Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Marah


__ADS_3

"Heh, Nando."


Clara menarik Nando yang baru saja keluar dari mobil. Ia berada tepat di halaman parkir kantor cabang.


"Apa-apaan kamu?"


Nando bertanya dengan nada gusar sambil menepis tangan Clara.


"Lo yang apa-apaan?"


Clara mendorong dada Nando dengan kasar, hingga menyebabkan Nando naik pitam.


"Biasa aja dong dorongnya." ujar Nando dengan nada sedikit tinggi.


"Kenapa lo jual aset berharga milik perusahaan papa?"


Nando diam dan menatap ke arah Clara. Ia sedikit terkejut soal Clara yang ternyata telah mengetahui hal tersebut.


"Jawab!"


"Nggak ada urusan sama kamu, aku pemimpin disini." ucap Nando.


"Jangan lupa ini terhubung ke kantor pusat dan aku yang memimpin disana." ujar Clara.


Nando menarik salah satu sudut bibirnya seraya tersenyum tipis.


"Kamu boleh lebih kaya, Clara. Tapi kamu bodoh." ucapan Nando tersebut membuat kemarahan di hati Clara menjadi kian memuncak.


"Di dalam surat perjanjian yang dibuat mendiang ayah kamu, tertulis bahwa yang memimpin perusahaan cabang, bebas mengambil kebijakan sendiri. Dan penjualan aset itu adalah kebijakan baru dari aku."


"Plaaaak."


Sebuah tamparan mendarat di pipi Nando. Menjadikan waktu seakan terhenti seketika.


"Kurang ajar kamu ya."


"Plaaaak."


Nando balas menampar Clara, bahkan hingga tiga kali. Membuat semua orang yang melihat kini mendekat. Termasuk sejumlah karyawan dan seseorang yang baru tiba.


"Woy apa-apaan lo?" ujar orang tersebut dengan penuh kemarahan. Tanpa banyak berkata Nando juga menghajar pria itu. Akhirnya perkelahian sengit pun tak dapat dihindari.


"Kalau lo berani jangan sama cewek, brengsek."


Clara bisa mendengar kemarahan pemuda itu, ketika dirinya ditarik dan di amankan oleh karyawan lain. Sementara si pemuda terus memukul sambil berteriak.


"Bos macam apa yang mempekerjakan bajingan kayak lo."


"Fraaans."


Igor datang kepada Frans dan menariknya.

__ADS_1


"Lepasin gue!"


Frans memberontak ketika Nando nyaris babak belur ditangannya.


"Frans, dia adalah orang yang mau kita temui. Dia bos disini."


Perkataan Igor tersebut sontak membuat Frans terdiam. Pagi itu mereka memang di daulat oleh Jeffri untuk datang dan melobi sebuah kantor yang ada hubungannya dengan perusahan mereka soal pendistribusian barang. Frans benar-benar tidak tahu jika kejadiannya akan seperti ini.


Para karyawan penjilat membantu Nando untuk berdiri dan merapikan jas nya. Frans yang sudah terlanjur emosi tak ingin melanjutkan misi. Terserah bila Jeffri akan marah besar padanya nanti. Yang jelas kini ia berlaku begitu saja dan mencari dimana keberadaan Clara.


Ia telah beberapa kali bertemu wanita itu dan kini lain keadaannya. Ia sangat marah ketika si bos brengsek itu memukul perempuan yang ia sukai. Meski ia sendiri tak mengetahui apa motif dari bos tersebut.


"Gue akan laporkan laki-laki brengsek itu ke polisi." ucap Frans.


"Tahan dulu emosi lo, bro."


"Brengsek itu orang."


Frans kembali berujar Sambil melihat kesana-kemari. Namun tetap ia tidak menemukan Clara. Sebab Clara sendiri sudah pulang beberapa saat yang lalu.


***


"Pak Wir, tolong suruh orang untuk cek orang yang sudah menolong saya tadi."


Clara berkata pada pak Munawir. Salah satu karyawan kantor cabang yang kini menjadi supir dadakan baginya.


"Kalau terjadi apa-apa sama dia, tolong biayai pengobatannya dan ganti rugi." lanjut wanita itu.


Maka Clara pun mengangguk.


"Saya nggak habis pikir sama mendiang papa saya. Bisa-bisanya dia membuat surat wasiat yang merugikan pihaknya sendiri." Clara berujar seakan menyesali apa yang telah terjadi.


"Mendiang pak Danu kan memang begitu orangnya, bu. Kadang beliau suka mengeluarkan kebijakan ekstrim untuk mencapai sesuatu."


