
Axel mengingat semua perkataan buruknya terhadap sang kakak. Dengan penuh gemetar ia kemudian melangkah dan menemui Clara di kamarnya.
"Tok, tok, tok."
Axel mengetuk pintu kamar sang ibu. Ferdi mengira itu Anzel. Kemudian ia membuka pintu tersebut dan betapa terkejutnya ia mendapati Axel yang sudah berurai air mata.
"Axel?" ujar Ferdi seraya memperhatikan anak itu.
Axel diam dan terus saja menangis. Ferdi kemudian menoleh pada Clara yang saat ini baru keluar dari kamar mandi.
Clara mendekat dan mendapati sang putra bungsu yang terlihat kacau. Axel pun lalu mengangkat dan menunjukkan surat adopsi yang ada di tangannya. Clara kaget, begitu pula dengan Ferdi.
"Kenapa abang bukan anak mama sama papa?" tanya nya kemudian."
Clara seakan kelu bibirnya, dan tak bisa menjawab apa-apa. Pada saat yang bersamaan Anzel turun, lalu menyaksikan semua itu.
"Kenapa abang Ar bukan anak mama dan papa, kenapa dia harus anak orang lain." ujarnya makin terisak."
Ferdi menarik dan memeluk anak itu, sementara Clara hanya tertunduk dalam. Axel menangis sejadi-jadinya di pelukan sang ayah tiri.
"Makanya gue tadi marah."
Anzel nyeletuk dan bak anak kecil Axel menoleh sambil menyeka air matanya dengan tangan.
"Bang Arvel tuh udah lama tau kalau dia bukan anak kandung di keluarga ini." ucap remaja itu lagi. Kali ini ia mendekat pada Axel dan juga kedua orang tuanya.
"Lo udah melukai hati dia dan mama nggak enak atas perbuatan lo." tambahnya lagi.
Axel makin menangis dan Ferdi kembali memeluk anak itu.
Beberapa saat berlalu, terdengar suara ketukan di muka pintu kamar. Arvel yang baru selesai mandi kemudian mendekat.
Sama seperti Ferdi sebelumnya, ia mengira ketukan tersebut berasal dari Anzel. Ia hanya mau berinteraksi dengan adik keduanya tersebut, dan belum bisa melakukan hal serupa dengan anggota keluarga lain. Sebab hatinya masih terasa begitu sedih.
"Kreeek."
Arvel membuka pintu, namun apa yang ia perkirakan ternyata meleset. Yang berdiri dihadapannya kini bukanlah Anzel, melainkan Axel. Axel sendiri sudah berhenti menangis, namun matanya kini sembab.
"Bang, gue menyesal atas apa yang udah gue katakan tadi. Gue bener-bener jahat." ujarnya seraya menunduk.
Arvel memperhatikan Axel dalam diam.
"Gue nggak peduli lo anak mama sama papa atau bukan. Lo saudara gue, bang." lanjutnya lagi.
Arvel menangkap jika Axel telah mengetahui hal tersebut. Sebab saat terjadi peristiwa di muka kamar Clara, remaja itu tengah mandi dan mendengarkan musik cukup keras. Sehingga ia tidak mengetahui sama sekali.
__ADS_1
"Lo menyesal, karena memang sadar kalau lo keterlaluan. Atau karena tau gue ini anak angkat dan lo kasihan?"
Arvel membuat Axel mengangkat kepada dan menatapnya.
"Gue...."
Axel menarik nafas dan kembali menunduk.
"Gue sayang sama elo, bang. Terlepas dari apapun masalah kita saat ini. Gue tuh cuma kesel aja, perihal balas dendam gue ke musuh gue seakan di halang-halangi."
Axel sudah berkaca-kaca matanya menahan tangis. Namun posisi remaja itu masih tetap menunduk dan Arvel masih memperhatikan.
"Tapi sekarang gue nyesel. Gue bener-bener minta maaf, bang. Gue udah egois dan nggak mikir panjang. Gue nggak mikirin perasaan mama dan kalian semua." lanjutnya lagi.
Arvel menghela nafas.
