
Ferdi bertemu muka kembali dengan Nath di kantor. Namun Nath lebih memilih cuek dan masuk ke ruangannya. Pria itu memang sengaja menghindar dan enggan membicarakan perihal Arvel.
"Lo kenapa sama pak bos?. Kayak drakor." Jordan berseloroh. Ferdi tetap diam sebab ia telah mengetahui perkara yang sebenarnya.
Sementara di lain pihak, Frans menguping pembicaraan Adrian dengan Jeffri. Ia mendengar bagaimana pria itu seakan memanipulasi keadaan.
"Pa."
Frans masuk di tengah-tengah percakapan. Ia membawa segelas jus jeruk, yang tadi ia ambil paksa dari seorang office girl. Jus jeruk tersebut adalah pesanan dari karyawan lain. Frans bilang, office girl tersebut hanya perlu membuat yang baru. Lalu kemudian Frans memberinya sejumlah uang.
Office girl tersebut setuju-setuju saja, dan kini Frans membawa jus jeruk itu ke dalam sebagai alasan.
"Pa, minum dulu!. Frans bawain jus jeruk buat papa." tukasnya pada Jeffri.
"Tumben." Jeffri berkata seraya mengambil dan meminum jus tersebut meski sedikit.
"Ya, mulai hari ini papa harus hidup sehat. Jangan tampilan luarnya doang yang sehat, tapi dari dalam di gerogoti penyakit." ucap. Frans seraya menatap ke arah Adrian.
Adrian sendiri seperti tersentak hatinya, meski ia berusaha keras untuk menutupi semua itu.
"Apapun itu kalau sudah di gerogoti dari dalam, lama-lama bisa hancur." lanjutnya kemudian.
Jeffri mengerti makna perkataan Frans secara harfiah. Namun ia tak paham jika hal tersebut hanyalah sebuah sindiran yang ditujukan kepada Adrian.
Frans sendiri tak mau terlalu gamblang, sebab semua masih abu-abu. Ia belum mempunyai bukti yang jelas mengenai apa yang ia curigai.
***
"Nath."
Ferdi menyusul Nath yang tengah berjalan di sebuah spot. Tepat setelah jam makan siang tiba.
"Nath, dengerin gue dulu."
Jordan, Sean, dan Nova yang tengah berada di sudut lain tampak melihat adegan tersebut. Sontak ketiganya saling bersitatap lalu kompak untuk mengintip dari balik tembok.
"Jangan bilang mereka berdua ada hubungan?" seloroh Nova.
__ADS_1
"Amit-amit jabang bayi. Masa iya Ferdi begitu, hombreng dong." ucap Sean.
Jordan menempelkan jari telunjuk di bibir, tanda menyuruh kedua temannya untuk diam.
"Nath, please!"
Kali ini Nath menoleh.
"Gue udah bilang, kalau gue nggak mau membicarakan hal itu lagi." ucap Nath.
Ferdi tak habis pikir. Sementara Jordan, Sean, dan Nova masih terjebak ambiguitas. Pikiran ketiga orang itu kini kemana-mana, demi menyaksikan hal tersebut.
"Nath, Arvel itu anak lo. Gue cuma mau bantu kalian berdua."
Petir seakan menggelegar di langit. Jordan, Sean, serta Nova terkejut. Dengan bibir mereka yang sama-sama menganga.
"Pak Nath punya anak?" ujar Jordan tanpa suara, namun kedua temannya menyaksikan semua itu dalam keadaan masih cukup syok.
"Arvel itu bukannya anak tirinya Ferdi ya?" tanya Sean.
"Lo nggak tau cerita sebenarnya, Fer. Dia dan ibunya mau dihabisi sama keluarga gue. Sampai hari ini gue nggak tau ibunya ada dimana, dan gue nggak mau kehilangan dia juga."
"Lo tuh cuma terlalu takut." tukas Ferdi.
"Lo nggak tau betapa jahatnya keluarga gue." Nath menatap sahabat sekaligus karyawannya tersebut. Sementara Jordan, Sean dan Nova terus mendengarkan.
