Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Mulai Aneh


__ADS_3

Pagi itu Clara bangun dengan penuh semangat. Bahkan lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya.


"Hai ma, good morning." sapa Axel yang ketiduran di ruang tengah. Akibat bermain game online bersama kedua kakaknya yang juga tertidur di tempat yang sama.


"Pagi sayang." jawab Clara seraya melangkah ke arah dapur.


Clara memang tidak pernah membatasi anak-anaknya dalam bermain game online. Tetapi saatnya mereka sekolah, mereka tak boleh beralasan ngantuk. Sebab itu sudah resiko yang harus mereka tanggung.


Berani memutuskan untuk sesuatu, berarti juga harus berani menanggung segala keuntungan dan kerugian. Prinsip tersebut ia tanamkan agar anak-anaknya menjadi lebih bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri.


"Nanti aku hubungi."


Clara menghidupkan air di keran sambil senyum-senyum sendiri. Ia mengingat perkataan Ferdi tersebut, sesaat setelah mereka berciuman di mobil. Kala itu Clara hendak keluar dan Ferdi memastikan jika ia akan menghubungi wanita itu lagi.


Clara benar-benar tersipu rasanya. Sampai-sampai saat ini ia tak sadar jika sejak tadi kerjanya hanyalah mencuci tangan.


Clara memutar keran agar air berhenti mengalir. Ia agak diam sejenak sambil kembali senyum-senyum. Lalu wanita itu kemudian membuka kulkas dan mengambil sayuran, tahu putih, serta empat potong ikan salmon.


Clara baru teringat jika ia harus memasak nasi. Sebab anak-anaknya sangat suka sarapan nasi di pagi hari. Maka ia pun mengambil bagian dalam rice cooker yang kebetulan telah bersih, kemudian mengisinya dengan beras.


Tak lama beras tersebut sudah dicuci dan siap untuk di masak. Namun lagi-lagi Clara senyum-senyum sendiri sambil mengingat Ferdi. Sampai-sampai sebuah tangan menekan tombol rice cooker, saking ia lupa untuk melakukan hal tersebut.


Ia juga bahkan tak menyadari jika ada tangan lain yang membantunya. Termasuk ketika ia memanggang salmon di atas teflon dan secara tanpa sadar hendak membaliknya dengan tangan kosong.


Tangan itu menyodorkan sutil, memberikan piring. Menyiapkan panci ketika Clara hendak membuat sup miso tahu.


Clara menyelesaikan urusannya dalam beberapa menit. Meja makan telah siap dengan berbagai menu sarapan. Tinggal menunggu nasi matang. Ia pun lalu pergi mandi.


"Hhhhh."


Arvel, Anzel dan Axel menghela nafas berbarengan. Ketika ibu mereka tersebut telah kembali ke kamarnya untuk pergi mandi.


"Mama aneh deh." ucap si bungsu pada kedua kakaknya.


Sementara si sulung dan yang kedua saling bersitatap. Mereka lah yang tadi membantu Clara secara tanpa sadar. Sebab Clara benar-benar tengah di mabuk cinta.


Seumur hidup ia belum pernah merasakan hal tersebut. Ketika berusia 17 tahun dan lulus SMA, ia diminta menikah siri dengan Nando. Dua tahun kemudian pernikahan itu diresmikan secara hukum. Karena menunggu Clara berusia 19 tahun terlebih dahulu. Mengikuti aturan yang berlaku.


Ia benar-benar tak tau apa itu jatuh cinta. Saat masih SMP-SMA ia tak pernah tertarik pada siapa-siapa, meski ia sangat cantik dan meski di sekolahnya banyak cowok-cowok yang populer.


Tapi kali ini ia mulai kasmaran. Ternyata rasanya seindah itu, bahkan sampai bisa membuat tak sadar akan banyak hal.


Ketika selesai mandi, berdandan, dan berpakaian. Clara menghampiri anak-anaknya yang juga telah mandi dan berpakaian sekolah. Mereka duduk di meja makan, sambil menunggu kehadiran Clara.

__ADS_1


"Hai sayang."


Clara mencium ketiga anaknya satu persatu, kemudian menarik salah satu sudut kursi dan duduk disana. Nasi telah dipersiapkan oleh si sulung, abang Ar.


