Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Terkejut


__ADS_3

Axel melangkah menaiki anak tangga. Namun kemudian ia melihat Clara yang tampak berdiri di muka pintu kamar Arvel, dengan didampingi oleh Anzel.


"Bang, buka pintunya. Mama mau ngomong." ucap Clara.


Tak ada jawaban dari dalam sana.


"Bang, maafin adek. Dia itu nggak tau apa-apa. Mungkin dia lagi kesel aja sama abang. Nanti mama akan nasehati dia." Lagi-lagi Clara berucap.


Axel mendengar semuanya dan merasa makin aneh. Apalagi kemudian Anzel ikut bersuara.


"Bang, sampai kapanpun abang tetap anak tertua di rumah ini." ucap remaja itu.


Axel menghentikan langkah, mencoba meresapi ucapan kakak keduanya tersebut. Namun setelah beberapa saat berlalu, ia tetap tak mengerti.


Maka ia pun memutuskan untuk masuk saja ke dalam kamar. Toh ia masih marah saat ini terhadap mereka semua. Ia juga kecewa pada Ferdi yang menurutnya terkesan ikut membela Arvel.


"Braaak."


Axel menutup pintu kamar dengan penuh penekanan, setelah ia berhasil masuk ke dalam. Hal tersebut tentu saja membuat Clara dan Arvel yang masih berdiri di muka kamar Arvel, menjadi kaget.


Anzel naik pitam dan hendak memarahi Axel. Namun kemudian Ferdi muncul dan menghalangi langkahnya.


"Udah, nggak akan selesai kalau kayak gini terus." ucap Ferdi.


"Tenangkan dulu semuanya, baru nanti kita bicara lagi." lanjut pria itu kemudian.


Anzel lalu menuruti kata-kata ayah tirinya tersebut dan memilih masuk ke dalam kamar.


"Cla, nanti aja ngajak dia bicara. Semua akan sulit kalau keadaannya masih kayak gini."


Ferdi beralih pada sang istri. Clara pun akhirnya mengangguk, lalu mereka berdua turun ke bawah.


***


Waktu berlalu.


Axel merasa dirinya sudah sedemikian besar. Sebab ia telah berani menegaskan pada sang kakak, bahwa ia juga memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri. Ia menolak diatur terlalu banyak.


Ia merasa selama ini selalu menurut pada Arvel dan juga Anzel. Tapi tidak untuk kasus yang ini. Ia benar-benar marah, saat musuhnya di sekolah menemui dan mendorong bahunya dengan kasar di depan cukup banyak siswa.


"Heh, Axel. Masalah lo sama gue, itu udah dianggap selesai sama pihak sekolah. Jadi elo sama emak lo dan juga bapak tiri serta dua abang lo itu, nggak usah sok mau merubah peraturan. Nggak usah sok memperjuangkan keadilan disini. Lo tau kan bapak gue siapa?. Dan berapa besar dia ikut andil dalam pembiayaan sekolah ini, ketimbang emak lo."

__ADS_1


"Gue nggak takut sama lo. Keluarga gue juga nggak takut sama bapak lo." tukas Axel dengan nada tegas menantang.


"Lo tuh nggak lebih dari pengecut yang sembunyi dibalik kebesaran nama bokap lo. Ingat kan malam itu lo gue bikin nyaris babak belur?. Atau lo mau lagi?" lanjutnya kemudian.


"Lo pikir gue takut sama lo, setelah kejadian malam itu?" musuh Axel terlihat balas menantang.


"Bacot tau nggak lo."


"Buuuk."


Axel menyerang duluan. Semua siswa yang ada di sekitar langsung heboh dan menoleh serta mendekat ke arah mereka. Saat itu sudah jam pulang sekolah dan banyak dari mereka yang masih menunggu jemputan.


Perkelahian sengit pun tak dapat terelakkan. Beberapa orang mencoba memisahkan keduanya. Termasuk Arvel dan Anzel yang baru datang. Kedua kakak Axel tersebut langsung keluar dari mobil dan berlarian menghampiri sang adik.


Namun karena sudah dikuasai ego masing-masing. Kedua anak itu terus saja berkelahi. Hingga posisi mereka berada di bibir jalan utama, di samping sekolah.


"Axel, udah!"


Arvel berusaha menarik sang adik.