"Ya udah." ujarnya lalu berbalik hendak kembali ke dalam kamar.
"Bang."
Axel menghentikan Arvel.
"Maafin gue." Ia berkata sekali lagi dengan nada kian terisak.
Maka Arvel pun berbalik lalu mendekat dan memeluk adiknya itu. Tangis Axel akhirnya pecah. Tak lama Clara, Ferdi, dan Anzel tiba dari suatu arah.
Axel kian tersedu-sedu. Sementara Clara tak mampu menahan air matanya. Wanita itu juga kini menangis dan Ferdi mencoba menenangkan.
"Lo jangan pergi, bang. Gue janji bakal nurut apa kata lo mulai hari ini."
Arvel melepaskan pelukannya dan menyeka air mata. Sebab ia juga tak kuasa menahan tangis.
"Gue nggak akan kemana-mana." ujarnya kemudian.
Axel tersenyum, lalu mereka kembali berpelukan.
***
Sekitar setengah jam setelah berbaikan dengan sang kakak, Axel tampak makan banyak sekali seperti orang yang kesurupan. Ferdi, Clara, Arvel dan Anzel yang menyaksikan hal tersebut kini tertawa dibuatnya.
"Laper kan lo?. Makanya jangan sok marah di rumah ini."
Anzel mengomentari adiknya tersebut. Sementara yang di komentari terus saja makan dengan lahap.
"Terserah, bang. Pokoknya gue laper banget ini." ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Uhuk-uhuk." ia tersedak.
"Pelan-pelan makannya." Clara mengingatkan.
Ferdi menyodorkan air putih pada remaja itu. Axel pun lalu meminumnya.
"Uhuk-uhuk."
Tak lama ia kembali melanjutkan makan. Sementara yang lain tertawa demi memperhatikan tingkahnya.
***
Malam itu Arvel ditemani Clara sampai ia tertidur. Ferdi menyambangi kamar tersebut dan membuka pintu. Tampak Clara menempelkan jari telunjuk di bibirnya, agar Ferdi tak bersuara.
Tak lama wanita itu menyelimuti Arvel dan mencium keningnya dengan lembut. Setelah mematikan lampu, ia pun keluar bersama Ferdi.
"Tadi Axel udah tidur?" tanya Clara pada suaminya itu. Sebab tadi Ferdi ada menemani dan menasehati Axel.
"Udah, udah dari tadi." jawab Ferdi.
"Kita minum teh yuk!" ajak Clara.
Ferdi mengangguk. Mereka kemudian pergi kebawah dan Clara membuat minuman hangat untuk mereka berdua. Satu kopi dan satu lagi teh.
***
Pagi hari, Ferdi yang baru saja bangun dan hendak mengambil sesuatu di dalam mobil. Tiba-tiba dikejutkan oleh ketiga anak tirinya yang tumben-tumbenan sudah bangun.
Mereka bertiga kini tampak berada di pos sekuriti dan tengah memperhatikan sesuatu. Ferdi pun lalu mendekat.
"Ada apa?" tanya Ferdi pada ketiganya dan juga sekuriti.
"Ini pa, ada kiriman kado lagi buat bang Ar. Tapi nggak tau dari siapa. Kayak laptop gaming waktu itu." ujar Axel.
"Tadi yang ngirim siapa pak?" tanya Ferdi pada sekuriti.
"Ojol pak." jawab sekuriti itu kemudian.
"Bapak nggak nanya dari siapa?" tanya Ferdi lagi.
"Nggak pak. Saya pikir mas Arvel yang emang pesan dari toko online." lanjutnya lagi.
Ferdi lalu meminta pisau cutter dan membuka paket tersebut. Dan setelah di buka, semua yang ada ditempat itu terkejut.
"Drone?"
__ADS_1
Anzel berujar. Sementara Arvel dan Axel terdiam menatap benda itu. Ferdi sendiri bingung, namun tiba-tiba ia teringat pada sesuatu.
Ya, pada drone yang dibeli oleh Nath. Ia memperhatikan barang yang dikirim ini sama. Baik ukuran maupun merknya.