
Clara kembali pada Ferdi. Saat itu Nando telah menjauh sehingga ia tak mengetahui, jika tadi Nando sempat ingin menyerang mental Ferdi meskipun gagal.
Kemudian pesta inti pun dimulai. Seluruh hadirin kini diarahkan oleh host untuk berdiri dan menghadap ke depan. Dimana mereka akan melihat pengantin datang dengan pakaian yang telah berganti.
Sejatinya pernikahan secara private telah diadakan terlebih dahulu di tempat lain, dan hari ini adalah pesta untuk merayakan.
Host terus bercuap-cuap mengumumkan urutan acara. Hingga tak lama kedua mempelai keluar dengan bergandengan tangan. Kelopak bunga-bunga pun ditabukan ke arah mereka.
Keduanya tampak begitu bahagia. Kemudian disampaikan lah sambutan dari masing-masing pihak keluarga serta teman dekat mempelai. Mereka menyampaikan harapan dan doa terhadap keduanya.
Prosesi di lanjutkan dengan penuangan minuman ke dalam gelas-gelas yang sudah di susun sedemikian rupa, dan juga pemotongan wedding cake. Tak lupa dengan bagian paling wajib yakni melempar bunga.
Meski tak bisa ikut, karena hanya yang belum pernah menikah saja yang boleh memperebutkan bunga tersebut. Namun Clara terlihat begitu antusias dan bahagia menyaksikan semua itu.
Di sepanjang acara berlangsung, Nando terus memperhatikan Clara yang tampak begitu dekat dengan Ferdi. Bahkan mereka terlihat sangat akrab. Hal tersebut tentu saja mengundang kecemburuan yang besar dari Ninis.
"Kamu ngapain sih, ngeliatin dia terus?" Ninis melayangkan protesnya terhadap sang suami.
Nando sendiri mendadak terlihat gusar. Sejatinya ia tak suka di interupsi oleh siapapun, bahkan oleh istrinya sendiri. Baginya perempuan itu, apalagi dirinya seorang istri. Cukuplah menurut dan jangan menuntut.
***
Waktu berlalu.
Lampu terang berganti remang. Hingga suasana pesta di siang hari itupun kini seperti di adakan malam hari.
Alunan musik syahdu nan romantis terdengar di telinga. Clara melihat ke arah beberapa orang yang tengah berdansa, termasuk kedua mempelai sendiri.
Secara serta merta Ferdi mengulurkan tangannya. Membuat Clara terkejut dan menatap pria itu.
Ferdi tersenyum, jantung Clara mendadak berdegup dengan kencang. Pemuda itu tak bergeming dan terus meminta, hingga akhirnya Clara pun luluh. Wanita itu turut mengulurkan tangannya hingga di sambut oleh Ferdi.
Tentu saja ini membuat ubun-ubun Nando jadi berasap. Pasalnya ia kemudian melihat kedua orang itu berdansa di hadapan matanya.
__ADS_1
Tangan Ferdi merangkul pinggang sang mantan istri. Sementara sang mantan istri tangannya melingkar di leher pemuda tampan itu. Keduanya bergerak perlahan sesuai iringan musik.
Ninis tak suka melihatnya, dan kini ia menunggu Nando memperlakukan ia seperti Ferdi memperlakukan Clara. Namun alih-alih berbuat seperti itu, Nando malah kesal dan pergi ke arah lain.
Sementara Clara lanjut berdansa, dengan perasaan aneh yang mulai menjalar di hatinya. Begitupula dengan Ferdi. Pemuda itu juga menyadari jika kini di hatinya muncul sebuah debar aneh, yang memaksanya terus memandangi mata Clara dalam-dalam.
Sampai di suatu titik, ketika suasana makin syahdu, orang-orang berdansa dengan pasangan masing-masing. Ferdi menarik Clara ke suatu arah, dan hal tersebut tanpa sengaja di lihat oleh Nando.
Maka Nando pun mengikuti langkah mereka, sedang Ninis mengikuti Nando secara diam-diam. Nando terus mencari keberadaan kedua orang itu. Hingga di sebuah beranda yang cukup luas, Nando menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Ferdi dan Clara tengah berciuman.
Sontak ubun-ubun Nando bukan lagi berasap, melainkan mengeluarkan semburan api panas. Sementara Clara terus menikmati ciuman tersebut, sama halnya seperti Ferdi.
