Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Masih Car Free Day


__ADS_3

"Om, Axel kenyang. Tapi pengen bakso, gimana dong?" tanya Axel pada Ferdi.


Ferdi tertawa kecil.


"Ya udah tunggu sampai laper, baru beli bakso." ujar pria itu.


"Oh iya." Axel seperti mendapat pencerahan.


"Kenapa Axel nggak kepikiran kesitu ya?" ujarnya.


"Kenapa pikiran Axel ribet banget?" lanjutnya kemudian.


Lagi-lagi Ferdi tertawa.


"Hidup itu kalau nggak mau ribet, ya ambil solusi yang paling mendekati aja." tukasnya kemudian.


"Iya juga sih."


Lagi-lagi Axel menjawab hal yang sama. Tak lama Clara tiba, kali ini ia tampak makan sambil berjalan dan menikmati apa yang ia beli tersebut.


Axel menunjuk Clara dengan alisnya. Seketika ia dan Ferdi pun tertawa. Pasalnya wanita itu makan seperti orang yang tak pernah makan sama sekali.


"Kenapa ngeliatin gitu?" tanya Clara sewot.


"Belum pernah ya liat orang cantik makan beginian?" tanya nya lagi.


Tak lama melintas seorang perempuan cantik, yang juga tengah memakan makaroni serta cimol.


"Tuh ada." ujar Ferdi dan Axel di waktu yang nyaris bersamaan. Seketika itu pula wajah Clara tampak sewot.


"Ih, suka membandingkan orang." ujarnya.


Ia ngambek dan melihat ke arah lain sambil memasukkan otak-otak yang banyak ke mulutnya. Ferdi dan Axel menahan senyum.


"Dia sendiri yang mengajukan pertanyaan, pas dijawab sewot." ujar Axel.


"Ntar juga kamu bakal ngalamin, apa yang saat ini om rasakan." tukas Ferdi.


"Om sekarang umurnya berapa?" tanya Axel.


"27." jawab Ferdi.


"Axel nikahnya umur 38-39 atau 40 deh kayak artis luar negri."


"Kenapa?" tanya Ferdi heran.


"Ternyata punya istri harus siap di ambekin, di marahin, di salahin. Axel mah bakal gila kalau kayak gitu."


Ferdi tertawa, seketika Clara menoleh dan wajahnya seperti kucing Oren yang hendak menyerang.


"Ngomong apa kamu, Axel?" tanya Clara seakan hendak menjadikan Axel kecoa geprek, dengan sambal level 50.


Axel diam.


"Ntar jadi doa loh, mau kamu nikah di usia 40 an?"


"Ya nggak apa-apa, artis luar aja banyak koq begitu. Lagian Axel cowok. Kalau kata orang-orang yang Axel dengar, cowok nggak masalah mau nikah di usia berapapun. Asal masih mampu."

__ADS_1


"Mampu apa?" Clara sudah siap menyemburkan api naga.


"Ya mampu nyari nafkah." jawab remaja itu.


Clara lega, karena mampu yang disebut oleh anaknya bukan perihal kemampuan seorang pria dalam memberi nafkah batin pada istrinya.


Jika tadi Axel menjawab ke arah sana, sepatu Clara sudah ia persiapkan menjadi mode terbang. Ia tak tau jika anak bungsunya itu pintar ngeles.


Tak lama mereka lanjut berjalan, secara tanpa sengaja mereka bertemu dengan Jeffri dan Frans.


"Hei." sapa mereka berdua dengan mimik wajah kaget.


Ferdi dan Clara pun tak kalah kagetnya.


"Eh, papa."


Clara mencium tangan Jeffri layaknya menantu kepada mertua pada umumnya.


"Tangan papa kotor loh, Clara. Papa abis olahraga tadi." tukas Jeffri.


"Nggak apa-apa koq, pa." ujar Clara.


"Axel."


Clara mendorong anaknya untuk melakukan hal yang sama dan Axel pun menurut saja. Ia mencium tangan Jeffri, tapi Frans berbeda. Ia mengangkat tangannya untuk high five dengan anak itu.


"Kalian cuma bertiga aja?" tanya Jeffri.


"Berlima, pa. Cuma yang dua lagi ketemu teman mereka disana." jawab Ferdi.


