Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Jessica dan cocot Axel


__ADS_3

"Lah mereka tidur." ucap Ferdi sambil melihat ke arah Arvel dan juga Axel.


Kedua anak itu tampak nyenyak sekali di sofa ruang karaoke. Sedang Anzel masih bertahan sambil makan dan minum.


"Ngajak mereka berdua jalan tuh emang gitu, om." ucap Anzel lalu tertawa.


"Kelamaan dikit, tidur." tambah remaja itu lagi.


Ferdi tertawa, ini kali pertama ia mengajak anak-anak tirinya hang out sampai ada yang ketiduran begini. Sedang Nath sudah paham pada tabiat Arvel. Sebab telah belasan tahun ia bersama dengan anak itu dalam bayangan.


"Axel, bangun. Kita mau pulang." Anzel mencoba membangunkan sang adik.


"Bang, bangun!" ia juga meminta pada Arvel.


"Udah, nggak usah di bangunkan. Ntar bawa aja ke mobil." ujar Ferdi.


"Emang om pada mau ngangkat mereka ke mobil gitu?" tanya Anzel.


"Iya, orang dekat ini." jawab Ferdi.


Untungnya mereka dapat room karaoke di bagian bawah dekat lobi ruang tunggu. Sebab yang di lantai lainnnya sedang penuh.


"Om minta tolong bukain pintu mobil ya."


Ferdi menyerahkan kunci mobil pada Anzel. Tak lama mereka memanggil pekerja karaoke tersebut lalu meminta bill. Ferdi dan Nath agak rebutan untuk membayar.


Namun akhirnya semua jatuh kepada Nath. Sebab Nath mengancam jika Ferdi ngotot ingin membayar, ia akan memecat Ferdi. Tentu saja hal tersebut tidaklah serius. Namun Nath serius untuk membayar semuanya.


Ia bahagia dengan adanya Ferdi di kehidupan sang anak, sebab ia bisa jadi lebih dekat dan bersama seperti ini.


Usai membayar, Ferdi mengangkat tubuh Axel. Sedang Nath membawa anaknya. Anzel menahan pintu ruang karaoke, kemudian berlari duluan ke depan untuk membuka pintu mobil.


Mereka sama-sama di letakkan di bagian tengah mobil. Usai memasang seat belt pada keduanya, Ferdi pamit pada Nath. Tak lama ia dan Anzel masuk pula ke dalam mobil. Kali ini Anzel duduk di depan.


"Fer, hati-hati." ucap Nath dari dalam mobilnya.


"Iya, lo juga. Kalau sampe kabarin gue." ujar Ferdi.


"Sip, gue jalan dan thank you buat hari ini." tukas Nath lagi."


"Sip." jawab Ferdi.


Nath melaju duluan ke arah pintu exit parkiran. Kemudian di susul oleh Ferdi. Tak lama mereka berpisah di dua jalur yang berbeda. Nath mengambil ke kiri, sedang Ferdi ke lajur kanan.


"Om Nath tuh bosnya om Ferdi kan?" tanya Anzel pada Ferdi, ketika mobil sudah cukup jauh berjalan.


"Iya." jawab Ferdi sambil menoleh sejenak lalu kembali fokus mengemudikan mobil.


"Tapi sama karyawannya kayak temen ya?" ucap Anzel.


"Iya, sama yang lain juga gitu. Dia nggak mau terlalu di jadikan bos yang formal banget. Katanya jadi ada jarak dan dia merasa sendirian di posisinya."


Anzel tertawa.


"Ada ya orang kayak gitu." ujarnya lagi.


"Ada, tuh buktinya." ucap Ferdi sambil tertawa.


"Dert."

__ADS_1


"Dert."


"Dert."


Tiba-tiba Clara menelpon sang suami.


"Hallo, sayang."


Ferdi mengangkat telpon tersebut.


"Fer, dedeknya pengen martabak telor."


Clara merengek, Ferdi pun tertawa.


"Kamu apa dedeknya yang pengen?" goda pemuda itu.


"Mmm, sebenarnya aku sih." ucap Clara sambil tertawa.


"Cuma berhubung lagi hamil, jadi alasan aja." lanjutnya lagi.


Ferdi makin tertawa.


"Ya udah martabak telor sama apa?" tanya pria itu.


"Sama sate ayam."


"Oke, teman kamu masih disana?" Lagi-lagi Ferdi bertanya.


"Kalau masih disana, ntar sekalian aku beliin juga." lanjutnya kemudian.


"Udah pulang mereka dari tadi." jawab Clara.


"Iya, makasih papa. Dedek senang di perut mama." ujar Clara.


"Iya sayang, sama-sama." jawab Ferdi.


