Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Jeruk Bali


__ADS_3

Axel menyaksikan Ferdi yang masuk ke ruangan, tempat dimana kini ia berada.


"Koq om kesini juga?" tanya remaja itu heran.


"Disuruh mama." jawab Ferdi santai.


"Om di hukum juga sama mama?"


"Ya." Ferdi kembali menjawab lalu tersenyum menatap anak itu.


"Koq bisa?"


"Mama bilang karena om yang ngajarin kamu untuk berlaku kasar. Jadi sudah sepantasnya om juga di hukum, biar adil."


Ferdi duduk di samping Axel namun dengan jarak yang cukup jauh. Lalu hening menyeruak, namun tak lama kemudian keduanya saling bersitatap satu sama lain dan sama-sama tertawa.


"Om bawa handphone nggak?" tanya Axel.


"Yah, udah om tarok dikamar tadi." ujar Ferdi.


"Nggak nyangka bakal ikut berakhir disini juga." ucap pria itu kemudian.


"Yah, sama dong. Axel juga kenapa tadi nggak ngambil handphone dulu ya. Kayak gini kan kita gabut, mau ngapain."


Ferdi menarik nafas panjang. Kemudian ia beranjak dan berjalan ke arah pintu yang menuju ke balkon. Ia membuka pintu tersebut lalu keluar, diikuti oleh Axel.


Mereka kini duduk bersama di balkon. Sambil menatap pekarangan rumah yang dipenuhi pepohonan rimbun. Ditemani suara jangkrik yang entah berasal dari mana.


"Mama sering menghukum kalian kayak gini?" tanya Ferdi seraya menatap Axel.


"Kalau menghukum sih, sering. Tapi kalau mengurung kayak gini, adalah beberapa kali." jawab Axel.


"Siapa aja yang pernah di kurung?" tanya Ferdi lagi.


"Ya ganti-gantian. Pernah abang Ar, abang An, terus Axel. Bertiga juga pernah di gudang belakang."


"Gara-gara apa itu?"


"Gara-gara baretin mobil cowok yang mau deketin mama."


"Oh ya?"


"Iya." jawab Axel sambil nyengir.


"Koq bisa kalian berbuat hal kayak gitu?" Lagi-lagi Ferdi bertanya.

__ADS_1


"Abisnya itu orang nyebelin banget, om. Nggak kayak om Ferdi yang masih kadang jaga sikap, jaga omongan di depan kami. Cowok mama yang waktu itu berani bentak abang Anzel di depan mama. Gara-gara bang Anzel bilang nggak mau mama nikah lagi. Dia marah-marah, dan bilang kalau bang Anzel anak kurang ajar. Ya, kita marah lah." ujar Axel panjang lebar.


"Cowok itu bentak abang kamu di depan mama dan berani ngomong kayak gitu?"


"Iya, makanya mobil itu cowok kita baretin."


"Terus kalian di hukum sama mama?" tanya Ferdi.


"Iya, dihukum gara-gara kita baretin mobilnya itu. Bukan perkara soal kita nggak setuju sama si cowoknya mama. Kalau masalah itu, mama bilang, dia juga mendadak berubah pikiran. Dia nggak mau sama cowok yang belum apa-apa, udah berani bentak anaknya. Mama tetap belain kita soal itu. Cuma kita dihukum soal yang nakal itu doang."


Ferdi mengangguk-anggukan kepalanya. Ia tak menyangka sebelum dirinya, ternyata Clara pernah terlibat hubungan lain. Tapi itu tak jadi masalah, Ferdi mungkin juga tak akan membahas hal tersebut di depan Clara. Karena masa lalu Clara adalah milik wanita itu. Masa lalu Ferdi pun adalah milik Ferdi.


***


Waktu berlalu, Axel mulai merasa tenggorokannya mulai kering.


"Om, Axel haus." ujarnya pada Ferdi. Seakan mengadu pada ayah kandungnya sendiri.


"Ya udah, tunggu disini!"


Ferdi beranjak ke dalam dan mencoba membuka pintu, ternyata pintu itu di kunci dari luar oleh Clara.


"Clara."


Ferdi mencoba memanggil sang istri. Tak ada jawaban.


