."


"Nggak ketahuan mama emangnya?" tanya Ferdi lagi.


"Mama udah tidur."


"Pantesan." ujar Ferdi sambil tertawa.


"Nih om, ayo kita makan."


"Iya bentar lagi, om masih kenyang loh." tukas Ferdi.


"Iya sih." tukas Ferdi seraya tertawa.


"Kamu nggak tidur?" tanya Ferdi.


"Nonton YouTube dulu deh om, bentar."


"Nonton dari mana?"


"Nih hp, dari abang tadi." ujar Axel sambil tertawa.


Ferdi pun dibuat senyum oleh tingkah anak itu. Tak lama setelahnya mereka terlihat nonton YouTube bersama-sama.


***


Pagi hari.


Hukuman telah selesai di jalani, Clara membuka pintu dan membiarkan Axel serta Ferdi keluar. Clara bingung, sebab keduanya tampak biasa-biasa saja. Tak seperti orang yang tidak makan semalaman.


Ferdi pergi mandi, begitupula dengan Axel. Selang beberapa saat semuanya sudah berkumpul di meja makan dan menikmati sarapan berupa roti bakar dan juga susu hangat.


"Kenapa cemilan di belakang ada yang hilang?"


Clara bertanya ketika semuanya telah selesai sarapan. Sebab jika ia bertanya ketika mereka semua masih makan, bisa jadi Ferdi akan marah padanya seperti tempo hari.


Ia ingat Ferdi pernah mengatakan, jangan sampai amarah kita menghilangkan selera orang yang tengah makan. Untuk itulah ia menunggu sampai semuanya selesai.

__ADS_1


"Ada yang ngambil cemilannya?" tanya Clara seraya menatap dan mencurigai Arvel dan juga Anzel.


"Abang yang ngambil." Arvel mengakui perbuatan tersebut.


"Abang juga." Anzel menimpali.


"Kalian makan sendiri?" tanya Clara.


Axel sudah menunduk karena takut. Sementara Ferdi santai saja sambil menahan senyum.


"Abang makan sendiri atau dikasih ke Axel?" Clara langsung menjudge ke arah sana. Wajah Arvel dan Anzel pun mendadak pucat.


"Nggak koq, ma." ujar Anzel dengan nada terbata-bata.


"Kalau nggak, kenapa posisi kunci kamar tempat mama menghukum Axel bisa pindah jauh banget?"


"Degh."


Jantung Arvel dan Anzel berdegup kencang. Anzel ingat semalam ia buru-buru meletakkan kunci tersebut begitu saja di kamar Clara. Lantaran Clara nyaris saja terbangun, akibat kedatangannya. Ia tak menyangka jika Clara ingat dimana ia meletakkan kunci tersebut terakhir kali.


"Mama hargai kebaikan kalian terhadap saudara kalian yang lagi dihukum. Dan sebagai gantinya, hari ini kalian berdua nggak dapat uang jajan."


Arvel dan Anzel terkejut, namun mereka juga tak dapat melayangkan protes apapun. Sebab mereka tau mereka salah dan lagipula Clara bisa saja lebih marah dari ini. Axel tertunduk, ia merasa bersalah melihat kedua kakaknya turut dihukum demi dirinya.


Selesai sarapan, Axel kembali ke kamar karena lupa membawa tas. Ia hari ini akan berangkat dengan kedua kakaknya. Sebab sudah terlanjur siap dan kakak-kakaknya itu masih bisa menunggu.


Axel melihat celengan babi yang ada di kamarnya. Ia bermaksud membuka celengan itu untuk uang jajan kedua kakaknya. Namun kemudian Ferdi datang dan memberikan uang sebesar seratus lima puluh ribu pada anak itu.


"Bagi tiga." ujar Ferdi kemudian.


Axel menatap Ferdi, dan Ferdi menyodorkan uang tersebut.


"Buruan sebelum mama liat." ujarnya lagi.


Axel pun lalu mengambil uang tersebut dan mengantonginya. Axel berangkat bersama Arvel dan Anzel.


Ketika mobil yang mengantar tiba di muka sekolahnya. Axel bersiap keluar, namun ia teringat uang pemberian Ferdi.


"Nih, bang. Buat abang berdua jajan."


Axel menyerahkan dua lembar uang lima puluh ribuan kepada Arvel dan juga Anzel.


"Uang dari siapa ini?" tanya Arvel kemudian.


"Dari om Ferdi." jawab Axel.


Arvel dan Anzel sama-sama diam.


"Mau nggak?" tanya Axel pada kedua kakaknya itu.


"Kalau nggak mau, Axel ambil buat beli voucher google play. Axel mau beli skin Hero."


Arvel menghela nafas lalu mengambil uang tersebut, begitu pula dengan Anzel. Axel kemudian nyengir dan keluar dari mobil. Sementara kedua kakaknya melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2