
Flashback kepada saat anak-anak merasa bingung soal siapa yang mengirim laptop gaming pada Arvel.
"Coba deh sini, Axel chat papa ya." ujar Axel pada Arvel.
"Oke." jawab Arvel.
Axel lalu mengeluarkan handphone dan mulai mengirim chat pada Nando.
"Pa, koq cuma abang Ar yang dibeliin?" ujarnya.
Tak lama Nando pun membalas.
"Beliin apa?" tanya pria itu.
"Itu yang tadi papa kirim. Axel sama bang Anzel udah liat semua koq. Dikasih tau sama bang Arvel."
"Kirim apaan sih?. Kamu tuh mau ngomong apa?. Papa lagi sibuk kerja ini."
Axel lalu menunjukkan chat tersebut pada Arvel dan juga Anzel. Karena masih penasaran, Arvel pun ikut mengirim chat pada ayahnya itu.
"Papa koq tiba-tiba kirimin Ar ini?" tanya nya kemudian.
Di tempatnya nando mengerutkan kening.
"Kalian tuh kenapa sih dari tadi?. Papa ngirim apa emangnya?"
Nando balik bertanya, dan ketiga anak itu kini malah semakin bingung.
"Ini tulisannya dari papa, papa yang mana?" tanya Arvel.
"Oh gue tau, bang." Axel tiba-tiba nyeletuk.
"Tau apa?" tanya Arvel dan Anzel di waktu yang nyaris bersamaan.
"Ini pasti perbuatan om Ferdi." ujar Axel yakin.
Arvel dan Anzel mengerutkan dahi. Bagaimana mungkin pikiran Axel bisa menuduh ayah tiri mereka itu.
"Apa hubungannya coba?" tanya Anzel heran.
"Oh jelas ada dong korelasinya." Axel mulai berlagak sok pintar dihadapan kedua kakaknya tersebut.
"Pertama, om Ferdi itu suaminya mama." ujarnya lagi.
"Iya yang bilang dia suaminya papa siapa?" celetuk Anzel sewot, sementara Arvel kini tertawa.
"Nah berdasarkan fakta tersebut, bisa aja kan om Ferdi mengirim semua ini. Dia sengaja menulis dari papa, karena pengen kita panggil dia papa."
Arvel dan Anzel saling menatap satu sama lain. Tak dan satu pun dari mereka yang mengakui jika teori tersebut benar. Mereka malah ingin tertawa, namun takut nanti Axel akan ngambek.
"Jadi maksud lo, kita harus nanya ke om Ferdi?" tanya Arvel.
"Iya." jawab remaja itu dengan nada pasti.
__ADS_1
"Kalau nanti om Ferdi datang, langsung kita sergap aja. Sekalian Axel mau nanya, kenapa yang dibeliin cuma bang Arvel. Sementara Axel sama bang Anzel nggak."
"Jadi semua ini demi kepentingan lo, bukan buat kepentingan abang Ar?" tanya Anzel seraya menahan senyum.
"Ya, buat dua-duanya." ujar Axel.
"Buat tau siapa yang ngirim sebenarnya, dan buat tau juga kenapa cuma satu." lanjutnya lagi.
Arvel dan Anzel saling menatap satu sama lain sambil tersenyum.
"Ya udah, kita tunggu om Ferdi aja." ujar Anzel.
"Oke." jawab Axel kemudian.
***
Kembali ke saat Ferdi dan Clara makan di kantin rumah sakit. Saat itu makanan telah hampir habis. Namun Clara merasa sedikit mual dan tak begitu nyaman di perutnya. Ia lalu menyudahi makan dan minum air putih agak banyak.
"Koq nggak dihabiskan?" tanya Ferdi kemudian.
"Kenyang, Fer. Udah kebanyakan air." jawab Clara.
Ia tak mengadukan masalah perutnya yang ingin muntah. Sebab perasan itu cukup tipis dan tak terlalu terasa. Namun mampu membuatnya kehilangan selera makan.