"Kita cari martabak telor sama sate ayam dulu ya?" ucap Ferdi pada Anzel.


"Sekalian buat kita juga." lanjutnya lagi.


Anzel mengangguk.


"Mama pengen makan itu ya?" tanya Anzel.


"Iya, orang hamil kan ada aja pengennya." ucap Ferdi.


"Axel yang nggak hamil aja doyan koq." seloroh Anzel sambil tertawa. Ferdi jadi ikutan tertawa.


"Hah, apaan bang?" Axel terbangun dan bertanya.


"Giliran makanan aja, cepet banget bangun." celetuk Anzel kemudian.


Ferdi makin tertawa.


"Mau beli makanan kita?. Dimana?" tanya Axel lagi.


"Tuh kan semangat 45 dia." ujar Anzel.


Ferdi terus saja tertawa, sementara Axel mengucek mata lantaran sebenarnya masih mengantuk.

__ADS_1


"Kita mau beli martabak telor sama sate ayam." jawab Ferdi.


"Atau kalian ada mau makan yang lain?" tanya pemuda itu.


"Nggak deh, samain aja om. Axel martabak telor sama sate juga." jawab Axel..


"Abang mau martabak manis." Arvel nyeletuk, sepertinya ia sudah bangun sejak tadi.


"Ya udah, nanti beli ya." ucap Ferdi.


Mereka pun kemudian mencari tukang martabak yang berjualan di pinggir jalan. Kebetulan hari telah lumayan gelap dan pedagang martabak maupun sate ayam bisanya sudah berjejer di berbagai tempat.


"Tuh ada martabak di depan, om." ucap Anzel.


"Oh iya."


Ferdi kemudian menepikan mobilnya. Ia keluar untuk memesan tiga martabak telur dan dua martabak manis. Usai martabak tersebut jadi, mereka mencari tukang sate dan ketemu.


Kali ini bukan hanya Ferdi saja yang keluar dari dalam mobil. Ketiga anak itu juga keluar guna mencari area tempat buang air kecil. Tak lama setelah semuanya selesai, mereka kembali ke dekat Ferdi yang menunggu di depan penjual sate.


Sebuah alarm muncul di handphone Ferdi. Pemuda itu awalnya mengira itu notifikasi panggilan. Sebab ia menggunakan nada dering yang sama.


Ferdi menilik ke arah handphonenya tersebut dan disana tertulis, "Anniversary Ferdi and Jessica."


Ferdi diam dan agak terkejut serta tak enak hati. Sebab ketiga anak sambungnya melihat hal tersebut.


"Cie masih nyimpen catatan anniversary sama mantan. Namanya Jessica."


Axel menggoda ayah tirinya itu, sementara Arvel dan Anzel menahan tawa.


"Ini nggak seperti yang kalian kira. Om beneran udah lupa sama alarm ini dan akan om hapus sekarang." Ferdi agak sedikit gelagapan.


"Cie anniversary, Ferdi and Jessica." ledek Axel lagi. Sesorang menoleh, dan tanpa sengaja Ferdi melihat juga ke arah orang itu.


"Jessica?" gumamnya dalam hati.


Ia terkejut dan baru sadar, jika saat ini dirinya berada di kawasan dekat apartemen Jessica. Jadi wajar ia menemukan perempuan itu disana. Sebab Jessica pun jika hendak makan pasti beli di sekitaran tempat tersebut.


Jessica melihat ke arah Ferdi dengan penuh kemarahan. Apalagi ada ketiga anak Clara disana.


"Axel kasih tau mama ya."


Axel kembali berujar sambil tertawa dan memberikan tatapan yang super nakal pada Ferdi.


"Ya jangan dong, ntar mama kira Kenapa-kenapa." jawab Ferdi.


"Tapi om udah nggak ada rasa suka kan sama si Jessica-Jessica itu kan?"


"Axel." Arvel menegur sang adik.


"Tau lo, nggak sopan banget nanya nya." Anzel ikut-ikutan menasehati anak itu.


"Ya kan Axel penasaran, bang." Axel membela diri.


Ferdi tersenyum. Meski ia agak tak enak, sebab Jessica masih melihat ke arahnya sambil mendengarkan percakapan. Jarak mereka terbilang cukup dekat.


"Om udah nggak punya rasa apa-apa lagi sama dia. Bagi om, semua yang sudah dilewati ya selesai."


Ucapan Ferdi tersebut membuat hati Jessica makin terbakar. Sedang ketiga anak sambung Ferdi, terutama Axel puas mendengarnya.

__ADS_1


Jessica kemudian berlalu, dan Ferdi membiarkannya saja. Toh mereka sudah hidup masing-masing sekarang, pikir Ferdi.


__ADS_2