
"Aw, sakit."
Axel mengeluh kesakitan. Saat air dingin yang di seka dengan gumpalan tissue, mendarat di sudut bibirnya yang lebam.
Axel kini dibawa Ferdi kembali ke tempat latihan dan memar di wajahnya tengah di kompres oleh pria itu. Jordan dan Sean tadi yang membantu mendapatkan air es dan juga tissue. Sebab mereka tak memiliki saputangan.
"Aw, sakit om." ujar Axel sekali lagi.
Ferdi terus mengompresnya dengan lembut.
"Paling nggak kita ilangin merah dan bengkaknya dulu." ucap Ferdi.
"Biar nggak terlalu keliatan parah." lanjut pria itu kemudian.
"Nanti Axel bilang aja kepukul pas latihan ya, om?"
Axel bertanya pada sang calon ayah tiri.
"Ya." jawab Ferdi.
"Tapi jatuhnya jadi bohong nggak sih om, sama mama?" tanya Axel lagi.
"Om tidak melarang kalau kamu mau berkata jujur sama mama kamu. Pilihan ada di tangan kamu." ucap Ferdi.
"Tapi kalau Axel jujur, mama pasti bakalan murka banget."
Ferdi menarik nafas panjang dan mencelupkan kembali gumpalan tissue ke air dingin, lalu menempelkannya lagi ke sudut bibir Axel.
"Akan selalu ada resiko dari setiap pilihan yang kita ambil." ujarnya.
Axel diam.
"Terkadang pilihan itu nggak semuanya benar. Dan kita nggak usah takut salah. Sebab kalau kita selalu berusaha mengambil pilihan yang benar, ketika ternyata yang kita anggap benar itu salah. Kita akan cenderung menyalahkan dan menghakimi diri sendiri."
"Jadi intinya kita boleh bohong kalau kepepet?" tanya Axel lagi.
"Bukan berarti boleh juga, cuma kebutuhannya lebih condong kemana?. Mau jujur ya silahkan, mau bohong juga silahkan. Yang jelas keduanya sama-sama memiliki resiko. Dan ketika pilihan kita ambil kemudian resiko itu terjadi, maka bertanggung jawablah atas semuanya."
Axel lagi-lagi menghela nafas. Untuk seumur dirinya, ia cukup mengerti dengan apa yang dikatakan Ferdi. Bahwa membohongi ibunya bukan berarti tak beresiko. Jujur pun tak akan luput dari hal yang sama. Kini ia hanya perlu memilih, resiko mana yang akan ia ambil.
"Udah lumayan ilang ini merahnya." ucap Ferdi seraya menghentikan aktivitas. Kebetulan es di dalam mangkuk stainless itu sudah mencair. Ia meletakkannya di atas meja dan kini menatap Axel.
"Mau pulang sekarang?" tanya nya pada anak itu.
"Hmm, bentar lagi deh om." ucap Axel.
"Siapa tau berkurang lagi memar dan birunya." lanjut remaja itu.
__ADS_1
"Oke." jawab Ferdi.
"Mau makan?" tanya pria itu kemudian.
"Hmm, nggak deh om. Ntar aja di rumah."
"Oke."
Mereka pun berdiam diri dulu sejenak di tempat itu. Jordan dan Sean mulai bertanya kronologi kejadian yang sebenarnya. Setelah tadi mereka menunggu Ferdi selesai dulu mengobati Axel.
Axel pun menceritakan dari awal sekali ia di bully. Hal tersebut lantaran ia pintar dan banyak siswi serta kakak kelas yang suka padanya. Guru-guru pun banyak yang menyayangi Axel. Ia populer di angkatannya dan memiliki banyak teman pula..
Maka dari itu musuhnya tersebut merasa iri. Karena ibu Axel lebih kaya dan memberi sumbangan yang banyak ke yayasan sekolah. Maka kepintaran Axel dianggap sebagai sebuah kecurangan.
Mereka menganggap nilai-nilai Axel yang tinggi, lantaran guru di cekoki uang oleh Clara. Padahal Axel memang pintar dan tidak ada yang ditambah-tambahi oleh gurunya.
Sedang Clara sendiri banyak menyumbang, sebab dana tersebut adalah untuk fasilitas bersama. Anaknya sekolah disana dan wajar ia menginginkan ada fasilitas pendidikan yang lebih canggih dan mumpuni. Toh fasilitas itu bukan hanya untuk Axel saja, tapi untuk seluruh siswa yang ada disana.
