Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Para Pencari Janda


__ADS_3

Ferdi menoleh ke suatu arah, tatkala bertemu dengan teman-teman Axel. Entah mengapa ia seperti merasa tengah di perhatikan oleh seseorang.


Ia tak salah mengenai hal tersebut. Karena di suatu arah saat ini, Nando tengah memperhatikan dirinya.


Tak hanya disini saja, Nando telah mengintai bahkan sejak tadi ia baru saja keluar pagar. Sampai kepada saat ia membelikan sarapan untuk Axel.


Saat itu Nando melihat akhirnya sang anak dan ayah tirinya keluar dari dalam toko kue. Axel tampak sumringah dan kelihatan sangat dekat dengan Ferdi.


Tentu saja hati pria itu terbakar seketika. Sedang dulu ia tak pernah sekalipun mengantar anaknya ke sekolah. Balik lagi, ia merasa itu adalah tugas perempuan. Dan lagi pula ada supir, pikirnya saat itu.


Ia tak tau betapa pentingnya mengantar seorang anak, dan membangun hubungan yang baik melalui hal-hal kecil seperti itu. Nando benar-benar sangat menyesali hal tersebut. Kini ia sangat cemburu dan iri hati pada Ferdi. Ia adalah orang baru, namun bisa langsung di terima oleh anaknya.


"Axel, om berangkat dulu ya." ujar Ferdi pada Axel.


"Ya udah, hati-hati ya om." ucap remaja itu.


"Iya, kamu belajarnya yang bener. Jangan nakal!"


"Iya, om."


Ferdi mengusap kepala anak itu dengan tangannya. Axel diam karena merasa ada sesuatu yang hangat kini menjalar dalam hati. Sementara Ferdi kini melangkah menuju mobil.


Ferdi melihat kesana-kemari dari dalam, sebab ia masih merasa jika dirinya tengah di ikuti seseorang. Setelah memastikan semuanya aman, ia pun mulai menekan pedal gas mobil dan melaju meninggalkan tempat itu.


***


Lagi-lagi Nando merasa terganggu hari ini. Dan lagi-lagi sikapnya terhadap karyawan kantor, sama seperti kemarin-kemarin. Penuh dengan kegusaran sekaligus amarah.


"Ya nggak bisa gitu dong, lo bapak kandung mereka. Lo harus ingatkan Clara untuk nggak terlalu memberi ruang anak-anak lo, untuk dekat dengan si bapak baru mereka itu."


Salah satu teman Nando yang juga sama dangkal pemikirannya seperti Nando, kini memberi pendapat pada pria itu.


Nando lalu berpikir jika semua itu benar adanya. Ia harus menekan Clara, agar wanita itu tak seenaknya memberi ruang bagi Ferdi. Untuk bisa mendekati anak-anaknya sesuka hati. Nando tak terima mengenai hal tersebut.


Kini bayangan saat Ferdi bercengkrama dan membuat Axel tertawa seakan membuat ubun-ubunnya mulai menyala dan terbakar.


***


Clara akhirnya masuk kantor dan dirinya dibanjiri ucapan selamat. Di doakan segera mengandung dan mendapatkan anak lagi oleh para karyawan.


Tentu saja Clara berterima kasih pada mereka semua. Mengenai anak yang baru, Clara sejatinya tak terpikir sampai sana. Tapi bila memang diberi kepercayaan untuk mengasuh satu anak lagi, tentu saja ia akan senang.

__ADS_1


Ia sudah lama sekali sejak terakhir kali ia hamil dan melahirkan. Rasanya cukup rindu dengan tendangan bayi di dalam perut.


Clara tersenyum mengingat masa-masa itu. Saat dirinya mengalami perubahan tubuh yang perlahan membengkak. Tapi yang jelas saat ini, dirinya ingin bekerja dulu. Sebab sudah beberapa hari ia libur dan mungkin pekerjaan sudah bertumpuk.


Clara masuk ke ruangannya, usai berbincang-bincang sejenak dengan beberapa karyawan. Tak lama kemudian, ia pun memulai pekerjaan.


***


Di sela-sela bekerja, isi benak Ferdi melayang sampai jauh. Pemuda itu kini berpikir, akan ia apakan uang dua ratus juga pemberian Nath.


