
Nando pulang ke rumah, dan membaca surat-surat yang tadi telah di siapkan oleh sekretarisnya.
Kebanyakan surat itu adalah surat penagihan. Baik penagihan yang sifatnya pemakaian, seperti listrik, air, dan lain-lain. Maupun surat penagihan hutang.
Nando hampir muak membaca surat itu satu persatu. Ia sudah akan menyudahi, sampai kemudian ia menemukan surat yang dilayangkan oleh kantor pusat.
"Brengsek!"
"Aarrgghh."
Ia mengumpat, kesal, dan bahkan menendang meja kerjanya yang ada di rumah. Saat itu Ninis tengah scroll sosial media di ruangan lain. Ia seperti mendengar Nando marah dari tempat tersebut.
"Kurang ajar!"
Nando kian bertambah kesal, jantung pria itu berdegup kencang dan nafasnya naik turun dengan cepat. Bayangan wajah Clara dan juga Ferdi seakan muncul memenuhi penglihatannya.
"Jadi perempuan brengsek itu masih juga serakah. Dia masih mau menguasai semuanya, setelah dia memegang kendali penuh di kantor pusat. Dia juga mau mengambil yang ini?"
Nando berbicara sendiri dengan emosi yang kian menjadi-jadi.
"Tau seperti ini, gue racun dari dulu. Biar semuanya gue yang menguasai." lanjutnya lagi.
Ia kemudian diam menatap suatu sudut, dengan nafas yang semakin memburu.
"Brengsek!"
"Aarrgghh."
"Braaak."
Ia kembali mengamuk, kali ini menjatuhkan apapun yang ada di atas meja.
"Aarrgghh."
***
"Udah nggak pusing lagi?" tanya Ferdi pada Clara ketika akhirnya mereka pulang ke rumah.
"Udah nggak." jawab Clara.
"Ternyata cuma perlu istirahat aja sebentar." lanjutnya kemudian.
Ferdi tersenyum lalu membelai kepala dan rambut istrinya itu.
"Besok abang Ar udah boleh pulang. Sore aja kita jemput, aku ada rapat lagi soalnya. Rapat melulu, nggak ada apa gitu. Libur kek dua atau tiga minggu." ucap Clara.
Ferdi tertawa, sambil terus fokus mengemudikan mobilnya.
"Pengen cuti kamu ya?" tanya nya kemudian
"Pengen banget, tapi kalau diambil sekarang kan sayang. Akhir tahun jadi nggak bisa liburan." ujar Clara.
"Iya sih, aku aja nggak ngambil-ngambil cuti. Udah dua tahun hangus gitu aja." tukas Ferdi.
"Kenapa nggak diambil?" tanya Clara.
"Bingung juga mau kemana, nggak ada tujuan. Lagipula kadang Nath masih nyariin aku disaat aku libur. Karena ada banyak yang dia nggak bisa handle sendirian. Padahal kadang bukan job desk aku, tapi dia percayanya sama aku."
__ADS_1
"Aku juga sama di kantor." ucap Clara.
"Kadang kerjaannya siapa, aku yang menyelesaikan." lanjutnya lagi.
"Makanya." ujar Ferdi.
"Oh ya, Nath udah baik kondisinya?" tanya Clara.
"Nggak tau, aku belum kesana lagi. Tadi sih baik-baik aja. Jordan bilang barusan juga baik-baik aja." jawab Ferdi.
"Syukur deh kalau gitu." ujar Clara.
"Semoga lebih baik lagi kedepannya." tambah wanita itu kemudian.
Ferdi terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sedang. Hingga dalam beberapa menit, mereka pun akhirnya tiba di rumah.
Anak-anak masih berada di rumah sakit, mereka belum mau pulang. Tetapi ada supir yang berjaga dan menunggu mereka disana.
***
"Gue harus habisi perempuan sialan itu."
Nando yang sudah kadung kesal kini menjadi dendam terhadap mantan istrinya. Ia sudah tak lagi memandang pernikahan mereka dulu dan persetan dengan anak-anak.
Perusahaan ayahnya sudah lama bangkrut dan saat ini sangat sulit untuk bangkit. Penghasilan Nando hanya didasarkan pada cabang perusahan Clara yang kini ia kelola.
Ia sejatinya sudah cukup lama menyusun rencana bersama beberapa loyalisnya. Mereka berniat untuk menguasai induk perusahaan dan menyingkirkan Clara, beserta siapapun yang berpihak pada wanita itu.
