Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Memberitahu


__ADS_3

"Aku mau ketemu."


Ferdi dan Clara sama-sama mengirim pesan singkat di waktu yang hampir bertepatan. Ferdi ingin jujur pada Clara perihal dirinya telah dijodohkan, dan ingin mengakhiri semua hal yang telah mereka jalani belakangan ini.


Sedang Clara ingin meminta tolong pada Ferdi untuk menikahinya, walau hanya sebatas status dulu. Seluruh biaya ia yang akan menanggung, asal ia memiliki suami yang sah di mata hukum. Guna merebut kembali haknya yang masih berada di tangan Nando.


"Koq kita bisa barengan ya kirimnya."


Clara membalasnya sambil senyum-senyum sendiri, sementara Ferdi menerima dengan hati yang luka. Sebab ia akan segera melukai hati perempuan itu, dan akan segera dianggap sebagai laki-laki yang hanya ingin bermain-main saja dengan hati orang lain.


"Dimana kita ketemu?" balas Ferdi tanpa menghiraukan dan menanggapi isi chat Clara yang barusan.


"Kamu lagi dimana ini?" Clara balik bertanya.


"Maksudnya kita mau jalan sendiri-sendiri atau ada yang dijemput?. Soalnya aku di kantor dan bawa mobil." lanjutnya kemudian.


"Ya udah, langsung ketemuan aja." jawab Ferdi.


"Di tempat biasa?" lagi-lagi Clara bertanya.


"Iya."


"Ya udah, pas pulang nanti ya." ujar Clara.


"Oke."


Maka Ferdi pun menyudahi percakapan tersebut dengan hati yang mulai teriris. Sementara Clara masih senyum-senyum karena belum mengetahui perkara yang akan diungkapkan oleh kekasih barunya itu.


"Bu Clara seneng banget."


Clara tak sadar jika sekretarisnya telah masuk ke ruangan untuk mengantarkan file.


"Loh, kapan kamu masuk?" tanya Clara pada sekretarisnya itu.


"Barusan, kan tadi ibu manggil saya."


"Oh iya ya."


Clara baru teringat akan hal tersebut. Sang sekretaris menyodorkan file, lalu Clara menandatanganinya.


Sepulang kerja sesuai janji, ia pergi ke tempat yang telah ditentukan. Dalam perjalanan menuju ke sana, rasa senang dan bahagia di hati Clara seperti tak pernah ada habisnya.


Ia yang tak pernah jatuh cinta seumur hidupnya itu, sempat berkhayal jika permintaannya di penuhi oleh Ferdi. Lalu mereka menikah walau itu cuma sebatas keperluan. Ia berkhayal hal tersebut akan menjadi sesuatu hal yang indah sekaligus lucu.

__ADS_1


Sampai-sampai ketika tiba di lokasi, ia masih saja tak kuasa menahan senyum. Saat itu Ferdi terpaksa membalas senyuman Clara, namun sikapnya mulai dingin. Ia paling tidak bisa menyembunyikan suatu masalah, apalagi menyangkut seseorang.


"Kamu mau pesan minum apa?" tanya Clara pada Ferdi ketika mereka telah duduk di meja yang terdapat di sebuah sudut.


"Aku air mineral aja." jawab Ferdi.


"Tumben nggak ngopi?" tanya Clara heran.


"Aku lagi nggak pengen." jawab Ferdi lagi.


"Oh ya udah, aku mau pesan es coklat deh." ucap Clara. Ia kemudian memanggil pelayan dan memesan es coklat.


Saat menunggu es coklat tersebut jadi, Clara banyak membicarakan sesuatu. Namun Ferdi hanya fokus memandangi wajah dan menatap mata perempuan itu. Seperti tengah menyesali sesuatu.


"Oh ya, aku mau bicara serius sama kamu." tiba-tiba Clara berucap setelah sekian la berbasa-basi.


"Sama, aku juga." timpal Ferdi.


"Kamu aja yang dulan." Keduanya berucap di waktu yang nyaris bersamaan.


Clara tertawa, sementara Ferdi memaksakan sebuah senyum.


"Ya udah kamu yang duluan." ucap Ferdi kemudian.


"Kamu aja deh yang duluan. Aku belakangan aja." ucap Clara.


"Loh kenapa?" tanya Ferdi.


