
"Cieeee yang mau nikah terpaksa, tapi terlanjur suka."
Nova meledek Ferdi yang baru tiba di kantor. Ferdi tersenyum dengan pipi yang merona merah.
"Terpaksa tapi doyan."
Ferdi melanjutkan candaan dari temannya itu. Sehingga Nova dan yang lainnya kini terkekeh.
"Udah nyaman bercanda doi." Nova berkata seraya menatap ke arah Jordan dan juga Sean.
"Kemarin-kemarin aja, murung mulu. Kayak lagi di kejar debt collector."
Jordan dan Sean tertawa. Ferdi kini mulai menghidupkan MacBook miliknya.
"Persiapan lo udah berapa persen, bro?" tanya Jordan pada Ferdi.
"Persiapan apa nih?" Ferdi balik bertanya.
"Lamaran lo."
"Adalah 90%." jawab Ferdi.
"Pokoknya pas lamaran, gue ikut ya. Biar kalau keluarganya Clara ada yang songong, gue sama Sean bisa pites kepalanya."
Ferdi tertawa mendengar semua itu.
"Iya, ntar lo paling depan deh." ujar Ferdi.
"Tau nggak Fer, semalem Jordan niat jahat."
Sean ikut nimbrung pembicaraan.
"Jahat?. Jahat gimana?" tanya Ferdi heran.
"Dia bilang kalau ntar Ferdi lamaran, disuruh bawa hantaran kue yang banyak. Mau di ganti squishy sama dia." ujar Sean lagi.
"Iya juga ya, ide bagus tuh." Ferdi malah terlihat bahagia.
"Hmm, lu mah sama aja."
Sean menoyor kepala Ferdi. Para karyawan start up itu pun terus tertawa-tawa, sampai kemudian Nath datang. Mereka langsung diam dan duduk di meja masing-masing.
"Napa lu pada?. Gue datang langsung siaga gitu?. Berasa kepala sekolah yang lagi sidak gue."
Nath menatap heran pada mereka semua. Kadang ia datang ingin ikut nimbrung bicara atau sekedar ikut bercanda. Namun rasa segan yang masih dimiliki Ferdi serta teman-temannya, sering menjadikan Nath tak diajak dalam beberapa situasi.
"Kagak, emang udah waktunya kerja aja pak."
Nova menyelamatkan semuanya.
"Oh, ok. Selamat bekerja semuanya."
"Selamat bekerja pak Nath."
Mereka semua berujar serentak, tak lama Nath pun menghilang di balik pintu ruangannya.
***
Di sebuah sekolah.
"Si Arvel kenapa ya?"
__ADS_1
Salah satu teman Arvel yang bernama Randy bertanya pada teman lainnya, ketika mereka memperhatikan Arvel dari kejauhan.
"Kenapa apanya sih?" Angga balik bertanya, diikuti tatapan Iqbal.
"Iya, dia diem banget dua hari ini." ujar Randy lagi.
Angga dan Iqbal saling bersitatap.
"Arvel kan emang bentukannya udah diem begitu." celetuk Angga.
"Iya, tapi nggak sependiam ini juga. Dia hari-hari masih gabung sama kita, ngobrol normal walaupun irit. Tapi dua hari ini dia lebih pendiam lagi, dan dia jadi suka menyendiri kayak gitu."
"Iya juga sih." Iqbal menyetujui pendapat Randy.
Ketiga siswa tersebut kembali memperhatikan Arvel.
"Udeh deketin aja, siapa tau lagi ada masalah."
Randy berinisiatif.
"Arvel jatuh cinta kali, bro." Iqbal menebak-nebak.
"Iya kali ya?"
Randy yang hendak mendekat ke arah Arvel tersebut, kini sedikit terdiam.
"Udalah, tanya aja yuk." ujarnya kemudian. Mereka pun lalu mendekat ke arah Arvel.
"Bro, kenapa lo?"
Randy langsung to the poin.
"Kenapa apanya?" Arvel balik bertanya pada temannya itu.
Angga menimpali ucapan Randy. Sedang kini Arvel menarik nafas panjang dan membuang pandangannya ke suatu sudut.
"Nggak ada." ujarnya kemudian.
"Jangan bohong lo."
Randy seakan tidak percaya dengan pengakuan temannya itu. Sebab Arvel bukan tipe anak yang bisa berbohong, terutama pada teman terdekatnya sendiri. Lagi-lagi Arvel pun menghela nafas.
