Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Makan


__ADS_3

"Fer, kita kan mau jemput Axel."


Clara terbangun dari tidurnya.


"Oh iya." Ferdi baru ingat. Untung saja mereka belum sampai ke rumah.


"Pasti dia udah nungguin tuh." ujar Ferdi merasa bersalah. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan hal tersebut, pikirnya.


Padahal Axel sangat senang kedua orang tuanya lama datang, sebab saat ini ia tengah menjelajah di antara satu pedagang ke pedagang lain. Tentu saja untuk jajan sesuka. hati.


"Agak buruan bisa ya, Fer." ujar Clara khawatir.


"Iya, ini aku juga bakal lewat jalan pintas koq." ujar pemuda itu.


Dan dalam waktu singkat, mereka sudah hampir tiba. Namun tiba-tiba Clara menyadari sesuatu.


"Fer, aku perasaan belum ada ngasih tau apa-apa deh. Soal dimana lokasi Axel latihan." ujar Clara.


"Jegik."


Tiba-tiba Ferdi menjadi terdiam dan kemudi mobilnya mendadak melambat. Clara kini menatap pemuda itu dengan heran.


"Sebenarnya aku juga latihan di tempat yang sama, Cla."


Ferdi memberikan jawaban yang membuat Clara terkejut.


"Oh ya?"


"Iya, dan aku kenal Axel udah lumayan lama." ujar pemuda itu lagi dan lagi-lagi Clara terkejut dibuatnya.


"Serius, Fer?" tanya-nya kemudian.


Ferdi mengangguk.


"Waktu itu bahkan Axel pernah curhat masalah ibunya yang mau menikah lagi. Aku nggak tau kalau dia anak kamu dan dia nggak tau kalau aku calon bapak tirinya dia."


Clara masih terperangah tak percaya. Namun kemudian ia tertawa, dan akhirnya Ferdi pun demikian.


"Ini serius nggak sih?" tanya Clara lagi.


"Serius, kamu tanya aja sama Axel kalau nggak percaya."


"Tapi koq di rumah, kalian kayak nggak pernah kenal sebelumnya." ujar Clara.


"Aaaa..." Ferdi menghela nafas.


"Mungkin Axel takut sama abangnya kali."


Clara diam, ia juga menyadari jika Arvel dan Anzel belum begitu open pada Ferdi. Sementara Axel adalah anak yang sangat segan terhadap kedua kakaknya.


Tak lama Ferdi memarkir mobil. Axel telah selesai makan, sebagian jajanan ia ikat dan masukkan ke dalam tas. Untuk kemudian ia makan secara diam-diam di rumah nanti.


"Dek, beneran kamu sama om Ferdi tuh udah saling kenal sejak lama?"


Clara mencoba memastikan, ketika anaknya telah berada di dalam mobil dan mobil tersebut sudah kembali berjalan.

__ADS_1


"Kenapa dikasih tau, om Ferdi. Kan jadinya nggak seru lagi." ujar Axel pada Ferdi.


Ucapan tersebut seakan turut membenarkan semuanya. Ferdi tertawa.


"Om nggak sengaja tadi." ujarnya kemudian.


"Tadi om buru-buru kesini dan mama nanya, kenapa om tau tempat latihan kamu. Padahal belum dikasih tau."


"Padahal tadi om bisa bilang kalau kemaren Axel ada ngasih tau. Kan kita ada bareng ke sekolah Axel."


"Iya juga ya." gumam Ferdi.


"Jadi kamu sekarang udah pinter bohong dan nutupin sesuatu dari mama ya dek?"


Clara kembali berujar, sementara Axel kini nyengir.


"Pantes aja kamu nggak masalah, mama nikah sama om Ferdi." lanjutnya kemudian.


"Tapi karena om Ferdi juga baik, ma. Kalau nggak baik, walaupun Axel kenal. Pasti nggak Axel suruh juga."


Ferdi kembali tertawa. Clara hanya menarik nafas dan menahan senyuman.


***


Di rumah sesuai janji, Ferdi membantu Clara memasak. Sebab Clara juga sebenarnya masih agak takut-takut. Terutama dalam menggoreng ikan atau cumi-cumi.


Mereka membuat ikan goreng dan cumi goreng saos asam manis pedas. Resepnya dari Ferdi. Sebab itu adalah masakan kesukaan keluarganya. Ia hanya berharap anak-anak Clara akan suka.


