
"Ini udah, lo akan baik-baik aja." ujar Ferdi pada Frans. Ketika proses pengobatan telah selesai.
"Thanks, bro." tukas Frans pada Ferdi.
"Sama-sama."
Ferdi membereskan semua peralatan dan kini hendak menuju ke bawah.
"Lo langsung berangkat kerja?" tanya Frans.
"Iya, udah siang juga." jawab Ferdi.
Pemuda itu kemudian membuka pintu dan keluar dari kamar Frans. Sesaat kemudian ia meraih kunci mobil kantor, yang diberikan Nathan padanya. Tak lama ia sudah terlihat meninggalkan rumah.
***
"Ya ampun bu Clara."
Para karyawan kaget ketika Clara tiba dengan wajah lebam yang jelas sekali terlihat. Sebab tadi Nando sangat kasar dan keras dalam memukul wanita itu.
"Bu, kenapa bu?" tanya karyawannya pada Clara.
Saya nggak apa-apa, ada insiden sedikit." ujar Clara seraya coba tersenyum. Wanita itu tak ingin terlihat lemah dan terkesan minta terlalu dikasihani.
Ia kini melangkah ke ruangannya di ikuti beberapa petinggi perusahaan, yang memang telah diberitahu oleh Clara via WhatsApp. Jika Nando telah memukul dirinya dan berbuat sesuatu terhadap cabang perusahaan. Kini Clara mengadakan sebuah rapat dadakan.
"Kita bisa laporkan pak Nando dengan pasal penyerangan dan pemukulan. Seandainya kita tidak bisa menjerat dia atas kesalahannya yang sudah menjual aset perusahaan."
Salah satu petinggi di kantor Clara berujar.
"Penjualan itu bisa kita gugat koq. Tergantung dia melakukan itu disetujui atau nggak oleh para pemegang jabatan disana. Disini pun kita bisa ikut menjerat dia." Petinggi lainnnya ikut berujar.
"Pertanyaannya apakah bu Clara mau mempidanakan mantan suami ibu Clara sendiri. Ayah dari anak-anak bu Clara." lanjutnya lagi.
Clara diam dan tampak berpikir.
"Kalau memang itu diperlukan, silahkan." jawab Clara.
"Saya juga sedang mencari cara untuk merebut kembali perusahaan itu." lanjutnya kemudian.
__ADS_1
"Oh ya bu, ini salah satu yang mau saya tanyakan juga. Kenapa setelah bercerai bu Clara masih mengizinkan pak Nando berada di sana." tanya salah satu dari mereka lagi.
"Iya bu, apakah bu Clara kasihan karena perusahaan mendiang ayahnya pak Nando sudah collaps pasca kematian ayahnya. Atau bu Clara hanya berbaik hati saja supaya mantan suami bu Clara itu masih memiliki pekerjaan." timpal yang lainnya.
Lagi-lagi Clara menghela nafas, kemudian ia menceritakan perihal wasiat aneh yang pernah ditulis oleh mendiang ayahnya.
***
"Jadi gitu say desas-desusnya."
Umardi satu-satunya karyawan Clara yang melambai di kantor, berujar pada karyawan lainnya yang tampan dan macho. Ada juga sejumlah karyawati yang turut nimbrung demi mendengar berita tersebut.
"Jadi perusahaan itu baru bisa di ambil alih lagi sama bu Clara, kalau bu Clara nikah lagi. Gitu?"
Karyawati yang bernama Irma bertanya.
"Ember say, yang eke dengar tadi gitu. Pas eke nggak sengaja lewat ruang rapat dan eke kepo." jawab Umardi.
"Wah, gue sih belum siap nikahin bu Clara." Bobby salah satu karyawan berkata, namun berujung toyoran mendarat di kepala oleh teman-temannya.
"Bu Clara juga nggak mau sama lo, anjay." celetuk Chiko dengan nada sewot.
"Lu karyawannya dia, Juned. Mana mau dia menurunkan level nikah sama karyawan. Bisa-bisanya bu Clara di katain sama pak Nando." Toni menimpali.
"Ah pak Nando juga nikah sama cewek mi-chat koq." Bobby menyebut sebuah aplikasi kencan.
