
"Dek, mama titip es campur yang dekat sekolah kamu dong?"
Clara mengirim pesan singkat pada Axel. Handphone Axel selalu ditinggalkan di mobil. Dan ketika supir datang menjemput, ia langsung memeriksa perangkat tersebut.
"Mama minta es campur loh, bang." ucapnya pada Arvel dan juga Anzel yang sudah di jemput duluan.
"Ya udah beliin!" jawab Anzel.
"Loh, bukannya orang hamil nggak boleh minum es ya mas?"
Sang supir bertanya pada mereka bertiga.
"Emang iya pak?"
Arvel, Anzel, dan Axel balik bertanya.
"Loh iya katanya, nanti bayi nya gede di dalam." jawab supir itu lagi.
Sontak ketiganya saling menatap satu sama lain.
"Kalau dia gede badannya, ntar mama gimana ngeluarinnya?" tanya Axel.
"Mana gue tau." jawab Anzel.
"Tapi kalau keinginannya nggak dipenuhi, ntar mama ngambek lagi." Arvel menimpali.
"Lah iya, ntar adek kita ileran. Jadi gimana dong pak?" Axel bertanya pada supir.
Mereka semua terdiam untuk beberapa saat. Tak lama ketiga anak itu membuka google dan mencari informasi.
"Minum es itu nggak apa-apa. Yang nggak boleh itu, kalau perempuan hamil minum es yang mengandung banyak gula. Sebab gula berperan dalam kenaikan berat badan. Bisa jadi bayinya ikut naik berat badannya dan jadi jumbo."
Axel menjelaskan panjang lebar pada kedua kakaknya.
"Ya kan es campur mengandung gula, wahai Kuniawan."
Anzel berujar pada adiknya itu, sementara Arvel nyaris tersedak karena menahan tawa.
"Lo pikir manisnya berasal dari mana coba?" lanjut remaja itu lagi.
"Iya juga sih." tukas Axel sambil nyengir.
"Jadi gimana nih pak, beliin apa nggak?" tanya Axel pada sang supir.
"Ya mana bapak tau, mas. Bapak nggak berani ambil keputusan, takut ibu marah nantinya." jawab supir itu.
Mereka bertiga diam serentak dan mencoba berpikir serta menimbang-nimbang.
"Apa bilang aja kalau kang esnya nggak jualan?" tanya Axel lagi.
"Mama pasti bakalan minta beliin tempat lain, jadi bakalan sama aja." ujar Arvel.
"Namanya orang udah kepengen." lanjutnya kemudian.
__ADS_1
"Iya dan lagi kalau nggak di penuhi, takut mama ngambek." Anzel menimpali.
"Ya udah deh, beliin aja." Axel mengambil keputusan.
Sang supir tak jadi menekan pedal gas mobil, sementara mesin sudah siap sejak tadi.
"Jangan pake tape."
Arvel berpesan, karena setahunya es campur di dekat sekolah Axel tersebut ada campuran tape singkong.
"Emang kenapa nggak boleh makan tape?" tanya Axel heran.
"Lo mau adek lo keluar sebelum waktunya?" Anzel balik melontarkan pertanyaan.
"Maksudnya prematur gitu bang?" tanya Axel lagi.
"Keguguran, mas." sang supir menimpali.
"Oh, gitu." Axel baru tau.
Tak lama akhirnya ia keluar dan menghampiri tempat penjual es campur, yang ada di samping sekolahnya. Dulu Clara ada pernah mencoba es campur di tempat itu, lantaran mengikuti Axel.
Beberapa saat berlalu, Axel kembali. Ia tampak membawa es campur tersebut sambil memakan tape.
"Makan apaan lu?" tanya Anzel seraya memperhatikan.
"Tape." jawab Axel polos.
Arvel dan Anzel hanya bisa saling bersitatap sambil menahan senyum. Supir pun kembali menghidupkan mesin mobil dan mobil mereka kini tancap gas.
***
Berbarengan dengan anak-anak yang saat ini hendak pulang ke rumah, Ferdi pun demikian. Kantor telah bubar sejak beberapa menit lalu, dan kini dirinya tengah bersiap.
"Fer, gue duluan."