"Clara."


"Hmm, apaan?" jawab Clara. Kebetulan ia tengah melintas di muka ruangan tersebut.


"Kalian nggak boleh makan malam ini." ujar Clara lagi.


"Okelah kalau nggak boleh makan, nggak masalah. Paling nggak kasih air minum. Kamu tau kan manusia bisa nahan lapar tapi nggak bisa dehidrasi."


"Iya, iya. Tunggu!"


Clara terdengar turun ke bawah. Kemudian ia kembali dengan satu galon air, berukuran sedang.


Clara membuka pintu dan menyerahkan air tersebut pada Ferdi. Berikut dua buah gelas yang masih bersih.


"Nih, ini cukup sampai pagi." ujarnya kemudian.


"Cemilannya nggak sekalian, ma?" Axel yang baru masuk dari balkon tersebut nyeletuk pada sang ibu.


"Nggak sekalian kamu minta laptop atau iPad sama password Netflix. Biar kamu merasakan hukuman yang menyenangkan kayak napi koruptor." ujar Clara.

__ADS_1


Axel dan Ferdi saling melirik satu sama lain. Tak lama Clara kembali menutup dan mengunci pintu.


"Galak banget mak lampir, untung cantik." ujar Axel kemudian. Sementara Ferdi kini terkekeh.


Waktu kembali berlalu. Axel dan Ferdi hanya menghabiskan waktu dengan rebahan. Kadang duduk dan bercerita, lalu kembali rebahan dan menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba perut Axel berbunyi, Ferdi menoleh.


"Kamu laper?" tanya nya kemudian.


"Iya, om. Laper banget. Om nggak laper emangnya?" Axel balik bertanya.


"Laper juga, tapi mau gimana. Orang pintu di kunci sama mama." ucap Ferdi.


"Om juga nggak bawa handphone. Kalau bawa handphone kan enak, bisa order makanan. Tapi kalaupun bisa order juga, gimana ngambilnya ke depan?" lanjut pemuda itu.


"Pake drone dong, om."


"Drone nya mana coba?. Punya om aja di mobil." ujar Ferdi kemudian.


"Iya sih."


Lalu hening, lapar di perut Axel makin menjadi-jadi. Anak itu berbalik dari kanan ke kiri, lalu balik lagi ke kanan dan memeluk bantal guling. Tetap rasa lapar di perutnya tak kunjung menghilang.


Ferdi sendiri khawatir pada anak itu, ia ingin bernegosiasi dengan Clara sekali lagi. Namun tiba-tiba Axel pergi ke balkon. Ia bergerak ke arah samping dan memanjat pembatas. Ferdi yang terkejut dan mengira Axel terjun tersebut langsung berlari keluar.


"Axel."


"Sssttt."


Axel ternyata masih berada di pinggir dengan berpegang pada pembatas balkon. Ia menempelkan jari telunjuk di bibir dan menyuruh Ferdi diam.


Seketika Ferdi tersadar jika di samping balkon itu ada pohon jeruk Bali yang tengah berbuah lebat, dan beberapa diantaranya sudah siap di petik.


Axel mengambil satu lalu melemparnya ke arah Ferdi. Ferdi menangkap jeruk Bali itu, kemudian Axel naik dengan membawa satu lagi.


Mereka membawa jeruk Bali itu ke dalam, kemudian mencari-cari di dalam laci. Adakah benda tajam atau semacamnya yang bisa membuka kulit buah tersebut. Ferdi kemudian menemukan sebuah pisau cutter.


"Ah ada aja pertolongan semesta, kalau mau berusaha."


Axel berujar sambil memperhatikan Ferdi yang mulai membuka jeruk Bali. Ferdi kemudian memberikan yang sudah di buka tersebut pada Axel.


"Hmm, enak om." ujar Axel setelah mencoba memakan satu potong.


"Nggak terlalu asem, tapi nggak terlalu manis juga." lanjutnya lagi.


Ferdi mencoba jeruk tersebut dan rasanya sesuai dengan apa yang telah di deskripsikan oleh Axel.

__ADS_1


Mereka lalu memakan jeruk Bali itu hingga habis. Kemudian baru membuka yang satunya lagi.


__ADS_2