
Ferdi menjemput Clara seperti biasa. Saat masuk ke mobil, Ferdi langsung menyodorkan satu kotak berisi bola wijen pada istrinya itu.
"Asik, akhirnya di beliin." ucap Clara lalu makan.
"Nih minumnya."
Ferdi juga menyerahkan sebotol air mineral lalu menghidupkan mesin mobil. Tadi sebelum pulang, Clara bertanya apa di dekat kantor Ferdi ada yang menjual bola wijen. Sebab mendadak ia ingin sekali memakan cemilan tersebut. Ferdi bilang ada dan Clara ingin dibelikan.
"Enak nggak?" tanya Ferdi sambil menekan pedal gas mobil secara perlahan.
Clara lalu menyuapi suaminya itu.
"Nih, enak tau." ujarnya.
Ferdi menerima suapan tersebut dan rasanya memang enak. Selama ini ia hanya lewat di muka pedagangnya tanpa pernah membeli.
"Anak kamu mintanya ada-ada aja, Fer." ucap Clara.
"Sebelum hamil dia, aku nggak ada kepengen ini dan itu." lanjutnya.
"Nggak apa-apa." ujar Ferdi.
"Asal jangan minta yang aneh-aneh aja. Kayak nyuruh aku manjat pohon kelapa, atau nyuruh aku diving sambil mengumpulkan kerang ijo di teluk."
Clara tertawa.
"Orang ngidam nggak segitunya juga kali, Fer." ucap wanita itu.
"Siapa tau aja. Orang istri temannya Nath ada koq, yang hamil minta dibelikan kapal pesiar." tukas Ferdi.
"Itu mah ibunya aja yang pengen, tapi mengalaskan anak yang lagi dikandung." ujar Clara.
"Oh gitu ya?" tanya Ferdi sambil tertawa.
"Istri kedua sih, emang." tukasnya lagi.
"Apalagi bini kedua, itu mah cuma niat mengeruk harta dengan memanfaatkan kehamilannya." Lagi-lagi Clara berseloroh. Membuat Ferdi kian tertawa-tawa.
"Istrinya Ferdi julid ya." Seloroh Ferdi kemudian.
"Nggak boleh gitu loh sayang." Lanjutnya lagi.
"Kamu juga ngomongin dia istri kedua." ucap Clara.
"Oh iya ya, hahaha."
Ferdi makin tertawa, Clara memasukkan kembali bola wijen ke mulut suaminya itu.
"By the way kalau kamu suka ini, berarti kamu pernah jajan dong?" tanya Ferdi.
"Ini kan dibuat oleh pedagang kaki lima." lanjutnya lagi.
"Iya." jawab Clara.
"Terus kenapa melarang anak-anak jajan sampe segitunya?" tanya Ferdi lagi.
"Ya, namanya juga seorang ibu. Pasti pengen yang terbaik untuk anaknya." ucap Clara.
"Ya nggak segitunya juga, sayang. Kasihan loh dulu Axel kalau jajan sampe ngumpet-ngumpet di belakang abangnya. Karena takut dilaporkan ke kamu."
"Oh ya?" Clara menatap suaminya itu.
"Kan aku tau Axel itu udah lama. Walaupun aku nggak tau dia anak kamu." tukas Ferdi.
"Ada beberapa kali kami ketemu bahkan saling bicara satu sama lain. Keliatan banget kalau dia adalah anak yang dilarang orang tua buat jajan. Dia makan sambil ngeliat kanan kiri tau nggak."
Mendadak Clara dilanda rasa bersalah.
"Masa sih Fer, dia sampai kayak gitu?. Nggak tega tau aku dengernya."
"Emang sampe segitunya." ujar Ferdi.
__ADS_1
Clara lalu diam dan membuang tatapan ke dashboard.
"Iya deh, aku janji nggak akan sekeras dulu lagi sama mereka kalau soal jajan." tukas wanita itu.
***
Malam hari saat Clara sudah tertidur, Ferdi yang belum mengantuk pergi keluar kamar. Ia membuat kopi lalu duduk di balkon atas.
Ia meraih handphone dan membuka salah satu akun game online disana. Sudah lama sekali ia tidak memainkan game tersebut. Ia kemudian bermain dan surara dari game itu di dengar oleh Axel.
"Om Ferdi main pubg?" tanya Axel.
"Iya, mau ikut?" Ferdi balik bertanya.
"Mau, akun om apa namanya?" tanya Axel lagi.
Ferdi lalu membagi akun PUBG Mobile miliknya dan Axel meminta berteman dengan ayah tirinya itu. Ferdi menerima, tak lama mereka pun masuk ke ruang bermain.
"Om, turunnya jangan di paradise resort ya. Axel yang telah menyetujui permintaan turun bersama oleh Ferdi tersebut, berpesan pada sang ayah tiri.
Kenapa emangnya, seru tau." ucap Ferdi seraya memperhatikan layar handphone.
"Nggak mau ah, pada turun disana semua pemainnya. Ntar baru turun, kita udah diselesaikan." ujar Axel.
"Ya udah mau turun dimana nih?. tanya Ferdi seraya mengalihkan permainan menjadi mengikuti Axel.
"Kita cari tempat lain aja." ujar Axel.
Mereka lalu turun agak jauh dan melanjutkan permainan tersebut dengan mengumpulkan senjata serta logistik.
Waktu berlalu, secara tiba-tiba Anzel muncul di tengah-tengah permainan. Ia kaget ada Ferdi disana.
