Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Wanita Misterius


__ADS_3

Clara masih memeluk Ferdi dengan erat. Ferdi pun membiarkan sampai akhirnya Clara sendiri yang melepas pelukan itu.


"Makin buncit." ujar Ferdi seraya menatap dan mengelus perut Clara.


"Kamu sih ganjen." ujar Clara sambil tersenyum.


"Gara-gara kamu nih." lanjutnya lagi.


Ferdi tertawa.


"Mandi yuk, abis ini kita minum kopi atau teh atau tidur." ujar Ferdi.


Clara mengangguk. Kemudian mereka membersihkan diri dengan menggunakan sabun serta sampo.


Setelah mandi Ferdi berganti pakaian, sedang Clara mengeringkan rambutnya terlebih dahulu. Tak lama ia pun berganti pakaian yang nyaman.


"Dert."


"Dert."


Handphone Ferdi bergetar. Ia lalu menilik ke arah perangkat gadgetnya tersebut. Ternyata panggilan dari Jordan.


"Hallo, bro."


"Bro, lo dari mana aja sih gue telponin dari tadi." ujar Jordan.


"Gue mandi. Kenapa sih?. Koq lo panik gitu?" tanya Ferdi.


"Tadi gue nemuin Nath jatuh di kamar mandi, dan pingsan."


"Terus?"


Ferdi kini ikutan panik, sementara Clara yang hendak menjemur handuk itu kini menatap ke arah suaminya.


"Ya akhirnya ditangani lagi sama dokter. Terus sekarang katanya mau di observasi lebih lanjut. Gue takut dia sakit serius deh, Fer."


Ferdi pun kini berpikir ke arah sana.


"Kita positif thinking aja, bro. Sekarang dia gimana?"


"Ini dia tidur, tapi kayak ngingau terus gitu."


"Lo sendirian?" tanya Ferdi.


"Iya, Sean lagi nganter nyokapnya."


"Ya udah ntar gue kesana. Kalau ada apa-apa kabarin segera." ucap Ferdi.


"Iya, bro. Pasti gue kabarin." ujar pemuda itu.


Jordan pun berpamitan dan menyudahi percakapan mereka. Ferdi kini menarik nafas dan agak sedikit terdiam.


"Kenapa, Fer?" tanya Clara pada suaminya itu.


"Nath, Cla." ujarnya kemudian.


"Kenapa?"


"Dia pingsan di kamar mandi dan dokter lagi cari tau lebih lanjut penyakitnya dia. Aku khawatir dia punya penyakit serius." ujar Ferdi.


Clara duduk di samping pemuda itu dan mencoba menenangkannya.


"Pikir yang baik-baik aja, Fer. Biar jadi doa yang baik. Doa itu kan bukan sekedar di ucap tapi di rasakan dan di pikirkan."


Ferdi menarik nafas lalu menghembuskannya. Ia mengangguk dan kini Clara memeluk pemuda itu.


"Nath tuh baik banget soalnya." ucap Ferdi.


"Iya, kamu udah sering cerita. Percayalah orang baik pasti dilindungi."


Ferdi mengangguk lalu,


"Gubrak!"

__ADS_1


Terdengar suara benda jatuh di depan kamar Clara.


"Axel." Clara langsung menjudge nama anak itu.


"Hehe, iya ma." jawab Axel dari luar.


"Sejak kapan kamu nguping pembicaraan mama sama om Ferdi?"


"Baru koq, ma. Axel mau pinjam Netflix mama disuruh abang."


"Netflix kalian?"


"Kan abis paketnya, belum mama isi."


"Oh ya udah. Sini masuk!"


"Nggak mama kunci emangnya?"


"Nggak."


Axel pun masuk. Clara lalu memberi password Netflix miliknya.


"Makasih ya, ma." ujarnya lalu beranjak.


"Sama-sama." jawab Clara.


"Abang udah sehat?"


"Tuh lagi tiduran. Kakinya sakit lagi tapi dikit."


"Ya udah, jagain abang ya."


"Iya ma." jawab Axel.


Remaja itu kemudian berlalu.


"Kamu mau kopi, Fer?" tanya Clara.


"Ntar aja. Pengen tidur bentar abis itu mau nemenin Jordan."


"Kamu nggak tidur?" tanya Ferdi.


"Ntar aku nyusul, mau bikin teh dulu."


"Oke.".


Ferdi lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Rasa lelah akibat bercinta tadi memaksa matanya untuk meredup dan terlelap.


