Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya
Pinggir Danau


__ADS_3

Kalau mama mau membawa laki-laki lain ke rumah ini, kami nggak akan terima."


Anzel kembali berujar pada sang ibu sebelum berlalu meninggalkan tempat itu. Si bungsu mengekor, sementara si sulung melangkah ke arah yang berlawanan.


Clara terdiam, bahkan setelah seharian berlangsung ia tetap memikirkan hal tersebut. Betapa tidak, di satu sisi ia harus merebut kembali perusahaan yang sudah susah payah dibangun oleh keluarganya.


Tapi disisi lain, ia tak tahu cara memberi pengertian yang benar pada ketiga anaknya. Mengenai wasiat aneh yang ditulis oleh mendiang kakek mereka, yang mengharuskan Clara untuk menikah lagi demi mengambil haknya pada Nando.


"Hhhhh."


Clara menghela nafas panjang. Bahkan kini ia tak begitu konsentrasi dalam mengemudikan mobil. Melintas di sebuah supermarket, Clara teringat jika ia harus belanja keperluan rumah. Ia pun lalu belanja dan setelah usai, dirinya kembali menempuh perjalanan.


Ini sudah jam pulang kerja dan ia mesti kembali ke rumah. Namun beban pikiran malah membawanya berhenti di suatu tempat. Tepatnya pada sebuah danau buatan yang sering ia lewati.


Clara berpikir mungkin ia bisa duduk sejenak di sekitaran tempat itu. Mencoba menetralisir ketegangan yang ia rasakan sekaligus mencari ketenangan.


Clara pun memarkir mobil, ia berjalan menuju bibir danau dan duduk pada sebuah kursi yang ada di tempat itu.


Sementara disudut lain masih di tempat yang sama. Empat orang pemuda yang tiada lain adalah Ferdi, Jordan, Sean dan Nathan tengah sibuk berebut umpan. Mereka saat ini tengah memancing di tempat tesebut.


"Kalau nggak ada ikannya, awas lo!" ucap Sean pada Jordan, ketika mereka semua telah selesai memasang umpan pada kail dan melempar kail pancing tersebut ke danau.


"Kita effort loh mau kesini." lanjutnya kemudian.


"Elah effort lo ketimbang nyari cacing doang. Itupun lo beli di tokopakedi paket sistem COD." Jordan membela diri.


"C.O.D."


Sean membenarkan dengan nada sewot. Sementara Ferdi dan Nathan hanya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Tuh, tuh, tuh. Pancing gue bergerak tuh."


Sean heboh sendiri ketika pancingnya seakan di tarik sesuatu. Semakin lama tarikan tersebut semakin kencang.


"Ini pasti gede nih." ujarnya kemudian.


Ia menarik ulur pancingnya, sampai kemudian.


"Brengsek, sapu-sapu ternyata."


Ferdi, Nathan, dan Jordan kompak menatap ke arah Sean. Sesaat kemudian mereka pun tertawa-tawa.


"Hahahaha."


"Hahahaha."


Sean terlihat sewot, lalu ia kembali melepaskan ikan sapu-sapu tersebut.


"Lagian ini danau koq bisa ada ikan sapu-sapu sih?" gerutunya kemudian.


"Lah ini kan danau buatan, anjay." jawab Jordan.


"Tapi koq bisa ada ikan ya?" tanya nya kemudian.


"Muncul sendiri kali dari dalam tanah." ujar Ferdi.

__ADS_1


"Lo kata bibit rumput." timpal Nathan.


Ferdi pun tertawa-tawa, begitupula dengan Nathan, Jordan, dan Sean terus saja berdebat sampai kemudian.


"Fer."


Jordan menatap ke suatu arah sambil menyebut nama Ferdi. Ferdi pun menoleh, ia mengikuti arah pandangan Jordan. Sean dan Nathan pun sama melihat ke arah tersebut.


"Itu kan si mbak." ujar Sean.


Ferdi pun memperhatikan Clara yang duduk termenung sambil menatap ke arah danau.


"Ngapain dia di sini?" tanya Jordan.


Ferdi diam dan masih memperhatikan.


"Samperin aja." Nathan memberikan ide.


"Kalau dia lagi nunggu seseorang dan janjian disini gimana?. Ntar malu dong gue ngedekat ke arah sana." ucap Ferdi.