Mereka semakin larut diantara terpaan angin malam. Hingga kemudian keduanya pun sama-sama tersadar. Saat itu Nando sudah pergi karena merasa begitu marah.
"Mbak, sa, saya...."
"Ferdi...."
"Ma, maafin saya mbak." ucap Ferdi dengan perasaan yang bercampur aduk.
Clara menatap Ferdi, namun kemudian Ferdi kembali mencium bibir wanita itu. Kali ini tak ada rasa canggung lagi. Bahkan di ujung ciuman tersebut mereka kemudian saling berpelukan dengan erat.
***
Di sepanjang perjalanan pulang, salah satu tangan Ferdi menggenggam tangan Clara. Sementara tangan yang satunya lagi tetap memegang stir kemudi.
Ia tak tau dengan apa yang telah ia lakukan. Yang jelas saat ini Ferdi sedang jatuh cinta. Meskipun waktunya tak banyak dan begitu mendesak, sebab nantinya ia terpaksa akan menerima perjodohan dari sang ayah.
Tapi paling tidak, seumur hidup ia ingin mengalami jatuh cinta yang dalam dulu terhadap seseorang. Seperti apa yang pernah dipertanyakan oleh Frans padanya.
Ia ingin jatuh cinta dan mencintai tanpa adanya paksaan. Meskipun segera ia harus meninggalkan semua ini.
Sementara Clara berpikir, apakah dirinya begitu jahat. Membuat seorang anak muda dan single seperti Ferdi mencintai dirinya. Padahal Ferdi bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik. Mungkin yang single dan tidak memiliki banyak anak.
__ADS_1
Tapi genggaman tangan Ferdi yang masih berlanjut membuatnya lemah. Seakan ia memang tak ingin jauh dari pemuda itu.
***
Di sebuah jalanan yang lain, Nando dan Ninis bertengkar hebat. Ninis kembali membahas soal kecemburuan Nando terhadap mantan istrinya, Clara.
"Kamu bilang udah nggak cinta sama dia, kenapa masih di ikutin kemana dia dan anak muda itu pergi?"
Ninis berteriak.
"Itu hak aku, kamu tuh cuma istri. Harusnya kamu nurut sama suami. Masih di kasih nafkah aja, sok-sok melayangkan protes."
"Aku nggak suka liat kamu begitu, aku ini istri kamu. Harusnya kamu hargai aku."
"Aku kurang menghargai kamu seperti apa?" teriak Nando.
Mobil yang ia kemudikan penuh dengan suara-suara bernada keras. Nando memang seperti itulah sifatnya. Sejak menikah dengan Clara, ia hanya ingin di mengerti dan tidak mau mengerti.
Hanya ingin di hormati tapi tidak pernah mau menghormati. Terlebih menghormati perasaan orang lain. Di awal-awal ia sangat manis, sehingga siapapun tertipu dengan apa yang ia tampilkan.
Sama halnya seperti Ninis. Selama backstreet dan berselingkuh di belakang Clara, Nando memanglah sosok yang sangat romantis dan memperjuangkan dirinya.
Namun kini ia sedikit-sedikit mulai merasakan, apa yang Clara pernah rasakan selama pernikahan berlangsung.
Tak sekali dua kali Nando berbuat kasar pada Clara. Seperti membentak, memukul, memecahkan barang di muka Clara ketika ia tengah marah.
Namun Clara saat itu menganggap jika itu adalah suaminya, maka ia pun haruslah tetap sabar dan berbakti.
Hingga lambat laun pergaulan jualah yang membuat dirinya sadar sedikit demi sedikit. Jika pernikahan yang ia alami adalah sebuah pernikahan toxic.
Teman-temannya berusaha membuka mata hati Clara. Jika bertahan demi anak adalah sebuah alasan basi yang selalu ia pakai selama ini. Karena pada faktanya, anak-anak tak pernah nyaman melihat pertengkaran kedua orang tua mereka.
Apalagi Nando tak segan meneriaki Clara bahkan memukulnya di depan anak-anak. Khawatir mental anak-anaknya terganggu, Clara memilih untuk bercerai. Karena anak-anak sejatinya tak bisa tumbuh dengan baik dalam rumah tangga yang sakit.
__ADS_1