Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Terendus


__ADS_3

Ninis mulai mengendus perselingkuhan yang dilakukan oleh Nando. Pagi ini ia benar-benar bersikap sangat baik pada suaminya itu. Meski Nando masih acuh tak acuh, namun Ninis tengah membuat rencana.


Ia melayani suaminya dengan baik, kemudian. Nando pamit pergi untuk berangkat ke kantor. Nando tak curiga pada Ninis sedikitpun. Padahal perempuan itu kini menguntit dibelakang, dengan menggunakan jasa ojek online.


Nando berangkat ke kantor dan tak menyimpang kemana-mana. Tetapi Ninis tetap curiga dan ia sengaja nongkrong di warung seberang kantor sang suami. Ia akan terus mengikuti Nando kemanapun ia pergi seharian ini. Ia ingin menangkap basah si pelakor.


Sebab semalam ia menemukan chat dari seorang wanita yang mengajak suaminya untuk bertemu.


Sementara dilain pihak, jauh sebelum Ninis menguntit sang suami. Clara kembali muntah-muntah akibat kehamilannya. Ia sampai mengeluarkan air mata karena rasa ingin muntah itu cukup parah.


Ferdi memeluk sang istri dan mencoba menenangkannya. Ia juga langsung membuatkan susu hangat serta sarapan untuk wanita itu.


"Mual, Fer." ucap Clara dengan nada lemah. Ia telah muntah sebanyak tiga kali dan tubuhnya kini terasa lemas.


Hati Ferdi tentu saja terpukul mendengar itu semua. Ia merasa sangat bersalah sudah membuat Clara demikian. Meski anak yang di kandung Clara adalah hal yang juga sangat ia inginkan.


"Maafin aku ya, ini semua gara-gara aku." ucap Ferdi.


Clara kini tertawa kecil di sela-sela rasa ingin muntahnya yang masih terasa.


"Karena perbuatan otong kamu." ucap Clara.


Ferdi yang tertawa kali ini, meski hatinya sangat khawatir.


"Iya, si otong tegang mulu kalau liat kamu. Abis kamu cantik sih." ucapnya lagi.


"Jadi melendung deh." tukas Clara.


"Oh iya, udah mulai buncit ya kamu keliatannya." ucap Ferdi seraya menatap perut Clara yang memang sudah mulai menyembul.


"Eee, sorry."


Ferdi menyadari mungkin ucapannya akan membuat Clara menjadi insecure. Sebab ini sudah menyangkut kepada perubahan fisik dari si istri.


"Nggak apa-apa koq, emang buncit." Clara memperhatikan perutnya sendiri sambil tersenyum.


"Ini satu-satunya buncit yang menyenangkan bagi aku." ujarnya.


"Kalau karena lemak, aku pasti udah gila dan harus diet." ujarnya lagi.


Ferdi tersenyum lalu mencium kening sang istri.


"Minum susu sama sarapan dulu ya." ucap Ferdi kemudian.


"Nanti aku suapin pelan-pelan." ujarnya lagi.


Clara sejatinya masih belum memiliki selera makan. Namun ajakan sang suami yang begitu damai ditelinga, membuat ia akhirnya menurut.


Ferdi menyuapi Clara makan dengan sabar. Kemudian membiarkan istrinya itu untuk beristirahat dan tak pergi ke kantor.


"Anak-anak, kalian mau sarapan apa?"


Ferdi bertanya ketika ketiga anaknya telah bangun, namun mereka belum mandi dan bersiap karena ini masih begitu pagi.


"Om Ferdi mau bikinin sarapan?" tanya Anzel.

__ADS_1


"Iya, mama lagi nggak enak badan soalnya." ucap Ferdi.


"Mama sakit lagi?" tanya Arvel.


"Iya, dia mual-mual lagi dan muntah tadi." jawab Ferdi.


"Kasihan mama."


Tiba-tiba Axel nyeletuk dengan wajah sedih.


"Sana liat mama, nanti om bikinkan sarapan." ucap Ferdi.


Axel pergi ke kamar Clara, sementara Anzel dan Arvel kini beranjak untuk membereskan rumah.


***


Hari itu Ferdi bekerja dengan rasa khawatir yang cukup tinggi. Ia was-was meninggalkan Clara sendirian di rumah. Ia terus mengirim pesan pada istrinya itu dan bertanya tentang keadaannya.


Clara bilang tak perlu terlalu khawatir, sebab ia baik-baik saja dan akan segera melakukan konsultasi dengan dokter kandungan via aplikasi.


Ferdi bekerja seperti biasa, tak lama Nath menghampirinya dengan wajah penuh sumringah.


"Fer, aplikasi kita udah di download lebih dari dua juta orang." ucap Nath pada Ferdi.