Tadinya Anzel sempat mencari Axel ke kamar. Namun karena tidak ada, ia pun mencari ke balkon. Sebab balkon adalah tempat favorit dari anak itu.
"Lo mau ngajak gue main PUBG bang?" tanya Axel.
"Iya, tapi lo lagi main ya?" Anzel balik bertanya.
"Bentar lagi selesai koq ini." jawab Axel.
"Iya." Lagi-lagi Axel menjawab.
Tak lama Anzel kembali lagi ke kamarnya. Ferdi dan Axel mengakhiri permainan dengan sebuah kemenangan.
Di detik-detik terakhir itu sempat beberapa kali karakter yang mereka mainkan terluka, akibat serangan dari kelompok lawan. Namun akhirnya mereka menang, sebab Axel melihat pergerakan musuh yang merayap di rerumputan.
"Main lagi ya om, sama abang." ajak Axel.
"Ya udah, invite lah abangnya." tukas Ferdi.
"Oke, kita undang bang Arvel sekalian. Ini dia lagi online soalnya."
"Oke." jawab Ferdi.
Axel mengundang kedua kakaknya dalam room match, dan mereka berdua menerima.
"Aktifkan suaranya om, biar seru." ucap Axel.
Ferdi pun menuruti. Tak lama kemudian mereka terlihat bermain bersama. Meski itu hanyalah permainan belaka, namun di dalamnya mereka saling membantu satu sama lain.
Axel senang melihat kedua kakaknya kadang membantu Ferdi, dan menyelamatkan ayah tiri mereka itu dari musuh.
Kadang Ferdi yang membantu mereka semua, sebab Ferdi paling jago diantara mereka bertiga.
"Om Ferdi pasti kerjanya main mulu nih. Jago banget anjir."
Axel menggosipkan Ferdi di muka orangnya secara langsung. Dan terdengar oleh Arvel dan juga Anzel melalui menu percakapan interaktif di dalam permainan tersebut.
"Anjay, ngomongin di depan orangnya langsung." ujar Anzel.
Ferdi tertawa.
__ADS_1
"Kan gue ngomongin hal bagus, bang." ucap Axel.
"Kalau nggak ada om Ferdi, gue yakin lo gosip lebih." Arvel menggoda sang adik.
"Lo kan lambe turah." celetuk Anzel..
Axel lalu meninju-ninju karakter milik Anzel dan Arvel yang ada di dalam game. Mereka semua pun tertawa-tawa.
Mereka terus lanjut dari satu permainan ke permainan berikutnya, hingga kemudian perut mereka sama-sama terasa lapar.
"Om, pengen mie instan." Axel berujar pada Ferdi.
"Ya udah, ayo." ajak Ferdi.
"Mama udah tidur belum tapi?"
"Udah, udah dari tadi." jawab Ferdi.
"Mau."
"Ya udah, ayo!."
"Lo mau makan sendirian, Xel?"
Anzel bersuara masih dari menu interaktif game yang mereka mainkan.
"Tau lo, payah." Arvel menimpali.
"Bilang aja mau, susah amat." Axel sewot.
Arvel dan Anzel tertawa. Tak lama kemudian mereka memasak mie instan bersama-sama, sambil berbicara satu sama lain.
Terlihat Arvel dan Anzel sudah mulai sedikit nyaman berbicara pada Ferdi. Mereka lalu makan, Ferdi mengambil nasi. Mata ketiga anak itu langsung tertuju padanya.
Sejenak mereka saling menatap dalam diam. Tak lama kemudian mereka sama-sama tertawa dan melakukan hal yang sama.
Saat tengah asik makan.
"Ehem."
Tiba-tiba Clara muncul, dan seketika mereka semua menjadi beku. Bahkan Axel baru membuka mulut untuk mendapatkan suapan berikutnya.
Tak lama Arvel tertawa lalu membawa mie instan miliknya menjauh dari meja makan. Begitupula dengan Anzel dan juga Axel.
Sementara Ferdi terjebak di tempat, sebab ia adalah kepala keluarga yang memimpin di dalam rumah. Ialah yang bertanggungjawab atas semua ini.
"Ferdi, anak-anaknya diajarin makan mie instan pake nasi. Malem-malem lagi."
Clara mengomel. Arvel, Anzel, dan Axel pindah ke ruangan sebelah sambil cekikikan. Dari tempat dimana mereka berada, mereka masih bisa melihat Ferdi dan juga Clara.
"Kamu daripada ngomel, mending ikut makan nih." Ferdi menawari.
"Nggak ah, nggak sehat begini." ucap Clara.
"Hap."
Ferdi memasukkan nasi dan mie ke mulut istrinya itu. Dengan terpaksa dan wajah sewot Clara pun mengunyah makanan tersebut.
"Kamu mah, istrinya diajarin nggak sehat."
Clara menggerutu sambil terus mengunyah, kini perutnya yang menagih minta lagi. Sebab ia merasakan enak di lidahnya.
"Enak kan?" tanya Ferdi sambil tertawa kecil. Clara diam namun masih memasang wajah sewot.
"Nih, lagi." tukas Ferdi sambil menyodorkan suapan kedua.
Clara pun akhirnya kembali makan dan hal tersebut membuat ketiga anaknya tertawa.
"Selama ada pawangnya, mama nggak akan berbahaya." ucap Anzel.
"Anzel, mama bukan buaya ya." ujar Clara sewot. Ia mendengar perkataan anak itu meski agak jauh.
__ADS_1
Arvel, Anzel, dan Axel terus cekikikan sambil makan.
"Udah bang, ntar di lempar sendal." ucap Axel.