"Gue jatuh cinta sama anak dari asisten rumah tangga gue sendiri. Kami menjalin hubungan sampai dia hamil. Gue pikir orang tua gue bisa menerima tapi ternyata nggak. Gue pergi dari rumah, gue dan dia memilih hidup bersama di luar. Tapi ketika anak gue lahir, saat gue lagi ada urusan diluar. Tiba-tiba cewek gue nggak ada dan ninggalin surat, yang menyatakan bahwa dia mau mengakhiri hubungan kami."
Ferdi terdiam dan terus mendengarkan.
"Tulisan yang ada disurat itu adalah tulisan dia. Tapi gue tau dia pasti ditekan sama keluarga gue. Dia sayang banget sama gue, sama anak kami. Mustahil dia mau meninggalkan anaknya yang masih merah, sedangkan dia sendiri baru melahirkan. Udah pasti ada campur tangan keluarga gue dalam hal itu."
"Apa lo udah coba cari kemanapun itu?" tanya Ferdi.
"Setiap hari selama lima belas tahun ini, gue nggak pernah berhenti mencari dia. Walau pihak yang berwajib pun nggak berhasil dan terkesan sudah menyerah, tapi gue belum."
Ferdi menarik nafas panjang, ini benar-benar masalah yang pelik dan rumit baginya.
__ADS_1
"Anak gue udah punya keluarga sendiri. Dan sekarang dia punya lo. Akan lebih aman kalau dia nggak tau siapa gue. Keselamatannya lebih terjamin, kalau semua orang taunya dia anak Clara dan anak tiri lo. Gue cuma mau dia hidup tenang."
Nath menjatuhkan pandangan ke lantai, tak lama kemudian ia pun berlalu. Sementara Ferdi masih terpaku.
"Gubrak."
Jordan terjatuh karena Sean dan Nova bertumpu padanya dalam menguping dan mengintip. Ferdi kaget dan menoleh, kemudian ia menjadi lebih kaget lagi dari sebelumnya setelah menyadari kehadiran mereka.
"Kita dengar semua koq, Fer." Nova berujar sebelum Ferdi bertanya.
"Iya, dan lo tenang aja. Kita nggak ember koq." Sean menimpali.
Dan Ferdi hanya bisa diam sambil menatap teman-temannya itu.
***
"Kamu yakin dengan apa yang kamu pikirkan?"
Nadia bertanya pada Frans, ketika kakak dari Ferdi itu bercerita mengenai apa yang ia rasakan dan ia curigai dari Adrian.
"Ya, aku yakin banget pasti ada sesuatu yang disembunyikan om Adrian." jawabnya kemudian.
"Dia dan papa itu berteman sejak lama. Dia pasti lebih banyak tau mengenai seluk beluk perusahaan. Papa percaya sepenuhnya sama dia. Apa-apa dia, segala urusan dia yang menyelesaikan. Bisa jadi ada beberapa hal yang papa anggap sudah beres dan aman, padahal nggak. Karena papa tuh jarang memeriksa sesuatu secara mendalam. Dia udah percaya banget sama om Adrian."
Nadia menghela nafas dan menatap Frans.
"Kalau memang kamu yakin, kamu harus mengumpulkan bukti yang banyak dan jelas. Ini bener-bener keterlaluan, kalau memang ternyata om Adrian khianat. Kasihan papa, kasihan Ferdi juga yang nggak tau apa-apa tapi di suruh terlibat." tukas perempuan itu.
Frans mengangguk, ia memang akan mencari bukti sebanyak-banyaknya mulai hari ini. Sebab hatinya berkata jika kecurigaannya memanglah benar. Ia akan menyelamatkan sang ayah, Ferdi dan juga perusahaan mereka.
"Tapi kamu harus tetap hati-hati." ujar Nadia lagi.
"Kita nggak pernah tau dia bekerjasama dengan siapa aja di kantor. Nggak mungkin dia melakukan kejahatannya sendiri. Karena di perusahaan itu setiap divisi punya kepalanya masing-masing. Bakalan ketahuan kalau dia bergerak sendirian." lanjut wanita itu.
"Iya, aku udah pikirkan itu. Mustahil nggak ada yang kerjasama sama dia di kantor. Makanya semua yang dia kerjakan terlihat rapi dan nggak di curigai sama papa."
Nadia kembali menarik nafas agak dalam lalu ia menggenggam tangan Frans dan menguatkannya.
__ADS_1