"Tapi jadi bahan pergunjingan kan?. Di katain kan dia sama bu Clara?" ucap Zoey yang sejak tadi diam
"Iya sih." tukas Bobby.
"Nah Bu Clara nggak akan mau menurunkan level. Sebab dia udah ngatain pak Nando. Jelas dia mau yang lebih lab dari pak Nando." Toni menimpali.
"Ya kali aja bisa, ada keajaiban gitu. Bu Clara jatuh cinta sama gue." Bobby kembali berujar dengan kepedean level Zeus.
"Mimpi."
Teman-temannya berujar dengan nada sewot dan penuh penekanan.
***
__ADS_1
Clara mengobati lebam di wajahnya sendiri, di ruang kerja. Ia menghadap sebuah kaca kecil dan memberikan obat pada sudut bibirnya yang sedikit berdarah. Ia tidak merasakan sakit, sebab sakit itu kini lebih banyak bersarang di dada. Akibat perlakuan yang dibuat oleh Nando.
"Hhhhh." Clara menghela nafas.
Andai mendiang ayahnya masih hidup, pastilah saat ini ia sudah mendebat pria itu. Ia ingin sekali mengetahui mengapa dulu ayahnya menginginkan ia cepat menikah dengan Nando. Toh pada akhirnya Nando hanya menjadi benalu di keluarga mereka.
Selama memimpin cabang perusahaan tersebut tak ada kemajuan yang sangat signifikan disana, semua biasa-biasa saja. Bahkan perusahaan milik ayah Nando yang digadang-gadang bisa membentuk sebuah koloni besar nantinya bersama perusahaan ayah Clara, hanya tinggal nama dan cerita seiring berjalannya waktu.
Clara tak pernah tau mengapa ayahnya yang lulusan luar negri dan sepertinya open minded tersebut, malah menikahkan anak sendiri di usia yang masih sangat muda sekali. Saat itu Clara yang selalu berkhayal menikah bak Cinderella dari jaman masih sekolah tersebut, hanya gembira saja Ketika ayahnya mempertemukan ia dengan Nando. Entah mengapa pula saat itu dirinya langsung suka dan mereka langsung menikah.
Andai dirinya saat ini adalah dirinya saat itu, mungkin ia akan memberontak dan memilih untuk tidak menikah dulu. Sebab banyak sekali hal yang bisa ia capai jika saat itu tidak kepentok status menjadi istri dan kepentok kehamilan yang terjadi begitu cepat. Ia tak perlu menjadi janda di usia muda seperti sekarang ini.
***
"Anzel nggak mau."
Putra kedua Clara mengungkapkan pendapat, ketika Clara bertanya pada ketiga anaknya untuk menikah lagi.
"Arvel juga nggak mau."
Si sulung yang pendiam itu turut berbicara dengan nada dingin.
"Kalau Axel sih kayaknya seru kalau punya daddy baru."
Axel yang merupakan anak bungsu berujar sambil nyengir. Namun kemudian ia terdiam ketika melihat lirikan tajam kedua kakaknya.
"Axel juga nggak setuju mom." ujarnya kemudian.
Ia lebih memilih berpihak pada kedua kakaknya, ketimbang tak diajak mabar mobile legends lagi.
"Tapi kalian butuh sosok ayah." ujar Clara.
Sebab ia tak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya. Bahwa ia menikah hanya untuk kepentingan merebut kembali perusahaan. Ia takut anak-anaknya kelak akan mempermainkan pernikahan, apabila hal tersebut diketahui oleh mereka.
"Kita nggak butuh ayah. Ayah kandung kita aja modelnya begitu, apalagi ayah tiri." ucap Anzel.
Clara menatap anak keduanya itu, lalu beralih menatap si sulung. Tampak Arvel membuang tatapan ke arah lain, dengan sama dinginnya seperti tadi.
Menandakan jika ia setuju pada pendapat yang diungkapkan oleh sang adik dan tak menerima kehadiran ayah baru.
__ADS_1
Sedang si bungsu hanya menunduk, dan tak berani lagi bersuara. Clara pun kini jadi serba salah dibuatnya.