Itu merupakan modal yang cukup besar untuk memulai sebuah bisnis yang kecil. Ia harus memulai usaha dengan uang itu.


Bila di tekuni, mungkin nantinya akan menjadi sebuah bisnis yang besar di kemudian hari. Yang mungkin penghasilannya bisa ratusan juta bahkan milyaran.


Tapi bisnis kecil apa yang hendak ia mulai. Dan memulainya dari mana. Siapa partner yang tepat dalam mendirikan bisnis ini. Apakah sebaiknya berjalan sendiri dulu saja.


Ferdi membuka internet dan mencari ide-ide bisnis yang menjanjikan. Banyak pilihan yang ia dapatkan. Mungkin nanti ia akan mempelajari lebih lanjut ketika ia sudah ada di rumah.


"Gimana, bro?. Sehat Otong lo semenjak menikah?"


Jordan berseloroh ketika mereka telah berada di jam makan siang. Ferdi tertawa mendengar semua itu.


"Sehat, sehat banget." Selorohnya kemudian.


"Lo emang, bangsat ya." kali ini ini Sean yang berseloroh sambil tertawa.


"Jadi pengen, gue." lanjutnya lagi.


"Ya udah, nikah sana!" ucap Ferdi.


"Mau nikah sama siapa gue, tumbuh-tumbuhan?" tanya Sean.


"Ada Nova sama yang lain noh di kantor." Jordan memberi saran tercepat.


"Lah balik orang kantor lagi masa." ujar Sean.


Ferdi dan Jordan tertawa-tawa.


"Lagian Nova mah kagak bakalan mau, otaknya udah penuh dengan khayalan novel online-nya itu." tukas Sean lagi.


"Iya, katanya dia lagi kenalan sama CEO baru." ujar Jordan.

__ADS_1


"Oh ya?" tanya Ferdi tak percaya.


"Emang CEO hunter ya tuh anak." lanjutnya lagi.


"Nggak tau gue cewek jaman sekarang, sepupu-sepupu gue yang cewek ternyata sama juga." celetuk Jordan.


"Sama, maksudnya?" Ferdi tak mengerti.


"Ya semenjak ada drakor. Standarisasi mereka terhadap cowok tuh jadi berubah. Dulu inget banget gue tanya ke mereka, mau calon suami yang kayak apa. Jawabnya yang baik dan rajin ibadah. Kalau sekarang di tanya mau calon suami kayak apa."


"Kayak Oppa Korea pasti." celetuk Sean.


"Mending kayak Oppa Korea doang. Selain itu maunya ganteng, tajir, CEO pula. Kalau bisa agak arogan sedikit, tapi menuruti seluruh keinginan cewek. Mau cari dimana coba cowok model begitu?"


"Yang ada CEO, tapi badannya menggelikan. Buncit dan kumisan." celetuk Sean lagi.


Kali ini Ferdi dan Jordan jadi terbahak.


"Kalau nggak, ya ganteng tapi bukan CEO. Ganteng tapi duitnya pas-pasan kayak gue." seloroh Ferdi.


"Sok ganteng lu, anjay." Jordan menoyor kepala Ferdi dan mereka terus saja tertawa-tawa.


"Mending kayak gitu." ujar Sean.


"Ada lagi yang udalah nggak good looking tapi begajulan. Semua ada plus minusnya." lanjutnya kemudian.


"Kalau itu mah nggak ada nilai plusnya sama sekali, anjay. Minus semua." Jordan nyeletuk dan lagi-lagi seantero kantin ramai oleh suara tawa mereka.


"Gue udah nggak paham lagi deh sama jalan pikiran cewek-cewek sekarang." ucap Jordan lagi.


"Gue aja nikah sama Janda." Ferdi berseloroh.


"Janda lo mah spesifikasinya keren, bro." ujar Sean.


"Iya juga ya, apa kita nyari janda aja?" tanya Jordan


"Kayaknya seru, kalau jandanya kayak Clara mah gue nggak bakal nolak." ujar Sean lagi.


"Yoi, daripada sama gadis ribet." timpal Jordan.


"Ya udah, kita sepakat bro. Mulai hari ini kita akan menjadi janda hunter." ujar Sean.

__ADS_1


"Oke."


Mereka berdua deal, sementara Ferdi hanya tertawa.


__ADS_2