Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Sebuah Telpon


__ADS_3

"Buruan Axel, ntar kita telat."


Anzel berkata pada Axel yang agak sedikit tertinggal di belakang.


"Abang sih ngide, pake acara mau jalan segala. Capek tau nggak?"


Axel menggerutu.


"Udah, nggak usah ngomel. Jalan aja!" Arvel menengahi keduanya.


"Kirain bakalan gimana gitu. Naik ojek kek tadi atau apa. Malah jalan beneran." Axel kembali memperpanjang ocehannya.


"Yaelah segini doang, ini mah nggak jauh-jauh amat kali." Anzel mulai kesal pada sang adik.


"Makanya ikut Pramuka, sekali-kali hiking." lanjutnya kemudian.


Axel memasang wajah sewot. Sementara kedua kakaknya berjalan di depan sana.


"Buruan, Axel!"


Anzel kembali memberi instruksi pada adiknya tersebut, ketika ia terus saja tertinggal.


"Ya udah, abang duluan aja. Orang Axel biar kata lambat juga jalan koq, bukan ngesot."


"Ya udah terserah lo deh."


Anzel kembali melangkah dan mereka menghentikan semua perdebatan. Pada akhirnya Axel lebih dulu tiba di sekolah. Saat itu Arvel dan Anzel menoleh.


Axel melambaikan tangan tetapi dengan tubuh dan muka yang sudah menoleh dan melangkah ke arah pintu gerbang.


Setelah memastikan anak itu masuk, Arvel dan Anzel pun kembali melanjutkan langkah mereka.


***


"Jeff, kebutuhan kita sudah sangat mendesak." ucap Adrian pada Jeffri pagi itu.


Jeffri tau mengenai hal tersebut, namun ia pun belum bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.


"Ferdi itu baru saja menikah, Ad. Gue nggak enak kalau mendesak-desak dia sekarang."


Jeffri berujar sambil menatap sang sahabat.


"Dan lagi Ferdi menikahi Clara atas dasar cinta dan suka sama suka. Beda halnya kalau dia nggak cinta sama Clara. Dari malam setelah pernikahan itu, gue pasti udah paksa dia buat minta uang sama istrinya. Kalau ini kan posisinya dia lagi bahagia, masa gue mengganggu kebahagiaan anak gue sendiri." lanjutnya kemudian.


Adrian menghela nafas.


"Sorry, bro. Gue nggak ada maksud." ujarnya.


"Kita hanya lagi benar-benar di ujung tanduk." lanjutnya kemudian.


Jeffri mengangguk.


"Gue cuma mau menunggu waktu yang tepat, Ad. Biar gue nggak melukai perasaan Ferdi dan Ferdi juga nggak melukai perasaan istrinya." ujar pria itu.

__ADS_1


***


Sementara masih di kantor yang sama, Igor mendekat ke arah Frans yang tengah serius bekerja.


"Serius amat, pak. Becanda dikit bisa kali." godanya kemudian.


Frans menoleh dan tertawa.


"Gue lagi di kejar deadline, Junaedi." ujarnya kemudian.


"Sama, gue juga. Eh, by the way si Ferdi apa kabar pasca menikah?" tanya Igor kepo pada Frans.


"Terakhir kemaren gue chat dia, dia baik-baik aja katanya."


"Lo sendiri baik-baik aja nggak sejauh ini?" Igor memberi tatapan yang membuat Frans ingin menendangnya.


"Udahlah nggak usah di ungkit-ungkit. Ntar gue inget lagi nih." seloroh Frans masih tertawa.


"Tapi lo udah ikhlas, bro?"


"Nih orang ya, kemaren-kemaren aja elo yang nyuruh gue ngikhlasin. Sekarang lo juga yang kepo nanya, gue ikhlas atau nggak."


"Ya, namanya juga nanya. Masa nggak boleh." Igor membela diri.


"Ya, gimana ya. Ikhlas nggak ikhlas sih jatuhnya." ucap Frans.


"Ikhlas nggak ikhlas gimana?" tanya Igor bingung.


"Oh, gitu. Makanya nikahin tuh si Nadia. Biar perasaan lo nggak kemana-mana." ucap Igor lagi.


"Yang namanya perasaan nggak akan bisa di tentukan kemana arahnya bro. Tapi perilaku fisik kita yang bisa, cuma itu." tukas Frans.


