Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Axel


__ADS_3

Mobil Clara akhirnya bisa diposisikan agak jauh dari bibir tikungan. Clara pun berterima kasih pada Ferdi karena sudah mau menolongnya. Entah mengapa hari ini ia rindu memakai mobil tersebut. Padahal hari-hari biasa ia menggunakan mobil Bentley nya yang cukup anyar.


"Makasih ya, Fer. Tau begini mbak nggak pake ini mobil. Ternyata nyusahin." ucap Clara.


Ferdi tersenyum lalu ia pun meminta izin memeriksa mesin mobil tersebut. Clara menyetujui, sebab rata-rata laki-laki lumayan mengerti mesin mobil. Tak seperti dirinya yang hanya bisa memakai, tanpa tau seluk-beluk mesin yang ada di dalamnya.


Sementara Ferdi sendiri hanya berniat menolong. Jika ia paham akan kerusakan yang dialami dan bisa memperbaikinya, kenapa tidak pikir pemuda itu.


Namun jika hal tersebut tak dapat dilakukan, Clara terpaksa harus menggunakan jasa bengkel mobil. Sebab itu satu-satunya cara yang dapat membantu. Mungkin mobil tersebut hanya butuh di tarik oleh mobil Ferdi, untuk mencapai bengkel terdekat.


Ferdi pun mulai berkutat, sementara Clara menunggu di pinggir jalan, sambil memperhatikan.


"Mbak kalau panas, ke mobil saya aja tuh."


Ferdi menyerahkan kunci mobilnya pada Clara. Clara sedikit terdiam, sebab Ferdi terasa begitu perhatian. Bisa dilihat bagaimana didikan orang tuanya terhadap pemuda itu.


Clara meraih kunci mobil tersebut, namun ia masih tetap menunggu di pinggir jalan. Toh ia belum begitu merasa kepanasan dan kasihan Ferdi jika harus dibiarkan sendirian.


"Itu kira-kira rusaknya apa ya, Fer?" tanya Clara pada Ferdi.


"Ini masih saya cek, mbak." jawab pemuda itu.


Maka Clara kembali menunggu, sementara Ferdi terus berkutat dengan semua itu. Waktu berlalu, Ferdi menghidupkan kembali mesin mobil Clara. Clara yang sejak tadi tak beranjak dari tempat dimana ia berdiri itu pun, takjub. Ia tak menyangka selain bisa memukuli mantan suaminya, Ferdi juga bisa memperbaiki mobil yang ia miliki.


"Udah bener, Fer?" tanya Clara pada Ferdi.


"Udah, tapi ini nggak akan bertahan lama. Paling jauh 25KM. Mending mbak langsung bawa ke bengkel terdekat atau jual aja sekalian. Beli mobil baru." ucap Ferdi.


"Oh gitu?"


"Iya."


"Ya udah deh, mbak mau bawa ke bengkel aja terus mbak jual. Toh masih ada mobil lain." ucap Clara.


Ferdi mengangguk, Clara memberikan kembali kunci mobil yang dipakai oleh Ferdi, d An begitupula sebaliknya.


"Mbak rumahnya masih jauh nggak?" tanya Ferdi lagi.


"Nggak terlalu sih, sekitar 10 menitan lah dari sini."


"Ya udah saya iringi dari belakang. Takutnya mogok lagi."


"Emang nggak apa-apa?" tanya Clara.


"Nggak, santai aja." jawab Ferdi.

__ADS_1


"Lagian saya di suruh mama ambil laundry-an. Karena orangnya lagi nggak bisa nganter."


"Oh." Clara tertawa.


"Rajin juga kamu ternyata ya." lanjut perempuan itu.


Fedi hanya menarik sedikit kedua sudut bibirnya. Tak lama mereka pun masuk ke dalam mobil masing-masing.


***


"Clara itu sudah mau dikenalkan sama cowok yang dimaksud oleh Glenca."


Adrian berujar pada Jeffri, yang kini bersiap menyantap makan siang di rumahnya.


"Gimana-gimana?" tanya Jeffri bingung. Lo ngomong apaan sih?. Kayak judul sinetron ikan terbang tau nggak." lanjutnya.


Adrian melebarkan bibir sampai kuping, sambil menghela nafas kesal.


"Gini ya Bambang. Si Glenca calon menantu gue. Kan gue suruh deketin Clara. Supaya menjodohkan Clara dengan Ferdi."


"Iya, terus?"


"Nah, si Glenca ini kan bilang ke Clara. Kalau dia mau mengenalkan Clara sama cowok. Cowoknya itu ya Ferdi."


"Terus tanya Jeffri lagi."


"Ribet banget lo ngomong. Bilang aja kalau Clara udah ready mau ketemu Ferdi."


Jeffri mengambil suapan pertamanya dengan sewot.


