Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Menjalani Pernikahan Normal


__ADS_3

"Ferdi?"


"Clara?"


Jeffri sekeluarga terkejut ketika tiba-tiba Ferdi datang mengajak istrinya. Langsung saja Jeffri dan Aini mendekat lalu memeluk anak serta menantunya itu.


Kebetulan sedang ada Adrian yang berkunjung ke rumah. Jadi ia turut menyaksikan dan menyambut kedatangan pengantin baru tersebut.


"Ma, ini Clara bawain cake. Mudah-mudahan mama sama papa suka."


Clara menyerahkan apa yang ia bawa kepada sang ibu mertua. Ia membeli tiga jenis cake dan juga beberapa makanan lain. Layaknya kunjungan menantu kepada mertua pada umumnya.


"Terima kasih ya, tapi lain kali tidak usah repot-repot begini." ucap Aini.


"Ini nggak repot koq, ma. Orang beli, bukan bikin." seloroh Clara sambil tertawa.


"Iya, terima kasih banyak ya."


"Sama-sama."


Tak lama mereka pun terlihat sudah berada di meja makan. Jeffri menanyakan kabar Ferdi dan juga sang menantu. Sementara Aini menanyakan kabar anak-anak Clara.


Sepintas mereka terlihat seperti keluarga normal pada umumnya, yang tidak memiliki maksud apapun dibalik itu.


Sungguh miris dan mungkin akan kecewa besar, bila Clara tau pernikahan ini dilandasi keinginan untuk mendapatkan uang. Meski Ferdi telah mulai berpikir, apakah ia akan menuruti keinginan ayahnya atau tidak.


"Ayo Clara, makan yang banyak!" ucap Aini.


"Iya ma." jawab Clara seraya memakan apa yang kini ada di hadapan matanya.


"Ini mama masak apa beli, ma?" tanya Ferdi.


"Beli, Fer. Sejak kapan masakan mama mu seenak ini." seloroh Jeffri.


"Ah, papa." Aini mencubit lengan Jeffri dan Clara pun tertawa.


***


Usai mengunjungi orang tuanya, Ferdi tak lantas mengemudikan mobil untuk pulang ke rumah. Ia kini mengajak Clara menuju ke suatu tempat.


"Ini kita mau kemana, Fer?" tanya Clara pada sang suami. Sebab tadi agendanya setelah berkunjung ke rumah Jeffri, mereka akan pulang.


"Pokoknya kamu ikut aja, abis ini aku mau kasih hadiah buat kamu." ucap pemuda itu.


Ferdi teringat jika ia ada uang hadiah pernikahan dari Nathan, tiba-tiba ia ingin membelikan sesuatu untuk Clara. Ia berpikir cepat, hal apa yang bisa membuat Clara bahagia. Dan kemudian ia mendapatkan jawaban.


"Fer, kita ngapain ke toko perhiasan?" tanya Clara pada Ferdi, ketika mereka telah berada di muka toko tersebut.


"Ya beli perhiasan, Clara. Masa beli paku payung." seloroh Ferdi.

__ADS_1


"Buat apa?"


"Buat di pake lah, masa buat jadi gantungan kunci."


Ferdi melangkah ke dalam diikuti Clara. Mereka kemudian di sambut baik oleh karyawan yang bekerja disana.


"Kamu sukanya pake apa. Kalung, anting, gelang atau cincin?" tanya Ferdi.


"Tapi cincin udah ada cincin pernikahan kita." ujarnya lagi.


"Ini kamu mau beliin aku?" lagi dan lagi Clara bertanya.


"Iya, kamu pilih gih mau yang mana."


Ferdi berani menyuruh seperti itu, sebab ia tau range harga dari perhiasan yang dijual di toko tersebut. Ia sering menemani Aini ibunya, membeli disana."


Kualitas perhiasan ditempat itu bagus, namun harganya tak sampai milyaran. Paling mahal pun ada di harga berapa ratus juta dan itu pasti limited edition. Untuk yang dipajang di dalam kotak kaca semuanya masih bisa di tolerir.


"Tapi, Fer ini lumayan mahal loh." ujar Clara.


"Nggak apa-apa, asal jangan minta beliin setoko. Aku nggak sanggup bayar kalau segitu."


