Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Mengerjai Axel


__ADS_3

"Fer, gimana ini?"


Clara bertanya dengan tubuh yang masih terpaku dan tatapan matanya tertuju ke suatu sudut.


"Aku akan coba bicara sama mereka sore nanti." ujar Ferdi.


Keduanya sama-sama menghela nafas, lalu menunduk menatap lantai dan tertawa.


"Kenapa kita bisa nggak liat sih tadi?" ujar Clara.


"Ya orang mereka dari arah situ, mana keliatan." ucap Ferdi.


Mereka kembali diam, lalu kembali sama-sama tertawa.


"Udah, berangkat dulu yuk!. Udah siang juga." ujar Ferdi.


Clara mengangguk, mereka tak jadi sarapan dan langsung pergi menuju ke tempat kerja.


***


"Lagian elu, udah tau nikah bukan sama yang single. Udah punya ekor tiga, remaja lagi. Bukannya hati-hati."


Jordan menertawai Ferdi, ketika ia menceritakan hal yang tadi terjadi dirumah. Ada Sean juga disana, dan ia sama tertawanya ketika mendengar hal tersebut.


"Terus awkward dong, bro?" tanya Sean kemudian.


"Awkward lah." jawab Ferdi sambil tertawa.


"Gue nggak bisa bayangin sumpah. Gue kalau ada di posisi itu ya,..." Jordan menjeda sedikit ucapannya.


"Bingung." lanjutnya lagi.


"Tadi gue juga bingung. Bener-bener gue kaku, nggak bisa ngapa-ngapain. Sampe akhirnya mereka pergi." ucap Ferdi.


"Terus nanti lo gimana, kalau ketemu mereka?" lagi-lagi Sean bertanya.


"Ya, canggung lagi bakalan." seloroh Jordan.


"Itu yang lagi gue pikirin sekarang." tukas Ferdi.


"Paling gue mengesampingkan rasa malu buat ngomong sama mereka." ujarnya lagi.


Ketiga sahabat itu kemudian sama-sama tertawa.


Nath masuk ke dalam kantor, namun tak seperti biasanya kali ini ia terlihat seperti orang yang mempunyai banyak beban. Ia tak bersemangat seperti biasanya dan wajahnya tampak murung.


"Pagi pak Nath." ujar Jordan dan karyawan lainnya menyapa.


Nath hanya mengangguk dan menjawab bahkan nyaris tanpa suara.


"Pagi."


Kemudian ia melangkah dan masuk kedalam ruangannya.


"Pak Nath kenapa?" tanya Nova yang baru saja kembali dari memfotokopi.

__ADS_1


Tadi dari kejauhan ia sempat melihat tingkah Nath yang tak seperti biasanya.


"Lagi ada masalah kali." ucap Ferdi.


"Apa jangan-jangan kantor kita mau bangkrut?" Sean berspekulasi.


"Nggak bakal, bro. Investor kita aja udah nambah." celetuk Jordan.


"Dan pak Nath itu suntikan dana dari keluarganya kenceng. lanjutnya lagi.


"Iya bener, bapaknya kaya banget. Lebih kaya berkali-kali lipat dari bapak gue." Ferdi menimpali.


"Terus dia kenapa ya?" tanya Sean.


"Urusan asmara kali." Nova menebak-nebak.


"Iya kali ya?. Jangan-jangan dia mulai jatuh cinta sama orang, terus dikecewakan." seloroh Sean.


"Bisa jadi." ujar Nova.


"Braaak."


Terdengar suara seperti terjatuh di ruangan Nath.


Sontak semua yang ada di luar pun kaget.


"Nath, are you okay?" tanya Ferdi kemudian.


Hening tak ada jawaban.


"Pak Nath." Jordan ikut-ikutan memanggil.


"Nath."


Ferdi dan yang lainnya terkejut melihat Nath sudah tergeletak di lantai dalam kondisi tak sadarkan diri. Segera saja mereka mendekat dan mencoba mengecek kondisi bos mereka itu.


"Nath."


Ferdi mencoba menyadarkannya, namun Nath tak bergeming sama sekali. Karena khawatir terjadi apa-apa, mereka pun melarikan Nath ke rumah sakit terdekat.


***


Kembali ke saat Anzel dan Axel pergi ke sekolah. Didalam mobil Anzel diam, sementara Axel terlihat menscroll layar handphonenya.