"Mending lo cerita ke kita, dari pada dipendam sendiri. Lo lagi suka sama cewek kan?" Iqbal tiba-tiba menjudge.
"Nggak."
"Terus?"
Arvel kembali diam untuk beberapa saat. Hingga kemudian,
"Nyokap gue mau nikah lagi." Remaja itu akhirnya jujur.
"Hah?" Ketiga temannya pun terkejut.
"Serius?" tanya mereka serentak.
Arvel mengangguk, namun salah satu temannya malah antusias.
"Kita di undang nggak nih?. Makan-makan dong nanti."
Sebuah keplakan mendarat di kepala Iqbal. Randy dan Angga kompak memberi kode pada teman mereka itu, untuk jangan terlihat gembira. Sebab wajah Arvel saat ini tidak demikian.
__ADS_1
"Gue salah ngomong ya, Vel. Sorry ya, soalnya gue pikir lo seneng mau dapat bapak baru."
Lagi dan lagi Arvel menghela nafas panjang.
"Masalahnya gue nggak tau, nyokap gue itu mau nikah sama siapa. Gimana orangnya, baik atau nggak. Gue takut nyokap gue cuma dimanfaatin doang." Arvel menjatuhkan pandangan ke bawah.
"Emangnya nyokap lo belum ngenalin?"
Randy kembali bertanya, dan Arvel menggelengkan kepalanya.
"Gue takut nyokap gue salah pilih, Ran. Terlepas dari apapun kepentingan di balik pernikahan itu nantinya."
Ketiga sahabat Arvel saling menatap satu sama lain, kemudian mereka mencoba menghibur anak itu.
"Libatkan kita, Vel. Ntar kalau bapak tiri lo songong, bisa kita sikat."
Angga berujar, diikuti anggukan yang lainnya. Arvel pun hanya bisa membalas dengan sebuah senyuman yang tipis.
***
Tak jauh berbeda dengan sang kakak, Anzel pun kini kepikiran terhadap sang ibu. Tetapi ia tak menceritakan hal tersebut kepada siapa-siapa, melainkan ia simpan sendiri.
Hanya saja hal tersebut kini mempengaruhi performanya di lapangan. Sebagai bintang basket tentu saja ini menjadi pertanyaan banyak orang. Mengapa Anzel yang biasa bermain bagus, kini justru malah terlihat begitu jelek.
"Lo lagi kenapa, bro?"
Salah satu rekan team Anzel mulai bertanya. Anzel kemudian mengalah dengan menghentikan permainan.
"Gue mau Istirahat dulu, bro. Gue nggak enak badan." dustanya.
"Oh, pantesan lo mainnya ngaco. Sana istirahat dulu, ke UKS aja tuh. Biar lo di kasih perawatan.
"Iya, gampang."
Anzel pun berlalu meninggalkan lapangan dan menuju ke kelas.
***
Sore hari.
Ferdi kembali ke Dojo di temani oleh Jordan dan juga Sean. Penyakit orang yang berolahraga memang begitu. Sekalinya kembali latihan dari malas yang tidak ketulungan, pada akhirnya akan menjadi rajin kembali secara perlahan.
Karena tubuh seorang menagih untuk terus latihan lagi dan lagi. Hari itu mereka bak-buk, bak-buk di salah satu ruangan. Hingga menyebabkan sebagian tulang terasa nyeri. Namun semuanya terasa begitu seru.
Ferdi bisa mengurangi ketegangannya dalam menghadapi lamaran dan pernikahan nanti. Sebab mau cinta sebesar apapun terhadap wanita yang akan dinikahi. Para pria biasanya akan dilanda gugup dan juga ketakutan. Takut bila di acara nanti mereka tak bisa terlihat tenang.
"Udah dulu, bro. Mau meninggoy gue rasanya."
Jordan berseloroh, sebab ia memang terlihat sudah sangat capek sekali.
"Gue laper." ucap Sean.
"Ya udah pada makan yuk ke depan." ajak Ferdi.
Jordan dan Sean pun mengangguk. Maka setelah minum air putih dan beristirahat sejenak, mereka bertiga pun pergi keluar.
Disana mereka menuju ke pedagang yang biasa mangkal. Namun kemudian Sean menyikut Ferdi.
"Kenapa?" tanya Ferdi heran.
"Adek lo noh."
__ADS_1
Sean menunjuk ke arah Axel yang tampak duduk termenung, sambil membuang tatapan ke suatu arah. Ferdi menangkap adanya kesedihan di mata remaja itu. Tak lama ia pun mendekat ke arah sana.