Lagipula ia belum tau, suaminya itu penjijik atau tidak, bila hal tersebut diceritakan pada saat tengah makan seperti ini.
"Turunin dulu airnya, nanti makan lagi." ucap Ferdi.
"Aku suapin, ya."
"Kenyang, Fer. Kamu mah."
Tiba-tiba Clara ngambek dan hal tersebut cukup mengagetkan Ferdi. Sebab hari-hari sebelumnya ia tak seperti itu.
Namun Ferdi kemudian berpikir, mungkin dirinya terlalu memaksa dan Clara memang sudah tak ingin makan lagi. Maka ia pun tak ingin membicarakan hal tersebut lebih lanjut.
"Ya udah kalau kamu nggak mau." ucap Ferdi dengan nada yang lembut.
Seketika Clara pun langsung tersenyum, seperti orang berkepribadian ganda yang mendadak split.
"Kita balik ke kamar abang Ar yuk!" ajak Ferdi ketika telah cukup lama mereka menurunkan makanan yang mereka makan.
"Ayo!" jawab Clara sambil berdiri.
Namun kemudian Clara merasa pandangannya tiba-tiba menjadi gelap. Ia diam sejenak di tempat dimana ia berdiri.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Ferdi khawatir.
"Ini Fer, penglihatan aku gelap gitu." jawabnya.
"Oh, itu mah biasa. Dari duduk langsung berdiri emang sering begitu." ucap Ferdi.
"Iya sih." tukas Clara sambil terus menetralkan pandanganya. Ferdi dengan setia menunggu istrinya tersebut.
__ADS_1
"Masih?" tanya Ferdi setelah beberapa saat.
Clara menggeleng. Tak lama ia pun menggandeng lengan istrinya itu dan mereka mulai berjalan kembali, menuju ke kamar Arvel.
***
"Pak Nando, ini ada banyak surat yang belum bapak baca." ucap sekretaris Nando pada pria itu.
Nando pun kemudian melihat ke arah tumpukkan surat-surat tersebut.
"Bereskan saja dan masukkan ke dalam satu amplop besar, biar nanti saya baca di rumah." ucap Nando.
"Baik pak."
sekretarisnya tersebut kemudian membereskan surat-surat itu, termasuk surat yang dilayangkan oleh Clara beberapa hari lalu dan memasukkannya ke dalam satu amplop coklat besar.
"Saya tarok disini ya, pak. Biar nanti langsung bapak bisa bawa pulang." ujarnya lagi.
"Baik." jawab Nando.
Tak lama sekretarisnya itu kembali keluar dan Nando melanjutkan pekerjaan.
***
"Aaaakh."
Clara tiba-tiba memegangi kepalanya, ketika ia dan Ferdi telah sampai di pintu kamar Arvel.
"Kamu kenapa?" tanya Ferdi panik.
Anak-anak yang berada di dalam kamar pun kini menoleh ke arah ibu mereka tersebut.
"Kenapa, ma?" tanya mereka serentak.
"Nggak tau ini kepala mama tiba-tiba pusing." ujar Clara.
Ferdi membantu wanita itu untuk berjalan dan duduk di sofa.
"Kamu butuh dokter, obat atau apa?" tanya Ferdi.
"Nggak apa-apa, Fer. Ini kayaknya aku kecapean deh." ujar Clara sambil berusaha tersenyum.
"Mau minum?"
"Nggak usah, tadi udah cukup banyak minum koq."
"Ya udah, kamu istirahat dulu gih!"
Clara lalu menyandarkan tubuhnya di sofa. Anzel menyerahkan bantal pada Ferdi dan Ferdi langsung meletakkan bantal tersebut di belakang tubuh sang istri.
"Aku mau rebahan deh Fer, rasanya." ucap Clara.
Ferdi pun lalu membantu istrinya tersebut untuk merebahkan diri. Setelah beberapa menit berlalu, Clara merasa tubuhnya sedikit lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1