
"Beneran adek lo mau di jodohin dan jadi penyelamat perusahan bokap lo?"
Igor teman akrab Frans bertanya pada sahabatnya itu. Saat ini mereka baru kembali dari melobi beberapa klien, demi kepentingan perusahaan Jeffri.
Mereka kini tengah bekerja keras dan bahu-membahu menyelamatkan perusahaan tersebut. Igor juga bekerja di perusahan Jeffri, bahkan sejak ia dan Frans sama-sama lulus kuliah.
"Ya, Ferdi bilang dia udah setuju untuk itu."
Frans menjawab seraya terus fokus ke jalan. Ia yang mengemudikan mobil saat ini.
"Lo pernah ketemu sama ceweknya?" tanya Igor lagi.
"Nggak tau gue, urusan bokap itu sama om Adrian."
"Janda umur berapa bro?" tanya Igor lagi.
"Kayaknya 30 an deh." jawab Frans.
"Kata lo umur anaknya udah 16 tahun. Salah kali lo, 40 an mungkin." Igor berspekulasi.
"Nggak, emang tuh cewek nikah muda katanya. Umurnya tuh 32 apa 33 gitu sekarang, yang gue denger ya. Dia nikah umur 17, pas selesai SMA. Biasa, pernikahan bisnis juga. Tapi kayaknya dia lanjut kuliah dan kerja juga atau apa. Pokoknya sekarang dia tuh yang mewarisi perusahaan bapaknya, plus dia punya banyak bisnis dimana-mana. Pokoknya kata om Adrian, tuh cewek sukses banget dan kaya banget. Bisa lah kalau sekedar nolong perusahaan papa mah."
"Oh gitu. Tapi kalau kaya, umur segitu mah masih cakep biasanya." ujar Igor lagi."
"Iyalah pasti perawatan. Kayak orang Korea aja umur 40 nih, masih kayak umur 20an karena dirawat. Semua akan cakep kalau ada duitnya." tukas Frans yang membuat Igor tertawa.
"Tapi sama sekali lo atau Ferdi belum pernah ketemu?" tanya Igor lagi.
"Belum pernah." jawab Frans.
"Ya mudah-mudahan nggak zonk sih. Kalau zonk berarti nasibnya Ferdi."
Frans tertawa diikuti Igor, namun dalam hati ia selalu berdoa supaya Ferdi bahagia dan menerima yang terbaik dalam hidupnya.
Sebagai kakak yang menyayangi, ia tak akan tega melihat adiknya tersebut menderita. Tiba-tiba terdengar notifikasi panggilan dari Adrian di handphone Frans.
"Iya om."
"Frans, kamu sama Igor udah pulang?"
"Udah nih di jalan."
"Kalian masih ok kan?" tanya Adrian lagi.
"Maksudnya?" Frans tak mengerti.
"Penampilan belum kusut kan?"
"Ya belum lah, om. Masa keren begini di bilang kusut."
"Rambut aja nggak mempan kena badai om. Kalah rambut kak Seto mah." Igor nyeletuk.
Adrian kemudian tertawa.
"Puter balik." ujar pria itu.
__ADS_1
"Puter balik kemana om?" tanya Frans heran.
"Ada pertemuan antar klien yang nggak bisa dihadiri oleh om ataupun Jeffri. Jeffri kan masih harus istirahat, sedang om ada urusan lain. Urusan kerjaan juga." ujar Adrian.
"Pertemuan apaan, dalam hal apa?. Biar nanti sampe sana Frans sama Igor nggak bengong-bengong amat." ucap Frans.
Adrian pun lalu menjelaskan apa saja yang harus di persiapkan Frans serta Igor. Ia memberi sedikit gambaran materi dari apa yang akan dibicarakan dalam pertemuan tersebut.
"Oh ok kalau gitu, langsung nih?" tanya Frans.
"Ya langsung aja, bentar lagi acaranya di mulai."
"Share lokasi aja om." tukas Frans.
"Itu udah om kirim di WA."
"Ok."
Adrian menyudahi panggilan telpon tersebut. Igor mengambil handphone Frans untuk membuka WhatsApp dan melihat peta lokasi. Tak lama mereka menuju ke tempat itu.
***
Di rumah.
"Ayolah pa, dikit lagi."
Ferdi merayu ayahnya Jeffri untuk makan bubur dan juga sayur, serta beberapa lauk lainnya yang dimasak oleh Aini sang ibu.
"Nggak enak, Ferdi. Tau sendiri kan masakan mama gimana." ujar Jeffri lalu meminum air putih yang ada di dalam genggaman tangannya.
"Masalahnya kalau nggak habis, Ferdi yang di marahin dan disuruh ngabisin pa."
