Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Tiba-tiba Datang


__ADS_3

Ferdi mendadak mendatangi kantor Jeffri dan menemui ayahnya tersebut. Setelah selama beberapa hari belakangan, ia bahkan sulit untuk dihubungi.


Jeffri beberapa kali hendak mengajak anak keduanya itu untuk bertemu. Namun Ferdi selalu menolak dengan alasan sibuk. Padahal ia hanya menghindari untuk tidak membicarakan perihal uang Clara.


Tetapi hari ini ia datang dan membawa koper berisi sejumlah uang. Hal tersebut tentu saja membuat Jeffri menjadi amat sangat terkejut.


"Pa, ini ada sepuluh milyar. Papa gunakan aja dulu untuk membenahi bagian yang memang benar-benar penting serta urgent. Sisanya nanti Ferdi usahakan lagi." ucap pemuda itu.


"Kamu udah bicara sama Clara?" tanya Jeffri pada sang anak.


"Papa sebenarnya baru mau membicarakan hal ini sama kamu." ujarnya lagi.


Ferdi menghela nafas lalu menjawab.


"Papa pake aja dulu uangnya."


"Papa sangat berterima kasih sama kamu. Semoga ini bisa memperbaiki dan meyelamatkan perusahan kita sedikit demi sedikit." ucap Jeffri.


Ferdi kemudian mengangguk, Jeffri memeluk anaknya itu dengan erat. Sementara Ferdi merasa senang dan lega bisa memberikan bantuan pertamanya untuk sang ayah.


***


Sebelum itu.


"Fer, lo jangan pulang dulu. Ada hal yang mau gue bicarakan."


Nath berucap pada Ferdi ketika kantor telah bubar.


"Oke." jawab Ferdi tanpa bertanya apa yang hendak dibicarakan oleh atasannya tersebut. Nath pun kembali ke ruangannya.


"Hati-hati lu di apa-apain sama pak Nath, Fer." Jordan berseloroh.


"Gue nggak belok ya, anjay."


Nath berkata dari dalam ruangannya, sebab suara Jordan kedengaran sampai sana. Jordan dan Sean pun terkekeh, begitu pula dengan Ferdi.


"Ya udah, gue balik duluan ya bro." ucap Jordan.


"Gue juga." Sean menimpali.


"Hati-hati, bro." ujar Ferdi.


"Sip." Keduanya lalu beranjak.


"Mau naik jabatan kali lu, Fer."


Nova yang bersiap pulang itu berspekulasi.

__ADS_1


"Kagak ada yang naik jabatan tahun ini." celetuk Nath.


Ferdi dan Nova terkekeh.


"Udah ah, gue balik ya Fer." ujar Nova kemudian beranjak.


"Hati-hati lo." ucap Ferdi.


"Tenaga aja, gue di jemput sama ayang." tukas Nova lagi.


"Lagu lu ayang. Ayang jago?" seloroh Ferdi.


Nova tertawa kemudian berlalu. Sementara kini Ferdi menyambangi ruangan Nath.


"Mumpung yang lain udah pada pulang, fer." ucap Nath.


Ferdi mengerutkan kening. Nada bicara Nath agak ambigu di telinga Ferdi. Ia pun lalu menatap atasannya itu dengan penuh curiga.


"Gue nggak ada niat buat melecehkan elo ya, Bambang."


Nath sewot diikuti tawa Ferdi yang memecah. Pria itu kemudian mengeluarkan koper yang berisi sejumlah uang.


"Lah ini buat apa?. Lo mau bayar gue?" seloroh Ferdi.


"Bangsat lo emang ya. Gue masih lurus, anying."


"Ini ada sepuluh milyar, Fer." ucap Nath.


Ferdi pun mendadak terdiam dan tak lagi bercanda.


"Sepuluh milyar?" tanya nya tak percaya.


Sampai detik ini ia masih belum mengerti mengapa Nath memperlihatkan sejumlah uang itu padanya.


"Lo pake aja buat bantu bokap lo." ujar Nath.


Ferdi terdiam, ia benar-benar tak menyangka Nath akan berbuat demikian.


"Ah, gila lo. Segini banyaknya." ucap Ferdi.


"Gue nggak bercanda, Fer. Gue paham apa yang lo hadapi belakangan ini. Dan gue juga tau dari awal lo menikah dengan Clara, lo membawa tuntutan dari bokap lo." ujar Nath lagi.