***


"Nath, kamu dimana?. Kenapa nggak pulang?. Papa ke apartemen kamu, kamu juga nggak ada. Kamu nggak ada ngabarin orang tua."


Sebuah notifikasi pesan masuk ke handphone Nath yang ada di sisi Jordan. Isi pesan tersebut dapat terlihat dari layar depan meski tak semua isinya terbaca.


"Kamu membohongi kami selama belasan tahun. Kamu bilang dia sudah tidak ada, tapi nyatanya dia masih hidup kan?. Kamu menyembunyikan dia si suatu tempat."


Jordan begitu kaget membaca pesan yang kedua tersebut. Ia lalu menatap Nath yang kini masih dalam keadaan terlelap.


"Dia?. Siapa dia?" gumam Jordan.


"Apa pak Nath menyembunyikan ceweknya yang nggak direstui, terus nikah diem-diem ya?" lanjutnya lagi.


Jordan berpikir keras, namun otaknya mendadak mumet.


"Ah udah ah, apa sih gue. Pengen tau banget urusan orang." ujarnya lagi.


***


Beberapa jam berlalu, Ferdi dan Clara sudah bangun dari tidur mereka. Ferdi bersiap untuk pergi ke rumah sakit guna mengecek kondisi keadaan Nath.


"Om Ferdi mau kemana?" tanya Axel yang baru pulang dari warung. Ia habis membeli cemilan.


"Mau ke rumah sakit." jawab Ferdi.

__ADS_1


"Kamu jajan mulu, dek." sindir Clara.


"Mentang-mentang di bolehin om Ferdi, ngelunjak ya kamu." lanjut wanita itu.


"Hehe."


"Kata orang kesempatan itu nggak boleh dilewatkan, Ma." ujar Axel.


"Kamu tuh kalau ngejawab, ada aja." ujar Clara.


Ferdi tertawa kecil melihat keributan ibu dan anak tersebut.


"Oh ya ma, di ujung jalan sana tadi ada mbak-mbak. Dia ngeliat ke rumah ini terus" ujar Axel.


"Oh ya, gimana mbak-mbaknya?" tanya Clara.


"Rambutnya panjang, mukanya ketutupan masker tapi." jawab Axel.


"Jessica kali Fer, kangen sama kamu." ujar Clara.


"Jessica siapa om?" tanya Axel.


"Tuh kan kamu." ujar Ferdi pada Clara.


"Kalau ngomong dekat anak tuh hati-hati." lanjutnya lagi.


"Sorry." ucap Clara sambil tertawa.


"Jessica pasti mantannya om Ferdi, iya kan?" Axel sotoy.


"Iya, mantan om Ferdi." ujar Clara.


"Cie-cie mama cemburu cie."


Axel malah menggoda Clara.


"Ih enak anak, nggak ya." ujar Clara membela diri.


"Tapi tadi menyebut Jessica-nya begitu banget." ujar Axel.


"Mama kamu tuh cemburu tapi nggak mau ngaku." ujar Ferdi.


"Dih, nggak ya. Cantikan juga aku kemana-mana.


Ferdi dan Axel kini makin tertawa-tawa.


"Ya udah aku jalan dulu, Cla. Aku nggak nginep koq nanti aku pulang." ujar Ferdi.


"Ya udah hati-hati di jalan ya Fer."


"Iya."


Ferdi mencium kening Clara.


"Bye Axel."


"Bye om." jawab Axel.


Ferdi lalu masuk ke mobil, tak lama mobil tersebut pun keluar. Ketika Ferdi berbelok ke arah kanan, ia memang menemukan seorang perempuan yang terus menatap ke arah rumah.


Ferdi memperlambat laju kendaraan dan memperhatikan. Wanita itu kemudian pergi. Namun jika dilihat dari perawakan, wanita itu bukanlah Jessica. Seperti apa yang tadi sempat di perkirakan oleh Clara. Ferdi hafal pada postur dan cara berjalan Jessica. Entah siapa wanita ini.


"Apa mungkin orang suruhan Nando?" pikir Ferdi.


Tiba-tiba Jordan menelpon dan menanyakan dimana Ferdi kini berada.


"Gue di jalan, bro. Baru keluar dari rumah." ujar Ferdi.


"Udah mau sampe apa gimana?"


"Baru depan rumah." ujar Ferdi lagi.


"Oh, ya udah buruan bro. Nggak ada temen ngobrol gue."

__ADS_1


"Iya, gue agak ngebut koq." ucap Ferdi.


Maka Jordan pun menyudahi telpon tersebut. Ferdi kini melanjutkan perjalanan.


__ADS_2