"Ya pokoknya gitu deh, intinya si Clara udah mau. Tinggal Ferdi-nya aja yang dipersiapkan.


"Maksudnya?"


"Jeff, lo biasanya cepat tanggap kayak tim SAR. Ini koq mudengnya lama banget. Dari tadi maksudnya-maksudnya mulu. "


Adrian kesal, sementaraJeffri tertawa kecil.


"Lo kan tau gue lagi banyak pikiran. Ini aja nasi udah nggak rasa nasi lagi di mulut gue." ujarnya.


"Terus rasa apaan?" tanya Adrian.


"Rasa keju."


"Ya kan emang nasi daun jeruk keju, Jeffri." Adrian tampak ingin mengirim Jeffri ke luar angkasa.

__ADS_1


Lagi-lagi Jeffri tertawa. Bukan karena beban yang menghimpitnya tidak membuat down. Tetapi ia tengah berusaha agar pikirannya selalu positif. Ditengah gempuran persoalan yang datang bertubi-tubi.


"Jadi si Clara mau dikenalkan sama Ferdi." tanya Jeffri kemudian.


"Iya mau, tapi kita persiapkan dulu si Ferdi. Biar nanti ngomongnya nyambung. Ferdi kan nggak ngerti banyak tuh soal perusahaan. Kerjanya cuma bikin konten sosial media di tempat dia kerja. Dia harus diajarkan dulu mengenai seluk beluk perusahaan, biar bisa melobi Clara nantinya. Istilahnya kayak sales yang lagi mau mempromosikan produk. Dia mesti tau produk knowledge-nya dulu."


Jeffri menarik nafas.


"Oke, kalau begitu lo atur aja. Suruh si Ferdi belajar sama John."


Jeffri menyebut salah satu petinggi sekaligus mentor dikantornya. John terkenal galak dan disiplinnya sangat tinggi. Wujudnya seperti percampuran antara Deddy Close The Door dan Max Metino. Dan memiliki otak matematika seperti Jerome Polin serta kritis seperti mbak Nana.


Saat ini saja ia membantu Jeffri meredam karyawan yang protes akibat diadakannya kebijakan baru, untuk menanggulangi permasalahan yang ada.


"Yakin sama John?" tanya Adrian.


"Siapa lagi coba sekali dia. Kalau sama gue ntar ngebantah itu anak."


"Ya udah kalau emang lo maunya gitu." ucap Adrian.


***


"Ma, Axel malu tau."


Anak bungsu Clara yang berusia 12 tahun berujar pada sang ibu. Ketika Clara telah berada di rumah dan mengawasi belajar sang anak.


"Mau kenapa?" tanya Clara heran.


"Teman-teman Axel bilang kalau daddy nikah sama l*nte."


"Heh mulutnya, Axel." Clara benar-benar kaget anaknya bicara demikian.


"Itu temen Axel yang bilang. Soalnya mereka kan liat daddy viral di sosmed. Waktu yang mama labrak di hotel sama itu cewek."


Clara jadi merasa bersalah, sebab saat itu saking kesalnya. Teman-teman Clara yang ikut melabrak, merekam kejadian.


Nando mantan suami Clara bersikeras jika mereka tidak selingkuh. Alibinya Clara menemui mereka di depan hotel, dan bukan dikamar hotel.


Nando beralasan jika di hotel tersebut sedang ada seminar dan memang ada seminar di hari itu. Saat itu Clara di bully oleh publik, dikatakan menuduh suaminya macam-macam.


Padahal sebelum itu Clara menemukan riwayat chat mesra antara Nando dan si perempuan. Serta terdapat riwayat transfer uang di sejumlah rekening milik Nando kepada wanita itu. Nando jugalah yang mengirim direct message duluan pada Ninis dan mendekati perempuan itu.


Clara membiarkan saja publik menyalahkan dirinya. Terbukti setelah sebulan bercerai, Nando menikahi perempuan itu. Barulah publik terdiam dan membentuk spekulasi baru. Bahwa memang benar Nando dan Ninis telah berselingkuh sebelumnya.


"Pokoknya, mama nggak mau Axel ngomong kayak tadi. Itu omongan kotor, nggak boleh kamu sebut."

__ADS_1


"Ya Axel cuma malu aja. Bahkan salah satu musuh Axel di sekolah bilang ke Axel gini, "Xel, kasihan ya nyokap lo cakep-cakep ditinggalin. Itu bukti kalau yang murahan lebih menjepit." Itu sampe Axel tonjok mukanya dua kali."


Clara benar-benar miris, bahkan ia baru mengetahui soal ini. Terbukti jika sosial media memang merusak, bahkan untuk anak yang masih terbilang dibawah umur. Dan terbukti pula jika dalam perselingkuhan dan perceraian, anaklah yang selalu jadi korban.


__ADS_2