"Ada apa ini?"


Nyaris saja musuh Axel tersebut terlindas andai saja Arvel dan Anzel tak segera menariknya.


"Lo apa-apaan coba?"


Arvel membentak Axel. Sejatinya ia bukan memihak ataupun takut bila terjadi sesuatu pada musuh adiknya itu. Tetapi ia lebih takut Axel akan terkena kasus.


Sebab semua orang dan CCTV samping sekolah menangkap perilaku remaja tersebut, yang dengan sengaja mendorong temannya ke jalan raya.


Axel mungkin telah begitu kesal pada musuhnya. Namun ia tak berpikir panjang jika semua itu bisa menyebabkan nyawa orang melayang, dan dia akan terkena masalah besar. Termasuk kemungkinan bisa diadili dan dipenjara.


Arvel berusaha menyelamatkan sang adik dari hal buruk. Namun Axel yang masih muda menganggap jika sang kakak melindungi dan berpihak pada musuhnya. Ia marah bahkan hingga sampai ke rumah.


***


"Axel, kamu nggak makan?"


Ferdi bertanya pada Axel yang kebetulan melintas. Remaja itu diam saja. Ia membuka kulkas, mengambil air dingin, lalu bergerak kembali ke atas.


"Nggak usah ditanyain, Fer. Diemin aja." ucap Clara.

__ADS_1


Axel mendengar semua itu dan agak tersentak hatinya. Namun ia memilih melanjutkan langkah meniti anak tangga.


"Udah mulai kurang ajar tuh dia. Merasa udah gede." tukas Clara lagi.


Ferdi hanya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia beralih pada Arvel.


"Abang mana?. Nggak diajak makan?" tanya nya kemudian.


"Dia belum mau turun, om. Nanti Anzel bawain makanan kesana." ujar Anzel.


Ferdi mengangguk, lalu kemudian mereka makan dengan suasana yang tak nyaman. Sebab biasa mereka berkumpul bersama dan kini berkurang dua orang. Rasa ada yang hilang dan janggal di meja tersebut.


Usai makan, Anzel membawakan makanan untuk sang kakak. Saat itu Arvel mau membuka pintu kamar dan mengambil apa yang diberikan.


Namun ia tak banyak bicara dan Anzel pun enggan membahas persoalan yang terjadi diantara mereka.


Semenjak di kamar, Axel yang biasa memakan segalanya kini dilanda rasa lapar. Ingin mengambil makanan ke bawah, ia gengsi.


Sebab ia telah menunjukan jika dirinya marah dan tak peduli terhadap apapun. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Ternyata itu dari Erin, teman sekelasnya.


"Iya, Rin."


"Axel, gue boleh pinjem buku Sherlock Holmes punya lo nggak?" tanya Erin pada Axel.


"Oh, boleh dong. Tapi gue cari dulu ya. Soalnya itu kan koleksi bokap gue, dan udah disimpan nyokap lagi di ruang baca." jawab Axel.


"Oh, oke. Jangan lupa ya, Xel. Gue pengen banget baca buku itu. Gue abis nonton filmnya dan penasaran sama bukunya. Waktu itu gue liat lo pernah bawa ke sekolah. Makanya gue pikir, pengen pinjem."


"Oke, ntar gue bawain." ucap Axel.


Mereka lanjut berbincang sejenak sampai akhirnya Erin berpamitan lalu menutup telpon. Axel kini beranjak menuju ke ruang baca atau perpustakaan mini yang ada di rumahnya.


Ia sempat berpapasan dengan Anzel, lalu melengos seperti orang yang tidak kenal sama sekali. Kemudian ia masuk ke ruangan itu dan mencari-cari letak dimana buku yang dimaksud berada.


Ia menilik ke sekitaran rak, namun tak menemukannya. Ia berpindah dari satu laci ke lain lain, dari banyaknya lemari buku yang ada di tempat tersebut.


Satu persatu ia buka, namun ia juga sama tak menemukan. Sampai akhirnya ia melihat sebuah surat yang berada dalam sebuah map bening.


"Surat adopsi?"'


Axel mengerutkan dahi, lalu meraih dan membaca surat tersebut. Seketika ia pun terkejut, sebab ia telah membaca sebuah rahasia yang tak ia ketahui selama ini.

__ADS_1


__ADS_2