Pihak sekolah pun tak memakai sumbangan dari para orang tua siswa sepenuhnya. Separuhnya lagi adalah untuk dana pembangunan sekolah-sekolah tertinggal di daerah tertentu.
Tapi musuh-musuh Axel tak mengerti akan hal tersebut. Mereka taunya ibu Axel memberi banyak sumbangan dan Axel mendapatkan hak istimewa di sekolah. Termasuk bisa menyabet juara dan nilainya tinggi. Hal tersebut dianggap pemberian cuma-cuma oleh guru.
"Gue pikir iri-dengki cuma ada disekolah biasa aja." tukas Jordan.
"Ternyata di sekolah internasional juga ada yang modelnya kampungan." lanjutnya lagi.
"Hampir semua orang mungkin berhasil melahirkan keturunan. Tapi nggak semuanya berhasil menjadi orang tua." lanjut pemuda itu.
"Iya sih." ucap Jordan.
Selang beberapa saat kemudian, Ferdi, Jordan, dan Sean mengantar Axel. Namun mereka stop agak jauh sebelum pintu pagar, sebab takut terlihat oleh satpam penjaga.
Sampai hari ini Ferdi masih ingin merahasiakan kedekatannya dengan anak bungsu Clara tersebut.
Bukan apa-apa, Axel mempunyai dua kakak yang tampaknya masih tak suka pada Ferdi. Ia takut jika Axel ketahuan akrab dengannya, Axel akan di intimidasi oleh kedua kakaknya tersebut.
"Axel pulang ya, om. And thank you." ucap Axel.
Ferdi mengangguk. Axel kemudian keluar dari dalam mobil dan berlarian menuju gerbang. Setelah memastikan anak itu masuk, Ferdi pun kemudian tancap gas.
Axel segera menuju kamar, agar kedua kakaknya tak melihat memar yang ada di sudut bibirnya.
***
Tengah malam.
"Axel."
__ADS_1
Arvel dan Anzel masuk ke kamar sang adik, yang biasa tak di kunci tersebut.
"Hmm." ujar Axel sambil masih memejamkan mata.
Sejatinya ia belum tidur, namun kini berpura-pura telah terlelap. Ia pun menghadap ke dinding, untuk menghindari sang kakak melihat keadaan wajahnya.
"Ayo main!" ajak Anzel.
Mereka memang terbiasa bermain mobile legends di jam segini. Sebab internet di rumahnya sangat lancar apabila tengah malam.
"Nggak ah, abang aja. Axel ngantuk, bang." dustanya.
"Serius nggak mau ikut?" tanya Arvel.
"Nggak, bang."
"Oh, ya udah."
Kedua kakaknya itu pun beranjak pergi dari kamar Axel. Mereka bermain berdua saja, sementara Axel kini tak bisa berbuat apa-apa. Kalaupun ia nekat main sendiri akan ketahuan, sebab akun mereka saling berteman.
Jadilah malam itu ia berusaha untuk benar-benar memejamkan mata, disaat ada godaan bermain yang begitu tinggi.
***
"Pagi harinya, Axel bangun seperti biasa. Sebelum mandi ia menyambangi meja makan dan mencari dimana letak gelasnya yang berisi susu. Sudah jadi tabiat remaja itu apabila bangun pagi di hari libur, ia tak mandi terlebih dahulu.
"Hai, ma." sapanya pada Clara yang tengah menyiapkan sarapan. Sedang Arvel dan Anzel sudah ada ditempat itu sejak tadi.
"Axel?"
Clara kaget dan mengerutkan kening. Axel sendiri bingung dengan sikap sang ibu yang seperti melihat hantu.
"Ini bibir kamu kenapa?" tanya Clara panik..
Seketika Axel pun sadar, jika kemarin ia dibully lalu berkelahi.
"Mmm, ini..."
Axel harus mengambil pilihan dengan cepat.
"Ini kepukul pas latihan, ma. Teman Axel nggak sengaja." ujarnya kemudian.
Arvel dan Anzel saling pandang, entah mengapa mereka agak tak yakin pada ucapan adik mereka tersebut.
"Ya udah, obatin dulu gih. Nggak enak nanti pas mama nikahan, masa muka kamu ada bekas pukulan." ucap Clara.
"Iya ma, sarapan dulu." ujar Axel.
__ADS_1
Remaja itu pun akhirnya menghela nafas dan meminum susu. Pilihan yang telah ia ambil kali ini adalah, berbohong.