"Nggak apa-apa kamu aja yang dulan" lanjut pria itu lagi.


"Ih nggak mau, kamu aja yang duluan." Clara bersikeras.


Ferdi diam dan menarik nafas panjang. Clara yang sejak tadi tak sadar dengan perubahan Ferdi, kini tampaknya mulai menyadari hal tersebut.


"Aku mau minta maaf." ujar Ferdi seraya menatap Clara.


"Minta maaf?. Soal apa?" Clara tak mengerti.


Ferdi menatap Clara lekat-lekat.


"Aku udah nggak bisa melanjutkan hubungan ini."


Clara terdiam mendengar pernyataan tersebut, mendadak segala prasangka kini berkecamuk di kepalanya.

__ADS_1


"Karena aku janda?" tanya nya kemudian.


"Bu, bukan itu. Aku nggak masalah soal itu?"


"Terus apa?"


Clara balas menatap Ferdi lekat-lekat. Dan itu membuat seluruh persendian Ferdi terasa lumpuh. Ia bukan hanya menyakiti Clara soal hubungan yang mereka jalani, tapi juga soal status janda yang disandang wanita itu.


"Aku salah sama kamu. Semua ini salah aku, dan nggak ada hubungannya dengan status janda yang kamu sandang. Aku sudah di jodohkan oleh orang tuaku dan salahnya aku, aku jatuh cinta sama kamu."


Ferdi berkata sambil menggenggam tangan Clara. Clara yang masih terdiam itu menelan ludahnya, lalu tertunduk dalam.


Ia sudah banyak mendengar alasan seperti ini. Dimana seseorang mengatakan jika dirinya telah dijodohkan. Semata demi meninggalkan hubungan yang tengah di jalani.


Alasan yang kadang seperti dibuat-buat, namun membuat orang yang mendengarnya tak mampu menjawab apa-apa lagi.


Clara sendiri sangat yakin, jika Ferdi meninggalkannya karena status janda yang ia miliki. Itu alasan paling masuk akal. Mengingat tak semua laki-laki single mau menikahi janda, dan tak semua calon mertua mau menerima menantu yang bukan seorang gadis.


Clara menarik nafas panjang dan mencoba menenangkan diri. Ia ingin bersikap dewasa sesuai usianya saat ini. Meski sejatinya ia ingin menangis sejadi-jadinya, karena merasa begitu sakit.


Harusnya jika memang tidak bisa, Ferdi pun jangan maksakan diri untuk mencintai orang lain. Itu namanya ia masih termasuk laki-laki yang egois. Membawa orang lain masuk ke dalam kehidupannya, padahal ia sudah tidak bisa melakukan hal tersebut karena terikat suatu perkara.


"Ya udah, aku terima alasan kamu." ucap Clara sambil menatap Ferdi.


Sementara Ferdi kian hancur menatap mata perempuan itu. Ia ingin sekali bersama Clara, tapi bagaimana dengan pernikahannya kelak.


Ia tak ingin berbohong ataupun menjadikan Clara sebagai selingkuhan dalam pernikahan yang akan ia jalani nanti. Sebab Clara tak pantas di perlakukan seperti itu. Ia mungkin bisa tega pada istrinya kelak, tapi tidak pada Clara.


"Maafin aku, soal perasaan aku nggak bohong. Aku bener-bener sayang sama kamu." ucap Ferdi sekali lagi.


Clara tersenyum kecut, lalu menyeruput minumannya sambil menahan laju air mata.


"Tadi kamu mau ngomong apa?" tanya Ferdi pada wanita itu.


Clara menggelengkan kepala. Karena Ferdi akan di jodohkan oleh orang tuanya. Entah itu benar atau tidak, yang jelas sudah tak mungkin lagi untuk meminta laki-laki itu agar mau menikahinya. Sebab itu adalah hal yang sangat mustahil dalam situasi saat ini.


"Kenapa nggak jadi, kan aku penasaran."


Ferdi benar-benar merasa bersalah karena tadi tak memaksa Clara untuk bicara duluan.


"Nggak, aku udah lupa." jawab Clara.


"Aku bentar lagi mau pulang." lanjut wanita itu kemudian.

__ADS_1


Dan Ferdi pun hanya bisa terdiam, bahkan tak mampu berpikir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.


__ADS_2