Mereka lanjut mengobrol. Bahkan ada beberapa hal seru yang mereka bahas. Dari kerumunan orang-orang yang lalu-lalang, Nando yang juga tengah mengistirahatkan sepeda mahalnya melihat semua itu.


Sangat mudah untuk saling bertemu di kawasan seperti ini. Sebab ia juga selalu mengikuti car free day di setiap akhir pekan.


Dulu ia tak pernah mengajak Clara maupun anak-anak. Sebab acara mingguan ini ia jadikan sebagai waktu untuk bertemu dengan Ninis.


Kala itu Ninis sedang panas-panasnya menjadi selingkuhan. Belum terasa biasa bahkan membosankan seperti sekarang ini.


Memang benar jika ada yang mengatakan selingkuh itu terasa greget, karena kita masih punya ketakutan terhadap sesuatu. Yakni takut kepada pasangan kita, takut hal tersebut akan ketahuan.


Maka perselingkuhan menjadi sesuatu yang mendebarkan. Tetapi sekalinya sudah bisa bersatu dan menikah, maka semuanya terasa biasa aja.


Perselingkuhan itu hanya terasa nikmat saat kita berselingkuh. Jika sudah berganti mode, rasanya akan hambar.


***


Ferdi, Clara, dan anak-anak pulang ketika semua orang pun telah bergerak untuk pulang. Semua tampak baik-baik saja sepanjang perjalanan.


Namun ketika sampai dirumah, tiba-tiba saja terdengar suara terjatuh dari arah belakang.


"Buuuk."


Ferdi, Clara, Axel dan Anzel refleks menoleh. Arvel jatuh tak sadarkan diri.


"Arvel."


"Abang."

__ADS_1


Semuanya berteriak. Ferdi bergegas mendekati anak tirinya itu, dan langsung mengangkat tubuhnya.


"Cla, buka pintu!" pinta Ferdi.


Clara yang panik lalu membuka pintu rumah. Ferdi mengangkat tubuh Arvel dan membaringkannya di sofa ruang tamu. Kemudian ia dan Clara mulai coba membangunkan anak itu.


"Arvel, Arvel?"


Ferdi agak menepuk wajah remaja itu agar dirinya segera sadar, sementara Clara terus memanggil.


"Bang, bangun bang." ujarnya.


Anzel dan Axel pun kini jadi begitu khawatir.


"Bang, bangun bang." Mereka ikut menstimulasi agar kesadaran Arvel segera kembali.


Tak ada jawaban.


"Arvel."


Ferdi mencobanya sekali lagi, begitupula dengan yang lain.


"Cla, kita bawa ke rumah sakit aja. Takut ada apa-apa." ujar Ferdi.


Clara yang masih panik itu pun menjawab.


"Oke."


Ferdi hendak beranjak, namun kemudian Arvel sadar dan refleks mencekal lengannya. Bermaksud mencegah Ferdi untuk tidak membawanya ke rumah sakit. Ferdi diam dan menatap anak tirinya itu.


"Yakin kamu nggak apa-apa?" tanya nya kemudian.


Arvel mengangguk.


"Tapi nak, badan kamu dingin begini loh. Muka kamu pucat." ujar Clara.


"Arvel nggak apa-apa, ma. Cuma capek aja." tukas remaja itu dengan suara yang lemah.


"Makanya bang, Axel bilang tinggal aja tuh harusnya Abang dengerin. Abang tuh baru sembuh, butuh istirahat yang banyak." Axel menimpali.


Arvel hanya diam, Ferdi lalu mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada anak itu.


"Anzel bikinin susu buat abang ya, ma." ujar Anzel.


"Ya udah sana!" ucap Clara.


Maka Anzel pun beranjak ke dapur. Tak lama ia kembali dengan segelas susu hangat dan langsung memberikannya pada sang kakak. Setelah meminum cukup banyak cairan, wajah Arvel yang pucat berangsur pulih.


"Abang yakin nggak mau ke rumah sakit?" tanya Clara sekali lagi.


"Beneran, ma. Abang nggak apa-apa." ucap Arvel.


"Cuma butuh istirahat aja." lanjutnya lagi.


"Tapi kalau ngerasa ada yang nggak enak, panggil mama atau siapapun ya. Kasih tau ke kamu, biar kita ke rumah sakit." ujar Clara.


"Iya ma." jawab Arvel.

__ADS_1


__ADS_2