Gaya ceplas-ceplos Ferdi dalam bicara membuat Clara jadi tertawa. Ia tau Ferdi anak orang kaya-raya. Tapi ia juga tau persis kalau Ferdi tak bergantung pada orang tuanya dan mencari uang sendiri.


Clara rasanya tak tega membeli sesuatu yang tak begitu penting baginya. Namun karena Ferdi yang meminta, Clara pun ingin menghargai pemberian suaminya itu. Maka ia memilih sebuah kalung yang harganya cukup terjangkau.


"Kamu yakin mau ambil yang itu, nggak mau yang lain?"


Clara berterima kasih saat karyawan counter perhiasan itu, menyerahkan apa yang telah dibelikan oleh suaminya. Mereka kini melangkah keluar.


"Makasih ya, Fer. Perhiasannya aku suka." ujar Clara ketika mereka telah berada di luar dan berjalan mengitari mall tempat dimana counter perhiasan tadi berada.


"Sama-sama." ucap Ferdi.


"Nanti gantian aku yang beliin kamu sesuatu." ujar Clara lagi.


Ferdi hanya tertawa kecil menanggapi ucapan tersebut.


"Oh ya, laper lagi nggak kamu?" tanya Ferdi pada Clara.


"Kita makan yuk, sekalian ntar beliin buat anak-anak." lanjut pemuda itu.


"Kita masak aja nanti, Fer. Jangan beli terus, ntar jadi kebiasaan."


"Oh ya udah, ada bahan apa aja dirumah?. Nanti aku bantuin masak." ujar Ferdi.


"Mmm..."


Clara coba mengingat-ingat. Namun kemudian ia pun sadar jika bahan makanan di kulkas juga telah habis.

__ADS_1


"Yah sama aja, bahannya abis juga." ucap Clara sambil nyengir.


Saat ia melakukan hal itu, ia persis seperti Axel. Bisa dipastikan jika Axel menurun sifat ibunya. Walau ibunya agak sedikit lebih kalem.


"Ya udah gini aja, kita belanja buat keperluan dapur. Terus kita masak." ujar Ferdi.


"Kan lumayan bisa hemat sampai besok-besok." lanjutnya kemudian.


"Oke deh." Clara menyetujui.


Mereka lalu pergi berbelanja. Keduanya banyak berdiskusi mengenai beberapa bahan. Ada yang Clara tidak ketahui, dan ada pula yang tidak Ferdi pahami.


Mereka saling memberitahu mengenai hal tersebut. Sesekali mereka terlihat tertawa-tawa. Karena di setiap hal yang mereka temui, selalu saja ada hal lucu yang berhasil mereka gali.


***


Dari sebuah sudut.


"Udah Jess, belajarlah melupakan. Jalani hidup yang baru, cari cowok lain."


Mira, salah satu teman Jessica kini mengajak perempuan itu untuk berbelanja ke sebuah swalayan.


"Nanti lo gue kenalkan sama cowok baru, ngapain lo ngarepin si Ferdi. Dia aja udah nggak mikirin lo lagi. Dia senang-senang, lo kurus kering kagak makan-makan. Pokoknya balik ini gue masak, lo harus makan."


Mira berujar panjang lebar. Sementara Jessica mengikuti langkah temannya itu.


"Di sekitar sini, suka ada bule ganteng tau." ucap Mira lagi. Mereka kemudian membelokkan trolly ke barisan Frozen food.


Namun tiba-tiba keduanya sama-sama terdiam. Tatkala mata mereka menatap Ferdi dan Clara yang tengah memilah-milah nugget di dalam sebuah kotak pendingin.


Jantung Jessica langsung berdegup kencang. Emosi dan kesedihan mendadak merebak di pelupuk matanya. Perempuan itu kemudian pergi begitu saja.


"Jessica."


"Jess."


"Jessica."


Mira akhirnya menyusul Jessica dan meninggalkan belanjaan. Sementara Ferdi dan istrinya kini memasukkan Frozen food ke dalam trolly.


"Apa lagi ya, Fer?" tanya Clara pada Ferdi.


"Ya, apalagi yang anak-anak suka. Coba kamu ingat-ingat dulu." ucap Ferdi.


Clara diam sejenak.


"Oh iya, sereal coklat sama corn flakes." ujar Clara.


"Disebelah sana."

__ADS_1


Ferdi menunjuk ke suatu arah, Tempat dimana produk sereal berada. Maka mereka pun lalu menuju ke tempat tersebut.


__ADS_2