Usai semuanya matang, Clara mencuci peralatan dan menyiapkan meja makan. Tak lama ia memanggil anak-anak untuk turun. Awalnya semua biasa saja, sampai kemudian Anzel bertanya.


"Bukan, om Ferdi." celetuk Clara.


Anzel diam, begitupula dengan Arvel. Mereka lalu duduk di meja makan dan mulai mengambil nasi. Tiba-tiba handphone Ferdi berbunyi dan ia pun menjauh.


"Sekarang banget, Nath?" tanya nya di telpon.


Clara menoleh pada suaminya itu.


"Oh oke, oke gue kesana sekarang."


Ferdi mendekat ke arah Clara.


"Cla, aku harus ketemu Nath bentar. Ada masalah penting yang harus aku selesaikan."


"Loh, nggak bisa nanti?. Makan dulu, Fer." ujar Clara.


"Nggak bisa, Cla. Ini mendesak banget. Cuma sekitar lima belas sampai dua puluh lima menit aja koq. Tunggu ya!" ucap Ferdi.


"Ya udah deh, cepet pulang ya Fer."


"Iya."


Ferdi kemudian bergegas keluar rumah dan masuk ke dalam mobil, sementara yang lain lanjut makan.


***

__ADS_1


Hampir dua puluh menit berlalu, Ferdi menyalakan rokok terakhir dan menghisapnya. Kebetulan kaca mobil memang telah ia buka sejak tadi.


Ia membuang abu melalui kaca tersebut, namun kemudian tiba-tiba ada seseorang yang muncul dan nyengir hiu padanya.


"Hai, om."


Ferdi terkejut, sebab yang datang itu adalah Axel.


"Koq kamu ada disini?" tanya Ferdi kemudian. Ia benar-benar tak menyangka dan kaget melihat kehadiran anak tirinya itu.


"Kan Axel ada dimana-mana kayak minimarket."


Remaja itu kembali nyengir, kali ini mirip venom. Sementara Ferdi masih berusaha menenangkan diri.


"Abang Ar sama Abang An udah kelar makannya. Mending om Ferdi balik." ujar Axel kemudian.


Ferdi makin terkejut mendengar semua itu. Bagaimana mungkin penilaian Axel bisa sampai kesitu, pikirnya.


"Om tuh baru pulang, stop dulu karena mau ngerokok."


"Dari tadi juga om disini kan, nggak kemana-mana." ujar Axel.


Ferdi makin terdiam.


"Axel tau koq, om menghindar biar abang Ar sama abang An makannya nggak jaim dan banyak. Karena mereka tau om Ferdi yang masak dan om Ferdi ada disitu, mereka pasti makannya sedikit. Karena gengsi sama om." ucap Axel lagi.


Dan sebenarnya itulah yang terjadi.


"Axel tadi ngeliat juga, om Ferdi agak nggak enak hati ngeliat abang Ar sama abang An ngambil nasinya sedikit. Makanya om pura-pura nelpon terus pergi."


"Sok tau kamu." Ferdi masih berkilah.


"Om mau Axel mintain rekaman cctv tempat ini. Cek berapa lama om disini."


"Ngancem ya kamu." ujar Ferdi sambil tertawa.


"Mending om pulang, kan om belum makan. Tadi abang Ar sama abang An makannya banyak. Kayak kuli yang mau membangun ulang Piramida."


Ferdi hampir tersedak karena terus tertawa.


"Dalam lima menit om nggak pulang, Axel kasih tau mama."


Remaja itu nyengir sekali lagi, kemudian ia kembali ke rumah. Tak lama Ferdi pun kembali menghidupkan mesin mobil dan turut kembali ke sana.


"Fer, makan dulu!"


Clara berujar pada sang suami, ketika Ferdi akhirnya masuk ke rumah. Saat itu Arvel dan Anzel telah selesai makan dan kembali ke kamar masing-masing.


"Iya." ujar Ferdi.


Kebetulan ia sudah sangat lapar sekali. Ia lalu mendekat ke arah meja makan dan menarik salah satu kursi disana. Kemudian ia duduk.


"Nasinya mau segini atau tambah?" tanya Clara.


"Segitu aja dulu." jawab Ferdi.

__ADS_1


Clara lalu menyerahkan piring berisi nasi tersebut dan menuangkan air minum. Ferdi kemudian makan, dengan ditemani istrinya tersebut.


__ADS_2