Tetapi selama ini mereka bergerak secara perlahan. Sebab tak tau jika ayahnya memiliki perjanjian atas kepemimpinan perusahaan. Ia pikir perusahaan ini diberikan padanya sebagai hadiah pernikahan.
Ia sama sekali tak membaca lebih lanjut perjanjian yang dibuat ayahnya dulu bersama ayah Clara. Kini semua datang secara mengejutkan dan tentu saja membuat ia marah.
***
"Sayang."
Ferdi tiba di kamar dengan membawa segelas susu hangat untuk Clara.
"Makasih." ujar Clara seraya meraih susu tersebut dari tangan sang suami.
Ia pun lalu meminumnya.
"Ini susu hamil ya Fer?" tanya Clara pada Ferdi.
"Koq kamu tau?" Ferdi balik bertanya.
"Aku masih hafal rasanya." jawab Clara.
Ferdi tersenyum lalu duduk di pinggiran tempat tidur dan menghadap ke arah istrinya tersebut.
"Kata Nova susu ini harus sudah diminum sebelum hamil, biar bayinya nggak kekurangan asam folat. Makanya aku beliin."
"Iya bener." ujar Clara.
"Makasih ya. Soalnya aku lupa mulu mau beli."
Ferdi mengangguk, Clara meraih tangan suaminya itu dan menggenggamnya. Ferdi kemudian berbalik menggenggam tangan wanita itu.
__ADS_1
"Pas saat kamu mau dijodohkan sama orang tua kamu waktu itu, rasanya gimana Fer?"
Clara mempertanyakan hal yang sudah sangat ingin ia tanyakan sejak lama, namun selalu lupa.
"Buruk." jawab Ferdi.
Clara menatap suaminya itu.
"Pokoknya rasanya campur aduk. Mau marah iya, pengen kabur juga iya. Tapi terhalang orang tua, takut orang tua jadi gimana-gimana." ujar Ferdi.
"Pokoknya kayak orang hidup nggak hidup." lanjutnya lagi.
"Aku juga serba salah." ucap Clara.
"Saking udah putus asanya aku berkhayal. Bahwa kamu akan menyelamatkan aku." ujar Clara.
"Dan ternyata khayalan aku jadi kenyataan." tambah wanita itu.
Ferdi lagi-lagi tersenyum. Clara mereguk susunya sampai habis, kemudian meletakkan gelas di meja samping tempat tidur.
"Mau di peluk." ujar Clara.
"Iya nanti aku peluk. Aku telpon Axel dulu, buat nanyain mereka pulang jam berapa."
"Mereka bawa kunci." ujar Clara.
"Iya, tapi kalau jalan terlalu malam bahaya juga. Supirnya juga bisa ngantuk." ujar Ferdi.
"Ya udah deh, bilang ke Axel jangan terlalu malam pulangnya."
Maka Ferdi pun lalu menelpon Axel dan menyampaikan pesan dari ibunya.
***
Esok hari.
"Jangan!"
Kata itulah yang terucap di bibir rekan sekaligus loyalis Nando yang bernama Doni.
"Lo goblok kalau sampai lo nekat menghabisi Clara." ujarnya lagi.
"Why?" tanya Nando sambil mereguk segelas wine yang ada di tangannya. Saat ini mereka tengah berada di ruangan kerja Nando.
"Lo nonton berita kan?" tanya Doni.
"Lo liat disana. Kasus yang dikerjakan oleh seorang profesional sekalipun pasti terendus dan terungkap. Kalau udah kayak gitu, perusahaan tetap nggak dapat dan lo dipenjara." lanjutnya kemudian.
Nando diam, ia kini berpikir ke arah sana. Memang meskipun ada yang berbelit, kebanyakan dari kasus menghabisi hidup orang lain pasti terungkap. Dan bila itu Nando lakukan ia akan berakhir seperti kata temannya tadi.
"Menghadapi hal kayak gini itu nggak perlu otot, pake otak jangan mengandalkan emosi." ucap Doni lagi.
"Jadi gue harus gimana, sementara situasi sekarang sudah genting." ujar Nando.
"Lo berubah jadi baik untuk Clara dan anak-anak lo. Setidaknya kalaupun lo nggak bisa melakukan itu, paling nggak lo bisa akting kan?." tanya Doni.
Nando diam menatap loyalisnya itu.
__ADS_1
"Berpura-pura itu tidak apa-apa demi sebuah keuntungan yang besar." lanjutnya lagi.