Jordan dan Sean berpamitan.
"Iya, hati-hati di jalan bro." ucap Ferdi.
"Sip, lo juga." balas mereka berdua.
Tak lama setelah itu Nova juga berpamitan, disusul karyawan lain yang keluar hingga seisi kantor habis. Hanya tersisa Nath dan Ferdi saja.
Ferdi berdiri dan mengambil tas laptop miliknya. Tak lama Nath keluar, namun sepertinya ia belum akan pulang.
"Lo masih mau disini, bro?" tanya Ferdi.
"Iya, ternyata ada hal yang mesti gue kerjakan." jawab Nath.
"Perlu bantuan?" tanya Ferdi lagi.
"Nggak, nggak usah. Lo pulang aja, masalahnya dikit doang koq. Paling setengah jam udah kelar." tukas Nath.
__ADS_1
"Yakin?" Ferdi menatap bosnya itu.
"Yakin, udah lo balik aja sana!"
"Oke."
Ferdi pun segera beranjak dan berpamitan. Sesaat kemudian ia sudah tak terlihat lagi di kantor tersebut. Sementara Nath melanjutkan pekerjaan.
***
Arvel, Anzel, dan Axel tiba dirumah. Mereka bertiga kini duduk di hadapan Clara dan memperhatikan wanita itu. Tadi Clara pulang lebih awal dari kantor, karena pekerjaannya sudah selesai. Ia diantar oleh supir kantor.
"Kenapa kalian ngeliatin mama kayak gitu?" tanya Clara heran.
"Mau?" lanjutnya lagi.
Ketiga anaknya menggelengkan kepala, namun tetap memperhatikan secara seksama.
"Kenapa tadi nggak beli juga buat kalian?"
Lagi-lagi Clara bertanya dan ketiga anak itu kembali menggelengkan kepala. Clara merasa ada yang aneh dengan mereka, kemudian ia menghentikan makan. Ia menatap ketiga anaknya itu satu persatu.
"Kalian aneh banget deh, kenapa sih?. Mama baper jadinya?" ucap wanita itu kemudian.
Axel dan kedua kakaknya saling bersitatap satu sama lain.
"Itu, ma. Kata google kalau ibu hamil minum es yang mengandung gula, nanti dedeknya bisa jadi besar di dalam." Axel mengungkapkan hal tersebut dengan polosnya dan sambil takut-takut.
"Nanti kalau keluarnya segede Axel, mama gimana?"
Clara tertawa dan nyaris tersedak.
"Iya, mama tau. Tapi kan mama nggak seiring juga konsumsi beginian. Dan lagi masa adeknya berubah segede kamu, kan nggak mungkin." ucap wanita itu.
"Paling juga nambah jadi beberapa kilo." lanjutnya kemudian.
"Kirain mama nggak tau, kan kita jadi takut." ucap Axel lagi.
Clara masih saja tertawa.
"Nggak koq, tenang aja. Dulu waktu hamil kalian juga mama minum es campur, tapi berat badan kalian pas lahir nggak ada yang jumbo-jumbo banget."
"Oh ya udah deh." jawab Axel.
Arvel dan Anzel pun wajahnya kini sudah berubah, tidak tegang seperti tadi. Clara masih saja tertawa, lalu ketiga anak itu berpamitan untuk kembali ke lantai atas.
Tak lama setelahnya Ferdi tiba dirumah. Clara menceritakan apa yang barusan terjadi dan Ferdi tertawa.
Sementara di kantor Nath telah menyelesaikan pekerjaan. CEO startup tampan itu tentu saja kini bergerak untuk pulang.
Suasana kantor telah begitu sepi, ia menuju ke halaman parkir dan masuk ke mobil. Nath mengemudi seperti biasa, sampai kemudian ia menyadari jika mobilnya kini tengah diikuti oleh seseorang.
Nath melihat semua itu dari kaca spion. Sebuah mobil hitam yang semakin lama semakin dekat, Nath mencoba melambat dan mobil itu ikut menurunkan kecepatan. Dan tiba-tiba ketika ia menekan pedal gas lebih dalam secara spontan, mobil itu pun melakukan hal serupa.
__ADS_1