Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Lelah


__ADS_3

"Aku nggak mau pokoknya."


Hari ini Clara benar-benar melelahkan Ferdi dengan tingkahnya yang diluar batas kesabaran. Ia ingin makan telur rebus, dan memasaknya sendiri. Tapi kemudian ia mendiamkan telur rebus tersebut dan tak makan apa-apa.


Hari sudah sedemikian tinggi. Namun perutnya masih kosong. Ferdi membujuk isterinya itu dan bertanya ia mau makan apa


"Mau makan gado-gado." jawab Clara.


Ferdi memesan makanan tersebut melalui laman ojek online. Namun ternyata ketika sampai tak sesuai ekspektasi.


"Aku maunya gado-gado pinggir jalan, Ferdi. Yang dijual bapak-bapak atau abang-abang." tukas Clara sambil menangis.


"Ini tuh nggak enak bumbu kacangnya cair begitu." lanjutnya lagi.


Ferdi yang masih muda berusaha untuk bersabar sambil mengelus dada.


"Ya udah, aku cariin ya. Abang...."


Ferdi memanggil ketiga anaknya yang berada di lantai atas.


"Kenapa pa?"


"Kenapa om?"


Ini mama gado-gadonya nggak dimakan. Dia nggak suka, padahal ini ratingnya tinggi loh." ujarnya.


"Ya udah sini, buat kita aja." ucap Axel.


"Nih bawa, papa mau cari gado-gado lain dulu. Mama mintanya yang dipinggir jalan." ucap Ferdi.


"Di ujung emerald 5 ada om." Anzel berujar pada ayah tirinya itu.


"Oh ya?" tanya Ferdi kemudian.


"Iya, ada." ujarnya lagi.


"Oke deh, jagain mama ya." ucap Ferdi lalu beranjak.


"Iya." jawab Anzel.


Ferdi pun pergi mencari abang-abang penjual gado-gado. Dan benar di jalan emerald 5 yang dimaksud, ada seorang penjual gado-gado. Saat tiba disana keadaan cukup mengantri. Sebab gado-gado tersebut ternyata terkenal dan memiliki rating yang juga tinggi di google.


"Kenapa tadi nggak beli uang ini aja." ucap Ferdi dalam hati.


Tak lama giliran ia memesan.


"Campur mas?" tanya si pedagang tersebut pada Ferdi.


"Iya boleh pak." jawab Ferdi kemudian.


Pedang gado-gado itu mulai membuat pesanan. Tak lama kemudian gado-gado tersebut pun jadi. Ferdi membayar kemudian pulang. Sesampainya di rumah, Clara sudah makan buah dan juga sereal.


"Fer, aku udah nggak pengen makan gado-gado. Buat kamu aja." ucap Clara.


Ferdi menghela nafas, ia mengingat istrinya saat ini tengah hamil. Wajar kalau keinginannya berubah-ubah.


"Ya udah kalau nggak mau." ucap Ferdi.

__ADS_1


Ia kemudian meletakkan gado-gado itu ke atas meja makan.


"Bang, ini kalau mau makan aja." ucap Ferdi pada ketiga anaknya yang kebetulan melintas.


"Arvel udah makan om, barusan." ucap Arvel.


"Sama, Anzel juga."


"Axel tadi ngabisin gado-gado yang sebelumnya." tukas Axel.


"Oh, ya udah." ucap Ferdi.


Ia kemudian mengambil piring dan membuka serta mulai memakan gado-gado tersebut. Pada saat pertengahan makan, tiba-tiba Clara muncul.


"Kenapa gado-gado aku, kamu makan l?" tanya nya dengan wajah sedih serta merengek ingin nangis.


"Katanya tadi nggak mau." ucap Ferdi.


"Aku makan ini karena sayang loh. Kalau di diemin lebih lama nanti basi. Malah mubazir kan kalau dibuang." lanjutnya lagi.


"Hiks."


Clara mulai berurai air mata, kesabaran Ferdi kembali di uji kali ini. Ia meminum air putih lalu mendekat pada Clara.


"Sini sayang." ujarnya kemudian.


Clara kini duduk disalah satu kursi dan Ferdi mencoba menenangkannya dengan sebisa mungkin.


"Ya udah sini, aku suapin ya." tukasnya lagi.


"Udah nggak utuh lagi rasa sukanya, abis udah kamu makan. Aku mau kamu balikin lagi ke waktu sebelum di makan." rengek Clara lalu benar-benar menangis.


"Ada apa, om."


"Kenapa pa?"


Mereka bertiga bertanya di waktu yang nyaris bersamaan. Sontak Ferdi pun menjadi tidak enak pada ketiga anak sambungnya itu. Ia tak ingin di tuduh telah membuat ibu mereka menangis. Padahal ini memang lantaran hormon kehamilan Clara yang naik turun.