"Oh ya?. Ferdi benar-benar senang mendengar hal tesebut.


"Iya, dan udah banyak investor yang mau bergabung sama kita. Karena mereka melihat progres dan visi-misi aplikasi ini sangat bagus ke depannya." ucap Nath lagi.


Ferdi menghela nafas puas, karena kerja kerasnya mulai membuahkan hasil.


"Oke." jawab Ferdi kemudian.


"Oh ya anak-anak lo gimana?" tanya Nath.


"Baik, tadi mereka sekolah." jawab Ferdi.


"Good."


Nath tersenyum lalu kembali ke dalam ruangannya.


"Eh, lo berdua notice nggak sih. Kalau setiap pagi pak Nath nyamperin Ferdi dan menanyakan hal yang sama. Tentang anak-anak tirinya Ferdi."


Nova bertanya pada Jordan dan juga Sean dengan suara yang pelan. Agar tak didengar Ferdi maupun Nath yang ada di dalam.


"Ya emang kenapa kalau pak Nath menanyakan hal tersebut?" tanya Jordan.


"Iya, perasaan biasa aja deh." timpal Sean.


"Ya, tapi menurut gue aneh aja. Masa pak Nath nanyain hal yang sama setiap hari. Kayak pengen tau banget kabar anak-anaknya Ferdi." tukas Nova lagi.


"Sekedar basa-basi doang kali." Sean berujar pada gadis itu.


"Bener, soalnya nyari topik obrolan itu gampang-gampang susah." Jordan menimpali.


Sejatinya penjelasan kedua temannya itu sangat masuk akal. Tetapi tetap saja Nova merasa ada yang aneh.

__ADS_1


"Dah, kerja. Jangan gosip mulu." ucap Jordan.


Nova lalu nyengir dan kembali berkutat dengan komputernya.


***


Siang hari, Mobil Nando tampak meninggalkan kantor dan Ninis yang masih mengintai segera menyetop sebuah taksi. Ia lalu meminta si supir untuk mengikuti mobil Nando.


Jantung wanita itu berdegup kencang. Sama seperti Clara yang dulu hendak memergoki perselingkuhan Nando, saat Nando masih menjadi suaminya.


Ninis berharap-harap cemas dan kecurigaan wanita itu kian bertambah, ketika Nando akhirnya membelokkan mobil ke sebuah kawasan apartemen.


Ninis turun agak jauh, kemudian ia berjalan seperti pengunjung apartemen lainnya. Ia mengikuti Nando sampai ke area parkir.


Tak lama Nando keluar dan sesosok perempuan muda nan cantik kemudian menghampirinya. Perempuan muda itu tampak menenteng plastik dari sebuah minimarket. Sepertinya nya ia baru saja belanja.


"Om."


Si perempuan memeluk Nando dan begitupun sebaliknya. Hati Ninis mendadak panas dan dipenuhi kemarahan. Apalagi Nando kemudian tampak mengelus perut perempuan itu.


"Apa-apaan nih?"


Ninis mendekat dan langsung saja melabrak keduanya. Baik Nando maupun perempuan muda itu mendadak kaget. Tak lama orang sekitar mulai sadar dan memperhatikan tanda-tanda keributan diantara mereka.


"Lo pelakor kan."


Ninis mendorong terduga selingkuhan Nando, dan suaminya itu refleks menghalangi.


"Apa-apaan kamu?" tanya Nando dengan nada marah.


Hal yang sama terjadi saat dulu Nando lebih membela Ninis ketimbang Clara.


"Dasar pelakor, perebut suami orang. Perempuan gatel." teriak Ninis sambil berusaha menyerang, namun dihalangi oleh Nando.


Sedang orang-orang sekitar yang terdiri dari hamba konten dan budak FYP serta pengikut sekte viral, mulai mengambil handphone dan merekam hal tersebut. Tentu ini akan menjadi trending bila di lempar ke sosial media.


"Murahan lo, bangsat."


Ninis berteriak dan berusaha memberontak dari cengkraman tangan Nando. Ia berhasil, kemudian memukul si terduga selingkuhan dengan membabi buta.


"Plaaak."


"Buuuk."


"Buuuk."


"Stop!"


"Plaaak."


Nando menampar Ninis dengan tenaga laki-laki yang kuat. Hingga menyebabkan Ninis jatuh terjerembab. Ninis kaget pada Nando yang menjadi sekasar itu.


"Dia lagi hamil." teriak Nando pada Ninis.


Seketika dunia Ninis pun seakan menghitam. Ia benar-benar terpukul mendengar hal tersebut. Sementara para perekam terus melaksanakan aksinya. Sekuriti yang terlambat kini mulai berdatangan.

__ADS_1


__ADS_2