"Ya kan gue ngasih saran, biar lo ada teman tidur."


"Gaya lu, Gor, Gor. Kayak lo punya temen tidur aja."


"Ada noh dua." ucap Igor.


"Siapa?"


"Bantal guling."


Igor berkata sambil tertawa. Percakapan pun berlanjut ke topik selanjutnya. Kadang mereka serius, kadang juga bercanda.


***


Hari itu Clara yang kebetulan masih libur, membeli sayur dan bahan makanan secara online. Sambil ia membereskan rumah dan menyusun pakaian Ferdi, yang belum sempat ia pindahkan dari koper.


Ia memasak, meski mencontoh apa yang ada di YouTube. Sebab Clara hanya bisa memasak sedikit-sedikit dan tidak terlalu jago.


Namun meskipun begitu ia berhasil membuat beberapa masakan untuk makan malam nanti. Saat suami dan anak-anaknya telah berkumpul semua di rumah.


Tiba-tiba handphone wanita itu berbunyi, ternyata dari salah satu tantenya yang saat ini tinggal di Surabaya.

__ADS_1


"Hallo, tante Evita?"


"Hallo, selamat sore Clara. Apa kabar kamu?" Suara tante Evita terdengar jelas di seberang sana.


"Baik tante, tante apa kabar?" Clara balik bertanya.


"Baik, tante menelpon kamu karena tante dengar kamu baru saja menikah lagi. Benar?"


"I, iya tante benar koq. Maaf kemarin nggak sempat mengabari semuanya, soalnya acara itu nggak mewah dan biasa aja. Yang penting sah aja tante." ucap Clara.


"Iya, menikah nggak perlu bermewah-mewah. Yang terpenting adalah bagaimana kualitas dari pernikahan itu nantinya."


"Iya, tante." jawab Clara.


"Tapi tante dengar, katanya suami mu itu anak muda."


"Iya tante, lebih muda beberapa tahun." ucap Clara.


"Kamu berani sekali, Clara. Apa nggak terlalu muda itu?"


Clara mulai merasa tidak nyaman. Seperti biasa orang-orang tua di negri ini selalu memberi pertanyaan, yang membuat kenyamanan kita menjadi buyar.


"Kami saling mencintai, tante." Clara memberikan jawaban paling klise pada tantenya itu.


"Cinta saja itu nggak cukup. Harusnya kamu pilih sama yang seumuran atau yang lebih tua. Takutnya nanti dia selingkuh kalau kamu sudah menopause."


"Jadi menurut tante, Clara harus cerai lagi gitu.?"


Clara melempar pertanyaan yang membuat sang tante terdiam. Sebab kalaupun iya nantinya ia bernasib akan si selingkuhi. Sang tante sudah sangat terlambat berbicara seperti itu padanya saat ini.


Harusnya dulu, disaat menjelang pernikahan. Kini disaat ia telah bahagia, tantenya itu baru berusaha merecoki kehidupannya.


"Ya nggak begitu juga, maksud tante kenapa nggak berpikir dari awal."


"Saya berpikir, tante. Tapi suami yang sebelumnya juga lebih tua dari saya jauh. Saya pikir pilihan saya benar saat itu, tapi ternyata salah. Menikah itu mau dengan dengan laki-laki seumuran, lebih muda, ataupun lebih tua, sama aja. Nggak ada yang bisa menjamin pernikahan itu sendiri." ujar Clara lagi.


Sang tante masih hendak menjawab . Namun kemudian Clara berpura-pura.


"Kenapa pak Rianto?" Ia berakting seolah-olah tengah berada di kantor.


"Oh oke, pak. Ditunggu dulu ya!" ujarnya lagi.


Clara kembali ke telpon.


"Maaf tante, saya lagi sibuk. Saya di kantor ini." ucapnya kemudian. Padahal ia tengah ingin membuat gorengan.


"Oh ya sudah, nanti lain kali tante telpon lagi.


"Iya tante, bye."


Clara buru-buru menyudahi telpon tersebut dengan kesal. Kemudian ia membuka kulkas dan meminum air dingin yang banyak.


Berharap api di ubun-ubun kepalanya akan segera padam. Ia juga mengatur nafas hingga menjadi tenang kembali seperti tadi.

__ADS_1


__ADS_2