"Gue bingung kenapa mama nggak ada ngasih tau kita kalau dia hamil. Waktu itu dia bilang nikahin om Ferdi buat kepentingan rencana dia doang. Tapi malah mau punya anak sekarang. Apa mama bohong soal waktu itu?" Anzel bertanya pada Axel.


"Bohong juga nggak apa-apa sih. Kan abang udah liat sendiri kalau om Ferdi itu baik. Lagian mungkin mama kesepian. Mantannya aja udah nikah lagi koq, duluan malah."


"Maksud lo, papa?" tanya Anzel seakan tak mengerti dengan apa yang adiknya bicarakan.


"Ya siapa lagi mantan suaminya mama?. Emang mama pernah nikah berapa kali?"


Axel membalikkan pertanyaan dengan nada setengah sewot. Anzel diam.


"Pantes aja lo ranking tiga, bang, bang. Loading lo lama." ujar Axel.

__ADS_1


"Heh, jarak ranking lo sama bang Arvel itu cuma selang satu angka doang sama ranking gue. Dari satu ke tiga itu nggak jauh."


"Tapi kan otaknya bisa beda jauh." ujar Axel lagi.


Anzel mengeplak kepala adiknya itu dengan buku. Axel malah nyengir dan terus menscroll layar handphone.


"Ngeliatin apaan sih lo?" tanya Anzel penasaran.


"Nama-nama bayi." jawab Axel lalu tertawa.


"Kan kita mau punya adek." lanjutnya kemudian.


Anzel menarik nafas dan menutup kedua matanya sejenak dengan tangan.


"Lo bukannya khawatir kek, mama hamil. Malah kesenangan."


"Ya, kenapa mesti khawatir?. Orang mama hamil ada suaminya koq. Kecuali nggak punya suami, tau-tau hamil. Nah itu baru kita boleh khawatir. Karena takut di omongin tetangga." ujar Axel.


"Eh tapi nggak juga, ding. Tetangga kompleks kita kan gaib, mana mungkin mereka ngurusin hidup orang. Sampe sekarang aja Axel nggak tau wujud tetangga kanan dan kiri kita kayak apa." lanjutnya lagi.


"Bukan masalah itu. Nih ya, kalau mama sampe punya anak lagi. Kita semua bakalan tersingkir, terutama elo."


Anzel mulai merasuki pikiran adiknya itu dengan doktrin. Sejatinya ia ingin tertawa ketika mengatakan hal tersebut. Karena wajah Axel tiba-tiba berubah bingung dan agak takut.


"Tersingkir gimana maksudnya, bang?" tanya Axel kemudian.


"Nanti mama sama om Ferdi bakal lebih perhatian sama anak mereka. Paling lo akan disuruh jagain itu bayi yang kerjanya nangis mulu."


Anzel berkata di dekat telinga sang adik. Hingga kata-kata tersebut langsung menyerap di otak Axel.


"Ntar mama nggak akan perhatian lagi gitu sama gue, bang?. Om Ferdi juga?"


"Oh, iya pasti." Anzel lagi-lagi berujar sambil menahan tawa.


"Nanti nih ya, mama bakal nyuruh-nyuruh elo. Bakalan, Axel tolong ambilin bedak adek, Axel tolong ganti dulu popok adek. Axel kamu apain adek kamu koq nangis. Status anak bungsu lo diambil."


Axel menekuk bibirnya agak dalam dan tatapan matanya berubah sewot. Tak lama mobil mendarat di depan sekolah dari remaja itu.


"Axel pergi bang, pak"


Axel pamit pada Anzel dan juga supir. Kemudian ia keluar dan langsung berjalan ke arah pintu gerbang, setelah sebelumnya meletakkan handphone ke kantong jok mobil depan.


"Emang abang nggak suka kalau ibu sama mas Ferdi punya anak?"


Supir yang sejak tadi diam, kini bertanya pada Anzel setelah mobil kembali berjalan.


"Nggak sih pak, biasa aja." jawab Anzel.


"Lagian mama juga selama ini punya anak tiga, anaknya di perhatikan semua koq. Nggak pernah mama pilih kasih." lanjutnya lagi.


"Tadi emang sengaja pengen ngerjain Axel." tambahnya.


Supir itu tertawa.


"Abang mah ada-ada aja. Nanti kalau dia kepikiran sampai mengganggu pelajaran gimana?"

__ADS_1


"Biarin aja, biar dia juara tiga." jawab Anzel sambil tertawa. Lagi-lagi supirnya pun ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Lagian ngatain mulu juara tiga, biar dia tau rasa." lanjut Anzel kemudian.


__ADS_2