"Tapi, Nath. Gue gimana balikinnya?. Sepuluh milyar ini banyak loh. Gaji gue aja masih dibawah 40 jutaan per bulan. Mau sampe kapan gue nyicil balikinnya?. Sampai bego?" tanya Ferdi kemudian.


"Kan bokap lo juga bisa balikin kalau usahanya udah berjalan dan nggak tersandung masalah lagi." jawab Nath.


"Emang lo mau nunggu sampe perusahaan bokap gue balik lagi kayak semula dan bisa ganti semua ini?. Bisa jadi prosesnya nggak sebentar loh, sama aja bokap gue merintis lagi dari awal." lanjut Ferdi.

__ADS_1


"Gue ada project besar buat lo." ucap Nath.


Ferdi menatap atasan sekaligus temannya itu dalam-dalam.


"Project?" tanya nya kemudian.


"Ya, lo bisa bikin aplikasi kan?" Nath balik bertanya.


Ferdi diam sejenak, ia memang memiliki kemampuan di bidang itu meski tak terlalu bagus.


"Lo tau kan kualitas aplikasi buatan gue gimana?. Nggak bagus-bagus amat dan masih butuh pengembangan lebih lanjut." ucap Ferdi.


Nath menghela nafas panjang.


"Penyakit lo tuh cuma satu, Fer. Lo terlalu takut melangkah, karena lo nggak terlalu percaya sama skill yang lo punya. Padahal semua potensi yang ada dalam diri lo itu, bisa jadi duit." ujarnya kemudian.


Ferdi kembali terdiam, memang selama ini permasalahan hidupnya adalah kurang percaya pada kemampuan dirinya sendiri.


"Kita bikin dan kembangkan aplikasi baru. Kita akan coba jual aplikasi itu nanti. Keuntungannya kita bagi dua dan lo bisa bayar hutang lo ke gue dari situ."


Ferdi menatap Nath.


"Gue tau ini kayak semacam simbiosis mutualisme. Gue emang terkesan memanfaatkan lo, karena gue punya duit. Tapi gue nggak bermaksud jahat sama lo. Lo teman gue, udah gue anggap kayak adek gue sendiri. Gue pengen bantu lo, Fer. Gue tau lo takut pernikahan lo berantakan, gara-gara ada tujuan bokap lo dibelakang itu semua. Gue tau lo sayang banget sama Clara."


Ferdi menarik nafas dan mengangguk-angukan kepalanya.


"I see." ujarnya kemudian.


"Lo bawa uang ini ke bokap lo, Lo bisa memulai usaha lain juga, sebelum kebutuhan dia yang berikutnya."


Lagi-lagi Ferdi menarik nafas panjang.


"Oke." jawabnya kemudian.


Ferdi pun mengambil dan membawa uang tersebut. Sejatinya ia bisa menjadi lebih sukses, andai ia mau berkomunikasi pada keluarganya dengan baik. Ferdi memang agak sedikit tertutup mengenai diri dan kepintarannya.


Sebab Jeffri agak tak peduli mau bagaimana cara anak-anaknya tumbuh. Yang penting ia melihat kedua anaknya itu sehat serta jauh dari pertemanan yang toxic.


Sebenarnya Jeffri tak akan terkena masalah sampai sejauh ini. Andai ia mengetahui jika Ferdi memiliki banyak skill, terutama skill-nya dalam mengembangkan sebuah aplikasi.


Ia bisa memodali anaknya itu untuk lebih mengembangkan bakat yang ia miliki. Jika sudah seperti itu keuntungan yang didapat pun sejatinya bisa ikut ia nikmati.


Namun Jeffri sendiri terlalu bersikap seperti didikan orang luar. Ia membebaskan anaknya dalam memilih pekerjaan yang disukai. Memang hal tersebut bagus, anak jadi tidak ketergantungan pada privilege yang dimiliki orang tua.


Tetapi potensi anak jadi lebih diketahui oleh orang lain. Seperti saat ini, Nath lebih memahami Ferdi ketimbang Jeffri sendiri selaku orang tuanya.


Apalagi Ferdi memiliki masalah kepercayaan diri. Ia selalu merasa apa yang ia buat tersebut tak lebih bagus dari buatan orang lain. Ia adalah salah satu orang yang sangat perfectionist dan tidak menerima kekurangan dalam dirinya sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2