Anzel menyiapkan air minum, sedang si bungsu mewadahi sup miso tahu ke dalam mangkuk kecil.


Mereka mulai sarapan sambil berbincang. Ketika topik habis, Clara kembali terlihat aneh. Sebab ia kedapatan sedikit melamun sambil tersenyum.


"Mama lagi suka sama orang ya?"


Si bungsu Axel nyeletuk. Membuat kaget Clara sekaligus dua anaknya yang lain.


"Ah, nggak koq. Dari mana kamu bisa berpikir kayak gitu." tanya Clara dengan nada gugup.


"Abisnya mama senyum-senyum sendiri, kayak orang di film yang lagi jatuh cinta."


Axel berkata dengan polosnya. Membuat Clara yang tengah mencoba menghirup sup itu seketika tersedak.


"Uhuk, uhuk."


Ia lalu meraih air putih dan meminumnya.


"Uhuk, uhuk."


Ia memang tidak membatasi anak-anaknya bermain game online, tetapi sangat membatasi perihal tontonan yang mereka lihat.


"Mmm, ada deh. Adek lupa judulnya."


Axel nyengir lalu menyuap makanan. Sementara Arvel dan Anzel masih bungkam dan belum mau membahas apa-apa. Meski sejatinya mereka juga menduga hal yang sama.


"Awas ya kalian nonton yang nggak bener." ucap Clara lagi. Lalu meja makan itu pun hening.


***


Hari itu Ferdi jadi lebih bersemangat berangkat ke kantor. Jordan, Sean, serta karyawan lainnya belum pernah melihat Ferdi segembira itu sepanjang bekerja.


"Ferdi kesurupan pelawak kali ya?" seloroh Sean pada Jordan.


"Tuh, tuh, senyum-senyum sendiri. Kayak abis pulang dari panti pijat yang ehem tau nggak." lanjut pemuda itu.


Ia dan Jordan kini tertawa-tawa.


"Dert."

__ADS_1


"Dert."


Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Ferdi, dan ternyata dari Clara.


"Semangat ya kerjanya."


Ferdi membaca pesan tersebut dan senyumnya menjadi semakin lebar. Sean dan Jordan pun jadi curiga terhadap sahabat mereka itu.


"Itu Ferdi senyum-senyum liat hape, pasti lagi baca pesan dari cewek tuh." Jordan sotoy.


"Dia balikan lagi kali sama Jessica." Sean jadi menduga-duga.


"Wah, nggak setuju gue kalau di balikan lagi sama tuh cewek." tukas Jordan kemudian.


"Apalagi gue." Sean menimpali.


"Bisa gue maki-maki si Ferdi, kalau sampe masih bucin juga sama tuh cacing kremi. Kagak rela gue, temen gue di bego-begoin sama cewek model gitu doang." lanjutnya lagi.


Mereka terus memperhatikan Ferdi dan terus membangun persepsi tentang apa yang mereka lihat.


***


"Aku udah semangat banget ini. Tadi aja bangun pagi, nggak kayak biasanya." balas Ferdi pada Clara.


Clara yang tengah mengetik sesuatu di laptopnya itu pun kembali tersenyum. Ia sendiri tak ada yang memperhatikan perubahan sikapnya. Sebab ia berada di ruangan sendiri, karena ia merupakan bos di kantornya.


Namun satu hal yang membuat seluruh karyawan tercengang adalah, hari itu Clara menyuruh mereka memesan makanan apa saja yang mereka mau. Dana untuk membayarnya sudah di siapkan oleh Clara.


"Si ibu lagi ulang tahun hari ini?" tanya salah seorang karyawan kepada karyawan lainnya.


"Nggak deh kayaknya." jawab karyawan yang lain lagi.


"Tapi koq tumben ngajak kita makan-makan?"


"Lagi bahagia kali bu Clara." seorang karyawati nyeletuk.


"Iya kali ya?" ujar beberapa karyawan secara serentak.


"Rejeki mah jangan di tolak, nggak baik." ucap karyawati itu lagi.


Lalu mereka pun sepakat untuk menikmati kebaikan Clara di hari itu.


***

__ADS_1


__ADS_2