"Ya tapi nggak dengan cara kayak gini juga, pak." ujar Clara lagi.


"Setahu saya pada saat itu, perusahaan ayahnya Nando memang sangat maju pesat. Dan itu membuat penjualan kita menurun drastis, kita mengalami kerugian yang tidak sedikit." ucap pak Munawir.


Clara memperhatikan pria yang sudah cukup tua itu.


"Makanya pak Danu ngotot untuk menikahkan kalian. Supaya perusahaan ayahnya Nando bisa bekerjasama dengan kita. Saat itu keluarga Nando meminta jaminan, dan pak Danu mengangkat Nando sebagai pemimpin cabang dengan sebuah perjanjian."


"Hhhhhh."


Clara menarik nafas panjang..


"Saya pikir yang kayak gini tuh cuma ada di sinetron atau novel online doang pak. Ternyata di dunia nyata juga ada." ucap Clara.


Pak Munawir tak lagi menyahut, ia kasihan jika harus menambahi beban Clara. Sebab kelakuan Nando sejatinya lebih dari apa yang Clara lihat saat ini.


**

__ADS_1


"Frans, lo kenapa?"


Ferdi bertanya dengan nada panik kepada Frans. Sebab kakaknya itu mendadak pulang ke rumah dalam kondisi berantakan serta di penuhi lebam.


Saat itu Ferdi tengah bersiap berangkat ke kantor, sebab startup milik Nathan memang beroperasi mulai pukul 11 siang.


"Gue abis nonjok muka partner bisnisnya papa." jawab Frans lalu masuk kedalam. Pemuda itu kini mengambil segelas air putih. Sedang Ferdi menunda niatnya untuk pergi.


"Aduh itu kamu kenapa?"


Aini yang tampak sedang menelpon seseorang sambil berjalan itu kaget, melihat putera pertamanya yang babak belur. Ia mendekat dan memperhatikan. Ingin memegang wajah Frans, tapi takut kukunya yang baru dipasang kutek akan rusak.


"Ferdi, Fer. Itu dibantu kakaknya." ujar Aini.


"Iya, ma. Ini juga lagi ngambil obat sama peralatan koq." ucap Ferdi.


Pemuda itu tiba dengan mangkuk stainless steel berisi air dingin serta kotak P3K. Frans kemudian naik ke atas dan disusul oleh Ferdi. Sebab bila dibawah, Aini akan menjadi komentator dari apa yang akan Ferdi lakukan.


Ia akan mengatakan harus begini, jangan begitu. Tetapi ia sendiri hanya bicara dan tak membantu apa-apa. Ini lazim terjadi di rumah mereka, ketika ada yang terluka. Sebab Aini memang lebih peduli pada kukunya.


"Lo kenapa sih bisa kayak gitu?"


Ferdi bertanya pada Frans ketika mereka telah berada dikamar atas. Pemuda itu kini mengompres lebam yang ada di wajah sang kakak.


"Ya, dia gebukin cewek depan gue." jawab Frans.


"Gebukin cewek?" tanya Ferdi.


"Iya, makanya gue marah."


Ferdi pun mengingat kejadian saat dirinya membantu si mbak-mbak cantik.


"Partnernya papa itu cowok?" tanya Ferdi lagi.


"Lah iya cowok, makanya gue marah. Kalau misalkan cewek mah, mau jambak-jambakkan bulu ketek juga nggak apa-apa. Gue diemin palingan. Ini cowok, anjir. Mukul cewek sampe dua-tiga kali di muka umum, depan muka gue. Kesel nggak lo?"


"Iya sih, gue juga pernah koq nonjok muka mantan laki orang. Gara-gara dia nyekek leher mantan bininya itu di muka umum." tukas Ferdi.


"Makanya, gue nggak abis pikir." ucap Frans.


"Mana ceweknya yang gue suka lagi." lanjutnya kemudian.


"Yang lo bilang waktu itu ke gue?" Untuk kesekian kalinya Ferdi bertanya.


"Iya, dan dia hilang abis gue tolongin. Padahal gue pengen tau keadaan dia."


Ferdi menghela nafas panjang. Lalu memberi obat pada sudut bibir Frans yang tadinya berdarah.


"Terus papa gimana ngeliat lo gini?"


"Awalnya dia marah. Karena udah ada dari pihak ono yang ngadu ke dia, soal gue mukulin si bos itu. Papa mencak-mencak dan bilang kalau gue terlalu ikut campur urusan orang. Tapi akhirnya pas gue jelasin dia ngerti." jawab Frans.

__ADS_1


Ferdi menghela nafas dan melanjutkan pengobatan


__ADS_2