"Kayaknya nggak lagi nunggu siapa-siapa deh?" ujar Sean.


"Iya." timpal Jordan.


Mereka terus mengamati Clara. Sampai kemudian mata Clara pun mendapati mereka semua. Ferdi agak gugup ketika Clara menatap ke arahnya. Clara sejatinya terkejut melihat Ferdi juga ada di tempat itu.


Namun pada akhirnya Ferdi di dorong oleh teman-temannya untuk mendekat ke arah Clara.


"Hai." ujar keduanya seperti salah tingkah.


"Hai."


"Mbak ngapain disini?"


"Kamu ngapain disini?"


Ferdi dan Clara bertanya di waktu yang nyaris bersamaan pula. Lalu keduanya sedikit menunduk dan sama-sama tertawa.


Tak lama mereka sudah terlihat berjalan-jalan di sekitaran danau. Meninggalkan Jordan, Sean, dan Nathan jauh di belakang.


"Mbak sering ketempat kayak gini, kalau lagi pengen mencari ketenangan." ucap Clara menjawab pertanyaan Ferdi.


"Kalau kamu tadi ngapain?" tanya Clara pada pemuda itu.


"Mancing, mbak." jawab Ferdi.


Clara tertawa kecil. Laki-laki memang hobinya selalu tak jauh-jauh beda. Kalau tidak memancing, ya bermain game online.


"Emang ada ikannya?" tanya Clara.


"Ada dong mbak." jawab Ferdi.


"Sapu-sapu." lanjutnya lagi.


Clara tak kuasa menahan tawa, kali ini Ferdi pun ikut tertawa.

__ADS_1


"Oh ya mbak habis ini mau kemana?" tanya Ferdi.


"Hmmm, nggak kemana-mana sih. Tadi tuh dari belanja keperluan rumah sama anak-anak. Mungkin mau pulang ke rumah nanti."


"Oh." jawab Ferdi sambil tersenyum.


"Kenapa, Fer?" Clara balik bertanya.


"Mmm, nggak. Tadi rencana mau ngajak mbak ngopi. Kalau mau sih." ujar Ferdi.


"Boleh juga." jawab Clara.


"Ya udah, abis ini ya." ucap Clara.


"Tapi sama temen-temen aku boleh, kalau seandainya mereka mau ikut?" tanya Ferdi.


"Oh nggak apa-apa, sangat nggak apa-apa sekali." jawab Clara.


Maka selanjutnya mereka pun meninggalkan tempat itu dan mencari kafe di daerah setempat. Jordan, Sean dan Nathan memang ikut, tapi mereka memilih duduk di meja yang berbeda di smooking area.


Ferdi sendiri menahan dirinya untuk tidak merokok, sebab ia tak tau Clara nyaman atau tidak nantinya.


"Oh ya mbak, maaf kalau saya terlalu pengen tau. Itu mbak koq biru?"


Ferdi mempertanyakan sudut bibir Clara yang masih memiliki sisa lebam pasca pemukulan yang dilakukan oleh Nando.


"Ah, ini mbak jatuh Fer. Jadi kayak bangun tidur gitu, turun tangga dan oleng."


Clara berkata dengan nada terputus-putus. Sebab ia sambil berpikir bagaimana memberikan jawaban.


"Terus, kehantam pembatas tangga deh." ujar Clara lagi.


"Oh."


Ferdi sudah menduga jika Clara dipukul orang, padahal memang iya.


"Permisi, ini pesanannya."


Seorang pelayan membawakan minuman pesanan mereka.


"Makasih ya." ucap Ferdi dan Clara di waktu yang nyaris bersamaan.


"Sama-sama."


Pelayan itu kemudian berlalu, Ferdi dan Clara kini melanjutkan obrolan.


***


"Bang, kenalan sih abang nggak mau kita punya daddy baru. Kan seru kalau bisa main bareng daddy."


Si bungsu Axel bertanya pada kedua kakaknya, sesaat mereka tengah bersiap main game online bersama.


"Sekali lagi nanya, nggak usah ikut abang An sama Abang Ar main." ucap Anzel.


"Iya iya, kan cuma nanya doang." jawab Axel kemudian.

__ADS_1


__ADS_2