"Huaaaaa."


"Hiks."


"Hiks."


Clara makin menjadi-jadi.


"Ya udah, aku beliin lagi ya. Sekalian kamu mau makan di tempat nggak, gado-gadonya?" tanya Ferdi.


"Mau." jawab Clara manja.


Dan sekali lagi Ferdi menarik nafas panjang, guna menahan amarah serta kekesalan. Berkali-kali Ferdi mengingat jika Clara tengah hamil.


Agar ia tidak khilaf membentak bahkan memukul wanita itu dengan tangannya. Sikap Clara kali ini benar-benar membuat emosi Ferdi naik turun.


Ferdi kemudian mengajak sang istri menyambangi tukang gado-gado. Setelah pesanannya jadi, wanita itu makan dengan lahap dan habis. Tak lama Ferdi mengajaknya untuk pulang.


"Aku kepengen pizza sekarang, Fer." ucapnya pada sang suami.

__ADS_1


"Ya udah, nanti kita pesan ya." ucap Ferdi.


"Kepengen beli langsung." rengek Clara.


"Cla, nunggunya lama. Mending kita pesan aja ya. Kasihan nanti kamu kecapean disana." Lagi-lagi Ferdi berucap. Clara menekuk bibirnya dan cemberut.


"Ya udah ayok, kita beli langsung. Tapi jangan mengeluh kalau lama. Jangan merengek minta pulang." ucap Ferdi.


"Iya."


"Janji?"


"Janji." jawab Clara.


Ferdi pun sekali lagi berusaha sabar. Ternyata menjadi suami itu bagian terberat bukanlah mencari nafkah. Tapi mengumpulkan kesabaran atas sikap istri yang kadang ajaib.


Apalagi disaat istri tengah mengandung seperti ini. Rasanya sungguh bercampur aduk dan ingin mengamuk. Jika tak kuat pertahanan, maka bisa saja tangan melayang.


Namun Ferdi bertekad tak mau menggunakan kekerasan fisik maupun verbal terhadap sang istri. Walaupun semua itu kadang terlintas dalam benaknya.


Ferdi berusaha mengingat bahwa ia mencintai Clara dan tak ingin merusak hubungan baik, yang sudah mereka jalin selama beberapa waktu belakangan ini.


Ferdi membawa istrinya itu ke sebuah restoran pizza. Disana Clara meminta untuk memakan pasta dan Ferdi menemaninya. Mereka sambil memesan pizza untuk di bawa pulang ke rumah.


Saat semuanya sudah selesai dan pasta pun telah habis. Pizza yang dipesan pun jadi, dan kini mereka bersiap untuk pulang. Tak ada lagi drama, sampai kemudian saat tiba di muka rumah tiba-tiba Clara menangis tanpa sebab.


"Sayang kamu kenapa lagi?" Ferdi bertanya dengan nada yang begitu lelah.


"Aku nggak tau Ferdi, aku cuma pengen nangis aja."


Clara berurai air mata. Ferdi sudah sangat kesal sekali kali ini. Namun ia menarik nafas berkali-kali, lalu kemudian di peluknya sang istri dengan cukup erat.


"Aku sayang kamu dan aku ada disini jagain kamu." ucap Ferdi.


Tak lama tangis Clara mereda. Mereka kemudian keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah pintu depan.


"Kreeek."


Pintu depan itu dibuka lalu,


"Surprise."


Ferdi kaget, melihat semprotan laba-laba dan balon yang dipecahkan ke arahnya. Ia menoleh pada Clara dan Clara tersenyum manis.


"Happy Birthday." ujar mereka semua.


Ferdi baru sadar jika seharian ini ia sudah di kerjai oleh Clara dan juga anak-anaknya. Seketika pemuda itu tersenyum sambil menitikkan air mata dengan penuh emosional.


"Maafin aku ya, Fer. Aku sengaja kayak gini. Sebenarnya ngidam tuh nggak gitu-gitu amat." ucap Clara.


Ferdi lalu memeluk istrinya itu dan memeluk ketiga anak sambungnya dengan erat. Mereka lalu membawa Ferdi ke meja makan. Dimana telah tersedia kue ulang tahun dan berbagai makanan lainnya. Plus kini ditambah pizza yang mereka bawa.


"Kapan kalian bikin ini?" tanya Ferdi masih dengan senyuman.


"Tadi pas kalian pergi." jawab Axel.


"Maaf ya Fer, kita tuh sebenarnya telat. Harusnya semalam. Kita kan baru nikah dan aku nggak terlalu ingat banget kapan kamu ulang tahun." ucap Clara.

__ADS_1


"Nggak apa-apa sayang." Ferdi lalu mengecup kening istrinya itu dengan lembut, lalu berterima kasih kepada semuanya.


__ADS_2