"Jadi kamu maksa papa makan itu bukan karena kamu peduli gitu sama kesehatan papa?" tanya nya kemudian.
"Ya peduli, tapi Ferdi juga peduli sama diri Ferdi sendiri."
Jeffri mengatupkan bibir, namun gagal untuk menahan tawa.
"Ya udah sini papa abisin." ujarnya kemudian.
Ferdi lalu kembali menyuapi Jeffri, Jeffri makan sambil tertawa-tawa. Aini memang sosok istri dan ibu yang ajaib. Ia tidak bisa memasak, tidak pandai mengurus rumah tangga. Namun Jeffri sangat mencintainya.
Salah satu kelebihan Aini adalah, saat Jeffri berjuang dan kerapkali terjatuh dalam mendirikan perusahaan dulu. Ia tak pernah meninggalkan Jeffri. Sekalipun banyak laki-laki yang lebih sukses dan kaya-raya yang ingin mendekati Aini.
Bagi Jeffri satu kelebihan itu saja sudah cukup. Ia tak pernah menuntut istrinya untuk pandai memasak atau berbenah rumah. Sekalipun Aini dengan percaya diri selalu memasak apabila mood nya tengah baik. Dan seisi rumah harus memakan masakan horornya itu.
Jeffri selalu mengajarkan pada kedua anaknya untuk menghargai ibu mereka. Betapapun anehnya rasa masakan ibu mereka tersebut, mereka tak boleh mengatakannya secara langsung.
Boleh menolak dengan alasan sudah makan diluar, atau makan saja walau sedikit. Alaskan saja sedang diet, Aini pasti tak akan melempar panci pada mereka.
"Dikit lagi pa, nih."
Ferdi sudah hampir menyelesaikan tugasnya, ketika secara tiba-tiba Aini masuk ke kamar Jeffri.
"Enak kan?" Jeffri bertanya pada Ferdi. Ferdi sendiri bingung dengan sikap sang ayah.
__ADS_1
"Ayo makan lagi!" ujarnya menyodorkan kepada Ferdi. Ferdi pun sadar jika dirinya kini masuk dalam jebakan sang ayah.
"Ayo Ferdi abisin. Papa kayaknya udah kenyang tuh." Aini tiba-tiba bersuara, mendadak suasana pun menjadi mencekam.
"Nggak baik loh buang makanan." lanjut ibunya itu.
Ferdi melirik Jeffri, sedang Jeffri menahan tawa.
"Iya ma, Ferdi abisin di luar." ujarnya kemudian.
Ia lalu buru-buru membawa sisa makanan itu ke dapur, dan meminta mbak-mbak asisten rumah tangga untuk membuangnya. Para mbak asisten itu pun membantu menyelamatkan nyawa Ferdi.
"Udah di buang mbak?" tanya Ferdi ketika sang asisten rumah tangga telah selesai melakukan tugasnya.
"Misi selesai mas Ferdi." jawab salah satu dari mereka.
"Kalian udah makan?" tanya Ferdi kemudian.
"Belum mas, pengen makan tapi mas tau sendiri. Hehehe."
"Punya solusi?" tanya Ferdi lagi.
"Ke warteg depan aja mas."
Salah satu asisten rumah tangga memberi ide.
"Ya udah kesana yuk." ajak Ferdi.
Mereka pun lalu buru-buru menuju ke arah pintu kecil dan keluar lewat sana. Mereka kemudian menuju ke warteg terdekat sebelum diketahui oleh Aini.
***
Sementara di sebuah gedung pertemuan, Frans yang baru tiba dengan Igor mendadak ingin ke toilet.
"Gue ke toilet dulu ya bro." ujarnya pada sang sahabat.
"Oke." jawab Igor.
Frans lalu menuju ke arah toilet. Sebelumnya ia bertanya terlebih dahulu, pada sekuriti yang berpatroli di sekitar tamu undangan. Setelah tau dimana letak toilet ia pun buru-buru berjalan ke arah sana.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Beberapa pesan masuk ke laman WhatsApp milik pemuda itu. Maka sambil terburu-buru, Frans pun sambil melihat ke arah handphone. Hingga tanpa ia sadari,
"Buuuk!"
Bahunya menabrak seorang perempuan. Perempuan itu nyaris terjatuh, lalu Frans dengan sigap menangkap tubuhnya. Seketika terlihatlah sebuah wajah yang begitu cantik, dengan mata yang kini menatap mata Frans.
"Sorry." ujar Frans kemudian.
"Mmm, it's ok." ucap wanita itu.
__ADS_1
"Clara."
Seorang wanita lain mendekat ke arah si wanita yang hampir terjatuh tadi. Lalu kemudian mereka sama-sama berlalu dari hadapan Frans. Tinggallah kini Frans tersenyum dengan perasaan yang penuh debar aneh.